100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
Meledak


__ADS_3

Won memandang lekat wajah gadis yang ia kenal sebagai puteri raja sekaligus keponakannya, yang entah apa sebabnya hingga ia di bawa oleh perempuan yang kini duduk di sisi singgasana baginda raja selama bertahun-tahun, dengan rapi dan tak diketahui.


"Kenapa kau memandangku seperti itu?" Ara mendengus dengan tatapan penuh selidik ketika ia menangkap tatapan Won padanya.


"Apa kau pikir aku akan menyukaimu sebagai seorang gadis? Kau keponakanku, Hwa." sahut pria itu, dengan nada menyebalkan di pendengaran Ara.


"Baguslah." balas Ara menutup debat menyebalkan.


"Aku penasaran akan sesuatu." ujar Won tiba-tiba.


"Apa?" sahut Ara malas.


"Aku tidak merasa jika kau seakan lupa diri sendiri, Hwa, tapi......" kembali Won mencari kebenaran dari tiap gerak-gerik tubuh puteri Hwa.


Ara tertegun.


Apakah dia akan....


"Maksudmu?" tanyanya hati-hati.


"Aku merasa jika kau justru seperti orang lain." jawabnya.


Ara memutar bola mata itu jengah...


"Jelaslah, kalau orang lupa ingatan, ia akan bertingkah seperti orang lain...." ucap Ara.


Ia masih belum mau membongkar jati dirinya pada pria itu.


Meskipun kebenarannya pria itu ada di pihaknya.


Hening.....


"Han-ah!!" Ara menyeru pada dayang yang duduk agak berjarak di belakang Won., gadis itu menegakkan kepalanya menatap arah si pemanggil.


"Ya. Yang Mulia." sahutnya menatap puteri Hwa.


"Kemari." Ara melambaikan telapak tangannya, meminta dayang Han menghampirinya.


"Di sini, Han-ah, sebelahku." titahnya!!


"Benar saja, aku tidak menemukan satu pun kebiasaan Hwa di dirimu ini." duga Won, instingnya benar, andai ia hidup di jaman canggih, amnesia adalah hal biasa. Meskipun di era Joseon, hilang ingatan masih menjadi hal aneh, orang kembar pun di nilai tak etis di era ini.


"Terserah kau, aku tetap puteri Hwa." Ara balas sengit, melengoskan wajah itu ke arah dayang Han.


"Hei." panggilnya, ketika ia mendapat respon yang lain dari keponakannya


Naluri Won jelas menilai jika keponakannya seolah bukanlah dirinya. Entah, ia bingung memaknainya.


"Pergilah. Aku sibuk." tanpa menatap lawan bicaranya. Dengan enteng, Ara mengusir pria itu dengan jelas.


Masa bodoh tersinggung kah, atau marah.

__ADS_1


Won terbelalak sejenak, namun kemudian, ia terkekeh.


"Baiklah, aku akan berjalan-jalan dulu sementara masih di kota." ia mengangkat bokongnya. Lalu memberi hormat pada keponakannya yang tak sama sekali menoleh padanya.


Hening, tak ada jawaban.


"Hwa-ya. Aku pergi." ucapnya, berharap ada sahutan.


"Sana, hus hus." tetap tak melihat. Namun telapak tangan gadis itu lincah sekali melambai pada pria itu, menegaskan maksudnya, Mengusir.


Srett!!!


Pintu ditarik, melenyapkan tubuh gagah pria bernama Won.


Meninggalkan Ara bersama dayang Han


"Kau ingat apa rencana kita nanti kan?" Tanya Ara pada dayang Han yang mematung di hadapannya.


"Iya. Yang Mulia." jawabnya mengangguk, membalas tatapan Ara.


"Ayo, kita pulang ke kediamanku. Entah kenapa aku merinding berada di sini." Ara mengelilingkan pandangan mata puteri Hwa ke dalam ruangan ini.


"Baik Yang Mulia." dayang Han mengikuti langkah majikannya menuju pintu keluar villa ini.


Hanya berdua. tanpa pengawalan sama sekali.


Sepanjang perjalanan.


Sebenarnya Ara begitu gemas dengan dayang ini. Beberapa kali ia memperlambat langkah agar ia dan dayang Han bisa berjalan bersisian. Tapi dayang Han tetap menjaga posisinya di belakang tubuh itu, meski tahu kini majikannya tengah dirasuki oleh jiwa lain. Tapi loyalitasnya tetap berlaku.


