100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
Jelmaan Era Joseon


__ADS_3

Cindy melangkahkan kaki jenjangnya dengan sangat anggun.


Senyumnya menyeruak ketika sudah bersitatap dengan Ahn Hoon Je.


"Mari, segera hibur aku dengan informasimu itu, Hoon-ah." ucap Cindy yang sudah duduk tepat di sebelah Hoon.


Hoon segera mengangkat tangan kokohnya untuk merangkul belakang kepala Cindy yang duduk di sebelahnya.


"Kau sangat tidak sabar sekali rupanya, sayang." Kekeh Hoon hendak memberi kecupan di pipi gadis cantik jelita itu.


"Please, Hoon-ah. Jangan menyentuhku apapun itu. Aku belum mau terlibat romantisme apapun saat ini." Tolak Cindy.


Tertawa sumbang, Hoon menepuk puncak kepala Cindy gemas.


"Aku tak sabar menanti dendam-mu terbalas. Agar cintaku pun segera kau balas, sayang." sambut Hoon lembut.


Cindy mengedipkan matanya. Seolah menjadi tanda kesepakatan hati pria itu akan ia balas setelah hasrattnya membalas rasa sakit dan depresi kakaknya selesai.


Seorang gadis muda menyela obrolan mereka. Membawa nampan berisi gelas yang di dalamnya terdapat air berwarna merah keunguan dan menatanya di atas meja.


"Han. Jangan lupa awasi kakak-ku, aku akan pergi ke suatu tempat setelah inim" titahnya pada si pelayan.


"Baik nona Cindy." jawabnya menundukkan wajah.


Setelah pelayan menghilang di balik dinding biru. Cindy kembali menatap Hoon.


"Baiklah. Ayo cepat beri aku hiburan, Hoon-ah." Desak Cindy mengingat kabar bahagia yang tentunya berhubungan dengan Ara.


"Yes Bebi." jawabnya.


"Jadi begini, Ara....."


"Shut up, Hoon-ah. Jangan sebut nama jal-ng itu di hadapanku, kau lupa, huh." lihatlah, hanya menyebut nam Ara sudah membuat suasana hati Cindy berubah drastis.


"Maaf sayang. Aku lupa." Hoon menggaruk bagian belakang kepalanya yang mendadak menjadi gatal.


"Baiklah, kita ulang lagi. Jadi gadis sialan itu rupanya tengah mengalami amnesia sepertinya." lanjut Hoon bercerita.


"Amnesia? Sepertinya? Kau seperti ragu dengan ucapanmu sendiri, Hoon-ah." delik Cindy mencari kepastian dari Hoon.


"Aku bukannya ragu. Tapi... Menurut informasi dari pihak medis yang menangani gadis sialan itu, mereka tak menemukan kesalahan dalam kepalanya."


"Lalu? Atas dasar apa dugaan konyol itu. Jika rumah sakit saja menyatakan hal berbeda." ucap Cindy heran.


"Masalahnya, gadis sialan itu banyak melakukan hal berbeda dari kebiasaannya." Hoon menduga.


"Hal berbeda? Maksudmu?" Cindy tertegun meski pikirannya mengatakan hal berbeda.


"Gadis tengik itu meski tidak di diagnosa amnesia, tapi ia banyak melupakan hal penting dalam kehidupan sehari-harinya." ujar Hoon masih ambigu.


"Aisyhhh, ucapanmu dari tadi terlalu berbelit-belit. Hoon-ah, jelaskan lebih jelas lagi." sebal Cindy mendengar penjelasan tak jelas itu.


"Iya, kenapa aku begini? Mungkin karena terlalu sering bertemu gadis itu, makanya otakku ikut korslet nampaknya." cetus Hoon malah menuduh Ara.


"Lanjutin, lama-lama aku bosan dan marah loh." delik Cindy mulai gerah dengan penjelasan Hoon tadi.

__ADS_1


"Aku mau bertanya padamu biar lebih mudah." perlahan Hoon mencari cara gampang untuk menjelaskan maksudnya tadi.


Cindy mengangguk menanti.


"Menurutmu, se-amnesia apapun seseorang, apa saja hal-hal yang menjadi bagian kelupaan mereka?" Hoon memancing jawaban dari Cindy.


"Ingatan tentang dirinya, orang lain, maupun waktu." tanggap Cindy semampunya.


"Nah, lalu..... Apakah mereka yang mengalami amnesia akan melupakan cara membuka pintu?" perlahan Hoon membawa Cindy terhadap beberapa hal aneh yang ia temui dari sosok Ara baru-baru ini.


"Membuka pintu? Ya tidak lah."Jawab Cindy yakin.


"Lupa cara mengenakan sepatu?"


"Apalagi itu, ya gak lah."


"Mmmh, lupa cara membuka pintu mobil. Padahal orang itu mahir."


