
"Nona Go Ara, apa kabarnya?" dokter yang baru tiba bersama dua orang perawat wanita segera menyapa Ara yang kala itu kembali merangkai bunga di dalam vas bening bulat.
"Go Ara? Namaku Hwa, bukan Ara." puteri Hwa mendelik tajam pada dokter tampan itu. Coba saja jika benaran Ara, pasti si tengil akan tebar pesona.
Dokter mengangguk mengiyakan. Setelah mendapat banyak informasi dari Hana, kini ia dan tim medis lainnya mencoba ikut alur gadis ini.
"Baiklah nona Hwa." angguknya setuju.
Tak lama, dokter itu mengeluarkan benda akrab para dokter, stetoskop.
Siap memeriksa.
"Kita periksa dulu ya nona Hwa." sang dokter meraih pergelangan tangan Ara. Tapi seperti sebelumnya gadis itu menepisnya.
"Oho!!! Lancang sekali kau, tabib!" hardik puteri Hwa memperingatkan keras.
Dua perawat di belakang dokter tak bisa menahan tawa, mereka refleks cekikikan mendengar kalimat barusan. Tabib? Haha., kenapa bisa dokter tampan itu disebut tabib.
"Sstt." dokter menoleh ke belakang, mengingatkan kedua asisten perawatnya itu.
"Maaf dokter." jawab para perawat seraya menundukkan wajah, namun seringai mereka tetap terukir.
Kembali menoleh pada Ara, "Nona Ara, jadi saya harus bagaimana memeriksa anda.?" tanya dokter mencoba mengetahui keinginan pasiennya.
Puteri Hwa memindai sang dokter, lalu, "Aku mau ada tabir kalau kau mau memeriksaku, dan beri kain di atas tempat yang mau kau periksa." titah sang puteri pada dokter yang dikiranya seperti tabib.
Dokter dan perawat tertegun mendengar ucapan barusan.
"Dokter." salah satu perawat memanggil dokter.
"Ya, ada apa perawat?" sahut dokter menoleh sedikit.
"Sepertinya pasien kita mengira......" kata-kata sang perawat terbang begitu saja ketika tanpa sengaja matanya tertangkap saling berpandangan dengan mata tajam milik Ara.
"Ya Tuhan, kenapa saya merasa terintimidasi di sini ya?" lanjutnya malahan.
"Huh?" dokter mengikuti arah pandang asisten perawatnya, pun dengan perawat satunya lagi.
"Kalian membicarakanku? Bahkan ketika aku masih di hadapan kalian?" desis puteri Hwa tetap mempertahankan intensitas ketajaman mata Ara.
"Ah, ah tidak nona Ara." sahut dokter sembari mengumbar senyum menawannya. Itu berlaku jika bersama Ara, pada jiwa gadis bernama Hwa? Itu tak berlaku meskipun semenawan apapun.
"Oh ya?" tanyanya penuh selidik.
"Ekhem." suara bass berkarisma menyela obrolan canggung itu.
Tuan Kim Hee Sin. Tiba.
"Orabeoni!!" panggil puteri Hwa melihat kedatangan sosok pria yang sangat mirip kakaknya itu.
"Huftt." hela nafas Kim Hee Sin pelan. Langkahnya pasti mendekat ke kerumunan itu.
__ADS_1
"Tuannn..?" Dokter hendak menyapa namun tak tahu siapa namanya.
"Kim Hee Sin." jawab pria itu menundukkan sedikit kepalanya.
"Oh, Tuan Kim." Lengkapnya menyapa.
"Jadi, apa yang sedang diperbincangkan serius di sini dokter? Sepertinya saya mencium aroma sengit." bisiknya pelan.
"Orabeoni!!!" Panggil puteri Hwa kesal
"Huh? Iya, Ara-sshi." sahut Kim Hee Sin menoleh pada Ara.
"Kau sama mengesalkannya dengan mereka." gerutu gadis itu menyedekapkan tangan pertanda kesal.
Baik dokter, perawat maupun Kim Hee Sin saling melirik satu sama lainnya.
"Orabeoni?" gumam perawat.
"Ya, tadi tabib." sahut perawat satunya
"Ya, sepertinya nona Ara mengingat dirinya sebagai orang jaman Joseon." balas perawat sebelumnya.
"Iya." jawab perawat lagi
"Dokter." panggil Kim Hee Sin
"Ya tuan Kim." sahut dokter menoleh ke samping.
"Kalian masih membicarakanku?" delik puteri Hwa menatap keempat orang yang masih berdiri itu.
"Tidak nona Ara." Elak dokter.
"Ara lagi, Ara lagi. Aku bukan Ara, aku Hwa, puteri Hwa." hentak Puteri Hwa mengingatkan dokter tersebut.
