100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
Penghakiman


__ADS_3

Tap tap tap


Suara langkah kaki terdengar di sepanjang lorong menuju ruangan puteri Hwa.


Srettt


Tanpa pemberitahuan yang sempat terucap.


"Puteriku!!!!" langkah pria paruh baya yang mengenakan pakaian tidur dengan jubah merah memeluk tubuhnya. Raja. Alias bokap puteri Hwa.


Ara mengedipkan matanya berulang kali melihat siapa yang datang.


Cepat kali!!!!


"Yang Mulia." Ara membangkitkan tubuh puteri Hwa tapi tertahan..


"Tidak usah memberi hormat, duduklah, dan tetaplah di sana." Perintah raja yang mengambil duduk di seberang pembaringan puteri Hwa.


Tak lama, muncul juga, ratu.


Ya elah, maen tinggal aja si raja ya? Hehehhe.


"Puteri Hwa, anakku." lirih suara ratu menghampiri tempat puteri Hwa duduk.


"Ratu." jawab Ara mewakili puteri Hwa.


Kini, sudah ada di dalam ruangan itu, raja, ratu, putera mahkota, dayang Han serta tabib istana yang membereskan perlengkapan pengobatannya.


"Tabib, bagaimana keadaan puteri Hwa??" raja membuka suara pertama menanyakan kondisi puteri Hwa.


"Puteri Hwa....." tabib melirik sepintas pada puteri Hwa yang sebelumnya sempat memberikan peringatan perihal keadaannya dirinya yang sebenarnya jangan diungkap di hadapan siapapun.


"Puteri Hwa mengalami luka dibeberapa bagian tubuhnya, yang mulia." jawab tabib berbohong.


"Apakah parah?" tanya raja yang mendapat anggukan dari tabib.


Padahal yang sesungguhnya, luka cukup parah justeri hanya ada di telapak tangan puteri Hwa yang digunakan Ara untuk menghalau hujaman wanita yang diberikan perintah untuk membunuhnya. Sedangkan luka lain?? Goresan ada sedikit di lengannya. Memar di lengan. Dan itu membuktikan jika kebohongan tabib tentu bisa diyakini siapapun. Ahay!!


Mengepal tangannya, wajah raja memberikan isyarat tak baik-baik saja. Beliau murka.


"Bagaimana bisa? Kemana para penjaga di bangunan ini? Sudah dua kali puteri Hwa diserang seperti ini. Dan sekarang, lagi?? Dua orang sekaligus!!!! Bisa-bisanya." nada tinggi menguar dari bibir raja.


"Aku tak bisa membayangkan bagaimana jika puteri Hwa tak mendapatkan pertolongan cepat dari penjaga baru. Aku tak bisa membayangkan." kepala raja menunduk dalam. Ia seolah menahan isak, kalian tentu tahu bagaimana rasanya seorang pria menangis? Itu artinya ia begitu berat menerima masalah yang menimpa orang terkasihnya.


Padahal kenyataannya, mungkin raja akan lebih syok jika tahu yang menumbangkan dua orang tadi adalah puterinya sendiri, dan Ara sukses meminta para saksi membungkam mulut mereka ditambah ancaman putera mahkota pada mereka dengan hukuman berat. Jadilah, cukup mereka saja yang tahu.


Menoleh pada putera mahkota.

__ADS_1


"Putera mahkota!" panggil raja tegas.


"Ya. Paduka." sahut putera mahkota.


"Kau yang akan memimpin langsung sidang dua pelaku kejahatan itu, malam ini. Karena aku tak akan bisa menahan tangan ini mengayunkan pedang ke batang leher keduanya." lanjut Raja menahan gejolak amarahnya.


Siapapun yang mendengar tentu akan bergidik dengan ucapan barusan.


"Apapun keputusan, lakukanlah." tambah raja pada perintahnya.


Putera mahkota menerima, mengangguk siap... "Baik yang mulia, akan aku lakukan dengan baik." sahut putera mahkota menatap raja untuk meyakini.


Ara bisa melihat sorot mata putera mahkota tampak menyala-nyala, seolah tengah mempersiapkan banyak hal yang membuncah energinya.


Dan benar saja dugaan itu....


Karena sekarang...


Langkah gagah calon raja masa depan itu sudah pasti menaiki undakan anak tangga di teras bangunan tempat proses persidangan terhadap dua pelaku yang melakukan tindak kejahatan terhadap puteri Hwa.


Menempatkan bokongnya di kursi hakim. Di dampingi oleh petugas hukum di sisi kanan dan kirinya. Sementara dua orang tadi sudah berantakan penampilannya.


