100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
Nama Serupa, Ara vs puteri Ara.


__ADS_3

Puteri Ara nyaris berasumsi jika jiwa yang tersesat ini adalah kembaran puteri Hwa yang mungkin meninggal kala akan dilahirkan.


Tapi, asumsi itu salah, karena ia yakin betul berdasarkan pencariannya, puteri Hwa terlahir sendiri.


Ya kali kembarannya ngalap jadi hantu.


"Tidak perlu anda bingung, aku pun begitu." Ara seolah paham, pasti wanita istana itu masih tak percaya kesamaan keduanya.


Jangankan perihal puteri Hwa, soal dirinya memanggil puteri Ara saja tak jelas, kadang normal, kadang bak rakyat jelata.


"Tapi, bagaimana kau tahu jika puteri Hwa alergi akan buah itu?." tanya puteri Ara memancing


"Aku ahlinya soal itu,.., kalau menurut anda penting sih." mau sesombong apapun Ara soal dirinya. Tapi dihadapan puteri Ara, terkadang ia ciut juga.


"Ahlinya?"


"Hm, iya, di sana, di duniaku maksudnya, pekerjaanku perihal bagaimana menjadi cantik, Yang Mulia."


"Maka dari itu kau merias wajah puteri Hwa layak tidak pernah buruk rupa lagi?"


"Ya, 100 untuk Yang Mulia." sorak Ara sembari mengacungkan dua jempol.


Datar, lekat, dan terkesan serius, tanggapan puteri Ara akan pujian konyol itu.


Ia iri, andai ia terlahir sebagai warga biasa, tentu tingkah bodoh seperti itu, bisa dia miliki.


Sayangnya, ia hidup sebagai puteri raja yang serba kaku dalam bersikap.


"Ma-maaf yang mulia." tutur Ara sadar diri akan sikap penolakan itu.


Ia bukan berhadapan dengan Hana, tapi jelmaan wanita yang penuh dengan asupan peraturan tata krama.


"Tidak perlu. Mungkin benar, kami para wanita bangsawan, terlebih wanita istana, terlalu kaku, bukan?" tanyanya dengan wajah tetap tenang, meskipun nyatanya ia seolah tengah berusaha menahan dengan lidah digigit.


Tak mau menyela.


"Walau kehidupan kami sangat terjamin, tentu sebanding dengan resikonya...... Antar saudara hanya terjalin ikatan darah, tapi soal kekuasaan...." ucapannya mengambang begitu saja. Sesak rasanya ia ingin melanjutkan.


"Yang Mulia..." Ara menangkap gurat itu.


"Tak apa." puteri Ara mengibaskan telapak tangannya. Entah kenapa ia mendadak melow di hadapan sosok asing ini.


"Di zaman ku juga ada yang begitu, Yang Mulia. Aku sangat sadar." ara mencoba memberi perbandingan yang sama agar wanita itu tak merasa sendirian.


"Para puteri raja?"


"Bukan. Hampir sama, tapi, mereka lebih sok berkuasa melebih golongan keturunan raja, kekayaan mereka membutakan sifat kemanusiaannya." cerocos Ara, seakan ia curhat.

__ADS_1


"Mereka kaum bangsawan?" tebak puteri Ara, jika arah Ara berkata bak keluarga raja, artinya bukan para puteri.


"Iya, bangsawan licik, manja, sok kaya, dan.... Sok segalanya." runtutnya lalu.


"Lalu, bagaimana denganmu? Apakah kau bagian bangsawan atau......." hendak meneruskan, tapi Ara kepalang menerobos sebelum kata itu meluncur.


"Aku orang biasa." sahutnya


"Rakyat jelata." tegas puteri Ara, tapi mendapat gelengan penolakan.


"Bu-bukan Yang Mulia, aku bukan rakyat jelata, tapi rakyat ekonomi menengah standar ke atas." elak Ara enggan dengan sebutan tersebut.


"Rakyat ekonomi menengah standar ke atas?" tak mengerti tingkatan kasta demikian.


"Begini Yang Mulia. Aku bisa membeli semua kemewahan walau bukan golongan bangsawan, tapi aku bukam rakyat jelata yang tidak bisa apa-apa." jelas Ara pelan, sungguh, lidahnya sulit sekali mengimbangi gaya bicara orang-orang era Joseon ini. Beruntung ia sering menonton drama kerajaan, jadi kosakata seperti itu cukup membantu.


Meski sering lidah itu keselip bahasa gaulnya yang kini banyak jadi trend di istana.


