100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
4 Penyerang


__ADS_3

Ting tong....


Ting tong....


Ting tong....


Bel pintu depan berbunyi.


Sialnya yang terjaga di sana puteri Hwa, ia sendiri masih di sibukkan dengan kebingungan perihal kondisi Hoon.


Dan sekarang dirinya kembali bertambah bingung maksimal ketika telinga ini menangkap suara dari arah pintu yang diyakininya pintu keluar.


"Apa ada yang datang?" ujarnya bermonolog sendiri.


Ia pernah melihat tamu yang datang ketika ada Hana waktu itu. Tapi Hana ada, tapi sekarang.


"Aduh, aku tidak paham." gumamnya sembari melangkahkan kaki menuju pintu yang masih mengeluarkan bunyi.


Ting tong


Lagi


"Bagaimana caranya membuka pintu ini.?" tanyanya sendiri.


Mencoba selayaknya pintu di Joseon.


Menggeser.


Bingung mana yang mau di geser.


"Pintunya menyatu dengan dinding. apakah ini...." ini menyentuh handel pintu. Tapi terhenti.


"Tapi siapa?" ujarnya.


Tak didapati bayangan sedikitpun, pintu ini begitu rapat.


Tapi, netranya menangkap titik di tengah tepat searah kepala.


"Apa ini?" ia mendekatkan mata menuju titik tadi yang merupakan lubang pintu untuk melihat tamu.


"Orabeoni?" ucapnya mengeraskan suara.


Ia pun berteriak melalui lubang pintu tadi.


"Orabeoni!!!!!!" pekiknya, berharap pria yang berdiri gagah di luar pintu mampu menangkap suaranya.


"Orabeoni!!!!" lagi, usahanya.


Tapi nihil.


Lubang pintu itu dilapisi kaca cembung, tak tembus sama sekali.


"Bagaimana ini, aku tidak bis......."


Klik!!!


Pintu terbuka ketika dalam paniknya.


"Ara??!" Kim Hee Sin tertegun ketika mendapati tubuh gadis itu kini berkedip menatapnya berulang kali.


"Orabeoni?!" pria itu malah yang membuka pintu.


'apakah pintu ini hanya di buka dari luar?' batin puteri Hwa.


Karena beberapa kali yang datang, sebagian besar membuka dari luar. Lah, tapi Hana kan beberapa kali muncul dari dalam, mput!!!


"Kau....." Mata tuan Kim malah menyasar ke....


"Kenapa lenganmu, apa yang...." panik, pria itu sigap meraih.


"Arhhhhh." ringis puteri Hwa. Tak seberapa sakit sih, tapi cukup ngilu. Karena sampai detik ini, lengannya tetap terluka seperti itu, dengan bekas noda darah di sana.


Bingung apa yang harus di lakukan, jika saja ada di Joseon, ia dengan lantang meminta dayang Han mencari tabib atau mengobati sendiri.


Tapi di sini.


Ia belum paham di mana letak obat-obatannya.


"Ayo kita obati. Di mana letak kotak obat....." suara Kim Hee Sin mengambang di udara manakala kini netranya bertubrukan dengan seonggok tubuh pria yang terbaring di atas sofa ruang tamu itu.


"Kenapa dia di sini? Ada apa sebenarnya, apa yang terjadi Nona Jo?" runtut kalimat tanya di lontarkan pria itu melihat Hoon di sana.

__ADS_1


"Ya Tuhan!!!" Kim Hee Sin lagi-lagi kembali dibuat tak percaya, ketika langkahnya semakin masuk, pemandangan luar biasa tersaji di hadapannya.


"Apa yang terjadi, nona Jo? Ada apa ini??" ulangnya, kali ini tak sabar hingga mengguncangkan tubuh gadis itu.


"Awww, sakit orabeoni." ringis puteri Hwa.


"Mm maaf." pintanya sadar.


"Apa yang terjadi Ara, apa ada yang datang tadi. Atau pria itu yang menyerangmu?" tanyanya yang berakhir menuduh Hoon.


puteri Hwa menggeleng, "Bukan, bukan dia, orabeoni."


"Kalau bukan dia, lalu siapa?" delik pria itu menatap tajam pada bukti hancurnya isi ruangan itu.


Ia menilai jika yang terjadi sebelumnya adalah pertarungan yang cukup sengit, yang masalahnya apakah ia duel satu lawan satu atau dikeroyok.


"Aku tidak mengenal siapa mereka." jawab puteri Hwa.


Kim Hee Sin mengerutkan alisnya lalu mengalihkan pandangannya pada si pemilik suara barusan.


Apa katanya tadi? Mereka.


'Mereka?' batinnya


"Berarti lebih dari....." duganya ragu.


"Iya, ada 4 orang. 3 orang pria bertubuh jelek dan besar serta seorang perempuan." jelas puteri Hwa.


