
"Bagaimana bisa????!!!!" hardik sosok yang menutup dirinya dengan jubah berwarna marun.
Menghadap seorang dayang yang tak lain adalah pelayan putera mahkota.
Dengan gugup dayang itu tak kuasa mendapat amukan dari orang yang tentu lebih tinggi kuasanya.
Sebelumnya. Tanpa perlu laporan dari anggota komplotannya, sosok misterius itu sudah mendengar semua desas-desus prihal perubahan puteri Hwa, baik sikap, maupun wajahnya dan keberanian keluar dari kediamannya. Seolah, gadis yang mereka jadikan target kejahatan itu,,, tak gentar seperti saat mereka berhasil mengintimidasinya.
"Kau, tetap awasi, dan panggil anggota kita yang lain. Sepertinya, kali ini kita akan menambah pelajaran bagi gadis tak tahu diri itu." Dengus sosok yang jelas dari suaranya adalah seorang perempuan.
Mengangguk patuh, "Baik nyonya. Akan saya laksanakan." Jawabnya.
******
"Kau tahu, rupanya tak cukup bagiku bertemu denganmu sekali saja saat itu, di tepian danau itu...." Suara berat milik seorang pria yang kini berdiri memandang tubuh Ara yang terbaring lemah di ranjang. pria yang memiliki tubuh gagah, terlihat dari bagian punggung kokoh yang begitu dipeluk erat oleh jas yang ia gunakan. Meski ia membelakangi thor dan readers, tapi bisa dipastikan jika itu pria yang menganggumi gadis itu.
"Menolongmu, membuatku semakin ingin tahu siapa dirimu. Ara." Ucapnya pelan.
Dari balik pintu yang memiliki celah kaca transparan, sepasang mata tengah memperhatikan dua orang yang ada di dalam. Tatapannya tajam, menyiratkan kebencian mendalam.
"Kau, gadis sialan. Akan ku buat kau sama,... Sama seperti saat kau menghancurkanku." Suara berat yang syarat akan dendam itu menguar pelan.
Siapakah mereka berdua?
*****
"Telinga gue kok gatel banget sih.." Gerutu gadis yang berdiri di tengah jembatan yang di bawahnya menggenang air jernih penuh teratai bermekaran baik putih dan merah muda.
Dari kejauhan, para pelayannya berdiri mantap dan siaga pada posisinya, tapi... Tidak pada netra mereka yang....
Sesekali mencuri pandang pada gadis berpakaian hanbok merah dengan sulaman bunga kecil di beberapa bagian rok, sementara atasannya mendominasi warna kuning pucat, yang dari tadi selalu tak bisa tenang dalam berdirinya. Dan tak jarang pula para pelayan itu saling memberi kode bicara melalui tatapan mata ataupun gerak beberapa bagian wajah seperti dagu, alis, ataupun bibir... Mempertanyakan gerak majikannya.
Di tengah keasyikan kegabutan Ara. Dari tempatnya berdiri. Ia melihat gerakan mencurigakan, yang sekilas nyaris luput dari pandangannya saking cepatnya sosok itu berlari.
Detik berikutnya...
Wushhhhhhhh
Secepat kilat pula Ara melajukan kakinya, mengejar sosok itu.
Membuat barisan yang solid di belakangnya, tercengang. Dan tak butuh waktu lama, mereka pun ikut berlarian di belakang majikannya, dengan menambahkan efek chord paduan suara dengan lirik yang sama....
"Yang Mulia¡!!!!!!!" teriak mereka dari arah belakang.
Acuh, Ara tetap berlari, tetap berusaha fokus mempertahankan tatapannya pada target yang dikejar.
"Berisik banget sih, awas aja kalo doi sadar gue kejar, mereka yang teriak gak jelas itu bakalan gue strapp semuaaaa." Geram Ara akan pelayannya.
__ADS_1
Namun,,, paduan suara itu masih tetap pada alunan tapi lirik yang berubah.
"Puteri Hwa!!!!" begitu teriakan mereka kali ini.
Gemas, "Ya elah, berisik, mana ini baju ribet banget sihhh." gerutu Ara.
Berbelok, dan....
"Hah? Kemana orang tadi???" tanyanya pada diri sendiri.
Harusnya, sosok tadi di......
'Ini jalan buntu, tapi....."
"Bukankah ini menuju...." Mata milik puteri Hwa menyorot tajam pada tembok rata itu, yang mengarah ke sebuah bangunan di seberangnya. Dan bangunan itu. Di lihat dari bentuk atapnya yang kokoh menjulang.
"Putera mahkota??" gumamnya. Saat pikirannya berkecamuk di dalam sana, barisan berisik itu...
Tiba.
Derap langkah berisik dan tak pelan itu, mengacaukan konsentrasi berpikir Ara.
