
Ara yang merasa sudah berada di sini selama 1 bulan, merasa heran dan penasaran akan sosok pria yang katanya menjadi calon suaminya.
Menurut yang ia dengar, sosok ini merupakan pangeran dari kerajaan lain. Dan, sudah beberapa kali mereka dikabarkan bertemu di istana ini. Akan tetapi, kenapa belum satu kali pun dirinya melihat batang hidung pria itu??
Bener gak sih?? Pa jangan-jangan hoaks doang??
"Dayang Han!!" panggil Ara yang bersiap melangkah keluar sesuai tujuannya, ke kediaman ratu alias ibu puteri Hwa.
"Iya Yang Mulia." Gadis itu bergegas mendekati si pemanggil.
"Hmmm, ah begini..." Ara mengecilkan suaranya. Enggan jika para pelayan di belakang sana ikut ambil bagian mendengar.
Seolah paham. Dayang Han semakin mendekat pada sisi wajah puteri Hwa.
"Apakah aku bisa bertemu dengan calon suamiku??" Tanya Ara pelan.
Dayang Han agak terkejut dengan pertanyaan yang....
Apakah tidak salah gadis ini menanyakan hal yang semestinya ia tahu pasti jawabannya.
Tapi kembali lagi, ini serupa dengan beberapa kejadian sebelumnya, bukan?
"Bagaimana, bisa??" ulang gadis yang menanti jawab dari pelayan di sampingnya.
Menjentikkan jemari,
"Woy, ihh why your face as that, Han-ah??" gemas, Ara mengeluarkan kata asing di telinga kaum terdahulu itu.
"Hah, ya, Yang Mulia?" Balik tanya dayang Han. sikap lalainya mendorong ekspresi sebal dari majikannya.
"Maafkan hamba, Puteri Hwa." akunya merasa bersalah.
"Sudahlah, gue ulangi lagi ya." sabar, dalam hati milik puteri Hwa, Ara berusaha enggan melayani kekesalannya.
Mengangguk paham, Dayang Han siap mendengar.
"Gue mau ketemu sama calon suami gue, Pangeran Sin, benar kan namanya??" Ara berujar.
Meski kesulitan menutupi ekspresi bingung, namun tak bisa dipungkiri, dayang Han jago dah buat akting gini. Bayar berapaan buat bersikap banyak muka, woyyy!!!!
"Anda mau bertemu dengan pangeran Sin, kapan Yang Mulia?" Tanya dayang Han dalam upaya menutupi keengganan untuk menuruti.
Jelaslah, ia tahu kebenaran situasi yang akan disikapi serupa oleh majikannya.
Tapi, seperti yang sudah dibahas bersama saat pertemuan dengan putera mahkota. Mereka memiliki pemikiran yang sama, walau dalam era ini belum pernah terjadi hal seperti ini.
Puteri Hwa seolah menjadi orang lain, mereka merasa gadis malang itu berubah setelah kejadian mengerikan itu. zaman ini belum kenal dengan istilah amnesia atau lupa ingatan. Jadi, mengartikan sikap itu lebih pada puteri Hwa sedang mengalami kebingungan dan tekanan batin.
Titik!!!!
"Bagaimana kalau 4 hari dari sekarang. Jadi, kirimkan kabar pada pangeran Sin, bahwa aku merindukannya." Jelas Ara pasti tanpa keraguan sedikitpun yang tertangkap oleh dayang Han dari majikannya.
__ADS_1
Mengangguk, "Baklah, Yang Mulia." ujar dayang Han patuh.
Sesampainya di kediaman ratu, Ara menangkap sayup suara...
"Yang Mulia, bagaimana ini.?" Ara kenal suara ini... Ini milik...
"Ada apa, nona Kim." sahut ratu.
Fix, benar kan... Ini rubah betina ekor 10, dah dipotong Ara satu ekornya.
Kembali menguping. Kala itu, memang tak ada dayang setia ratu. Jadi, Ara menggelengkan kepala puteri Hwa ketika dayang penjaga menanyakan apakah akan diberi tahu perihal kedatangannya.
Ara masih mau nguping woy!¡!!!
"Puteri sialan itu, berani-beraninya dia mengatakan pada putera mahkota agar menolakku untuk menjadi pendampingnya." Ara menangkap geraman dalam nada suara itu.
"Lalu? Apa yang akan kau lakukan Nona Kim? Bukankah Ayahmu bisa mengatur kau pasti menjadi ratu negeri ini? Kenapa mengeluhkan padaku?" ratu mengembalikan keluh kesah Kim So Yoon dalam bentuk tanya keras.
