
Tak hanya dayang Han yang memberi ekspresi serupa...
Ara cukup yakin dengan keahliannya itu, buktinya saja, kini dayang yang melihatnya saat ia sudah keluar dari ruangannya, terkaget layaknya dayang Han tadi.
Dengan angkuh, Ara melempar senyumnya pada mereka.
"Ada yang salah?" Tanyanya pada mereka yang masih memandangnya dengan wajah beku itu.
"Ti-tidak Yang Mulia. I-ini benar Anda, bukan?" Tanya balik salah satu dari beberapa dayang yang masih bertahan menatap Ara dalam raut bingungnya.
"Tentu, aku majikan kalian. Puteri Hwa." Jawab Ara tegas dalam nadanya.
Menatap puteri dengan pandangan terpesona.
"Anda sangat cantik, puteri." Celetuk si dayang, yang tentu saja memuji tulus.
"Memang, aku cantikkan?" Ara melempar tanya yang tak perlu mendapat jawaban, karena jelas si pemilik tubuh ini memang sangat cantik, hanya karena oknum tak bertanggung jawab itu saja yang membuatnya harus menutupinya dengan cadar sialan itu.
"Ayo, kita keluar, aku mau berjalan-jalan." Perintah Ara yang segera diangguki oleh mereka yang biasa mengiringi si puteri itu.
Namun sebelum itu, Berbalik, Ara menoleh pada dayang Han.
"Bestie, jangan lupa payung gue ya." Ucapnya pada dayang Han yang dipatuhi gadis itu yang kini melangkah untuk mengambil benda yang diminta.
Ketika sudah menapak di luar, tak butuh banyak cing cong ia sadar akan arah pandangan lain akan kehadirannya, pengawal yang menjaga kediaman pun juga ikut terbengong-bengong mendapati puteri yang mereka jaga, sudah kembali tak mengenakan cadar. Bahkan penampilan gadis itu, kenapa cantik pakek banget sih, ngapain coba mendem di dalem?
Sementara yang menjadi pusat perhatian, melenggang sombong dalam langkahnya.
Terus saja berjalan, sesuai arah yang ia harapkan.
Ya, ia mencari jalan yang biasa di lalui putera mahkota dan pelayannya.
Ruang belajar, tempat yang menjadi rutinitas pria itu setiap hari di saat jam-jam segini.
__ADS_1
Ara tahu sedikit banyak tempat tongkrongan si racun pemikat itu.
Sialan, batinnya. Semoga ia tak terhipnotis atau terkontaminasi racun pria itu kali ini. Karena ia selalu saja lalai dan terjebak pada hal serupa.
Memalukan sekali, seorang playgirl yang dingin itu, dan sulit jatuh pada pesona makhluk yang bernama pria.. kini malah terseret jauh tenggelam oleh hal itu.
Hana, bahkan tentu saja pria yang pernah patah hati olehnya akan terpingkal-pingkal jika tahu dan bisa melihat tingkah gadis itu yang selalu berdebar dan menjadi konyol layaknya mereka berlaku serupa terhadap Ara. Walau Ara tak pernah dengan sengaja untuk bermaksud mematahkan hati para kaum adam tersebut, karena pada kenyataannya mereka yang jatuh pada pesona dirinya hingga berusaha menarik perhatian dengan beragam trik bahkan menawarkan kemewahan, namun gadis itu tak pernah berminat.
Ia hanya menawarkan jalinan komunikasi biasa, bukan memberikan harapan palsu, karena sedari awal dia sudah menetapkan demikian. Tapi, kembali lagi... Mereka saja yang baper..
Dan kini kaum adam yang pernah patah hati, tentu berterima kasih bahkan mungkin akan mencium tangan pria yang berhasil membuat gadis itu kini merasakan demikian.
Kini.. Sepanjang langkahnya menuju tempat itu, tak sedikit, atau malah memang semua penghuni istana memberikan ekspresi serupa dengan dayang Han serta dayang penjaganya tadi.