Menoleh
Tajam
"Apakah Anda tidak apa-apa?" Tanyanya
Respon Ara, menyipitkan matanya penuh selidik, pun barisan pelayan yang lain juga tak lolos dari tatapan membunuh darinya.
1......2........3.
"Kaliaaaannnn!" Teriak gadis itu nada frustasi kental.
Menggerakan tangannya sebagai bentuk penegasan kegeramannya.
"Arghhhh, gue sebel sama kalian." lanjutnya, melangkahkan kaki memutari barisan itu. Dan untuk mereka yang kena semprot, jangan tanya, mereka tentu tercengang, pasti. Puteri mendadak histeris itu bukanlah tipikal majikan mereka yang minim ekspresi itu.
Ara berhenti melangkah...
"Dan, baju ini juga...arghhh, gue sebel juga" Meremas baju hanbok besar itu dengan gemasnya.
"Gue mau hanbok kayak Blackpink!!!!" Gerutunya dengan teriakan tertahan itu.
Meninggalkan dayang-dayang yang kesulitan mengatur nafas mereka. Dan kini mereka harus berjalan lagi, dengan cepat karena puteri yang tengah emosi itu, berjalan bak dikejar musuh saja.
Sementara di balik tembok, yang menjadi penghalang antara Ara dan dirinya. Ya, sosok misterius itu, tak lain dan tak bukan.....
__ADS_1
Pengawal pribadi putera mahkota. Bernafas lega. Meskipun.... Ia tidak tahu keputusannya berlari ke sini benar atau salah.
******
"30 hari, ya sudah 30 hari gue di sini, dan, semua masih stagnan aja." Ara mencorat coret lembaran kertas dengan asal.
Di hadapannya, dayang Han memperhatikan dengan saksama dan sesekali mengeluarkan ekspresi berkerut di pelipisnya tiap mendapati puteri Hwa melakukan hal yang di luar kebiasaannya.
"Yang Mulia, Puteri Hwa, ada raja yang mengunjungi anda." Suara sayup terdengar dari luar pintu ruangan kediaman milik puteri Hwa.
"Hah? Raja? Bokap gue? Tumben." ucap Ara yang merapikan perlengkapan tulis menulisnya, dan tak lupa pakaiannya juga.
srettttt
Pintu terbuka, dan sang raja dengan gagahnya melangkah masuk.
"Yang Mulia." Sambut Ara membungkukkan kepalanya sebagai rasa hormat.
Ara Mengambil bantalan kecil lalu duduk di salah satu sisi di kiri meja yang kini di belakangnya ada raja menggantikan posisi duduk puteri tadi.
"Apa kabarmu, puteri Hwa?" Suaranya cerminan kegagahan seorang pria. Wajar jika ia menjadi seorang pemimpin, karena ia memang punya aura tersebut.
"Baik Yang Mulia." Jawab Ara lembut.
Tersenyum,, menatap puteri yang kini memang sudah tidak lagi mengenakan cadar di wajahnya. Hingga desas desus yang ia dengar, memang benar adanya.
"Aku kemari ingin melihat langsung hal yang kau tahu apa itu, puteri Hwa." Baris kalimat itu terangkai menjadi alasan kedatangan raja ke kediaman puteri Hwa.
Ara mengangguk pelan."Iya, paduka, aku tahu." ucapnya.
"Aku senang, jika kau bisa kembali menjadi dirimu yang dulu. Tanpa perlu menghindari, atau mengurung diri terus di sini, bukankah itu sangat membosankan, puteri Hwa?" Lanjut Raja bertanya.
'Mengurung diri? Menghindar' batin Ara mengulang kata yang tertangkap aneh di pendengarannya.
"Apa dan siapapun yang telah membuatmu menjadi suram, beritahu aku, puteri. Karena aku adalah raja, dan juga ayah untukmu." raja kembali dengan lembutnya bersuara.
"Baik, paduka." jawab Ara kembali.
"Lalu, bagaimana kau mendapat wajah yang, sesungguhnya bahkan lebih baik dari sebelumnya itu, puteri.??" Tanya pria itu, melihat raut wajah puteri Hwa yang kini terlihat berbeda jika dibandingkan dengan sebelumnya.
"Aku menggunakan perlengkapan berhias, Yang Mulia." Balas Ara, jujur.
Kening pria itu berkerut, "Lalu, siapa yang menghias wajahmu hingga sangat indah seperti itu, Puteri?" lagi, pria itu.
Tersenyum, namun tampak kebanggaan di wajahnya, Ara menjawab, "Aku sendiri, Yang Mulia" Pungkas Ara
Membuat raja, tak percaya jika seorang puteri yang selama ini kerap dilayani itu, memang benar sering melakukan hal sendiri. Bahkan ia pun mendengar jika anaknya itu enggan untuk dilayani ketika mandi, berpakaian, dan kini.... Berhias pun ia lakukan sendiri.
__ADS_1
Emejing bukan, paduka....???