100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
Ara vs puteri Ara


__ADS_3

Puteri Ara alias bibi Puteri Hwa hanya diam melongo. Alias cengo alias mangap cantik ya. Puteri gitu loh. Hihihi.


Sementara si pembuat onar, melenggang bak model di zamannya. Ayolah, Ara kan beauty influecer di eranya, jadi melenggang cantik kiri kanan mah, gampil surampil.


Sementara Han, menundukkan wajahnya semakin dalam mendapati drama keluarga tengah berlangsung di hadapannya. Dan pelaku penganiayaaan, upps bukan, ralat, maksudnya pelaku mak tiri di sini, sudah jelas, majikannyanya yang entah kenapa berubah jadi mak lampir gitu.


"Puteriiiiii!!!!" Jerit Puteri Ara memanggil keponakannya yang, duileh kenapa korang hajat kale seh.


Yang dipanggil berbalik cantik.


Pose, sodarah sodarah


"Iya, Bibi" Jawab Ara lembut. Sementara matanya bahkan sudut bibirnya memberi kesan, membangkang. Dan puteri Ara tahu sekali bentukan ekspresi mengejek itu.


Ia mengambil langkah seribu tapi pelan.


"Kau, apa maksudmu tadi, kau... Jangan harap bisa mengecohku dengan kata-kata tidak jelas itu, Puteri." Gerutu Puteri Ara, geram. Tak sadarkah si Ara jika bibinya si puteri Hwa ini sudah kepalang emosi. Jika ia berada di zaman Ara, yakinlah sudah berapa salto yang dilakukan perempuan baya itu.


"Kata-kata apa, bibi. Aku tak pernah mengucapkan kata-kata seperti itu." elak Ara. Hayo Ara, si Healing itu elingin Ara atuh, kumaha ini teteh atuh.


"Hea, Hea Hea apa itu.. Kau.. Jangan karena puteri negeri ini, anak raja dan adik putera mahkota, kau bisa berlaku kurang ajar begini." Puteri Ara alias, kita panggil bibi Ara aja ya. Sekarang memberi kuliah 3 SKS terhadap Ara yang sumpah, itu muka minta ditampol kayaknya tuh cewek..


Keliatan banget ngeyel. Hihihi


"Ada apa ini." Suara itu, mengalihkan mood buruk Ara yang membumbung tinggi.


Menoleh, mengatur ekspresi secepat kereta ekspress jepang.


Senyum, lembut


Ratu drama woyyy


"Kakak." Panggil Ara dengan kode bibir yang hanya bergerak tanpa suara. Dan diketahui jelas oleh si penerima kode. Putera Mahkota alias cem cèmannya si Ara. Atau gaolnya itu Crush Ara. Ahayyyy.


Berjalan pelan, mengarah pada sosok pria tampan yang sangat gagah itu.

__ADS_1


"Ada apa.?" Tanya Putera mahkota dengan kembali menggunakan kode bibir yang terbaca oleh Ara.


"Bibi mengira aku mengatakan hal buruk padanya. Padahal...." Jeda, Ara menggantung kata-katanya sembari melempar pandang pada si gadis berbaju hijau yang kebetulan menoleh pada Ara.


Sial, pasti lah gumaman dayang Han. Hihihi


"Padahal.?" tanya putera mahkota menunggu


"Padahal kan tidak, iya kan Dayang Han?" Tanya Ara melempar sinyal bala bantuan pada dayangnya.


Yang kini berusaha menahan gelagap tubuhnya. Come on, ia saksi kalau majikannya tadi tengil loh ke bibinya.


Dan dayang Han berusaha sekuat tenaga, jangan sampai menoleh pada puteri Ara yang berharap dayang itu menoleh padanya, untuk balik mengancam.


"Dayang Han. Apaa benar kata puteri Hwa barusan?" Tanya putera mahkota yang kini beralih bertanya pada sosok gadis berbaju hijau yang tengah gamang 100 persen saat ini.


Lama, hening sesaat. Dayang Han tengah meminta petunjuk pada Sang Maha Kuasa, yaitu para dewa-dewa. Merapalkan doa-doa agar apa yang diucapkannya tak akan membuat dirinya berakhir di tiang gantungan atau kursi siksa hingga tak meninggalkan jejak hidupnya lagi.