"Ah, iya, baiklah, nona Hwa, eh salah, puteri Hwa maksudnya." ujar sang dokter dengan senyum meringis takut pasiennya kembali tak terima.
Bagaimana pun, sebagai seorang dokter, ia harus bisa memberikan kenyamanan kepada pasiennya, baik mental maupun fisik pasien.
"Huh." puteri Hwa mendengus lalu membuang mukanya.
"Hwa-ya.?" pelan, Kim Hee Sin mendekati brangkar gadis itu.
"Ohh, ya Orabeoni." toleh gadis itu ketika panggilan akrab itu terdengar. Karena sebelumnya, ia mendengar kakaknya memanggilnya dengan formal, sungguh itu cukup melukai hatinya. Seolah mereka dua orang asing. Meskipun kenyataannya, ya benarlah.
"Mari kita periksa dirimu dulu, ya. Percaya saja pada dokter dan perawat." pinta pria itu pelan, membujuk.
Puteri Hwa menganggukkan kepala Ara, "Tapi, aku tidak sudi mereka menyentuhku langsung, terlebih tabib itu." jawab puteri Hwa sembari mengangkat tunjuknya ke dokter.
"Baiklah, kami akan menurutimu." jawab Kim Hee Sin.
Puteri Hwa menyunggingkan senyum manis dan menawan milik Ara, baik dokter maupun Kim Hee Sin.... Terpesona.
__ADS_1
****
"Ada apa yang mulia?" dayang Han melihat puteri Hwa sibuk menuliskan berbagai kata yang tidak ia mengerti, bahasa apaan itu?.
"Diam, ihh ceriwis banget deh Lo, Han-ah!" celetuk Ara gemas tanpa mengangkat pandangannya.
Sabar atuh dayang Han, tak terima? Gaplok aja tuh bocah.
Banyak yang membuat gadis itu tak paham, bukan hanya perihal tulisan aneh, ia juga kerap bingung kenapa majikannya sering memotong gulungan kertas menjadi bagian-bagian kecil seperti itu, terkadang ia yang harus melakukannya. Malahan, pernah puteri Hwa memberikannya perintah untuk para penyedia kertas agar menyiapkan tumpukkan kertas seukuran kitab atau dokumen yang di bukukan. Aneh bukan?
"Gue harus membuat schedule atau jadwal jelas di sini selama kurang dari 50 hari." gumamnya pelan, mengabaikan kerutan di dahi pelayannya karena bingung akan maksud kalimat itu.
"Nah, Han-ah." ia menyodorkan selembar kertas pada dayang Han yang menerimanya dengan bingung.
Daftar.
"Apa ini, puteri Hwa?" tanya gadis itu setelah selesai membaca isinya.
"Ck, kau ini, bisa baca tidak sih??" tanggapan Ara malah berdecak sebal.
Dayang Han mengangguk.
"Jadi, cari semua hal yang tertera di dalam kertas itu. Harus lengkap, ingat Han-ah, harus lengkap. Jika tidak...." jelas Ara terpotong.
Glek, roman-romannya tak bagus.
"Ya puteri Hwa?" tanya dayang Han menunggu dengan harap-harap cemas.
"Kau akan aku hukum." lanjut Ara, mengancam.
"I-iya, ba-baiklah, puteri Hwa." jawab dayang Han menyetujui.
Ara menatap dayang itu dengan selidik.
"Ke-kenapa puteri Hwa?" tanyanya
"Kau belum mau pergi juga Han-ah?" tanya Ara memindainya tajam
Tersadar dengan pengusiran itu, dayang Han segera bangkit berdiri. "Ah, ba-baiklah puteri Hwa. Ha-hamba permisi dulu." dayang Han membungkukkan tubuhnya untuk berpamitan. Lalu segera melesak pergi sebelum di usir untuk kedua kalinya
Srettt.
Pintu geser pun tertutup sempurna.
Meninggalkan gadis si pemilik ruangan itu yang kini memasang wajah serius.
"Kalian semua, lihat aja." ujarnya pelan, meremas kertas yang ada di sisi kirinya.
"Puteri kalian ini, akan gue ubah jadi puteri yang kejam." desisnya yakin.
Mulai tarikan nafas itu kembali ke paru-paru puteri Hwa untuk yang kesekian kali. Ara menanamkan dendam kesumat, mengincar siapapun yang telah tega menyakiti puteri ini berikut dirinya juga. Karena goresan sedikit saja, Ara ikut merasakan. Maka....
__ADS_1
"Mata dibalas mata, gigi dibalas gigi, darah dibalas darah. Kalian akan merasakannya."