
"Daebak!" Hana berseru senang.
"Ayo kita akan berpesta lagi, prul!" lanjutnya girang. Raut wajah senangnya tak bisa ditutupi. Hana menunggu momen penting ini.
Namun yang diajak bicara, mengerutkan dahinya, bingung, ngomong apaan orang yang tengah sibuk menyusun barang-barang dalam tas besar.
"Apa yang kau bicarakan. Aku tidak mengerti." puteri Hwa mengutarakan pikirannya.
"Party, kita akan party prul." toleh Hana mengulang kata yang menjadi tanya lawan bicaranya.
"Huh, aku tidak mengerti." sahut puteri Hwa yang duduk di pinggir brankarnya. Ia sudah melepaskan pakaian kebesaran seorang pasien, berganti dengan gaun selutut berwarna putih gading bermotif bunga berwarna ungu. Bukan main panjangnya perdebatan mereka berdua hanya untuk sebuah baju.
Hana tak habis pikir ketika sahabatnya itu kekeh ingin mengenakan hanbok lengkap, bukan pakaian aneh katanya itu. Bukankah lucu menurut Hana, ketika Ara yang terbiasa malah koleksi bajunya nyaris mencerminkan gadis lincah yang manis itu, meminta pakaian tertutup? Tak masuk akal, dan tentu tak akan dituruti oleh Hana.
Titik.
"Kita akan pulang ke aktifitas kita, Ara." Hana menjelaskan maksudnya tadi.
"Ara lagi. Kau ini sungguh bodoh, ya?" decih Puteri Hwa gemas. Bukan sekali dua kali ia mengingatkan Hana, tapi berulang kali. Dan gadis itu, kembali mengulangi kekonyolan itu.
"Sudahlah, bahas itu terus, iya, iya, ayo yang mulia, kita pulang." sungut Hana perlahan mengangkat satu persatu tas bawaannya.
Ceklek.
Handel pintu terbuka namun ia tak melangkah keluar. Karena ia mendapati jika Ara masih bergeming di tempatnya. Seperti orang bingung, ya, tampang gadis itu.
"Ayo, prul. Mau nunggu apaan lagi?" gemas Hana menoleh pada Ara yang tertahan di brangkar.
"Kita mau kemana?" tanya puteri Hwa sebaliknya
Hyuhhhh. Sabar, tarik nafas banyak-banyak ya Hana.
"P-U-L-A-N-G." ejanya menekan tiap hurufnya.
"Pulang? Kemana?" lagi, puteri Hwa mengulang tanyanya.
"Rumah, prul, rumah." jawab Hana menahan kegemasannya.
Hana yang mulai kehabisan kesabarannya, mendekati tubuh Ara lalu menggandeng lengan gadis itu agar berdiri.
"Eh." puteri Hwa terkejut dengan aksi Hana yang sok akrab sekali.
"Tak usah melawan. Ayo, aku lelah di sini puteri Hwa." keluh Hana yang tak menggubris perlawanan sahabatnya yang terus menolak sentuhannya.
__ADS_1
Memangnya dia kuman apa?
"Kalian sudah siap berangkat?" Dari luar pintu ruangan Kim Hee Sin baru menyambut mereka.
"Ah, iya tuan Kim." Hana sempat terjengkit ketika nyaris bertabrakan dengan pria itu, beruntung jiwa mupengnya tak merajalela karena ia jelas tahu jiia pria itu seperti menaruh rasa terhadap sahabatnya, si tengil ini.
Puteri Hwa, memandang pria itu cukup lama. Tertegun dengan penampilan Kim Hee Sin yang saat itu mengenakan out-fit kasual, jaket denim dengan kaus putih di dalamnya serta celana jeans selutut serta tas selempang kecil.
"Ayo, prul." Hana kembali menarik lengan Ara menyusuri koridor rumah sakit yang cukup menyita langkah mereka.
Mata Puteri Hwa tak henti berkedip, mendapati pemandangan sekitarnya yang tak biasa.
Ramai orang-orang dengan penampilan normal. Persis seperti dirinya kala terkurung di dalam ruangan sebelumnya.
Ting!!
Denting lift menandakan benda persegi itu terbuka.
Kosong.
Hana dan Kim Hee Sin sudah menapaki langkah memasuki ruangan kecil itu, tapi tidak untuk puteri Hwa.
Keningnya kembali berkerut, tempat apa lagi ini?
