100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
Kembaran Sang Ratu


__ADS_3

Sesuai dengan rencana Ara yang tertulis jelas di catatan sticky note-nya menyatakan bahwa ia memiliki jadwal penting hari ini *Menemui Won*


Begitu bunyinya.


Pokoknya bagaimana pun sulitnya, ia harus bergegas, waktunya tidak banyak.


Dan di sinilah ia malam ini.


Villa pribadi miliknya.


Bersama dayang Han tentunya, karena gadis itu sudah memberikan kabar pada pria yang rupanya sudah berdiri angkuh di pintu belakang villa itu.


Langkahnya pelan menuju tempat di mana si kepokanannya tengah menunggunya.


"Ah, apakah aku sudah terlalu terlambat, Yang Mulia?" tanyanya kala sudah menapaki lantai yang sama dengan tempa dua gadis kini duduk.


Ara menoleh, gemas, jelas saja sudah lama.


"Kau menyadarinya? Baguslah jika tahu diri." sahut Ara jujur.


"Silahkan duduk tuan Won." dayang Han menyediakan bantalan duduk untuk pria itu.


"Apa kau merindukanku, puteri Hwa?" tanyanya setelah berhasil mendaratkan bokong itu di tempat duduk.


Ara memutar bola mata malas, percaya diri sekali sih.


Gemasnya.


"Apa kau selalu begitu dengan keponakanmu ini jika bertemu, huh?" tanya Ara sebal.


Terkekeh, Won menanggapi demikian


"Apa ada yang salah? Bukankah tidak apa-apa?" balasnya santai.


Jika saja bukan karena dirinya sangat butuh bantuan pria ini, sungguh, tangan ini pasti akan menampol mulut lemesnya itu.


Entah mengapa Ara begitu mudah sebal dengan kehadirannya. Padahal baru tiga kali bertemu, tapi berasa mereka seperti kucing dan tikus saja hawa-hawanya.


Ups, mungkin cuma Ara kali ya yang merasakan sepihak?


"Aku butuh bantuanmu." ujar Ara to the point pada alasannya memanggil paman puteri ini.


"Bantuan?" ulang Won sekali lagi.


Jujur saja, saat ia kemari, bukan tanpa alasan, kabar yang sampai ke telinganya mengatakan jika seorang puteri raja bangkit dari kematiannya.


Itu ia bergegas menuju istana, tempat di mana keberadaan keponakannya, alias anak dari saudara laki-lakinya kini tinggal.


"Iya, kata dayang Han, kau tahu semua tentang diriku." Ara menoleh sekilas pada dayang Han untuk menegaskan maksudnya.


"Ahhh, jadi gosip tentang puteri Hwa yang melupakan dirinya itu benar rupanya ya." Won menganggukkan kepalanya beberapa kali tanpa melepas tatapannya pada puteri Hwa.


"Kau bisa bilang begitu, mungkin." jawab Ara masih belum mau menyingkap kebenaran dirinya kecuali pada dayang Han.

__ADS_1


Enak saja, iya kalau bisa dipercaya. Kalo gak? Tambah cepatlah malaikat maut menghampirinya, bahaya jika semakin banyak yang tahu.


Apalagi Ara yang belum tahu perihal ritual yang bisa melenyapkannya dengan bantuan dukun.


Won melirik pada dayang Han.


"Kau tidak perlu khawatir tentang dayang Han, bukankah kau tahu jika dia adalah adik dari dayangku terdahulu." Ara paham arah pandangan Won pada dayang Han.


"Aku hanya memastikan, puteri Hwa." sahut Won.


Ia tentu boleh mencurigai seseorang kan? Meski ia adalah keluarga terdekat sekalipun.


"Aku jamin itu." tegas Ara memberikan kepastian sebagai bukti dari keraguan Won.


"Baiklah kalau begitu." Won menarik nafas untuk menerima pengakuan puteri Hwa.


Hening.....


Tiba-tiba suasana ruangan itu diselimuti hawa serius.


"Benar, kau adalah keponakanku." Won membuka suaranya.


Baik Ara dan dayang Han hanya akan mendengar, tidak ada yang akan menyela ucapan pria itu.


"Dan kau bukanlah anak raja maupun ratu." lanjut Won.


Memantik raut wajah terkejut yang tidak mampu di tutupi oleh Ara dan dayang Han.


Dan dayang Han, walapun ia sempat tahu akan hal itu, tapi ia tidak menyangka jika yang ia dengar kali ini adalah benar.


