
Seantero jagat istana kembali gempar......
Para emak-emak pada ngumpul ngerubungi kang sayur di pojokan buat ikutan ngegosip.
Di gozookk hayuk ziippp....
Kasak-kusuk suara bisik-bisik sayup-sayup terdengar meskipun sangat halus, tapi, semua sudah tahu apa yang tengah menjadi bahan gosip.
Ya. Si tengil yang mengamuk.
Ara, memerangkap image puteri Hwa menjadi tempramen.
"Apa kalian yakin jika ditugaskan di bangunan puteri?" bisik-bisik dayang yang memilah berbagai tanaman yang akan digunakan sebagai bahan obat-obatan itu kini ambil shift buat ngegosipin si puteri Hwa.
Tiga orang dayang yang membawa masing-masih benda mirip celurit kecil beserta wadah yang mirip keranjang anyaman duduk nyaman dengan bahan hangat yang siap diadu.
"Aku tidak mau, puteri Hwa sekarang kejam sekali." dayang yang bermata bulat mengendikan pundaknya beberapa kali menolak jika ditawari menjadi pelayan puteri Hwa.
"Aku pun begitu. Tidak mau." dayang yang berbibir agak menebal itu juga sama menggelengkan kepalanya.
"Setelah si puteri Hwa kembali bangkit dari kematian. Dia selalu marah-marah." ucap dayang yang tubuhnya gempal.
"Betul, dan juga berlagak sekali." tambah dayang bermata bulat yang diangguki dayang satunya.
"Kasian sekali nasib dayang yang waktu itu terkena amarah puteri Hwa." dayang gempal itu menampakkan raut wajah meringis.
"Iya. Dari yang aku dengar, dia mendapatkan cambukkan seratus kali dari puteri Hwa." tambah dayang berbibir tebal.
"Aku takut jika harus mendampingi tabib atau disuruh mengantarkan ramuan herbal untuk puteri Hwa." si dayang bertubuh gempal merinding membayangkan jika ia harus ke bangunan puteri Hwa.
"Sama!" sahut dua temannya.
Padahal.....
Kenyataannya...
Tidaklah seperti itu...
flashback on...
"*Ma-maafkan kami yang mulia."
"Cih, kalian itu hanya pelayan rendahan yang hanya megangguk setuju diperintah oleh majikan kalian*!!!!"
Ara sebal sekali, tak kuasa menahan gatalnya lidah untuk melabrak dua gadis bandel di hadapannya.
padahal sudah beberapa kali ia memberi peringatan terhadap pelayan di bangunannya agar ia tak menerima apapun yang beraroma apel. Termasuk genk itu, tapi tetap saja disuruh masuk.
Memang hidung mereka tak menangkap aroma menyengat dan menyebalkan bagi Ara, huh???!!!
"*Ingat, ini kali terakhir kalian membantah ucapan dan perintahku. Paham!!!!"
"Pa-paham Yang Mu-mulia."
"Jangan paham-paham doang*!!!!."
Doang??? What the meaning atuh puteri. Kami tak paham atuh.
Lihat saja. Dua wajah dayang itu cengo mendengar kata aneh itu.
Apalagi dayang Han, ia hanya mematung duduk di seberang sisi kanan puteri Hwa.
__ADS_1
Lagi-lagi tuannya mengeluarkan kata ajaib.
"Jika lain kali kalian membantah. Aku sendiri yang akan menghukum kalian. Paham!!!"
Terjengit atas ancaman itu. Jelas. Memucat, dua pelayan itu.
"*Dan katakan pada semua dayang-dayang istana, apa yang aku ucapkan barusan."
"Ba-baik pu-puteri Hwa*."
Ara menunggu dua dayang itu hengkang, tapi keduanya tetap membatu dengan tubuh bergetar.
Hingga muncul niat jahilnya.
Dan..
Brak!!!!
"Keluar!!!!" pekiknya mengusir dua dayang yang nyaris menjatuhkan baki yang masih menempel di kedua tangan mereka.
Tanpa ba-bi-bu, mereka segera membungkukkan tubuh, lalu melesat kabur menuju pintu keselamatan.
Flashback Off.
Lah, lalu kemane adegan cambuk-cambukkannya Onah!!!!.
Apakah para penggosip hanya menambahkan cerita imajinasi itu biar tambah hot gitu?
Gak, cambukan itu ada, malah masih membekas hingga tiga hari di masing-masing betis mulus dua dayang itu.
Dan pelakunya....
Dayang An.