Tapi, tapi.. Ara menangkap hal yang janggal di sini.
Kenapa.....
Kenapa ratu tak marah ketika si rubah betina ini membicarakan hal buruk bahkan menyebutkan kata tak pantas untuk anak seorang raja.
What the he-l!!!
"Kau tetap menjadi puteri mahkota bahkan ratu di kerajaan ini nona Kim. Dan puteri Hwa, tetap akan melanjutkan perjodohannya dengan pangeran Sin, sesuai rencana kita." jelas ratu. Mengurungkan niat Ada untuk berkunjung. Berbalik dan....
Ada apa ini????
Rencana???
"Rencana apa yang dimaksud mereka? Lalu, ratu..???" Gumamnya selama melangkah meninggalkan kediaman ratu.
Terus berjalan hingga, dalam tunduk wajahnya... Ia melihat.... Melihat sepatu hitam dengan ukiran berwarna biru...
Malas menanggapi, Ara memilih menggeser tubuh puteri Hwa ke kiri tapi si pemilik sepatu di hadapanya ikut bergeser searah sepertinya, sehingga kembali mereka beradu hadapan.
Berdecak, Ara bergeser ke kanan. Dan kembali sepatu itu mengikutinya.
"Ihh das....." menoleh, menatap si pemilik sepatu yang rupanya.. "Yang Mulia?" Celetuknya.
Melihat putera mahkota berdiri kokoh di hadapannya, menggunakan pakaian putih keemasan dari sutra.
Menatap puteri Hwa lekat dan....
Ara jadi kelimpungan sekarang... Jantungnya...
Eh tunggu, degub ini sebenarnya milik siapa,, ????
Ara atau puteri Hwa???
__ADS_1
"Apa yang kau cari di kediaman ratu lagi. Puteri Hwa??" tanya pria itu datar. Seolah menatap Ara dan bersiap menghukum sesudahnya.
"Hah?? Aku, aku hanya ingin menemui ibu, kakak." Jawab Ara singkat.
"Menemui? Bukankah ratu sering mengunjungi kediamanmu akhir-akhir ini. Kenapa??" lagi, pria itu menanyakan hal yang berbeda. Padahal jawaban Ara tadi saja sulit keluar dari bibir puteri Hwa.
"Aku hanya ingin membahas pertemuan dengan calon suamiku, Yang Mulia." jawab Ara semakin mengecilkan suaranya.
"Calon suamimu? Pangeran Sin? Heh." pria itu mendecihkan kala Ara membahan calon suami.
Memang kenapa?
"Kenapa? Apa kau merindukannya?" kembali putera mahkota berujar tanya pada puteri Hwa.
Dan, diangguki Ara dengan yakin.
"Kau, merindukan pria itu?" ulang putera mahkota seolah meminta kejelasan jawaban puteri Hwa. Yang kembali diangguki Ara melalui puteri Hwa.
Memang apa salahnya? Orang itu calon suami sendiri kok. Lagian 1 bulan kagak ketemu loh!!!! Rindu pakek berat lah..
Menatap sendu pada puteri Hwa, Ara tertegun. Putera mahkota seolah...
Sedih? Kecewa? atau tak suka dengan jawaban yang disampaikannya.
"Baiklah kalau memang itu maumu. Aku akan memberi kan keinginanmu, mungkin kau sedang tak baik-baik saja sekarang jadi kau tak tahu situasinya." jelas putera mahkota pasrah.
*****
sesuai harapan..... Tanpa menunggu waktu lama.
Pria, pria yang katanya bernama Sin dari kerajaan seberang itu, tiba.
Tiba di istana ini.
Melangkah gagah.. Pria itu tampak sumringah manakala ia mendapat kabar bahwa puteri Hwa ingin berjumpa dengannya.
Gadis yang mematahkan hatinya waktu itu, harus ia beri pelajaran kali ini. Dan dengan mulusnya, gadis itu sendiri yang mengundangnya kemari.
"Puteri Hwa. Pangeran Sin sudah tiba di sini." panggil dayang penjaga di depan.
"Masuk." Sahut Ara yang sudah berdandan cantik, menyambut pria yang katanya tampan itu.
Sretttt.
Suara pintu geser yang terbuka, menyeret langkah pria yang dinanti Ara untuk ditemuinya.
Seketika...
"Oppa Hoonnnn!!!!!????" Ara terbelalak ketika melihat siapa yang tengah berdiri di seberangnya, dengan baju kebesaran pangeran.
Pangeran Sin.? Ini!????
__ADS_1