100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
Mengeluarkan puteri Hwa


__ADS_3

Ketika beberapa umat manusia di luar sana sibuk mempertanyakan si pemilik ruangan, alasan penolakan pengunjung, siapapun itu. Raja kek, ratu, permaisuri dan lainnya.


Kini mari kita lihat ke dalamnya.


"Ya ampun, baru juga mau lelap dikit. Dah dateng pengunjung." Ara, menggerutu, manakala pendengarannya yang terwakilkan telinga puteri Hwa menangkap suara... Permaisuri.


Tamu pertama...


"Permaisuri." Ara mendengar kata pertama dari dayang penjaga yang sepertinya kalang kabut dari nada bicaranya.


Sejujurnya si bar-bar sangat penasaran, mau bangkit dan menguping, bagaimana para dayang-dayangnya mengatasi orang-orang yang tidak boleh masuk ke ruangannya hari ini. Tapi, rasa lelah membuatnya tetap tergeletak tak berdaya dengan posisi yang masih sama seperto saat dayang Han meninggalkannya.


Namun, meski malas mendengar percakapan di depan sana, telinga puteri Hwa tetap saja menerima dengan sangat baik.


"Kenapa, dayang? Apakah puteri Hwa sedang sakit?" di luar sana, jelas sekali permaisurii merasa khawatir dengan jawaban penolakan dayang penjaga.


"Ti-tidak tahu, yang mulia." Ara mendengar sayup suara dayang yang gugup, bingung menjawab apa.


"Apa sih Han--ah itu tak memberi tahu keadaannya yang lagi mager??


"Da-dayang Han yang memberi perintah ta-tadi, yang mulia." jawab dayang tersebut.


Dari dalam, "Sukurin lo dayang Han." dengan mata tertutup, mulut puteri Hwa tetap saja usil.


"Permaisuri." itu pasti suara dayang labil itu.


"Kenapa puteri Hwa tidak mau dikunjungi, apa dia sakit?"


"Mungkin puteri Hwa lelah, yang mulia."


"Mungkin? Kau pun sebagai dayang pribadinya tak yakin."


"Rasain lo dayang Han," lagi, timpal Ara dari dalam


"Apakah puteri Hwa sakit?"


"Puteri Hwa tidak mau menerima sia....."


"Ini makanan, dayang Han. Bagaimana kau menolak pengantar makan, ini sudah waktunya."


"Kasian sekali kau dayang Han, heheh." kekeh Ara lagi.


"Ta-tapi, begitu perintah put-puteri Hwa, yang mulia."


"Kata pu-puteri Hwa, dirinya di-diet-te."


"Diet-te, apa itu?" tanya permaisuri.


"Ti-tidak tahu, yang mulia."


"Pftttt." Ara nyaris memuntahkan tawa jika saja ia tak segera menyadari bahwa dirinya malas melakukan apapun.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu, aku akan kembali saja, cuma, berikan makanan ini pada puteri Hwa." suara permaisuri.


"Pastikan dia memakannya, mengerti dayang Han?"


Ara memasang telinga puteri Hwa, memastikan sepertinya permaisuri sudah pergi.


"Dayang Han, mau di bawa kemana baki makanan itu?" suara dayang penjaga pastinya.


Pasti dayang Han tak menggubris perintah permaisurin dan melarikan baki itu entah kemana.


"Kalau begitu takutnya dirimu, maka antarkan saja sendiri kepada puteri Hwa, aku tidak mau."


"Ka-kau saja, dayang Han, kau kan pelayan pribadinya." pastilah dayang penjaga tidak mau menerima tantangan dayang Han, kan??


"Aku tidak berani, puteri Hwa tadi menatapku tajam saat aku mau membantah." suara dayang Han.


"Mungkin saja kau mau merasakan baki ini terlempar di udara dengan dirimu yang menangkapnya." lagi, dayang Han.


"Ah, ti-tidak, ka-kau saja yang bawa ke sana."


Ara menangkap suara gugup di sana.


"Kenapa ini?" suara lain kini menyela mereka. Bertambah lah lagi tugas berat mereka, mana kala yang datang sekarang adalah... baginda raja. Si pemilik semua istana ini.


Ara membuka mata puteri Hwa... " Bokapnya puteri Hwa!!!" ucapnya menahan pekik.


