100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
Kepergok Bar bar oleh putera mahkota


__ADS_3

Dayang Han, sesekali melayangkan pandangan kedua mata bulatnya tepat pada sebongkah, ups ralat... Kalo buat Ara sih okeh okeh saja, ini kan buat puteri Hwa loh wujudnya... Jadi gunakan sosok jelita.


Ok ulang, dayang Han melayangkan pandangan matanya pada sosok gadis muda nan jelita yang tengah menggoreskan kuas dengan tinta berwarna merah muda, hah? Merah muda? Tak salah lihatkan si dayang Han. Belum pernah ia melihat goresan tinta berwarna itu kecuali terdapat pada aneka warna bunga atau alam sekitar. Dan, darimana pula si bar-bar nemuinnya.,?


Tak sampai di sana saja perhatian dayang Han pada majikannya yang begitu konsentrasi dengan karya tinta anehnya itu. Ia pun juga sedikit takjub akan berbagai ekspresi yang ditunjukkan gadis bangsawan itu, ya.. Ekspresi yang... Yang belum pernah ia temui selama ia menjadi dayang puteri itu.


Ekspresi bibir di rapatkan, di gigit ke dalam, dahi dikerutkan, alis dinaikan, mata disipitkan, bibir terkadang di maju atau di mundurkan, atau bahkan naik sampai hidung (canda eh), dan lengosan nafas yang bukan harusnya dimiliki puteri raja yang sepatutnya menjaga wibawanya.


"Yang Mulia." Akhirnya, dayang Han mencoba memberanikan dirinya membuka percakapan. Seperti biasa dan nada suara yang biasa, namun...


Krik krik krik


Ini siapa lagi yang narok jangkrik di pinggiran meja sehh.


Sabar, mari coba lagi dayang Han. Anggap saja sang puteri begitu fokus dengan pekerjaannya.


"Yang Mulia, puteri." dayang Han mencoba kembali memanggil sang majikan yang... Masih saja enggan menangkap suaranya, entah mungkin telinganya lagi ikutan rapat di luar ruangan kali.


Hembuskan nafas dayang Han, sini thor temenin deh timpuk tuh bar-bar.


Dan kali ini, dayang Han mencoba lagi, dengan suara yang "Puteri Hwa!!!!!" Suaranya agak meninggi di luar kebiasaan, walau memang masuk kategori jeritan nih. Hihihi.


Tapi sukses kok ngebuat tuh gadis nan jelita berselimut jiwa bar-bar yang gak ketolongan. Langsung menatap si empunya suara.


Mengerenyitkan dahi, sorot mata tajam karena mata yang di sipitkan. Dan itu, berhasil membuat dayang Han salah mengartikan menjadi,,,,, WAH GUE SALAH NIE SAMA MAJIKAN GUE


Mengambil inisiatif, segera gadis berbaju hijau yang berteriak barusan membungkukan tubuhnya, berikut kepalanya, mirip menyembah. Menambah lekukan heran di dahi Ara semakin jelas.


"Kau, kenapa, huh?" Tanya Ara bingung. Ya jelaslah, orang tiba-tiba dipanggil, eh yang manggil malah ngelakuin sujud begitu padanya.


"Ma-maafkan, a-am-ampuni hamba Yang Mùlia." Lirih suara dayang Han membuat perhatian Ara sepenuhnya teralihkan pada gadis muda ini.

__ADS_1


"Kau kenapa sih, Han? Nganeh banget jadi orang." Ujar Ara dengan nada menggerutu


Lagi. Dayang Han tetap bersimpuh enggan untuk menegakkan kepalanya, pantang mundur sebelum kata ampun terucap.


"Sa-s-saya bersalah Yang Mulia, ma-maafkan, saya." Ucap dayang Han kembali


Ara yang sebal, mendenguskan nafasnya, bingung dengan tingkah pelayannya yang tetap saja bersimpuh tak karuan ini. Menambah daftar kekesalannya saja setelah belum berhasil menyelesaikan prakaryanya menjadi detektif.


"Kau itu kenapa, huh. Kalau masih saja seperti itu , akan aku penggal beneran kepalamu sekarang, Han!" Sergah Ara dengan nada kesalnya, biar saja sekalian. Toh si dayang itu yang membuatnya bingung dengan tingkahnya itu, jadi pura-pura mengancam,,, tak apa kan?? Hehehe.


"Jadi, angkat kepalamu itu, tak pegal apa." keluh Ara menambah ucapannya.


Dan segera, dayang Han menaikkan tubuh berikut kepalanya setelah mendengar ancaman majikannya barusan.


Ayolah, dayang Han hanya mengupayakan saja kan, toh memang dia salah juga kok, membiarkañ lambenya meluncur lancar jelas sekali mengucapkan kata dengan iringan nada tinggi pada majikannya itu. Ya, salah-salah mah lidahnya yang akan ditarik Raja sekeluarga, kan?


