100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
Fakta 4


__ADS_3

"Ceritakan padaku, akan kebenaran tuduhanmu itu, dayang Han, karena jika perkataanmu bohong, aku sendiri yang akan menghukum mu!!!!" Tegas Ara, menilai kejujuran dan fakta akan ucapan dayang muda tadi.


Yang benar saja!!!! Ratu? Mengancam puteri Hwa? Setelah Ara melihat sendiri bagaimana perlakuan keibuan perempuan itu. Bahkan Ara mengincar model ibu seperti ratu. Dan tiba-tiba dayang Han mematahkan angan-angannya? Tidak semudah itu Angelica.


FLASHBACK ON


*Dayang Han yang baru saja tiba dengan baki berisi hidangan berupa teh bunga serta beragam camilan dalam wadah yang ditutup selembar kain bermotif bunga itu, dikagetkan ketika lengannya diraih paksa oleh puteri Hwa.


"Yang-yang Mu-mulia!!!" ucapnya tergagap, nyaris menjatuhkan barang bawaannya jika saja tangannya tak kuat menahan.


"Ada apa, yang Mulia??" Tanya dayang Han kala dengan bingung menyikapi keterburuan majikannya yang menantinya dari balik pintu geser.


"Aku, aku,......" dayang Han menangkap kepanikan dari wajah puteri Hwa, serta sedikit ketakutan.


"Kenapa puteri Hwa." dayang Han menuntun tubuh puteri Hwa menuju bantalan tempatnya duduk. Menanti keterbukaan majikannya kali ini.


"Ratu... Ratu...." lagi, ucapan puteri Hwa terpotong karena gemetar tubuhnya.


Dengan lembut, dayang Han menyentuu telapak tangan puteri Hwa, lalu menggenggamnya erat, menyalurkan kehangatan serta rasa percaya dan peduli yang besar.


"Apakah anda mau bercerita pada hamba, yang mulia??" tanya dayang Han pelan, berusaha mencipatakan suasan yang nyaman pada puteri Hwa.


"Dayang Han. Apa yang harus aku lakukan." ujar puteri Hwa berbisik, saking pelannya suara.


"Hamba akan mendengarkan semua keluhan anda. Yang mulia." sambut dayang Han.


"Ratu, ratu tadi mengunjungiku, dan, dan mengancamku, dayang Han." puteri Hwa perlahan mengutarakan kegundahannya. Walaupun dayang Han cukup tertegun dengan permulaan kalimat yang digunakan puteri Hwa.


Mengancam?


Tapi, dayang Han enggan menyela hanya demi kata yang mampu membuatnya tertegun itu.


"Ratu kembali memintaku menjauhi putera mahkota, dan.... Dan ratu juga memintaku agar menerima pernikahan dari pangeran Ho. Tapi aku tidak bisa, Dayang Han.!!!" tubuh puteri Hwa semakin bergetar, dan dayang Han pun ikut mengeratkan genggamannya.


"Lalu, jika, jika aku tak mengindahkan permintaan ratu....... Maka, maka......." puteri Hwa tercekat ketika hendak menyelesaikan kalimatnya.

__ADS_1


Hanya isak tergugu yang justeru menjadi akhir kalimatnya


"Yang mulia." dayang Han segera merengkuh tubuh ramping majikannya. Walau ia sangat menunggu akhir perbincangan yang terputus hingga sekarang, tapi dayang Han tetap menjaga batasnya sebagai bawahan dengan tidak memburu perkataan puteri Hwa.


Dalam pelukan,,, "Beri tahu pada putera mahkota, dayang Han." lirih puteri Hwa memberikan perintahnya yang kemudian diangguki oleh dayang Han.


Malam itu, dayang Han dengan kesetiaannya, membawa sepucuk surat yang menjadi awal mula ia kerap menjadi jembatan komunikasi dengan putera mahkota dan puteri Hwa.


"Hwa-ya?? bagaimana keadaannya?" begitu kalimat pertama yang dilontarkan putera mahkota ketika selesai membaca surat yang diterima dari dayang Han.


"Puteri Hwa baik'-baik saja, yang mulia. Tadi sempat menangis, hanya saja sekarang, ia sudah istirahat ketika hamba meninggalkannya." jawab dayang Han pasti. Ia mulai berangkat menuju kediaman putera mahkota setelah selesai memastikan kebutuhan majikannya terpenuhi.


"Pengawal, awasi puteri Hwa mulai sekarang. dan sekarang pastinya kau berangkat ke sana!!!" perintah tegas putera mahkota menatap pengawal pribadinya.


Dayang Han tak paham, kenapa putera mahkota terburu-buru seperti itu, bahkan menaruh pengawalnya di sisi puteri Hwa yang telah dijaga oleh banyak pengawal.


