100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
Nyaris Tewas


__ADS_3

"Araaaa!!!!." satu suara merangsek masuk mengganggu ketenangan yang sudah tercipta.


Ara alias puteri Hwa baru saja merapikan pakaian pasiennya setelah dia mandi dengan dibantu Hana.


Kim Hee Sin duduk di sofa dengan tablet memenuhi kedua telapak tangan pria itu.


Padahal saat itu damai, namun kini pria yang dengan percaya dirinya masih menggunakan pakaian pasien itu menepikan bokongnya di kursi dekat brangkar pasien tempat puteri Hwa bersama tubuh Ara di rawat.


"Datang terus." gumam Kim Hee Sin pelan, tapi diusahakan agar terdengar.


Kan lihatlah, yang merasa tersindir kini menoleh dengan wajah tak peduli seraya mengendikkan bahunya.


"Kenapa kau selalu datang.?" tuh, kan sekarang dipertegas langsung oleh puteri Hwa dalam bentuk kalimat tanya


"Hehehe, kau tidak suka aku kunjungi?" kekeh Hoon menggaruk kepala yang tidak gatal.


"Bukan begitu, hanya saja aku bosan melihatmu terus-menerus." cebik puteri Hwa yang nyaris membuat Kim Hee Sin memuntahkan tawa kemenangannya karena gadis itu seperti tak sudi bertemu Hoon sering.


Tapi dia tidak diusir kok, ya kan?


Apakah Ara nyaman dia ada di sini? begitu arah pemikiran Kim Hee Sin.


"Dulu kau selalu setia mengejarku. Ara." Hoon memberengutkan wajahnya, di tambah drama bibir mengerucut tapi justru menambah pesona lain di pria itu, yaitu menggemaskan.


"Ara lagi, aku Hwa, bukan Ara." delik puteri Hwa menolak panggilan Ara, padahal ia tengah menyewa tubuh ini tapi tetap tak suka diperlakukan bak si punya tubuh.


"Kau memang Ara, kenapa malah tak suka?" heran Hoon akan penolakan Ara.


"Baiklah jika kau masih mau memanggil dengan nama Ara, sana, pergilah, aku tidak mau menerima kehadiranmu."


Baik Hana maupun Kim Hee Sin sebenarnya tak hanya pura-pura tak ingin ikut campur, mereka justru suka dengan kalimat tanya Hoon membahas panggilan. Mereka penasaran, walau berulang kali gadis itu sudah memberi tahu alasannya.


"Baiklah-baiklah, aku akan memanggilmu Hwa. Begitu bukan?" hela nafas pasrah mengiringi ucapan Hoon.


Mengalah sajalah.


"Puteri, Aku puteri Hwa, pangeran Sin." tegas puteri Hwa memberi tahu.


'Pangeran Sin? Apa dia memberikanku julukan seorang pangeran?' batin Hoon heran. Tapi tak lama terbitlah wajah sumringahnya.


"Pa-pangeran? Apa aku pangeranmu?" tanyanya meminta jawaban khayalannya.


"Kau memang pangeran kok." jawab puteri Hwa singkat.


"Wah. Aku pangeran!!!!" teriaknya senang. Sungguh, berlebihan sekali dia.


"Lihat, aku pangerannya Ara. Eh puteri Hwa. Kami sepasangan pangeran dan puteri." sombongnya pada Kim Hee Sin yang menatap drama pembicaraan keduanya.


"Eihhh, norak banget." gumam Hana sepelan mungkin dengan perut bergejolak hendak terbahak-bahak tentunya.


"Kau kenapa?" tanya puteri Hwa dengan seruan berlebihan Hoon.


"Ah, apa? Ooh ini, karena kau menyebutku pangeran, dan kau puterinya." jawab Hoon dengan wajah masih riang.


"Kenapa memangnya? Dia yang putera mahkota saja biasa." tunjuk puteri Hwa pada Kim Hee Sin yang menatapnya seraya berkedip beberapa kali, lucu ekspresinya.


"Dia? Putera mahkotA?" Hoon menunjuk Kim Hee Sin dengan dagunya sementara dijawab melalui anggukan kepala Ara.

__ADS_1


'Lihat, kau berada di bawah levelku, Hoon sialan.' Umpat Kim Hee Sin melalui hatinya.


Gleg


apa bedanya pangeran dan putera mahkota? Bukankah sama-sama pria dengan tingkat spesial di hati seorang puteri? Begitu tekan Hoon mengartikannya.


"Aisshh, tak apa. Mau dia raja sekalipun, kalau hatimu ada untuk pangeran, semua tak berarti, Hwa-ku." kekeh Hoon berbangga diri smaksimal mungkin.


