
"Shitttt!!!" Maki Ara dari balik pintu.
Jika biasanya para penguping hanya gemetar setelah tertangkap basah, tapi tidak dengan gadis tengil ini.
Srettttt, ia sendiri yang membuka pintu geser itu, berdiri pongah menatap lurus pada sosok yang menyebut namanya tadi.
Menteri Kim.
"Anda yang bernama Menteri Kim." panggilnya angkuh. Masa bodo' dengan etika, Ara tanggalkan sementara jati diri puteri Hwa. Gelegak dalam dadanya bergemuruh hebat, merasa tertantang oleh pria tua itu. Sudah anaknya, sekarang bapaknya ikut-ikutan pulak!!
"Bagaimana mungkin aku tidak mendengar."
"Jika anda sendiri yang memaksa langkahku yang siap pergi tertahan kembali."
"Heheh." hanya itu tanggapan dari Menteri Kim.
"Urus saja keperluan yang sesuai fungsi pekerjaanmu, menteri Kim."
"Kenapa pula masalah anak pun kau ikut campur."
"Bukankah, nona Kim So Yoon sudah cukup dewasa untuk anda ikut campuri urusannya? Upss"
Menteri Kim mengubah raut wajahnya menjadi serius, ucapan Ara barusan sepertinya memantik emosinya.
"Puteri Hwa." panggil Menteri Kim
"Ya, menteri Kim? Ada apa? Apa sekarang kau akan membalas perkataan gadis muda karena menyinggungmu tadi?"
"Kalau begitu, harusnya sebagai pria, dan orang tua,..."
"Kau tahu kapan posisimu muncul, bukan?"
"Tidak setiap masalah anak manja kau campuri, kapan dewasanya kalau begitu."
"Apa lagi ambisi besarmu mau menjadikan puteri manjamu itu seorang ratu negeri ini, tidakkah kau harusnya membiarkan nona Kim menyelesaikan sendiri.??"
"Jika pertengkaran kecil antara teman saja harus melibatkan ayahnya, lalu bagaimana jika masalah menyangkut rakyatnya?" Seloroh Ara tetap berdiri angkuh di tempat tadi.
Putera mahkota hanya menyimak tanpa ekspresi apapun. Membiarkan Ara bertarung sendiri dengan menteri yang cukup disegani oleh pihak selatan itu.
"Ah, aku mau pulang dulu ya, aku hanya membantumu agar menjadi orang tua yang baik, menteri Kim."
__ADS_1
"Jadi, keep calm and don't be angry, okey."
Ara bersiap berbalik, tapi ditahannya, belum puas.
"Artinya, tenang dan jangan mudah marah jika anak bertengkar kecil, hihii." Ara mengakhirinya dengan kikikan geli, lalu melesak pergi. Membiarkan dayang bertugas menutup pintu geser itu.
Meninggalkan menteri Kim yang mengepalkan tangannya dari balik bajunya. Kesal, marah dan benar-benar di tahap harga dirinya terusik oleh gadis muda tadi.
"Dengar menteri Kim, jangan ikut campur permasahan puterimu suatu saat nanti." pungkas putera mahkota.
****
"Ada apa menteri Kim." Sapa ratu mendapati sosok terkuat di partai selatan sudah duduk manis di hadapannya.
"Aku harap, kau menepati janjimu, ratu." suara tegas keluar dari pria tua berpakaian kebesaran seorang menteri.
Ratu mengulas senyum dengan tangan masih sibuk menggoreskan kuas di lembaran putih besar, membentuk untaian bunga kecil berwarna merah muda.
"Tenang saja menteri Kim, aku tahu apa yang harus aku lakukan." Jawab ratu tenang.
"Hanya saja, dari apa yang aku dengar mengenai kedatanganmu ke kediaman putera mahkota tadi...." ratu menjeda, menekan kuas lebih dalam lagi lalu berbalik menatap menteri Kim, memberi senyum santai...
"Cukup terdengar lucu, menteri Kim." Kekeh ratu.
Sindir ratu tajam. Walau wajah tersenyum, ucapannya tentu terasa menyakitkan.
"Walau kita terlibat urusan yang sama. Tapi perlu kau ingat, menteri Kim,. Aku tetap ratu negeri ini. Sementara kau, menteri partai selatan."
"Jadi. Jangan pernah memanfaatkan apa yang menjadi kekuranganku, sebagai keuntunganmu sendiri."