"Ba-baginda ra-raja." semua yang berada di luar pasti berjamaah menyambut raja, dan pastinya lagi, dengan wajah pucat. Karena, alasan yang sama menjadi masalah mereka, apakah berlaku pada pria itu.


"Kenapa kau tidak masuk, dayang? bukankah itu untuk puteri Hwa?"


"Kenapa begitu?" tanya baginda raja.


"Apa puteriku sakit?"


Ara menggeleng dari dalam, "Tidak yang mulia, aku hanya mager." jawabnya yang hanya dirinya yang mendengar, orang jawab pelan dan di dalam kok, hehehe.


"Lalu? Apa dia sibuk di dalam sana?"


Ara kembali menggeleng, "aku mager, yang mulia."


"Lalu apa? Kenapa dia menolak bahkan makan pun juga. Aku mau melihatnya."


Ara menangkap derap langkah namun terhenti seketika.


"Ma-maaf, yang-yang mu-mulia."


"Bagus Han-ah, kau berguna sekali." kekeh Ara memuji dayang itu


"Aku adalah raja negeri ini, dayang. Kenapa berani sekali kau?" raja meninggikan nadanya, membuat nyali dayang dan juga Ara langsung melempem layaknya kerupuk terkena air.


"Ta-tapi, yang mulia. Puteri Hwa begitu lelah hari ini."

__ADS_1


"Lelah? Ini masih pagi, kemana saja kau membawa puteriku, dayang.??" tanya sang raja heran.


"Puteri Hwa dari pagi-pagi sekali datang ke villanya, yang mulia."


"Villa itu? Lalu, kenapa bisa lelah? Bukankah tak ada pekerjaan berat di sana?"


"Hamba kurang tahu yang mulia. Karena puteri Hwa sendiri yang masuk dan melarang untuk diikuti." jelas dayang Han lagi


"Lalu, makanan itu, bawa masuk lagi. Jika kau tidak mau, aku sebagai ayahnya yang akan memberikan langsung."


"Ba-baik, ba-baginda raja." Ara menyipitkan mata puteri Hwa, ketika mendengar kalimat raja barusan.


Hayolah. Sekeras apapun alasan dan penolakan, jika raja bertitah, yakinlah, tiang pancung menunggumu yang berani menolak ucapannya.


Ara yang kini duduk, merapikan pakaian puteri Hwa, siap menyambut....


******


"Yang Mulia, ada apa memanggil saya kemari." Kim So Yoon, duduk manis di ruang ratu. Setelah mendapat surat dari istana perihal pemanggilan dirinya menghadap perempuan berkonde naga itu.


"Apa kau sudah melakukan persiapan dengan baik untuk seleksi terakhir, Nona Kim?" ratu, menuangkan air teh dari dalam teko keramik berwarna putih.


Mengangguk, Kim So Yoon.


"Iya, yang mulia."jawabnya seraya tersenyum sopan dan lembut.


Memberikan gelas kecil yang berisi teh pada Kim So Yoon yang menyambutnya segera.


"Tapi, yang mulia....."


Ting!!!


Bunyi gelas beradu dengan tatakan, ratu yang baru saja mereguk teh, segera menoleh pada Kim So Yoon.


"Aku tahu apa yang kau takutkan, Nona Kim."


"Bukankah, harusnya kau percaya diri dengan seleksi ke tiga ini. Setelah kedua seleksi sebelumnya hanyalah ajang puteri Hwa menghalangi pernikahan putera mahkota, tapi kali ini... Itu tidak akan terjadi."


"Tap...."


"Apakah kau masih ragu, nona Kim?"


"Di sisimu ada ayahmu, sebagai menteri terkuat, lalu aku, ratu, yang memberikan restu untukmu."


"Agar bersanding dengan putera mahkota."


"Lalu, bagaimana mengatasi puteri Hwa, yang mulia?" keraguan serta kekhawatiran yang diwujudkan Kim So Yoon berbuah pada tanya.


Mengatasi sumber utama ketakutannya, puteri Hwa.


Ia yakin, puteri Hwa memegang kendali penuh pada putera mahkota yang merupakan kakaknya. Entah dasar apa yang membuat pria itu malah lebih patuh pada adiknya itu, ketimbang raja, ratu bahkan ayah Kim So Yoon.

__ADS_1


Pastinya...


"Kita tetap akan melakukan rencana, mengeluarkan puteri Hwa. Pergi bersama pangeran Shin."


__ADS_2