Setelah mengembalikan posisinya seperti sedia kala, dayang Han masih terlihat enggan menatap màjikannya. Jelas sekali bahwa ia merasakan panas sekujur tubuhnya akan sorot pandang Ara yang masih menetap padanya.


"Kau itu, kenapa sih Han, sok-sokan banget sih menyembah gitu. Kau melakukan kesalahan ya?" tanya Ara memecah kebisuan di antara mereka.


"Oooh, jadi kau jadi bisu sekarang ya, orang nanya malah angguk aja. Jawab, kenapa?" Tanya Ara gemas, ihhhh tak timpuk pakek tinta pink ini baru tau rasa korang.


"Sa-saya tadi memanggil Yang Mulia Puteri Hwa dengan nada cukup tinggi, dan.."Jeda, Dayang Han berpikir keras memilah katanya.


"Dan.?" Ulang Ara penasaran.


"Dan, itu dosa besar Yang Mulia, dan hamba bisa mendapatkan hukuman mati jika Anda murka." Ucapnya semakin lirih.


Dan Ara, gadis itu malah menanggapi perkataan dayang muda itu dengan mengetukkan jemarinya pada meja di hadapannya. Berpikir keras, hingga......


"Hahahhahahaah" Tawa menggelegar memenuhi ruangan itu. Membuat yang mendengar pasti akan kaget bahkan speachless akan tanggapan puteri raja ini. Come on guys, itu tawa orang status rendahan atau para pria loh. Lah ini perempuan bangsawan, ditambah seorang puteri, ulang, puteri raja loh. Tawa kok kayak orang janggotan aja.

__ADS_1


Tawa Ara masih menggema, bahkan ia tanpa sadar menggulingkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri saking merasa lucu akan tindakan dayang Han yang hanya memanggilnya dengan nada agak tinggi bisa terancam hukuman mati. Sungguh tak masuk akal untuk Ara yang bar-bar gitu.


Ara yang masih tertawa kembali tak sadar akan....


"Ekhem." Dehaman itu, ya, dehaman itu yang entah kenapa lebih terdengar di telinga si bar-bar daripada derit pintu sebelumnya.


Tak hanya Ara, dayang Han pun tak kalah kagetnya begitu melihat...


"Yang Mulia Putera Mahkota.!" Ucap Dayang Han terkejut.


Ara pun demikian, rasanya ia ingin bumi terbelah menjadi prisma hingga menelan tubuhnya menjadi potongan tak mengapa asal bisa menghilang dari hadapan pria pujaannya ini.


Kalian taulah, Ara itu kepergok lagi bertingkah yang, gak bangetlah!!! Ketawa sampe ngeguling gak jelas gitu. HahahHha


"Dayang Han, kau boleh pergi. Tinggalkan kami berdua." Titah sang putera mahkota, yang langsung di iyakan dayang Han dengan mengambil langkah mundur dan melesak keluar ruangan.


Sementara Ara, kini sudah duduk bersimpuh, menundukkan kepalanya begitu dalam, dan tambah dalam begitu tahu ia ditinggal dayangnya. Malu woy.


"Kau kenapa.?" Tanya si pemilik suara berat nan gagah itu sembari melangkah ke arah Ara. Meskipun gadis itu masih enggan merespon saking kelu seketika.


Dan, pria itu terus melangkah hingga kini sudah duduh tepat di hadapan Ara, menopang tubuhnya dengan lutut kakinya di tekan ke lantai sementara lutut satunya menjadi tempat satu tangannya bertopang.


"Kau, kenapa, huh?" Tanyanya lagi lembut.


Ya Tuhan, tolong pinjamkan satu ruang kedap suara, jantung Ara kok nge-Gym sambil ngidupin lagu Gangnam Style seh. Berisik.


Ara tak kuasa menahan rona pipinya begitu kedua tangan besar itu hingga di sisi bahunya.


"Puteri Hwa!" Panggil pria itu kembali, tapi masih hening, hingga jari dan telunjuk sang putera mahkota bergerak naik menjepit dagu Ara, mengangkatnya hingga kini bisa ia tatap sempurna.


"Kau tadi tertawa begitu keras sampai berguling-guling puteri,.." Ucapnya terpotong seraya terkekeh pelan.

__ADS_1


"Tapi meskipun begitu, tawamu cukup membuatku tertarik melangkah kemari seolah itu undangan darimu, Ara..." Lanjutnya, memanggil nama gadis itu sesuai keinginan Ara si bar bar era 2022, yang terperangkap dalam tubuh puteri Hwa.


"Dan, aku suka akan itu." Pungkas putera mahkota, membuat jantung Ara semakin berdebar kencang, berharap sang pria idaman tak mendengar debar sialan yang kini saling jumpalitan di dalam tubuhnya


__ADS_2