"Karena kita ada di kapal yang sama." tandas ratu tegas.
"Hahahahaha. Kau sudah hebat sekarang ratu, yang kau takutkan dulu tak lagi mengusikmu rupanya." kekeh menteri Kim.
"Tapi jangan lupa ratu. Posisimu itu, adalah milik orang yang jelas kau tahu sekali tercuri karenamu, bukan? Hahahahha." tawa menteri Kim menguasai ruangan milik kediaman ratu.
Ratu yang merasa di atas angin tadi, sontak tergugu. Aura dingin perlahan menguar di sekitar mereka. Melupakan ada sosok yang tengah menguping pembicaraan mereka dari balik pintu geser.
"Apa yang kau bawa.?" Tanya dayang penjaga pintu kediaman ratu.
"Camilan dan teh, nyonya." jawab dayang pembawa baki berisi hidangan.
__ADS_1
"Masuk." perintah dayang seraya membuka pintu geser agar dayang itu bisa segera masuk.
Dilain tempat......
"Jadi benar bukan? Mereka adalah sekumpulan orang yang mengambil keuntungan satu sama lain untuk kekuasaan, cih." Puteri Ara yang mendapat laporan dari dayang suruhannya, mengejek tingkah dua rekan yang dayang tadi curi dengar sebelumnya.
"Puteri." Panggil dayang Im, pelayan puteri Ara.
"Kenapa dayang Im, bukankah kau juga dengar sendiri yang dikatakan dayang tadi." Sahut puteri Ara yang tahu maksud dayang Im.
"Tapi, yang mulia. Anda tidak boleh langsung berkata seperti itu, karena akan berbahaya bagi anda, yang mulia." tutur dayang Im menasihati.
Bukan karena hal itu sebenarnya, hanya saja, dayang Im yang mendapat perintah dari seniornya berupa ancaman terhadap puteri Ara menjadikan dayang Im sedikit khawatir. Walaupun ia ambil bagian dalam kejahatan terhadap puteri Hwa bersama genk apel itu, namun jauh di lubuk hati dayang Im (Cieee lubuk hati euyyy) ia masih loyal pada majikannya itu.
"Sudah dayang Im. Aku akan memberi tahu raja dan permaisuri hubungan antara ratu dan menteri Kim itu. Dan aku curiga jika ratu dan menteri Kim adalah dalang terhadap penyerangan puteri Hwa." Yakin puteri Ara menuduh ratu dan menteri Kim.
Padahal kenyataannya.....
"Bagaimana dayang Im? Kau tentu sudah menyadari bukan, jika majikanmu itu mengetahui siapa yang menyuruh kita?" suara dayang yang misterius itu, terdengar tegas, penuh intimidasi di di dalamnya. Dayang Ratu.
"Tapi, puteri Ara belum meyakini hal itu, nyonya." Bantah dayang Im berusaha tetap melindungi puteri Ara, majikannya.
"Kenapa denganmu, dayang Im? Kau tahu sendiri jika puteri Ara sudah sering mengintai dan membaca peristiwa puteri Hwa?"
"Apa kau mau puteri Ara membuka kedok kejahatan kita dengan ratu yang memberi perintah, baru kau akan bertindak??!?!!!" bentak dayang senior.
Dayang Im menggeleng, ia tentu tidak ingin dirinya terseret dalam barisan yang nanti dihukum jika ketahuan, akan tetapi, menyingkirkan puteri Ara? Itu juga tidak bisa ia biarkan saja karena bagaimana pun, ia berhutang banyak pada majikannya itu.
"Lalu, apa yang harus saya lakukan, nyonya?" tanya dayang Im, pasrah.
"Singkirkan segera puteri Ara, sesuai rencana kita sebelumnya." perintah dayang senior pada dayang Im yang kini terbelalak tak percaya.
"Ap-apa tidak ad-ada pilihan lain, nyonya." lirih ucapan dayang Im, penuh permohonan.
"Tidak, dayang Im."
"Lakukan sebagaimana rencana kita."
"Kecuali kau mau adikmu yang dikirim di tempat perbudakan itu, bisa kau kembalikan kedudukannya." tawar dayang itu.
Serba salah, itu yang dipikirkan dayang Im, majikannya atau saudaranya yang ditangkap sebagai budak itu.
__ADS_1
Karena tidak mungkin baginya, membongkar jati diri ratu sebagai dalang peristiwa yang menimpa puteri Hwa.