"Maaf Yang Mulia, saya tidak bisa." dayang Han menolak secara halus dan jelas, enggan bersikap sebagaimana maunya sosok yang bersemanyam di tubuh puteri Hwa.


"Kau ini, ketika kita hanya berdua, dayang Han. Saat tidak ada siapapun." titah Ara tegas tak mau dibantah.


Dayang Han menarik nafas dan membuangnya sangat pelan. ia tentu bingung, serba salah. Satu sisi ini majikannya, namun kini jiwa itu milik orang lain.


"Akan saya coba Yang Mulia." jawab dayang Han dengan berat.


"Gitu dong. Kan enak kalo nurut." cetus Ara membuat dayang Han mengerutkan dahinya mendengar ucapan aneh yang di dengarnya.


Namun ia tak mau menanggapi. Karena ia sudah tahu siapa yang mempunyai kosakata aneh itu.


"Yang Mulia. Anda darimana saja." begitu Ara sudah menapaki halaman kediaman puteri Hwa, ia telah disambut oleh dayang senior yang memimpin kediamannya. Dayang itu menghandel semua dayang di kediamannya, termasuk dayang Han


"Aku dari jalan-jalan sebentar, mencari udara segar." jawab Ara lalu melanjutkan langkahnya menaiki satu persatu anak tangga untuk masuk ke dalam.


"Dayang Han. Dari mana kau membawa puteri Hwa?" dayang senior itu menahan lengan dayang Han. Masih butuh konfirmasi.


"Iya, Nyonya. Saya mengantar puteri Hwa berjalan-jalan dekat kolam teratai Barat." jawab dayang Han. Ia tak berbohong. Karena tadi mereka memang melewati jembatan kecil yang ada di atas kolam teratai itu.


"Jangan kau bawa kemana-mana Yang mulia. Kau harus ingat apa yang akhir-akhir ini terjadi padanya, paham!" perintah dayang senior tegas.

__ADS_1


Dayang Han mengangguk. Ia menduga jika dayang yang usianya 50an itu bukanlah salah satu anggota dayang lain yang hendak berbuat jahat pada puteri Hwa.


Dayang Han bergegas menyusul majikannya yang sudah terlebih dulu masuk.


Saat langkahnya sudah ada di lantai kayu bangunan itu. Indra penciumannya menangkap aroma.......


"Bau apa ini?" ia berhenti sejenak. Mengitari pandangan di tempatnya berdiri.


Sedikit lagi ia akan sampai ke pintu geser tempat keberadaan puteri Hwa. Namun di lorong ini, ia merasa ada yang aneh.


Karena hening, dan tak ada gerakan sama sekali, ia melanjutkan langkahnya.


Melewati barisan dayang yang menjaga pintu.


Sret!!!


Pintu tertutup kembali. Ia menatap puteri Hwa yang menempelkan wajahnya pada dinding ruangannya.


"Yang....." ia hendak memanggil namun tiba-tiba. Ara menarik telunjuk mengarahkan pada mulut yang mengisyaratkan untuk diam.


"Sini." begitu kira-kira maksud bahasa bibir yang Ara ucapkan untuk dayang itu.


Dayang Han paham. Ia berjalan menuju tubuh itu.


"Ada apa Yang Mulia.?" tanyanya pelan ketika sudah ada di sisi puteri Hwa.


"Aku merasa ada yang aneh di sini." ucap Ara masih menempelkan wajahnya ke dinding itu


"Apakah Yang Mulia mencium sesuatu yang aneh?" dayang Han menduga demikian, dan yang ditanya langsung menatap dayang Han lalu mengangguk.


"Apa kau juga mencium aroma yang tidak biasa di dalam bangunan ini?" balik Ara bertanya.


"Iya Yang Mulia, saya hanya menduga saja." jawab dayang Han


"Ayo, kita harus bergegas keluar dari tempat ini." tanpa aba-aba, Ara segera menarik tangan puteri Hwa, tapi saat ia hendak membuka pintu,... Mendadak berat...


Terkunci


Lebih tepatnya dikunci dari luar.


"Sial!!!" decih Ara membuat dayang Han melotot ketika mendengar makian itu keluar dari mulut majikannya.


"Ayo, Han-ah, aku tidak mau mati di sini sia-sia." Ara tanpa pikir panjang. Meraih daun jendela dan. ..


Hup!!!!


Mereka melompat


Lalu.....


Duar!!!!!!!!!

__ADS_1


Bangunan itu...... Meledak


__ADS_2