Yang kini tengah berjalan santai menuju salah satu bangunan.
Namun...
"Kau sangat sibuk sekali dayang An. Ah,, dayang An, aku saja sampai hapal dengan dirimu."
Mendengar dirinya di sebut, dayang An berbalik menuju asal suara, yang ternyata....
Puteri Ara, rival Ara nomor wahid.
Ya elah, banyak kali rival itu semprul.
Tersenyum, seperti itulah tanggapan dayang An.
Sedikit membungkukan tubuhnya untuk menghormati salah satu anggota keluarga kerajaan, dayang An tak gugup sama sekali.
"Puteri Ara. Apa kabar anda." ucap dayang An sok akrab.
Puteri Ara melempar tawa lepas kala mendapat sapaan ramah itu.
Dayang pribadinya hanya menunduk melihat situasi di hadapannya.
Jelas ia tak mau ikut campur, meskipun dayang An termasuk junior, tapi, ia memiliki kuasa di atasnya.
Ntah, bagaimana cara dayang muda itu memiliki pengaruh kuat, dan... Seolah ada aura kuat yang mampu membuat sekitarnya cukup terintimidasi.
Ya,,, termasuk si Ara.
__ADS_1
"Apa ada yang lucu, yang mulia?" tanya dayang An pelan. Ia sadar diri jika kini tengah direndahkan oleh adik kesayangan baginda raja.
"Lucu? Ah, kau ini, baperan sekali." cetus puteri Ara.
"Baperan?" beo dayang An.
Kata apa itu, kenapa aneh seperti milik puteri Hwa? Apakah puteri Ara juga tengah dirasuki jiwa dari dunia lain?
Dayang An menatap lekat puteri Ara. Mencari hal yang aneh.
"Kenapa? Kau tidak tahu artinya?" ucap puteri Ara bernada tanya.
Ia terkikik geli, merasa berhasil membuat bodoh lawan bicaranya.
"Apakah....." dayang An hendak menerka. Tapi diurungkannya, ia tak mau ada banyak orang yang tahu keadaan puteri Hwa itu.
Meskipun..
"Apa? Apakah kau menduga aku sama seperti puteri Hwa, huh?" dan puteri Ara jelas menangkap maksud yang hendak diucapkan dayang itu.
Tertegun, dayang An paham.
"Apakah anda juga mengetahui yang terjadi dengan puteri Hwa, yang mulia?" dayang An mengkonfirmasi dugaannya.
Dan lagi-lagi, puteri Ara menyemburkan tawa lepasnya.
Ia menikmati ekspresi penasaran yang ditunjukkan dayang An.
Dan....
"Kau ini hanyalah seorang dayang, tapi telinga dan informasimu mengalahkan semua orang di istana ini, dayang An." puji puteri Ara meski dengan tujuan menyindir.
"Tidak demikian yang mulia. Hamba hanyalah dayang rendahan yang juga tahu karena gosip yang disebarkan orang-orang di istana ini." dayang An mencoba mengelak tuduhan yang jelas benar adanya itu.
Puteri Ara menganggukkan kepalanya seolah menyetujui..
"Aku setuju dengan ucapanmu soal dayang rendahan." tekan puteri Ara membuat dayang An sempat mengerutkan dahinya.
"Dan harusnya kau sadar jika memang begitu posisimu sih dayang An." lanjut puteri Ara.
"Tapi dari yang aku lihat. Tidak begitu sih yang kau tampilkan."
Dayang An menyipitkan matanya.
"Maksud anda, yang mulia?" tanya dayang An ragu dengan asumsinya.
"Iya, tingkahmu ini seolah kau yang paling hebat di istana ini. Malahan...." puteri Ara menoleh sekilas pada dayang pribadinya.
"Kau lihat saja sendiri, bahkan dayangku saja yang pernah melayani ibuku dulu seperti tunduk padamu, dayang An." cerocos puteri Ara.
Membuat dayang yang berdiri di belakangnya sontak menegakkan kepalanya.
tatapannya bertabrakan dengan mata dayang An.
"Tidak begitu pu-puteri Ara." bantah dayangnya dengan nada gugup.
"Sudahlah, aku hanya melihat kenyataannya." sambung puteri Ara.
"Aku sempat curiga padamu dayang An." langkah puteri Ara mendekat pada dayang An seiring ucapannya berakhir.
"Apakah kau......." puteri Ara berbisik tepat di sisi telinga dayang An...
__ADS_1
Membuat gadis pelayan itu sontak, membuka matanya lebar-lebar mendengar ucapan itu