"Terlalu percaya diri sekali." decih Kim Hee Sin pelan.


Meski dirinya tengah membaca artikel saham melalui tabletnya. Tapi matanya tak henti mencuri pandang kearah mereka berdua.


'Sial, pikiranku pecah begini, sepertinya aku harus segera keluar dari ruang panas ini.' batin Kim Hee Sin.


"Mhh, Nona Choi, apakah AC-nya bermasalah?" tanya Kim Hee Sin sia-sia. Karena Hana menatapnya bingung.


"Sepertinya tidak Tuan Kim." jawab Hana.


Kringggg


Sial! Sein menelponnya, pasti sedari tadi dia yang mengabaikan pesan asistennya itu.


Menggeser tombol merah.


Riject sayang?


Sepertinya.


Kim Hee Sin memang berniat pergi tadi.


Tapi tadi sebelum Hoon nangkring di sana.


Kringg!!!


Lagi. Sein menghubunginya kembali.


"Ck, pria ini, lihatlah akan aku potong gajinya 20% bulan ini!." decaknya lalu menarik tombol hijau di layar ponselnya.


"Hmm, ap....."


"Bos, rapat sudah tertunda 15 menit, apakag anda tidak akan hadir.?" suara Sein dari seberang sana merangsek menggebu.


"Iya. Aku akan ke sana, berisik sekali kau." jawabnya dengan kata terakhir terdengar sebal.


Klik.


Telpon diputuskannya secara sepihak.


Menarik nafasnya perlahan lalu bangkit berdiri.


"Ehem!!." dehamnya yang sudah mendekati brangkar pasien.


"Eh. Kau mau pergi ya?" itu suara Hoon yang bertanya. Dengan sumringah ia melepas kata-katanya untuk Kim Hee Sin. Seolah pria itu sudah dinanti kepergiannya.


"Kau mau kemana, Orabeoni?" tanya puteri Hwa menatap Kim Hee Sin yang berdiri menjulang di ujung tempat tidur.


"Saya mau menghadari rapat. Jika ada waktu, saya akan kemari lagi." jawabnya untuk pertanyaan puteri Hwa.

__ADS_1


"Baiklah tuan Kim kalau begitu, sampai jumpa." Hana mempersilahkan Kim Hee Sin yang harus melaksanakan pekerjaannya, ia tahu betul sebagai CEO perusahaan raksasa pasti pria itu super sibuk.


"Rapat?" ulang puteri Hwa tak paham. tapi ucapannya melayang begitu saja. Karena tinggal Hoon dan dirinya saja yang tertinggal.


Hana mengantar sampai pintu depan kamar.


"Terima kasih Tuan Kim atas perhatian anda kepada sahabat saya. Bantuan anda begitu besar bagi kami." Hana membungkukkan tubuhnya sebagai bentuk rasa terima kasihnya.


"Sama-sama nona Choi." balasnya.


Kim Hee Sin bergegas menelusuri koridor rumah sakit itu menuju lift dan basement tempat mobilnya diparkirkan. Ia memang kemari tanpa sopir atau asistennya.


entah, dirinya terlalu sering bertemu gadis itu, seolah awal pertolongannya kala itu masih membuatnya tak lepas dari kekhawatiran akan keselamatan Ara.


Begitu saja, otaknya menduga.


.


.


.


.


Setelah Hoon hengkang karena alasan panggilan yang mungkin sama seperti Kim Hee Sin, kini tinggalah Hana dan puteri Hwa di kamar VVIP itu.


Puteri Hwa sadar betul sekarang menjadi objek tatapan Hana.


Karena mendadak tubuh itu merinding.


"Kenapa kau menatapku?" tanyanya tanpa menoleh kepada Hana.


"Aku hanya penasaran." jawab Hana singkat.


Menoleh.


"Penasaran? Tentang?" tanya puteri Hwa yang kini bersitatap dengan Hana.


"Mereka. Yang menyerangmu itu." balas Hana membuat kerut wajah cemas.


"Apakah mereka berbahaya?:" tanya puteri Hwa.


"Apa kau lupa apa yang telah mereka lakukan terhadap mu waktu itu?" tanya Hana


"Mereka?"


"Apakah sebelum ini aku pernah bertarung dengan mereka juga?"


Hana mengangguk.


"Bukan bertarung, tapi........"


"Tapi apa?" Puteri Hwa penasaran.


"Kau disiksa dan diculik lalu sepertinya hendak dibunuh oleh mereka."


"Hah!!! Siksa? Culik? tanpa perlawanan?"

__ADS_1


"Hmm"


Apakah ia menghinggapi tubuh yang nyaris tewas?


__ADS_2