
"Hah ada apa, ada apa!!!" Hana yang masih dalam taraf terlelap dalam itu dibuat kaget tak terkira.... Maka tak heran ekspresinya seperti itu.
Jeritan dari puteri Hwa menjadi sumbernya. Maka dari itu, ketika ia sudah fokus pada target matanya yang silih berganti kalang kabut tadi, kini ia menatap penuh pada gadis yang masih berdiri menghadap jendela itu.
"Ada apa, prul!?" tanyanya heran masih dalam posisi duduk, nyawanya masih 80% yang turun ke raganya.
Tapi yang ditanya tak kunjung menjawab.
"Woyyyy!" lagi, Hana memanggil yang kali ini cukup keras.
"I-itu si-siapa??" suara dari tubuh Ara menguar di telinga Hana. Bingung, apa maksud sahabatnya itu.
"Ngomong paan sih Lo?" decak Hana malas. Kenapa pula si tengil bicara seperti itu.
"Woy Ara!!" panggilnya lagi. Dan tubuh itu berbalik ketika dipanggil.
Namun, wajahnya menyiratkan kebingungan kentara.
"Kau siapa?" yang dipanggil malah melempar tanya aneh.
"Kau ini bicara apa sih, prul? Konyol sekali." sahut Hana menggelengkan kepalanya. Ia meraih gelas kosong lalu mengisinya dengan air setengah.
"Atau mungkin gue yang kerja otaknya belum terkumpul sempurna jaringannya." gumam Hana, meneguk air hingga tandas.
Mengelap bibirnya kasar, lalu kembali menoleh ke sahabatnya yang masih setia menatapnya.
"Ada apa? Kenapa? Ada sesuatu yang aneh apa?" Hana meraba wajahnya, mencoba mencari sesuatu yang sekiranya menempel.
"Aku di mana?" tanya gadis yang menatap Hana sedari tadi. Melempar tanya kembali dan itu membuat Hana pun lagi-lagi dibuat tak percaya.
Hingga ia berdiri dan segera mendekat ke gadis itu. Ara. Mengangkat telunjuknya lalu menempelkannya di kening Ara. Dan menoelkannya.
"Apa yang kau lakukan!!" puteri Hwa malah memberi reaksi tak terima ketika Hana melakukan hal demikian. Tapi, reaksi balasan dari Hana malah membuat puteri Hwa membelalak, gadis itu tertawa terbahak-bahak malah.
"Kau ini sungguh tak masuk akal sekali, prul!" masih membawa tawa dalam tiap ucapannya, Hana menepuk pundak Ara berulang kali.
"Apakah koma kali ini membawa lari akal sehatmu, huh?" tanya Hana merasa lucu.
"Oho!!!!! Lancang sekali kau!" sergah puteri Hwa. Membentak keras Hana yang berani sekali kembali melakukan sentuhan kurang ajar seperti itu.
"Oho!! Kenapa memangnya?" Hana malah mengikuti cara bicara sahabatnya yang berlagak seperti suara orang era Joseon itu.
"Kau ini, lucu" ucap Hana.
__ADS_1
"Apakah komamu juga membuatmu berfantasi seakan kau adalah bangsawan kerajaan? Atau kau berpikir menjadi puteri Joseon, huh?" Hana lagi-lagi berceloteh, mencetuskan panjang kali lebar.
"Oho!! Kurang ajar sekali kau." Puteri Hwa sontak melayangkan tangannya tepat di kening Hana, menyadarkan gadis itu akan sikap tak sopannya.
"Aihh kau ini. Kenapa sih?" Hana melotot ketika keningnya terasa panas akibat deplakan tangan sahabatnya.
"Hei, kau kenapa? Apa kau terbentur begitu keras, huh?" Hana menggoncang tubuh Ara berulang kali, menyadarkan gadis tengil nan bar-bar itu.
"Oh, nanti kita tanya dokternya, katanya hari ini kita akan melihat hasilnya." Hana masih memegang pundak Ara, namun lembut. Seolah memberi kekuatan kesabaran pada sahabatnya.
Namun, lagi-lagi, perhatiannya ditepis kasar.
"Jauhkan tangan kotormu itu, Oho!!" ucap Puteri Hwa menegur Hana.
"Iya, Iya, oke, gue jauhin, yang mulia. Begitu?" Ucapan Hana tak membuat perasaan puteri Hwa membaik, ia menangkap sindiran dari nada bicara Hana.
"Kenapa lagi memangnya, huh?" Hana melihat Ara kini menatapnya tajam penuh selidik.
"Sudahlah, aku mau ke kamar mandi." Hana melenggang menuju kamar mandi, meninggalkan gadis itu yang menatapnya hingga hilang dibalik pintu kamar mandi.
"Siapa orang itu?" Gumam puteri Hwa kemudian.
