
"Ingat Ara, ingat!! Eling atuh geulis." Hana menarik paksa lengan Ara dengan sekuat tenaga. Dan berhasil.
Sukurr dah.
"Ahhhh kau ini, berani-beraninya menyentuhku seperti itu." puteri Hwa meronta keras, tak terima dirinya diperlakukan demikian. Ia seorang puteri kerajaan, puteri kesayangan baginda raja!!!!.
"Oho!!!! Turunkan tangan rendahmu itu!!!" hardiknya di tengah mabuk berat.
"Ck." hanya decakan cuek yang keluar dari bibir Hana. Masa' bodo.
"Turunkan tanganmu!!!"
"heii turunkan.!!!
"Orabeoni tolong singkirkan perempuan ini!!!.
"Orabeoni!!!"
Yang dipanggil hanya tertegun, jantungnya sudah mulai berdetak seperi sedia kala. Meskipum telapak tangannya berkeringat tanpa tahu alasannya.
Gugup?
Tak mungkin, pasti efek terkejutnya tadi.
Iya kan?
******
"Masuk ya." Ara, tanpa malu sedikitpun, tanpa mengindahkan etika berkunjung kaum bangsawan, masuk sebelum izin sang empu keluar.
Benar saja, dayang Im dan puteri Ara melongo melihat gerak-gerik gadis kesayangan raja masuk seenaknya.
"Pada sibuk membicarakan apa ya? Heboh sekali loh sampai keluar bangunan ini." ucap Ara, melebih-lebihkan.
Mengambil satu bantalan untuk duduk, dan tepat di belakang dayang Im.
Membuat si dayang otomatis bangkit tanpa di suruh.
Sungguh tidak sopan bukan membelakangi seorang keluarga kerajaan?
Gerak tubuh dayang itu tak luput dari netra Ara.
Bibir puteri Hwa pun ia monyongkan dua meter.
Alamak panjang bener,, hahahha.
"Mau kemana, dayang Im?" tanya Ara. Kepooowww deh.
Yang ditanya malah melangkah seraya membungkuk melewatinya.
Ethh dah sabar prul, mangnya jaman lo yang ngejawab bisa sambil salto. Etika woy etika.
Ara melihat pelayan renta itu duduk tak jauh darinya, ya, agak berjarak.
"Ooo pindah duduk toh." seloroh Ara mengangguk paham.
"Ada keperluan apa, dirimu kemari, puteri Hwa?" tanya puteri Ara menatap intens keponakannya itu.
"Ahh, maaf." karena Ara baru selesai memperhatikan dayang Im, ia agak terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan cepat oleh puteri Ara.
"Cuma lewat." sahutnya menjawab kemudian
"Cuma lewat?" ulang puteri Ara, ragu pastinya.
__ADS_1
Ara menganggukkan kepala puteri Hwa.
Tanda setuju.
"Sepertinya tidak seperti itu, bukan, puteri Hwa?" tanya puteri Ara menegaskan ketidak percayaannya.
Ara menarik sudut bibir puteri Hwa.
"Ah, yang mulia bisa saja. Memang begitu kok." jawab Ara membantah.
Padahal kenyataannya.
*Ara yang berniat memang menuju bangunan kediaman puteri Ara, bersiap melangkah ke tempat horor di istana itu.
Bagaimana tidak, bukankah ia rivalnya.
Tentu akan sangat menguras energi Ara jika ia datang ke sana. Mana bawaannya lagi masa mau menstruasi pulak.
Mudah baperan.
Hormon naek turun tanjakan menikung.
Tapi egonya yang tinggi itu, hendak ia hempaskan. Demi menunaikan hajat hidup orang banyak.
Halah, sok lo.
....
Saat langkahnya sudah pasti mendekati bangunan itu.
Perlahan, ia sudah menuju ruang di mana tempat bersemayamnya sang pemilik bangunan ini.
Tapi, ketika sudah berbelok menuju posisi itu.
Hening, tak ia dapati seuprit satupun dayang yang menjaga pintu geser itu.
Tapi, naluri kuatnya yang hendak berbalik pergi seketika tertahan.
Manakala ia mendengar obrolan dua orang suara perempuan di dalam ruangan di balik pintu tanpa penjaga tadi.
Dan jelas saja, Ara serasa mendapati unjalan segepok keberuntungan.
Ketika dengan bebasnya, telinga milik puteri Hwa itu, menangkap berbagai pembicaraan yang jelas itu harusnya rahasia.
"O-ow. Wajar aja ini pintu kagak ada penjaganya. Lagi pada ngegosip hal terlarang, yak" angguk Ara memahami situasi sekitarnya.
