100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
Intimidasi Lagi?


__ADS_3

Ara masih diam tanpa berniat mengangkat tangan puteri Hwa untuk meraih cangkir di hadapannya.


Ogah pakek banget lah.


Cuih.


Dan itu memantik perhatian ratu serta dayang tengil itu yang rupanya tidak pergi setelah selesai menghidangkan jamuan, seperti umumnya para dayang lainnya.


"Ada apa puteri Hwa? Kau tidak menyukai hidangan itu?" ratu bertanya dengan senyum yang ia kulum. Mirip niat menyindir.


Ara menarik ujung garis bibir puteri Hwa, "Aku sedang tidak haus, yang mulia." seloroh Ara menjawab. Padahal jujurnya, ia tentu tidak mau membuat tubuh ini panas karena efek minuman itu, dampaknya kerasa sampai jiwanya.


"Oh ya? Bukankah itu hidangan yang sangat kau sukai, puteri?" lagi, ratu menekan Ara untuk mengangkat cangkir mini itu.


"Nanti aku minum, yang mulia." sahut Ara meyakini. Meski dalam benak terdalamnya, ia jingkrak menolak.


"Hmm sayang sekali, padahal itu sangat istimewa saya buat kali ini, yang mulia." yang berbicara kali ini justeru dayang yang duduk bersebrangan dengan Ara.


Aneh sekali, atau malah kurang ajar sekali?


Ara mengirimkan sinyal membunuh melalui sorot mata.tajam milik puteri Hwa. Sayang sekali, mata bening itu cenderung sayu, jadi ketajaman yang diusahakan Ara, tak maksimal. Hehhehe.


"Cicipi hasil racikan khusus dari dayang An, puteri Hwa." pelan, namun menekan, ratu mengutarakan kata yang lebih pada perintah.


Ara menyeringai, sedikit.


"Hmm, begitukah?" sahut Ara bertanya.


Ia meraih cangkir kecil itu. Aroma manis yang dikeluarkan buah itu, jelas menusuk penciumannya. Namun, ada aroma lain yang tertangkap Ara.


Tapi apa?


Semacam herbal, tapi, apa benar herbal?


Aihhhh apaan sih!!!


"Terima kasih kalau begitu." lanjut Ara.


Baik dayang maupun ratu, bisa dipastikan Ara jika kedua komplotan itu menatapnya lekat, menunggu kelanjutan dari cangkir yang sudah digenggam gadis itu.


'Pasti pada nungguin, ya!!!' batinnya geli.


****


Sementara di tempat lain, pria yang memakai pakaian untuk latihan memanah, fokus dengan tarikan busurnya. Di sisinya, para pengawal maupun dayang memperhatikan pria berpakaian corak biru itu.


Jemarinya siap melontarkan anak panah pada target papan dengan pola kepala hewan terlukis di sana.


Syaaaaaappppp.

__ADS_1


Tepat sasaran.


Salah satu petugas istana mengibarkan dua bendara pertanda keberhasilan putera mahkota yang mengenai targetnya tepat di tengah.


"Singkirkan, aku bosan." perintahnya pada pengawal yang mengurus perlengkapan memanahnya.


"Jangan ada yang mengikutiku, cukup pengawalku saja." lagi, perintahnya, menoleh tepat pada semua pelayannya yang menunduk bingung.


Sembari ia melangkah, mereka pun solid mengikutinya dari belakang.


Membangkang?


Sungguh!!!!


Putera mahkota menyadari hal itu, hingga langkahnya sontak berhenti mendadak.


Dan, barisan yang mengikutinya terkejut dengan aksi dadakan itu


"Kalian!!! Sudah aku bilang, cukup pengawal pribadiku saja, kalian tak paham!!" hardiknya geram menatap semua yang membangkang perintahnya.


"Ta-tapi yang mulia, ka-kami tidak bisa memenuhi permintaan anda." salah satu pengawal yang terlihat senior itu maju menyuarakan pendapatnya


"Itu perintah, bukan permintaan!" tegas putera mahkota.


"Maaf yang mulia, kami tetap akan mengiringi langkah anda." bantah pengawal itu.


Putera mahkota menghela nafas kasar, lalu mendengus.


Pun semua menoleh dan tertegun, bukankah jarak itu terlalu jauh??


"Tap...." pengawal tadi ingin membantah lagi, namun kibasan telapak tangan putera mahkota menjadi tanda bahwa pembicaraan sudah tidak bisa diganggu gugat lagi.