"Tidak, tidak mau. Tempat apa ini!!!" puteri Hwa berkeras melawan, menarik ulur tangan Hana yang keras menariknya pula.
"Eihh, ayo, ih kumat lagi deh." gemas Hana.
"Orabeoni, tolong aku." Puteri Hwa memohon pada Kim Hee Sin yang sudah mantap berdiri bersandar di dinding lift.
"Ayo, kemarilah." Kim Hee Sin mengulurkan tangan besarnya yang kokoh agar disambut gadis yang masih merengek itu.
Dan segera. Puteri Hwa memilih mengaitkan telapak tangan Ara pada tangan Kim Hee Sin.
"Huuu. Dasa labil Lo." Ujar Hana menahan kegeliannya. Sahabat tengilnya itu, sungguh tak berubah, pandai sekali mencari korban perasaan.
Puteri Hwa sudah berdiri di sisi Kim Hee Sin.
Hana menekan tombol berangka 1 karena seperti sudah di katakan Kim Hee Sin, sopir pria itu sudah menunggu di pelataran rumah sakit.
"Hah!!" Puteri Hwa terperanjat ketika ia merasakan tubuhnya seperti tertarik ke bawah.
"Kenapa Lo.?" Hana menoleh segera ketika menangkap suara Ara yang terkejut.
__ADS_1
"Kita, kita kenapa tadi, kenapa dengan ruangan ini?" Panik puteri Hwa, raut wajahnya tak bisa ditutupi, ia berkeringat. Tak paham dengan ruangan ajaib ini.
"Ya elah, kayak orang kagak pernah naek lift aja Lo." Decih Hana menyikapi kekonyolan Ara, lagi.
"Orabeoni, kita kenapa tadi? Kenapa tempat ini bergerak sendiri?" Puteri Hwa mengabaikan ucapan Hana, ia malah beringsut merapat pada lengan pria itu yang tertegun seketika.
"Tak apa, memang seperti ini tempatnya, puteri Hwa." ujar Kim Hee Sin menenangkan, dengan lembut ia menggenggam telapak tangan gadis itu yang tak bisa dibohongi, memang terlihat takut dan panik.
Puteri Hwa menoleh ke sekeliling ruangan sempit itu, hanya dinding dengan pantulan diri mereka bertiga saja di sana.
Sekali lagi, puteri Hwa menatap lekat pada tubuh gadis yang tak tahu mengapa kini menjadi wadah bagi jiwanya. Ada apa kiranya?
Ia tak memungkiri jika gadis yang ia tatap sekarang memang cantik, memiliki pesona tersendiri. Rambutnya yang kini berwarna pirang itu, memiliki panjang sampai di bawah ketiak, tinggi posturnya melebihi dirinya, dan lagi, ia merasakan aura yang aktif dalam tubuh ini.
Ting!
Denting lift pertanda mereka sudah tiba di lantai tujuan.
Kembali, puteri Hwa dibuat takjub, apakah ini dunia yang lain lagi?
"Kita di mana?" tanyanya pelan ketika melihat tempat yang lebih luas dari sebelumnya.
"Lobby, kita sudah di lantai 1." Jawab Hana santai.
Matanya menangkap tangan sahabatnya yang masih bertaut dengan pria itu.
"Tangan Lo, nyaman bener, ya?" sindir Hana. Yang merasa malah Kim Hee Sin, ia segera melepas tangan Ara pelan.
"Ayo, mobilku sudah menunggu di luar." Kim Hee Sin menolak langkahnya menuju pintu putar.
"Itu apa?" Puteri Hwa menahan langkahnya kembali ketika melihat pintu aneh itu.
"Ya elah, itu pintu, ayo." ajak Hana.
"Tunggu!" Puteri Hwa mendekati Hana, lalu menggamit lengan gadis itu.
Ketika melewati pintu ajaib itu, puteri Hwa takjub, bagaimana bisa sebuah pintu bisa berputar seperti itu, lalu lebih kerennya lagi, pintu itu bisa membuat kita mampu melihat keluar. Sungguh, ia tak habis pikir betapa hebatnya dunia ini.
"Ayo." Kim Hee Sin membukakan pintu penumpang, mempersilahkan masuk dua gadis yang segera menghampirinya.
Dan, lagi, Hana harus bersabar.
"Itu apa?" Tanya puteri Hwa kala ia melihat benda berwarna hitam mengkilat berada di pinggir halaman.
__ADS_1
"Mobil, prul, mobil!!!"