100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
Dosa Besar


__ADS_3

"Jika dia bukan ibu dari puteri Hwa, apakah ia hanya ibu sambung?"


"Kalau dia ibu sambung dan puteri anak ratu atau selir sih gak apa."


"Karena artinya dia tetap seorang puteri, bukan.?"


"Toh lahir dari siapapun asal bibitnya dari raja, tak masalah mengaku menjadi puteri toh?"


Ara berceloteh tak jelas sepanjang duduknya. Ia sendiri, dayang Han tak kelihatan batang hidungnya semenjak ia membantu membereskan barang-barang di ruangan ini.


Tak tau kabur kemana dayang labil itu.


"Kenapa sunyi sekali, sih?" gerutunya saat merasakan hawa-hawa hening lebih dominan di sekelilingnya.


Ara menarik berdiri tubuh ramping puteri Hwa. Mengarahkannya ke depan pintu geser.


Saat tangannya berhasil menggapai handel pintu, ....


"Beruntung sekali hidup puteri Hwa kalau begini." Pelan ia mendengar percakapan di luar pintu, sepertinya para dayang siap bergosip, tentang puteri Hwa tentunya.


"Iya. Bukankah nyawanya beberapa kali terancam?"


"Hooh betul itu, namun yang kemarin, yang kemarin itu sungguh luar biasa."


"Sungguh para dewa dan leluhur begitu mencintai puteri Hwa." decak iri terasa dari percakapan mereka. Iri dalam artian, melebih-lebihkan keberuntungan orang lain sementara dirinya selalu dianggap sial.


"Ck." Ara berdecak pelan. Menggelengkan kepala mendengar mereka mengatakan hal demikian.


Bagaimana bisa dikatakan beruntung, jika hanya karena nyawanya beberapa kali terselamatkan dari maut?


Itu bukan beruntung, tapi kebetulan yang menyakitkan. Lolos dari maut yang ia lalui itu penuh luka dan penderitaan, bukan seperti ada lubang dan ia tinggal menggeser langkah ketika tahu nyaris jatuh.


Srettt


"Jadi aku beruntung, ya?" Ara menampakkan wujud puteri Hwa yang menjadi bahan perbincangan mereka.


Dan pucatlah wajah para dayang penggosip itu.


"Ya-yang Mu-mulia." menjatuhkan tubuh mereka bersamaan saat ketahuan melakukan tindakan buruk terhadap majikan yang dijadikan objeknya.


"Am-ampuni ha-hamba, pu-puteri Hwa." mohon para dayang.


Sementara Ara berkacak pinggang dengan punggung menempel pada pintu geser yang terbuka sedikit.


"Sudahlah, sana, syuh syuh." Ara mengibaskan telapak tangan puteri Hwa, menyuruh para penggosip itu menjauh darinya.


Mengangguk cepat, berdiri. Dan memundurkan langkah.


"Hei, tunggu!!!" panggil Ara, mencegah langkah dayang-dayang itu.


"I-iya, puteri Hwa." saking tak siap, mereka nyaris terjengkang.


Itu karena ketahuan bergosip, coba kalau mereka baik-baik, tak akan seperti itu! Hehehe.


"Mana dayang-dayang yang biasa berjaga di depan kamarku, huh?" tanya Ara, heran sepi sekali bangunan ini.


"Me-mereka dipindah tugaskan, pu-puteri Hwa." jawab salah satu dari mereka.


"Pindah tugaskan?" beo Ara yang diangguki dayang-dayang.

__ADS_1


"Heh, aku baru meninggal satu hari, mereka sudah di pindah tugaskan begitu saja." kesal Ara menatap mereka yang justeru bertambah gugup.


"Sudahlah, sana, pergi pergi." usirnya lagi, dan tanpa menunggu waktu lama, para dayang segera mengambil langkah lebar dan cepat mundur dari hadapan puteri Hwa.


Srreeetttt


Ara menutup pintu geser itu lagi, dan masuk ke ruangannya.


Memindai sekitar...


"Ihh beneran horor banget sih jadinya ruangan ini." ia bergidik di tengah kesendiriannya.


"Padahal yang baru aja bangkit dari matinya kan yang punya tubuh ini. Eh gue juga deh." akunya pelan.


Tak lama, ia mendengar derap langkah di luar.


Dan... Srettt


Pintu dibuka kembali, memunculkan 2 orang dayang yang membawa baki berisi makan siang sepertinya karena sudah waktunya.


Ara memperhatikan lekat. Karena dari awal pintu terbuka, dua orang itu terlihat mengatur ritme ekspresinya. Pun sekarang, jalannya seakan begitu pelan, wajah mereka tak tenang.