Membalikkan tubuh kekarnya, putera mahkota meninggalkan kerumunan pelayannya. Melangkah menuju tempat yang ingin ia tuju dengan didampingi pengawal pribadinya.


"Apakah kita akan mendatangi villa milik puteri Hwa, yang mulia?" tanya pengawal pribadi putera mahkota.


Pria yang ditanya mengangguk mengiyakan.


"Iya, karena aku sudah mengirimkan pesan untuk puteri Hwa, agar pergi ke villanya juga hari ini." jawab putera mahkota.


"Baik yang mulia." sahut pengawalnya.


"Jadi kita akan mengikuti putera mahkota dari jarak sejauh ini, pengawal?" seorang dayang yang ada dalam barisan pelayan putera mahkota, bersuara.


"Sepertinya begitu, nyonya." jawab pengawal itu.


Seperti yang mereka tahu, watak putera mahkota semakin hari semakin menjadi arogan. Pria itu kerap emosional belakangan ini. Maka, bisa dipastikan akan meledak jika perintahnya sering dibantah. Maka salah satu solusinya hanya mengalah pada pria itu.


Langkah mereka akhirnya berhenti di sebuah bangunan tinggi di pelataran sudut istana. Memang dibangun untuk tempat beristirahat dengan tenang.

__ADS_1


Villa puteri Hwa.


Hening, sepi. Kenapa tidak ada tanda manusia di sini?


"Yang mulia." pengawal yang berdiri di belakang putera mahkota seakan tahu pikiran majikannya.


"Mungkin dia belum sampai." sahut putera mahkota.


"Ah... Kau berada di sini rupanya putera mahkota." dari arah lain, rombongan yang dipimpin suara perempuan itu merangsek masuk.


Puteri Ara.


"Bibi." sambut putera mahkota


"Bagaimana dengan pelaksanaan pemilihan puteri mahkota, putera mahkota?" tanya perempuan paruh baya itu.


Putera mahkota mendengus, seraya melempar senyum menanggapi tanya barusan.


"Bibi sangat perhatian sekali rupanya." jawab pria itu senada sindiran.


Tawa kecil menyeruak dari bibir puteri Ara.


"Oh ya? Tentu saja, yang mulia." sahut puteri Ara.


"Karena bagaimana pun, kau adalah calon pemimpin negeri ini, yang mulia." ujar puteri Ara.


"Dan, dengan segera melakukan pemilihan puteri mahkota, maka kau bisa menyingkirkan gosip menggelikan itu, bukan?" lanjut bibi putera mahkota itu.


Putera mahkota mengerenyitkan dahinya, heran meskipun tahu kemana arah ucapan itu.


"Hah! Bibi sebagai keluarga kerajaan. Yang tahu etika wanita bangsawan seharusnya cukup tahu jika gosip adalah hal murahan bagi kita, bukan?" balas putera mahkota pelan, namun nyelekit bestie.


Tawa kecil yang dikeluarkan puteri Ara, berubah menjadi tawa keras. Seakan ucapan yang keluar dari bibir merah putera mahkota adalah lelucon konyol di telinga putera Ara.


"Yang mulia, yang mulia.!!!" obrolan menegangkan itu mendadak berhenti ketika, ada pria yang berlari tergopoh-gopoh mendekati putera mahkota.


Pria yang dipanggil pun menoleh ke asal suara, mengenali, bukankah itu adalah salah satu suruhannya untuk menjadi penjaga di kediaman puteri Hwa??


"Puteri, puteri,..." nafasnya sangat tersengal, cukup membuktikan jika pria itu berlari tanpa jeda.


"Kenapa dengan puteri Hwa?" putera mahkota yang menangkap gurat kecemasan dari pengawal itu juga mendadak ikut terbawa.


Pun dengan puteri Ara, ikut memandang lekat pengawal itu.


"Puteri Hwa, puteri Hwa pingsan dan, dan wajahnya memerah, yang mulia." suara pengawal yang menjelaskan pun terlihat kesulitan.


"Apa!!! Bagaimana bisa." keras, tanggapan suara putera mahkota.


Tanpa menunggu waktu lama, putera mahkota melesak pergi menuju tempat yang menjadi kecemasan sekarang.

__ADS_1


Bangunan puteri Hwa. Tempat gadis yang dikabarkan pingsan dan menderita kemerahan di tubuhnya.


Apakah gadis itu, mendapat intimidasi lagi? Seperti dulu, ketika awal mula penyebab wajah cantik itu menjadi buruk rupa.


__ADS_2