100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
Takdir Dayang An dan Ratu


__ADS_3

Semua yang berada di dalam ruangan menatap heran akan kehadiran saman alias dukun.


“Anda tidak diminta datang, saman.” Ucap dayang Han, puteri Hwa hanya meminta tabib, bukan dukun.


“Kalian boleh pergi.” Titah Ara pada tabib dan asistennya.


“Baik Yang Mulia.” Membungkuk patuh, tim medis kerajaan itu bergerak mundur lalu keluar dari ruangan puteri Hwa.


Menyisakan dayang Han, puteri Hwa dan saman yang mendekat yakin menuju tempat duduk puteri Hwa.


“Apa maksudmu tadi, dukun.?” Tanya Ara tak paham.


“Hamba hanya ingin membantu anda, Yang...... mmmh mungkin harus hamba panggil nona?” ralat saman menatap Ara lekat.


Ara tertegun, tapi berusaha tenang.


Pun sama, dayang Han terkejut.


“Ekhem.” Berusaha tenang, Ara berdeham.


“Aku tak paham apa maksudmu, saman.” Pura-pura, Ara bersikap demikian.


“Oh ya? Apa perlu hamba mengingatkannya, nona... ah hamba tidak tahu harus memanggilmu apa, karena hamba hanya tahu jika anda bukan dari dunia ini.” jelas saman yakin.


“Aku sedang malas menebak, saman. Waktu ku tak banyak, sibuk.” Ara berusaha menghindar, ia tak perlu takut, karena dayang Han sudah tahu perihal dirinya.


Saman tiba-tiba menggumamkan kalimat tanpa suara, lebih mirip berkomat-kamit.


“Apa yang kau lakukan?” Ara cemas, bersamaan dengan tubuh yang bergetar, ia mengepalkan tangan menahan goncangan itu.


‘Tidak, ada apa ini? apa ia membaca mantra untuk ku?’ batin Ara takut.


Melihat ada yang tidak beres dari gerak tubuh majikannya, dayang Han bangkit dan mendorong tubuh dayang hingga terjengkang ke belakang.


“Apa yang kau lakukan, saman!!!” geram dayang Han tak terima.


“Hah, aku hanya memberi tahu kebenaran majikanmu yang memerangkap jiwa lain, dayang.” Jawab saman santai dan datar.


“Bagaimana nona? Apa jiwamu terasa terguncang di dalam sana?” mengerikan, sudut bibir saman terangkat, seperti seringai.


Ara masih enggan memperlihatkan raut ketakutan, jelas tadi ia merasakan jiwanya seakan ditarik keras, mual yang terasa saat ini.


Menatap mata saman penuh nyalang, Ara membalas tajam.


“Jika memang aku bukan lah puteri Hwa,.....” Ara menatap lekat saman yang sudah duduk tegap kembali.


“Apa yang akan kau lakukan jika aku bukan pemilik tubuh ini?” tanya Ara dingin.


.

__ADS_1


.


“Sial!!!! Sialan!!!!” gerutu Ara beberapa menit setelah pertemuan meresahkan tadi. Dayang Han bergidik memperhatikan tingkah majikannya yang tidak ada tata krama kebangsawanan sama sekali, mengumpat, berguling-guling, aihhhh... jiwa itu sungguh bar-bar sekali.


“Dayang Han, kau dengarkan apa saran konyol saman tadi?” todong Ara bertanya pada dayang Han yang menjawab dengan anggukan.


“Sungguh tidak masuk akal. Tidak masuk akal.” Ara menggaruk kepala puteri Hwa, hingga tatanan rambut yang sudah rapi itu menjadi berantakan.


“Tolong jangan menyakiti tubuh puteri Hwa, nona.” Mohon dayang Han melihat tingkah absurd Ara yang dinilainya menyakiti majikannya.


“Ini tidak sakit, dayang Han. Kau pikir kalau tubuh ini terluka, aku tidak akan merasakannya? Aku juga sakit dayang Han.” Sebal Ara akan pola pikir Dayang Han yang tidak masuk akal.


“Waktu ku tidak banyak di sini, mana kepalaku tak berhenti pusing akhir-akhir ini. dan saran saman konyol itu, menambah beban pikiranku.” Jawab Ara meremas hanbok puteri Hwa.


Tak lama, ia beringsut bangun, berjalan menuju balik tirai pembatas di belakangnya.


Brakkkk


Mendorongnya keras hingga terdengar suara.


Dayang Han melongo melihat banyak tumpukan kertas-kertas kecil yang tertempel di sana. Ia ikut bangun dan penasaran dengan apa yang ada di dinding itu.