"Kau bukan keluarga kerajaan, bukan juga bangsawan dan bukan pula rakyat jelata, kasta kalian sungguh rumit rupanya." komentar puteri Ara memikirkan susunan kasta di dunia Ara.


"Mungkin, tapi yang pasti, walau kami bukan bangsawan, selagi bekerja dan mempunyai uang. Kami tetap bisa membeli kemewahan, Yang Mulia." seloroh Ara menimpali.


"Lalu, bagaimana dengan idemu yang mengubah penampilan keponakanku itu.?"


Ara menghela nafas berat.


memangnya iapa mereka, hah!!!???


"Saya hanya tidak suka mereka mengucapkan hal buruk tentang puteri Hwa di setiap sudut istana ini." ujar Ara.


"Dan sekalian saja saya membuat mereka yang melakukan ini untuk tahu jika gadis ini tak takut sedikitpun dengan perlakuan mereka."


"Mereka?" puteri Ara menangkap kata yang cukup membuat sudut bibirnya naik ke atas. Ia tertarik.


"Iya. Yang Mulia." angguk Ara membenarkan.


"Apa kau menyimpulkan jika yang menimpa puteri Hwa adalah karena orang lain?"


Lagi-lagi Ara menganggukkan kepala milik puteri Hwa.


"Iya Yang Mulia. Semua yang menimpa puteri, terlebih wajah rusak adalah karena orang-orang geng apel itu."


"Geng Apel? Apa itu?" cetus puteri Ara mengerutkan dahinya bingung.


"Geng itu mirip....... Sekelompok orang yang memilki tujuan sama." jelas Ara.


"Ooo, jadi kelompok Apel itu......."

__ADS_1


"Benar Yang Mulia, mereka adalah sekelompok orang yang memiliki aroma buah apel. Buah yang begitu aku benci." tutur Ara.


Puteri Ara menyunggingkan senyum manisnya. Tipis, tapi menyentuh hati siapapun, Ara yang perempuan saja terpesona.


"Kenapa Yang Mulia? Apa ada yang lucu?" tanya Ara heran dengan senyuman itu.


"Kau, kau pasti orang yang cerdas. Bahkan penyebab kerusakan itu saja, kau tahu." ucap puteri Ara bernada memuji.


"Ehm. Tentu Yang Mulia, kan sudah aku jelaskan tadi." bangga Ara memuji diri sendiri yang pandai memahami situasi berbahaya di sekelilingnya.


"Apa kau sudah mengetahui siapa saja yang terlibat di dalam kelompok itu?" pertanyaan mulai menyentuh intinya.


Ara sadar, ternyata wanita yang ada di hadapannya ini tengah memintanya membagi informasi.


"Sedikit Yang Mulia. Terutama yang paling menyebalkan di antara mereka." jawab Ara dengan raut wajah sebalnya.


"Oh ya? Siapa itu.?"


Ara mencondongkan tubuhnya, ucapannya yang tadi pelan, kini bertambah pelan saja.


"Dayang An, Yang mulia." jawabnya berbisik.


Tenang, tak ada ekspresi apapun yang keluar dari puteri Ara.


Dan Ara tercenung, hingga ia mengatupkan bibir puteri Hwa.


"Hahahahahahahhahah." gelegak tawa memenuhi ruangan itu.


Puteri Ara pelakunya.


"Lihat, senyuman saja begitu mempesona, malah tertawa. Aish untung gue cewek, kalo cowok aja udah terpikat maksimal gue." batin Ara memuji kecantikan puteri Ara yang sudah menyusutkan tawanya.


"Tertawaku jangan sampai menyinggungmu.... Mmmmh sebagai siapa aku menyebut dirimu..." sebagai seorang bagian keluarga kerajaan, pantang baginya mengucapkan maaf terhadap orang yang tak jelas kastanya apa.


"Ah tidak Yang Mulia....... Nama saya Jo Ara." Ara mengulurkan telapak tangan puteri Hwa. Seraya menyebut namanya.


Yang diajak berkenalan sontak membolakan kedua matanya.


"Kau mengejekku, hah?" tanya puteri Ara menatap tajam manik keponakannya.


"Tidak Yang Mulia. Awalnya saat pertemua pertama juga sangat menyebalkan kita memiliki nama yang serupa." jawab Ara jujur.


"Menyebalkan?"


"Iya, memiliki nama yang sama dengan orang yang sering membuat kita sebal setiap bertemu." lanjut Ara tak sadar.


"Jadi... Menurutmu aku menyebalkan....."

__ADS_1


Upssss.!!!


__ADS_2