Dengam gemasnya ia berusaha menahan kaki ini tidak bergerak langsung menerobos masuk. Ia akan bertahan sebentar lagi. Mencoba mengambil banyak informasi rahasia ini.
Ok, si tengil nan bar-bar ini, lagi menguping guyzzz.
"Asekk boleh info gratis gue." ucapnya pelan, nyaris berbisik.
"Mayan, padahal bukan ini tujuan utama gue kemari." lanjutnya.
Benar, bukan itu tujuan si tengil.
Tujuan sebenarnya adalah, menuntaskan emosi yang membumbung tinggi, ketika gejolak orang sekitar yang menggosipinya melebihi ekspektasinya.
Jadi, ia perlu lawan songong yang berani adu mulut dengannya.
Sebenarnya lebih hot itu melawan Kim So Yoon, si anak menteri Kim yang merupakan tangan kanan dan kiri ratu.
Tapi kejauhan tempatnya, dan gak mungkin juga kan dirinya ujug-ujug menghubungi pelayan agar memberi tahu kediaman menteri Kim untuk mengirim puterinya adu mulut dengannya?
__ADS_1
Super sekali kalau itu terjadi.
Redho dan ikhlas banget tuh bokap, bukan?
Ara memasang telinga puteri Hwa selapang-lapangnya.
Hingga waktu yang membosankan itu, menggoyahkan si tengil.
Dan*,.....
Sekaranglah wujudnya, duduk manis bersitatap manja dengan puteri Ara.
"Sebenernya memang sampai keluar sana, bibi." jela Ara sekali lagi... Berbohong.
Mana ada suara obrolan rahasia tadi menyeruak hingga keluar bangunan, palingan sampe juga dua belokkan lorong sebelum ruangan ini.
Jadi bokis abis lah.
100 persen malah.
Puteri Ara tentu saja tidak semudah itu mempercayai jawaban barusan.
Siapa yang tidak kenal sosok puteri Ara. Seantero istana mengenal kepribadian dan kecerdasan puteri mendiang raja ini.
Hanya saja, disayangkan sekali, kecerdasan itu, tidak menurun pada puterinya.
Padahal, banyak prestasi yang ditelurkan oleh wanita istana ini, puisi, lukisan, hingga tulisan-tulisan yang dibukukan oleh istana.
Pun kecerdasannya tidak jauh berbeda dari mendiang raja terdahulu.
Maka dari itu, banyak pihak yang juga menyayangkan, wujud kelahiran puteri Ara harusnya adalah pria, tentu banyak yang akan mendukungnya naik tahta menjadi seorang raja, pun dengan ayahnya dan pengikut mendiang yang mengakui kemampuan puteri raja itu.
"Sepertinya bangunan ini cukup lalai penjagaannya." gumam puteri Ara cukup kuat. Sengaja.
Ara sadar kemana arahnya.
Pasti semua pelayan di dalam jangkauan suara ruangan ini sudah di musnahkan keberadaannya.
Eh, diungsikan maksudnya.
"Bibi terlalu berprasangka buruk, tadi memang....." Ara tak bisa mengelak, pamor keganasannya cukup viral sepertinya, dan bisa menjangkau kediaman puteri Ara.
Hingga tadi beberapa pengawal yang menjaga pintu luar saja cukup kaget melihat kehadirannya.
Segitu takutnya kah sama sosok puteri Hwa, sampe gugup menyambut kehadirannya di kediaman yang harusnya sudah clean dari semua orang.
Tapi, semudah itu Ara menapakkan kaki puteri Hwa untuk masuk dan sampai ke dalam...dan berbincang cantik nan santai bersama puteri Ara.
"Tadi memang sih, beberapa penjaga pada ngilang, ke toilet kali." seloroh Ara dengan kata-kata campur aduk, membuat alis baik dayang Im maupun puteri Ara naik mendengar ucapan aneh itu.
"Toilet? Apa itu?" tanya puteri Ara.
"Kamar mandi, bibi." jelas Ara singkat.
"Ooo." jawab puteri Ara, feelingnya begitu kuat ketika lawan bicaranya jujur atau berbohong.
Dan jawaban Ara menyiratkan kejujuran.
Begitu feelingnya.
"Duniamu pasti sangat aneh di sana." sindir puteri Ara menilai kehidupan zaman Ara.
"Aneh? tidak yang mulia." bantah Ara tegas.
__ADS_1
"Begitukah?" tantang puteri Ara.
"Jelas,,, Andai saja anda hidup di zaman itu. Sangat dipastikan, akan menjadi sosialitanya emak-emak di sana."