"Perempuan?" ulang Kim Hee Sin


"Iya," sahut puteri Hwa.


"Lalu, siapa yang melukai tanganmu?"


"Perempuan."


"Dan, kenapa ada dia.?" tunjuk Kim Hee Sin pada pria yang masih teronggok di atas sofa.


Puteri Hwa mengendikan bahu.


"Dia masuk dan bertarung sebentar tapi tumbang. Dan pingsan." jelasnya.


"Ponsel? Apa benda yang kecil itu?"


"Hm. Mana?"


"Di kamar."


"Ya Tuhan nona Jo."


"Ayo. Sepertinya kita harus merawat lukamu ke rumah sakit." ajak Kim Hee Sin.


Meraih lengan Ara.


"Awww."


"Ma-maaf, apakah masih sakit?" Kim Hee Sin meringis ketika melihat Ara pun meringis.


"Tinggal ngilu saja."


"Ayo kalau begitu."


"Iya, orabeoni."


Sesaat mereka hendak meraih arah pintu depan.


Puteri Hwa tersadar.


"Bagaimana dengan dia?" tunjuknya pada Hoon.


"Ck, menyusahkan saja." gumam Kim Hee Sin.


"Biarkan saja, nanti asistenku yang mengurusnya. Tunggu dulu." lanjut Kim Hee Sin.


Meraih ponsel berwarna abu-abunya.


"Sein, cepat kemari, lantai....." Kim Hee Sin menghubungi asistennya untuk ke lantai ini.


Puteri Hwa menatap lekat pria yang tengah menelpon itu.


Berulang kali ia tak memahami, situasi ini cukup membingungkan.

__ADS_1


Bukan hanya keberadaannya, tapi sosok yang gagah berbalut setelan jas berwarna abu-abu, begitu pas membalut tubuh tinggi proporsional itu.


Apakah jika dirinya telah lama di sini akan mengikuti kebiasaan dan cara berpakaian orabeoninya ini?


Bisa jadi.


Sadar menjadi pusat perhatian, Kim Hee Sin mencoba menoleh sekilas.


Benar saja. Ia tak merasa KE-PE-DE-AN.


Gadis itu memang menatapnya.


"A-ada apa nona Jo?" tanyanya berusaha mengatasi kegugupan.


Weihh gugup?


Kenapa?


"Oh, tidak apa-apa, orabeoni. Hanya saja, kau di sini juga tampak tampan dan gagah." jawab puteri Hwa jujur.


Bumpp!!!!!!


Jantung milik Kim Hee Sin kembali melakukan aksi sirkus lebaynya.


Melayang sana, melompat situ, jungkir balik, lompat indah, lari cepat.


Tak jelas, tapi begitu terasa.


Bahkan khawatir jantung itu akan mendarat di depan gadis itu saking kencangnya berpacu.


"Hah??!!" jawaban yang lebih mirip ekspresi orang bego itu menghiasi wajah tampan Kim Hee Sin.


"Bos." Dari arah kirinya, muncul Sein si asisten yang juga rupawan seperti bosnya.


"Ah. Datang juga akhirnya. pegal tubuhku menahan pintu ini." keluh Kim Hee Sin sembari menetralkan detak jantung sialannya itu.


"Sana, bawa pria itu ke rumah sakit." titah Kim Hee Sin


"Rumah sakit, bos? Kenapa?" tertegun, Sein mendengar kalimat yang cukup membuatnya bingung.


"Masuklah dulu baru kau tahu." malas, itulah nada bicara jawaban Kim Hee Sin.


Dan,...


"Ya Tuhan!!!! Kenapa dengan apartemen ini??? Apakah ada gempa lokal?" teriak heboh Si Sein.


Lebay kali


"Aihhh lebay sekali kau, cepat bawa dia. Kita ke rumah sakit biasa, kau menyusul saja ya." tanpa perlu menunggu jawaban Sein, pintu tertutup.


Klik.


"Lah?? Kok gue ditinggal?" bingung Sein.


.


.


.


.


.


.


.


"Ya Tuhan!!!!! Ara!!! Apa yang terjadi???" Hana, kala muncul dari balik pintu ruangan rawat VVIP tempat kini puteri Hwa berada, berteriak panik.


Berjalan cepat.


"Siapa yang melukaimu. Huh!!!!??" tanyanya tak sabar


"Dia diserang oleh 4 orang, 3 orang pria dan satu wanita." yang menjawab adalah Kim Hee Sin.


"Wanita? Apakah......" Hana mencoba mencari jawaban atas dugaannya melalui tatapannya pada Ara.


Tapi yang ditanya,,,,, hanya diam


'Apakah mungkin......' batin Hana, gemetar.

__ADS_1


__ADS_2