Mereka terlihat bengong melihat perubahan yang terjadi pada puteri Hwa, yang cepat sekali. Karena mereka sempat melihat sosok itu masih mengenakan cadar tipis hari kemarin, ya, kemarin.
Dan hari ini, decak tak percaya itu banyak meluncur dari bibir mereka. Bahkan mereka tak berhenti mengucapkan kata memuji pada perubahan itu.
Hingga, kegemparan itu....
Di hampir semua sudut istana, seakan tengah sibuk akan kabar berita hot yang tak ingin mereka lewatkan.
Fresh from oven guys, bestieeeee.....
"Hei bestie, kalian sudah tahu belum kabar hari ini.." Salah satu dayang yang datang tergopoh-gopoh dengan benda yang menyerupai baskom penuh kain kini menghampiri dayang lain di tempat mencuci.
Membentuk lingkaran, mereka duduk bergerombol.
"Apa, dayang Hu.?" Tanya dayang yang tengah memegang timba berisi air dari sumur.
"Kemarilah, cepat." Panggilnya agar ikut berkumpul bersama mereka.
Lalu, gosip itupun mengalir...
__ADS_1
"BENARKAH!!!??" tanya mereka bersamaan, ketika gosip hangat itu terucap.
"Bagaimana mungkin, aku melihat puteri masih menggunakan kain tipis itu, kemarin dan beberapa hari yang lalu." Bantah dayang yang mengangkat jemuran kering. Seolah tak percaya dari nada bicara maupun tatapannya.
"Iya. Betul itu." Sahut dayang yang duduk di sebelah temannya yang menyebarkan gosip tadi.
"Aku tadi melihatnya juga, bestie. Malahan, puteri Hwa jauh lebih cantik dalam polesan riasan wajahnya. Aku tidak tahu apa saja yang dia gunakan, tapi, itu sangat memukau" tambahnya meyakinkan yang lain.
Decak kagum pun tak terelakkan. Jelas tercetak jelas di wajah mereka.
Gosip pun beralih di ruang dapur...
"Kau sudah tahu belum gosip hari ini, huh?" Tanya dayang yang tengah mengaduk bahan masakan di sebuah guci besar.
"Sudah tahu, aku tadi mendengarnya dari bagian bahan makanan, meskipun aku belum melihat, tapi sepertinya perubahan itu sangat bagus jika menurut cerita mereka." Jawab temannya yang menata piring di atas sebuah baki.
"Aku pun demikian, kita akan tanya pada bagian pengantar makan siang puteri Hwa nanti." Lanjut dayang lain yang mengiris buah-buahan di piring kecil.
Mereka mengangguk bersama.
Ya, gosip hangat seantero istana tak bisa terhindarkan, dan itu yang diharapkan Ara tentunya...
Menarik perhatian semua makhluk yang ada di dalam istana. Sesuai tujuan awalnya.
Yang kini, sudah berdiri angkuh di depan putera mahkota. Berikut harapannya akan sosok yang kini juga berada di antara barisan belakang pria itu
Setelah menunggu cukup lama, gadis itu mendapatkan bayaran setimpal.
Dayang yang ia cari waktu itu, sudah ada di sana. Menatap Ara sesekali, dan Ara tentu menyadari hal itu. Karena, beberapa kali mereka berdua saling menangkap pandangan satu sama lain, meski dayang itu, menyadari atau tidak... ia sudah tertangkap pada rencana Ara...
Dengan melihat wujud gadis itu, yang sudah baik-baik saja.
Membuat geng bunga aroma apel itu,,, semakin kalang kabut dan gencar mendekatinya, meski resiko terancam lebih besar... tapi Ara tak takut, ia akan melawan mereka, menemukan dalang dari semua kejadian sialan itu, yang menyeret dirinya dalam kekacauan bersama komplotan penjahat dengan aroma buah yang ia benci, berikut jaminan keselamatan yang tak bisa ia jamin tentunya.
__ADS_1
Dan dalam waktu yang kurang dari 100 hari itu, semakin tipis.. ia harus bergulat dengan waktu dan penjahat itu, agar ia bisa kembali, menjadi dirinya, bukan terkurung dalam tubuh malang ini.