"Ara? Dia memanggilku tadi dengan Ara?" lagi ia bertanya sendiri.
****
"Semua baik-baik saja? Begitu maksudnya dokter?" Hana membalik kertas yang berisi hasil diagnosa pemeriksaan Ara.
"Iya, cidera di kepalanya tak memberi pengaruh buruk apapun, kecuali ia terbaring koma saat itu." jawab dokter.
"Lalu? Kenapa Ara bertingkah aneh pagi tadi dokter? Jelas sepertinya ia linglung akan dirinya." Hana kembali mengingat hal terakhir akan sahabatnya yang seperti terkena amnesia.
"Apa betul tidak ada tanda-tanda kalau Ara mengidap amnesia dokter?" Hana tak mundur untuk memastikan sejelas-jelasnya perihal Ara.
Dokter menggeleng, "Tidak, nona Choi." jawab dokter.
"Meskipun hanya bersifat sementara atau apapun itu?" Lagi, tanya Hana.
"Tidak ditemukan gumpalan apapun di otak nona Go Ara, nona Choi. Hasil pemeriksaan itu sudah dilakukan dua kali dan dibaca oleh beberapa orang dokter, nona Choi." jelas dokter lagi.
"Tapi,,,,, sikap dan tingkahnya begitu aneh, seolah ia tak mengenal dirinya sendiri." ucap Hana.
"Selama proses penyembuhan, kita akan tahu apa saja yang menyebabkan nona Go Ara seperti itu." jawab dokter.
__ADS_1
"Baiklah dokter, saya ucapkan terima kasih untuk bantuan tim medis semuanya." Hana bangkit berdiri dan memberikan bungkukan tubuh sebagai bentuk penghormatan dan ucapan terima kasih, yang dibalas juga oleh dokter dengan hal serupa.
Hana yang sudah selesai menemui dokter, namun dirinya tak puas akan hasil yang tak mengerti bagaimana cara membacanya akhirnya hanya pasrah.
Dan kini, ia berdiri tegap di depan pintu ruangan Ara. Seperti kata dokter, sahabatnya itu sudah diperbolehkan pindah ke ruangan perawatan sembari tetap dilakukan pemantauan ekstensif.
*Go Ara sudah sadar kembali dari komanya, tuan Kim.* Hana menuliskan sebaris pesan di ponselnya dan ditujukan kepada sosok yang bernama Kim.
*Oh ya? Baiklah, nanti saya akan segera bergegas ke sana begitu pekerjaan saya selesai.* balas tuan Kim.
Hana menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku mantel berwarna biru mudanya. Bersiap menarik handle pintu ruangan itu, meski masih tertahan.
Menarik nafas dalam.
Hyuhhhhhh
Ceklek!!
Menemukan sosok pengisi ruangan tengah duduk memeluk keranjang berisi bunga. Entah apa yang dilakukan Ara, Hana tak paham.
"Apa yang sedang kau lakukan, Ara?" Hana mengikis jarak, mendekati brangkar tempat sahabatnya tengah duduk bersandar.
"Kau selalu menyebutku dengan Ara, Ara, dan Ara. Dan sudah beberapa kali aku bilang jika namaku itu Hwa, bukan Ara." puteri Hwa bersungut-sungut, tangannya menarik satu persatu bunga dan menaruhnya lagi di keranjang itu.
"Baiklah, maaf kalau begitu. Jadi, apa yang sedang kau lakukan Hwa-ya?" Hana melontarkan tanya dengan menyisipkan nama Hwa sesuai permintaan sahabatnya.
"Hwa-ya? Berani sekali kau!!" lagi, Hana mendapatkan kecaman dari Ara.
"Huffft, apa lagi salahku Hwa-ya?" Hana tentu tak paham di mana letak salahnya.
"Panggil aku puteri Hwa, aku bukan temanmu, kasta kita tak sama." ucap puteri Hwa
Hyuhh, sering sekali Hana membuang nafasnya menghadapi sikap tidak masuk akal Ara.
"Baiklah, baiklah kalau itu maumu, puteri Hwa." tak ingin membuat perdebatan, Hana memilih mengalah saja. Ia menyadari jika sahabatnya masih dalam masa pemulihan, kalau tidak, sudah digeplaknya kepala gadis itu keras-keras.
Ceklek
Suara handel pintu diputar, memunculkan sosok jangkung, mengenakan setelan jas yang begitu pas di tubuhnya, tatanan rambut yang memiliki potongan baik menambah nilai kesempurnaan sosok itu.
"Tuan Kim." Hana yang menyadari segera menyapa, akan tetapi.
"Orabeoni!!!" puteri Hwa sontak berteriak histeris kala mendapati sosok yang datang itu, kakaknya alias putera mahkota.
__ADS_1