“Ini apa, nona?” tanya dayang Han bingung.


Ia tak paham apa yang tertulis di sana, huruf-hurufnya tak bisa ia baca. Bahasa apa itu?


“A-alur?” ulang dayang Han


“Hmm, jadi ini runtutan masalah yang melibatkan beberapa pihak. Kau lihat ini...” Ara menunjuk beberapa tanda panah di sana.


“Ini berasal dari geng apel semua.” Tambah Ara.


“Geng apel?” beo dayang Han


“Hmm, geng apel, semua yang terlibat dalam masalah ini memiliki aroma buah apel, dayang Han.” Jawab Ara


“Dan buah apel adalah salah satu buah yang memicu alergi di tubuh puteri Hwa, sama seperti ku.” Lanjutnya


“Jadi,,, apakah wajah puteri Hwa....” dayang Han mulai menduga yang diangguki Ara.


“Ya, kau benar, semua yang berhubungan rusaknya wajah puteri Hwa karena ia mengkonsumsi dan memakai bedak dari ekstrak buah apel.”


“Hah!!!” dayang Han terbelalak sempurna.


“Kenapa, kau tidak tahu kalau majikanmu memiliki alergi itu?” Ara membaca gurat ekspresi dayang muda puteri Hwa.


“Ohh iya, kau kan hanya meneruskan pekerjaan saudara perempuanmu, ya?” Ara paham, yang selama ini melayani puteri Hwa adalah dayang Oen, alias kakak perempuan dayang Han.


“Puteri Hwa tak pernah memberi tahu sama sekali.” Dayang Han menunduk, merasa bersalah akan hal itu.

__ADS_1


“Wajar, ia hanya berhati-hati.” Sambung Ara


“Dirinya banyak disakiti oleh orang di sekitarnya, orang yang harusnya melindunginya justeru yang membuatnya terluka.” Lanjut Ara mengartikan ketidak percayaan puteri Hwa akan dayang Han.


“Iya, nona.” Angguk dayang Han.


“Dan sekarang, aku harus berhadapan langsung dengan mereka.” Ucap Ara.


“Saman memberikan solusi jika masalah puteri Hwa adalah dengan menemui pelaku kejahatan itu.” Ucapnya lagi.


“Masalahnya, benang merah itu berpusat pada ratu.” Lanjutnya.


“Kau tahu bukan, aku masih belum paham, kenapa seorang ibu begitu membenci puterinya sendiri” Ara menopang dagu dengan kepalan tangan kiri.


“Apakah putera mahkota tahu akan hal ini?” tanya Ara menoleh pada dayang Han.


“Putera mahkota hanya tahu sebagian, nona. Ia pernah bercerita jika anda di teror oleh ratu.” Sahut dayang Han.


“Lalu...” ujar Ara menunggu.


“Puteri Hwa pernah mengucapkan bahwa ratu bukan ibu kandungnya.” Jawab dayang Han.


“Jadi yang datang waktu itu adalah keluarga puteri Hwa?” tanya Ara merangkai benang merah.


“Ya, tuan itu benar paman anda.” Jawab dayang Han.


“Masalahnya adalah, kenapa puteri Hwa ingin dilenyapkan oleh ratu. Apakah ada kejahatan ratu yang diketahui oleh puteri Hwa?” Ara menduga-duga.


“Hamba tidak tahu, nona. Saya hanya diberi tahu sebatas itu oleh putera mahkota.” Dayang Han menunduk, ia benar-benar tidak tahu fakta selain itu.


“Ya Tuhan!!! Bagaimana ini. bagaimana aku bisa membalas dan mengungkapnya jika aku saja tidak tahu inti masalah ini sebenarnya.” Ara kembali mengacak kepala puteri Hwa, gemas sendiri.


“Eh tunggu.” Ia teringat akan sesuatu.


“Aku penasaran akan hal ini....” matanya menyorot pada satu blok kertas yang tertempel di dinding.


Tertulis dua suku kata di sana.


DAYANG AN....


“Ini, dayang An.” Tunjuk Ara pada satu nama


“Dayang An?” ulang dayang Han bingung


“Iya, dayang muda ini punya kuasa di atas dayang pribadi ratu. Padahal dayang itu senior semua dayang di istana, tapi tunduk pada dayang tengil dan songong itu.” Ara menggabungkan semua asumsinya akan keberadaan dayang An.


“Lalu nona?” dayang Han masih mencerna.


“Aku yakin, antara ratu dan dayang An, ada takdir kuat yang mengikat mereka berdua.” Pungkas Ara.

__ADS_1


__ADS_2