"Bukankah kau sudah tahu sebelumnya, puteri Hwa?" Won melirik puteri Hwa yang membelalakan mata.


"Bahkan kau yang mendatangiku, bukan aku yang mendatangimu." lanjut Won.


"Maksud kau?" Ara bingung, jika benar demikian, itu artinya......


Puteri Hwa sudah tahu jati diri yang sebenarnya.


"Iya, kau yang mencariku." jawab Won.


"Dan sebenarnya aku memang tahu jika kau adalah keponakanku, hanya melihat kau bahagia di sini, maka aku pikir akan diam dan menguburnya selamanya. Sampai......" Won memutus ucapannya.


"Sampai?" Ara penasaran.


"Sampai kau mendatangiku malam itu, bersama dayangmu itu." ucap Won mengingat saat puteri Hwa mendatanginya bersama saudara dayang Han.


*Flashback On


Puteri Hwa bersama dayangnya kala itu keluar dari istana secara diam-diam melalui pintu belakang villa miliknya. Keduanya menyamar layaknya masyarakat biasa meskipun bukan jelata.


Tiba di suatu pondok kecil di tengah hutan, keduanya berhenti.


"Yang Mulia....."

__ADS_1


"Ini tempatnya?" belum sempat dayangnya berucap, puteri Hwa sudah menyahut duluan.


"Iya Yang Mulia." jawab sang dayang.


"Tunggu di luar. Aku yang akan menemui orangnya." tanpa menunggu jawaban dayangnya, puteri Hwa menjejakkan kakinya masuk ke dalam pondok tempat dirinya berada.


"Kau, Lee Won?" puteri Hwa menyapa dengan kalimat tanya pada sesosok pria yang usianya berkisar 5 tahun lebih tua darinya, mungkin sebaya dengan putera mahkota.


"Iya saya Lee Won, Yang Mulia." jawab pria yang bernama Won.


"Baiklah, aku tidak mau berbasa-basi, waktu ku tidak banyak." puteri Hwa mengambil posisi untuk mendaratkan bokongnya, yang tentu tidak akan nyaman karena ruangan itu tidak hangat sama sekali.


Won mengangguk.


"Aku mendapatkan informasi mengenai diriku bahwa,......" puteri Hwa menatap Won tajam.


"Aku adalah anak dari Lee Wul. Pengawal pribadi mendiang raja sebelumnya." Puteri Hwa memulai maksud kedatangannya.


Namun yang di ajak berdiskusi tak memberikan reaksi berlebihan, seolah....


"Kau sudah tahu akan hal itu? Lee Won?" duga puteri Hwa dari raut wajah pria di hadapannya.


Yang kini malah membenarkan dengan anggukan kepala.


"Kau tahu aku adalah anak dari kakakmu? Kapan?" tanya puteri Hwa yang menuntut jawaban.


Ia saja tak menduga dirinya adalah puteri orang lain, bukan bangsawan kerajaan, dan kini ia kembali tertegun manakala rahasia itu juga diketahui orang lain.


Brak!!!!


Puteri Hwa tak sabar, ia dikejar waktu, kemari saja sudah pasti akan berbahaya baginya.


Maka itu ia menggebrak meja, membuat dayang yang menunggu terjenkit akan suara itu.


"Karena aku adalah saksi di mana kau di bawa malam itu, Yang Mulia." jawab Won lirih, terasa luka dari nada bicaranya.


"Maksudmu?" tanya puteri Hwa mengejar jawaban.


"Cepat katakan!!!" lanjut puteri Hwa.


"Aku adalah saksi akan pembantaian keluarga kakakku malam itu, termasuk....." Won seolah tak sanggup melanjutkan ceritanya. Terasa sesak dadanya.


Mengingat malam mengerikan saat itu, di mana.....


"Aku menyaksikan bukan hanya pembantaian keluarga kakakku, tapi juga wanita yang dipanggil ratu saat itu." lanjut Won bergetar.


Puteri Hwa kembali dibuat membelalakkan matanya, terkejut akan fakta baru.


"Apa maksudmu? Ratu apa!!!" tuntut puteri Hwa lagi.


"Entahlah, aku sendiri bingung, karena kakaku mengatakan jika ia menjaga seorang ratu, tapi malam itu, aku melihat wanita yang sama juga berdiri dengan pedang menebas tubuh ratu itu. Lalu membawamu pergi." jelas Won.


"Maksudmu.... Ratu yang sekarang........ Bukan ratu yang asli? Apakah mereka kembar*!!!!??"

__ADS_1


__ADS_2