"Bodoh. Ya gak lah." Cindy merasa Hoon konyol.


"Dan lupa cara menggunakan ponselnya?"


"Maksudmu apa sih, Hoon-ah!!! Pertanyaanmu sangat lucu dan menyebalkan." geram Cindy memukul lengan Hoon.


"Nah itu yang terjadi dengan gadis tengik itu. Sayang.... Dia melupakan kegiatan yang sehari-hari selalu ìa lakukan selama ini." spontan Hoon menegakkan tubuhnya, antusias.


"Huh? Kenapa lucu begitu."sarkas Cindy menanggapi.


"Jadi begini......"


FLASHBACK ON


"Aduh, bagaimana ini, aku tidak bisa membuka pintu aneh ini." bisik-bisik ia mendengar monolog yang dilakukan Ara.


Sedikit membuka kelopak matanya untuk memastikan.


'Benar, kenapa dengan gadis itu?' batinnya mengomentari tindakan Ara saat itu.


Seolah panik, bingung, Ara di matanya silih berganti sesekali membalik tubuh, sesekali mengintip melalui celah lobang pintu, dan kadang menggerutu.


Tampak kesulitan untuk membuka pintu yang sedari tadi berbunyi belnya.


Ada yang datang.


Kenapa sesulit itu? Apakah pintunya ada kode rahasia dari dalam?


Eihhh tidak segitunya bang.


"Bagaimana ini????!!!" lagi, Suara Ara menggema sayup-sayup.


"Orabeoni!!!!!!" pekiknya pada depan pintu.


'Orabeoni??? Dia hidup di jaman apa' batin Hoon aneh.


Flashback off.

__ADS_1


"Orabeoni???" Beo Cindy mendengar cerita barusan.


"Iya. Orabeoni." tegas Hoon mengangguk.


"Kau kan sudah bertemu dengannya. Malah kalian berhadapan langsung dengannya, kan?" tanya Hoon.


Diangguki Cindy.


"Lalu, apakah kau menemukan hal aneh dan perbedaan dari si gadis sialan itu?" tanya Hoon lagi.


Cindy memejamkan kedua matanya.


Berpikir keras.


"Seingatku memang aneh sih." cetus Cindy


"Apa?? Apakah gaya bertarungnya aneh? Ucapannya? atau tingkah primitifnya?" rentetan kalimat tanya diajukan oleh Hoon dengan penuh selidik.


"Tingkahnya. Dihadapanku dia seolah tak mengenali, tapi kesan sombongnya begitu berani." jawab Cindy mengingat.


"Padahal, harusnya ia trauma ketika melihatku."


"Betul kan!!! Harusnya mereka yang mengalami trauma terhadap hal mengerikan pasti teringat ketika bertemu dengan pelakunya, kan??" sambut Hoon menambahkan.


Cindy memberengut.


"Maksudmu aku penjahatnya. Gitu???" tak terima di arahkan seperti itu.


Padahal kan memang jahat, kan pemirsa-pemirsa. Sampe buat anak orang nyaris modar gitu, masak dibilang mimi peri baik hati? Hayolah, tak seperti itu enjel.


"Iya, maksudnya kan perbuatan kita tentu akan membuatnya teringat,kan?" ulang Hoon meralat maksudnya, walaupun tetap saja buruk maknanya.


"Kau benar, Hoon-ah. Selain sikap angkuhnya itu. Dia melakukan cara bertarung yang bukan jenis Thai-boxing menurutku." pelan. Cindy kembali menggali ingatannya saat menjadi saksi perkelahian atau lebih tepatnya pengeroyokan pria pecundang suruhannya.


"Dan dia tidak ingat sama sekali denganku, padahal saat pertama kali bertemu, raut wajahnya saja berubah cemas begitu tahu maksudku adalah untuk mencelakainya." jelas Cindy lagi.


"Betul kan???" sambut Hoon


"Lalu, cindy. Tahu apa lagi hal lucu yang ditunjukkan gadis sialan itu??" lanjut Hoon mencoba memberi info lainnya lagi.


"Apakah hal yang lebih lucu?" binar wajah cindy yang angkuh berharap yang diangguki Hoon cepat.


"Dia menyebutku dengan pangeran Sin,.." ujar Hoon.


"Pangeran, hihihihihi." kikik Cindy merasa lucu.


"Dan satu lagi. Kau ingat Kim Hee Sin?" Tanya Hoon.


"Anak menteri Kim?" Cindy, meminta kebenaran.


"Iya."


"Kenapa memangnya?"


"Gadis sialan itu, memanggilnya orabeoni dan putera mahkota."

__ADS_1


"What?????!!!!" Cindy terbelalak... Dan... Tertawa keras mendengarnya.


"Gadis itu seolah jelmaan dinasti Joseon, bukan begitu Hoon-ah?"


__ADS_2