Mata yang Ara gunakan masih setia mengawasi keduanya. Hingga hidangan satu demi satu tertata di atas meja, sikap keduanya tetap kentara, gugup.


"Kalian berdua kenapa sih?" tanya Ara bingung.


Ting!!


Karena kaget, salah satu dayang malah membenturkan mangkuk berisi sup dengan mangkuk berisi daging tumis.


"Hahh?" sahut dayang tak siap


"Kalian takut karena aku bangun dari kematian. Huh???" lagi tanya Ara menduga. Sepertinya itu alasan ketakutan mereka.


"Halah sudahlah, aku tahu kalian takut, bukan? Jika begitu....." Ara jelas kesal, apa-apaan coba, sedari tadi banyak mata tak enak menatapnya.


Harusnya mereka senang, bukan?


Dan, ini balasan Ara....


Prang!!!!!!!!


Sekuat tenaga ia membalik meja yang penuh hidangan makan siang untuknya. Membuat kedua dayang itu membelalak penuh.


"Ma-maafkan, ka-kami puteri Hwa." menyembahkan tubuh. Dengan telapak tangan saling ditangkup. Memohon ampun.


"Katakan pada semua dayang." perintahnya.


"Jika kalian masih bersikap cemas dan takut tiap mendekatiku...."


Glek


Menelan ludah susah, dua dayang.


"Maka akan aku beri kalian pelajaran lebih dari ini, PAHAM!!!!!" Ara menghardik keras keduanya. Yang diangguki berulang sebagai bentuk kepatuhan.


"Panggil dayang Han kemari." lanjutnya memberi perintah, dan diangguki mereka lagi. Lalu setelahnya.....


"KELUAR!!!!" Usirnya keras.

__ADS_1


****


Tuk tuk tuk


Tuk tuk tuk


Suara ketukan jari telunjuk kemeja, menjadi musik horor di ruangan ini. Bagi dayang Han, mungkin.


Karena saat ini, ia yang tadinya mendapat panggilan dari dayang yang dimarahi Ara mendadak cemas.


Menurut penuturan kedua dayang, puteri Hwa bersikap kejam, tak seperti biasanya.


Dan di sinilah ia sekarang, menunggu majikannya yang masih setia mengadu tunjuknya dengan meja di hadapannya.


"Kau tahu, dayang Han.??" tanyanya pelan persis menggumam.


"Apa yang mulia.?" sahut dayang Han dalam bentuk kalimat tanya.


"Kematianku seakan duka cita seluruhnya, padahal, kalian semua seperti mengharapkan aku memang mati, bukan?" ujar Ara lirih.


Dayang Han mengangkat wajahnya lurus kearah puteri Hwa. Menatap sendu gadis itu.


"Tidak benar yang mulia." bantahnya.


"Oh ya?" tanya Ara balik menatap dayang Han.


"Hamba terluka sekali ketika melihat anda tidak bergerak sama sekali hari itu." ucap dayang Han. Ara tak melihat kebohongan dari raut wajah itu. Benar-benar terasa ketulusan di sana.


"Tapi, puteri malang kalian ini, harusnya memang tak hidup, bukan? Banyak yang berharap aku tak perlu kembali, dayang Han." ucap Ara tak kalah pelan.


Ia jelas merasakan hal demikian, setelah.... Setelah....


"Ini...." ia melempar beberapa lembar kertas yang sudah tak jelas bentuknya karena seperti teremas sempurna.


Dayang Han meraih gumpalan kertas itu.


Dan..... Ia tahu alasan ucapan puteri Hwa.


Kau harusnya mati puteri sial


isi kertas pertama dan beberapa lainnya


Kau sangat dicintai para dewa rupanya


Dayang Han tertegun membaca kalimat kebencian dari kertas yang diberikan puteri Hwa padanya.


"Dan kau tahu tidak dayang Han..." ucap Ara menunduk


"Saat aku bertarung dengan orang itu di tempat pemandian...."


"Ia berujar hal yang sama....."


Dayang Han menunggu...


"Kau harusnya memang mati dari bayi, puteri Hwa." tiru Ara pada musuhnya yang menusukan bilah tajam itu ke perut puteri Hwa.


Ia ingat betul saat itu, tatapan kebencian pun menguar dari wajah pembunuhnya.


"Kau tahu maksudnya, dayang Han?" tanya Ara

__ADS_1


Dayang Han menggeleng.


"Itu artinya, ada dosa besar yang dilakukan ketika aku terlahir di dunia ini. Hingga banyak yang membenciku sedari dulu." pungkas Ara menutup obrolan.


__ADS_2