"Dayang Han." Panggil Ara tak sabar. Komplotan kriminalnya galau malah di desak ditambah tatapan tajamnya itu.


Hingga.


Ara senang bukan main. Tapi tidak untuk Ara yang berwujud perempuan baya itu.


Menatap sadis pada dayang Han yang masih enggan membalas tatapannya.


"Kau, kau berbohong dayang Han. Kau mencoba menutupi kesalahan majikanmu itu, huh??!! Kau tau akibatnya, bukan?" hardik puteri Ara, geram.


Dayang Han menggeleng.


"Itu benar, saya tidak mendengar hal buruk dari bibir puteri Hwa, puteri Ara. Saya jamin itu." Tegas dayang Han. Walau ia tahu majikannya memang bertingkah, tapi ia yakin jika kata-kata ajaib yang keluar tadi... Bukanlah kata-kata buruk, iya kan??


Ketika hendak membalas, Puteri Ara di hentikan oleh putera mahkota.


"Bibi, aku minta maaf jika puteri Hwa melakukan hal yang membuatmu kesal dan juga marah. Mari kita hentikan perdebatan ini. Bagaimana?" Ucap putera mahkota bijaksana. Tapi, Ara mengerenyitkan dahinya, tak setuju.

__ADS_1


'Pa paan ini cowok gue, huh?? Kagak setuju mah gue, enak banget tuh bibi. Kagak rela hayati, beneran' teriak batin Ara tak rela. Hingga ia langsung mengutarakan isi hatinya tadi yang banyak disensor ya, mana mungkin di sebutin beneran. Di halusin lah. Hihihi.


"Yang Mulia, saya beneran tidak melakukan hal itu. Kata-kata yang saya ucapkan berarti sebuah kata-kata dan doa yang baik untuk bibi." jelas Ara panjang kali lingkaran.


"Kata-kata hea hea apa itu tadi, bukankah puteri tidak mau memberi tahu?" dan akhirnya rasa kepo si bibi itu keluar juga. Bilang atuh kalo mau tau banget.


Putera mahkota berikut dayang Han menoleh pada Ara.


Menghela nafas pelan. Okey okey, gak salah berbagi ilmu tata bahasa, bukan??


"Itu, artinya Healing, doa agar bibi panjang umur dan sehat sejahtera." ucap Ara bernada tulus, drama loowww.


Sementara yang mendapat jawaban, menatap Ara dengan penuh selidik. Berusaha mencari kebohongan di balik dua mata hitam indah yang bulat bening itu. dan, nihil.


Ara kan totalitas dramanya atuh.


Okeh, fix kelar kayaknya ya


"Bagaimana, bibi. Apakah menurutmu, puteri Hwa berbohong?" tanya putera mahkota menunggu karena dirinya pun sebenarnya ikut termakan kebohongan puteri jiwa abal-abal itu. Secara kan cuma Ara yang tahu artinya.


"Baiklah kalau begitu, saya permisi." ucap Puteri Ara melengos dengan gerak tubuh sombong, dan jangan lupa... Menatap dayang Han dengan arti 'Awas Lo ya, tunggu gue di perempatan' yang membuat dayang Han bergidik horor.


"Baiklah, puteri. Sekarang, kau mau ke mana?" Tanya putera mahkota setelah bibinya pergi dari hadapan mereka. Dan tersisa ia bersama Ara berikut para dayang dan pengawal.


"Pulang ke kediamanku, yang Mulia" ucap Ara lembut, ia letih dan hendak merangkai teka-teki yang ia temukan hari ini.


setidaknya ia sedikit ada gambaran rencana apa yang akan dilakukannya ke depan.


"Bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar?" Tanya pria rupawan itu lagi.


Jujur, Ara lagi bad mood, malas ngapa-ngapain. Jadi bobok manja di bangunan nyaman milik si puteri ini tidak akan terlalu buruk.


Tapi, mendapat tawaran dari pria idamannya itu, malah terlalu lebih baik, bukan?


Sikat jahhhhhhhh. Ajak jalan babang tamvannya.

__ADS_1


Mengangguk, tersenyum, di balik cadar kuning.


"Ayo." Putera mahkota mengulurkan telapak tangannya yang besar, kokoh, lebar serta bersih itu pada Ara yang dengan senang hati disambut gadis tengil itu..


__ADS_2