Rambut terurai, gores luka bekas penyiksaan yang masih mengeluarkan darah baik dari pukulan, tarikkan kayu, tusukan sampai luka bakar dari besi panjang yang memiliki tapal di ujungnya yang ditempelkan ke beberapa bagian tubuh tersangka. Dan bisa dipastikan, mereka yang mendapatkan penyiksaan bisa mendapat luka berat hingga perlu penyembuhan lama, kelumpuhan, bahkan kematian.


"Yang mulia, silahkan anda memulai proses persidangan." suara pria baya sekitaran 50an tahun yang menjabat pimpinan hukum di biro keamanan memberi wewenang terhadap putera mahkota atas dasar titah langsung raja.


Mengangguk, putera mahkota siap mengambil alih.


"Kalian berdua." panggilnya keras hingga pengawal yang bertugas menyiksa memaksa mendongakan kepala keduanya yang tertunduk menahan sakit.


Mendecih.


"Berani sekali kalian melakukan penyerangan pada seorang puteri kerajaan. Huh!!!!????" bentaknya pada dua orang yang meringis kesakitan.


"Beritahu sekarang, siapa yang memberi kalian perintah itu!!!!" lagi, putera mahkota menghardik keduanya yang memilih bungkam daripada memberi tahu.


Hingga, ia memberi isyarat pada 4 orang pengawal di dekat tersangka untuk menyiksa keduanya lagi...


Dan...


"Arrgghhhhhhhhhhhh." suara lolongan menyayat hati siapapun terdengar memilukan di malam itu. Keluar dari dua bibir pelaku yang kedua tungkai kakinya di pisahkan oleh kayu besar hingga merenggangkan kaki mereka lebar-lebar.


Teriakan kesakitan itu tak sekalipun mengeluarkan iba dan rasa kasihan dari putera mahkota.


"Aku sebenarnya ingin sekali menebas batang leher kalian berdua. Tapi, tak akan bagus untuk penjahat seperti kalian mendapatkan kematian yang mudah seperti itu." ucap putera mahkota meremas pegangan kursi di sisi kiri dan kanannya.


Dua orang yang tengah disiksa, masih menahan suara mereka untuk bersaksi. Dan sebagai balasannya, mereka mendapatkan siksaan tambahan berupa sapaan besi panas di wajah mereka berdua.

__ADS_1


Menambah ringisian serta jerit kesakitan dari mulut keduanya.


Kasian??


Tidak, putera mahkota tetap berusaha mempertahankan amarahnya sampai keduanya menyebutkan dalang dari tindakan keji itu.


"Kalian. Cepat katakan. Karena, kalian akan semakin disiksa jika tidak segera mengatakan yang sebenarnya.!!!" ancam wakil pimpinan biro keamanan istana.


Dan, terus saja berulang. Aksi tutup mulut itu bertahan di kedua pelaku kejahatan.


Putera mahkota beringsut berdiri dari kursinya. Berdiri, membuat dua orang di sisiny juga ikut berdiri.


Pria yang digadang-gadangkan menjadi pimpinan negeri ini, melangkahkan kedua kakinya, turun.


akan tetapi bukan untuk pulang ke kediamannya.


Ia menarik langkahnya lurus menuju kedua tersangka yang masih berteriak kesakitan.


Menoleh pada 4 orang penyiksa untuk bergeser dari sana.


"Yang mulia.!!" panggil dua pria yang mendampingi putera mahkota sedari awal tadi.


Khawatir, namun putera mahkota mengangkat tegas telapak tangan kanannya sebagai isyarat jangan ikut campur urusannya.


"Kalian boleh pergi semua dari sini." titahnya yang jelas ditujukan untuk semua petugas keamanan termasuk pimpinan dan wakil, membuat dua pentolan iti protes segera.


"Tapi, yang mulia!!" ucap keduanya serempak.


"Sudah, sanalah kalian pergi semua. Aku ingin berbincang khusus dengan keduanya." tegas putera mahkota mengusir mereka semua.


Dan terpaksa, satu persatu mereka bergegas meninggalkan lapangan tempat proses sidang pelaku tadi.


Hening selama beberapa saat.


Cring!!!!


Putera mahkota menarik besi panas yang sudah terlihat merah membara.


Mengangkatnya dan mengacungkannya ke hadapan keduanya.


"Jawab aku, jika tidak mau satu persatu indera dan bagian intim kalian aku berikan besi panas ini." ancam putera mahkota kejam.


Glek!!!


Keduanya tak percaya sosok ini bisa sangat kejam!!!.


"dengarkan baik-baik. Apakah, nama yang ku sebut adalah majikan kalian, atau bukan." lanjutnya. Mencondongkan tubuh kearah keduanya menyisakan 2 langkah lagi.

__ADS_1


Pria itu membisikan sesuatu yang pada keduanya... Yang segera direspon dengan....


Apa coba?? Hayo tebak.....


__ADS_2