"Yang mulia." panggil dayang Han.


"Aku hanya ingin berjaga-jaga, dayang Han..karena puteri Hwa, sepertinya terancam oleh banyak pihak." jelas putera mahkota.


"Maafkan hamba, yang mulia., hamba tidak bermaksud menuduh ratu demikian." dayang Han segera membungkukkan tubuhnya sebagai bentuk permohonan maaf dan ampunan pada putera mahkota.


"Tidak apa-apa dayang Han, ibuku mungkin tidak akan bertindak buruk pada satu-satunya puterinya, akan tetapi orang yang mendukung ratu-lah yang perlu kita curigai. Salah satunya menteri Kim." putera mahkota membeberkan asumsinya.


Dan benar saja......


Malam itu, dayang Han yang baru saja tiba di kediaman puteri mahkota cukup bingung ketika suasana bangunan itu seakan kosong. Apakah sudah masuk pergantian penjaga dan dayang? Pikirnya. Hingga dengan langkah pelan agar tak bising dan mengganggu istirahat majikannya, dayang Han berjalan menuju pintu kamar puteri Hwa.


"Apa yang hendak kau lakukan, Dayang Han??!," seorang dayang senior menghentikan niat dayang Han yang hendak meraih handel pintu geser.


"Saya mau memeriksa keadaan puteri Hwa, nyonya" jawab dayang Han pelan.


"Tidak perlu, aku baru saja selesai memeriksa puteri Hwa. Jadi, kau boleh pergi, jangan ganggu tidur puteri Hwa." ujar dayang senior tersebut.


"Tapi nyonya....."

__ADS_1


"Kau meragukanku, dayang Han?? Aku dayang senior yang menaruhmu di sisi puteri Hwa, dan kau kini mau membantahku??" hardik si dayang senior itu.


"Ti-tidak nyonya." sahut dayang Han membungkukkan tubuhnya bermaksud meminta maaf atas kelancangannya.


"Lalu tunggu apa lagi, sana pergilah istirahat, karena sebentar lagi para penjaga dan dayang baru akan kemari." perintah dayang senior lagi.


Dayang Han yang merasa berada di bawah kuasa seniornya, tentu memilih mundur dan kembali ke kediaman para dayang tinggal, walau ia masih penasaran akan keadaan majikannya.


Keesokan harinya....


"Yang mu......" dayang Han terkejut melihat puteri Hwa sudah selesai dengan proses berganti pakaiannya, tidak seperti biasanya.


"Ooh-oo dayang Han." puteri Hwa beringsut cepat merapikan hanboknya ketika dayang Han menutup pintu geser.


"Kenapa tidak menunggu hamba, yang mulia??" tanya dayang Han merasa bersalah.


"Ahhh tidak apa-apa, aku hanya ingin mencoba melakukannya sendiri, dayang Han." kilah puteri Hwa yang sudah selesai dengan pakaian.


"Dayang Han, kemarilah" panggil puteri Hwa, membuka kotak perhiasan dan perlengkapan berdandannya.


"Iya, yang mulia." dayang Han mendekati tempat yang sudah ditunjuk puteri Hwa. Duduk dan menunggu perintah majikannya.


"Mulai sekarang, kau saja yang mengurusi semua kebutuhanku, dari berpakaian, tempat tidur, mandi dan dandan." pinta puteri Hwa, ya,,, itu bukan perintah, tapi pernyataan yang berbentuk permintaan.


"Kenapa yang mulia? Bukankah sudah ada dayang yang bertugas melayani semua itu? Hamba khawatir nanti akan ditegur dayang senior, yang mulia." ucap dayang Han.


Dayang Han memang bertugas melayani kebutuhan puteri Hwa, akan tetapi hanya sekedar melengkapi layanan yang diberikan dayang lain, bukan full mengerjakannya. Maka, ia kini khawatir mendapat mandat melakukan semuanya atas dasar perintah si puteri. Ia tak akan mengeluh atau perhitungan, hanya saja ini akan melanggar wewenang dan tugasnya dari dayang senior, kecuali.....


"Penuhi permintaannya, dayang Han. Aku yang menyuruhmu.!!!!" suara bass seorang pria yang hapal betul ditelinga dayang Han menyela... Putera mahkota, memberi perintah khusus*.


FLASHBACK OFF


"Jadi, selama ini aku seperti itu??" Ara tetap saja tak paham akan jalan cerita yang baru saja keluar dari bibir dayang itu.


"Iya, yang mulia. Anda bisa memastikannya langsung dengan putera mahkota." sahut dayang Han.

__ADS_1


Putera mahkota??? Lagi???!!!


__ADS_2