
"Gak panas kok." Hana menaruh punggung tangannya tepat di kening Ara.
"Oho!! Berani sekali kau.!!" Hana yang berucap, meniru kata yang pasti akan keluar dari bibir gadis di hadapannya yang sekarang sudah menyorot tajam padanya. Dengan bibir bawah di gigit, Hana pandai sekali meniru.
"Kau!!!" geram puteri Hwa saat apa yang hendak ia ucapkan sudah duluan di lontarkan Hana.
"Hehehe. Sudah sudah, ihh ciyus amat." Hana nyengir guna mengurai kegeraman sahabatnya yang mudah sekali menjadi serius akhir-akhir ini.
"Aku pulang dulu ya." tuan Kim, kembali berpamitan.
"Orabeoni." Kembali pun, Puteri Hwa mengeluarkan rengekannya.
"Sudah, tak usah di pikirkan." Hana menganggukkan kepalanya agar tuan Kim bergegas pulang, ia tahu sekali kesibukan pria itu.
"Sudah, besok orabeoni mu akan kembali kemari lagi." Hana mengelus lengan Ara, menjanjikan sesuatu padanya.
Lesu, begitulah ekspresi yang ditunjukkan puteri Hwa ketika dengan terpaksa menatap kepergian pria yang diyakininya sebagai kakaknya.
Klik.
Suara yang menandakan pintu terkunci otomatis.
Menghilangkan tubuh kekar tuan Kim di baliknya.
"Ahhhh, capek sekali gue." Hana melungsurkan tubuhnya di atas sofa empuk berwarna biru perpaduan putih lembut.
"Duduk prul, ngapain bengong gitu sih." semprot Hana yang melihat tubuh Ara tetap berdiri di tempatnya, menatap lurus ke arah pintu keluar apartemennya.
"Sudah ih, biasanya juga Lo sendiri yang ngusir para cowok, mau kaya atau ganteng pakek komplit pun." lanjut Hana, mengangkat tangannya, menatap kukunya yang sudah di nail-art manis. Gambar teady bear berwarna biru.
"Duduk woy." panggil Hana tanpa melihat gadis itu.
"Eh, kemana tuh bocil.?" tanya Hana seorang diri, menoleh ke sekitar yang kini tak ada sahabatnya tadi.
Berdiri...
Melipir ke beberapa sudut apartemen Ara yang minimalis tanpa banyak sekat dan ruangan.
Sahabatnya begitu menyukai tempat dengan ruangan yang lapang.
Tempat tidurnya di letakkan dekat dengan rak buku pemisah antara ruang tamu, bergeser dekat jendela besar ia letakkan meja bar menempel di kaca itu agar ketika menikmati kopi atau makan, bisa melihat hamparan pemandangan di luar gedung. Bergeser sedikit dekat balkon, ada sebuah rak berisi koleksi anggur dengan tv besar di tengahnya, kamar mandi? Ara mempunyai dua kamar mandi, miliknya dan tamu. Ia menaruh ruangan pribadinya di balik tempat tidurnya, sebuah kaca besar transparan membatasinya, tenang, ada gorden jika gadis itu hendak mandi.
Dan Hana menangkap tubuh Ara tengah duduk di pinggir pagar balkon. Erat memegang besi-besi tinggi dengan tanaman gantung indah melilit besi.
"Ngapain Lo?" tanyanya heran kala melihat gadis itu menatap ke bawah, dengan posisi berpegangan kencang.
__ADS_1
"Aku, aku, kenapa bisa berada di tempat tinggi ini?" tanya Hana malah di balas pertanyaan, dan gemasnya, Ara menatap Hana dengan raut cemas sekaligus takut.
"Kenapa?" beo Hana heran.
"Maksudnya gimana?" Lanjut Hana tak paham.
"Aku, aku, bagaimana bisa berada di tempat mengerikan ini?" Ucap puteri Hwa, ia kaget saat menemukan tempat dengan posisi yang menjulang jauh dari tanah.
"Ya Tuhan!!! Lo ini kayaknya kumat lagi ya?" Hana menepuk jidatnya pelan, menyaksikan tingkah aneh Ara lagi.
Bagaimana tidak, sahabat sengkleknya itu, malahan meminta tempat yang paling atas kalau bisa, saking mencintai tempat tertinggi, maka heran baginya ketika mendapati kalimat barusan terucap dari bibir si pecinta ketinggian.
Tak masuk akal.
"Ah sudahlah, gue lelah." Hana bertolak masuk ke dalam, namun saat langkahnya hendak memasukki pintu balkon mendadak berhenti, ketika rengekan Ara merangsek ke dalam indera pendengarannya.
"Huaaa, aku takut." rengek puteri Hwa serius.
Ia benar-benar tak mampu menggerakkan tubuh ini, ia mendadak menjadi jelly, lembut dan tulangnya rapuh seketika, terlebih kepalanya berdenyut hebat, disertai rasa mual luar biasa ketika mata ini melihat ke bawah.
"Heh??" Ucap Hana heran.
Takut katanya?
Tak masuk akal!!!
"Hiks hiks." menyambut uluran tangan Hana, puteri Hwa terisak.
"Udah dong, jangan mewek, kan kita mau istirahat buat ntar malem." celoteh Hana pelan, menepuk lembut lengan Ara, menenangkan ketakutan tak masuk akal baginya.
"Mewek?" di tengah isaknya, puteri Hwa mengulang kata aneh di pendengarannya.
"Ini, jangan menangis, puteri." jawab Hana menyeka air mata Ara.
*****
"Sialan!!" Ara memaki gemas ketika memikirkan sikap ratu yang akhirnya bisa ia ketahui, meskipun nyaris terlambat.
Bisa dibayangkan jika ia tetap terobsesi jika ratu adalah perempuan baik dan cocok dijadikan ibu untuknya. Maka dipastikan ia dengan mudah mati ditangan ratu tanpa ia sadari.
Mati konyol!!!
"Gue harus gimana? Gak mungkin semua orang, terlebih raja akan percaya dengan omongan gue, kan?" cerocosnya menopang dagu.
"Puteri, hamba membawa camilan untuk anda." suara itu, ya, suara menyebalkan milik gadis yang gemas sekali mau Ara banting tubuhnya ke arena tinju thailand.
__ADS_1
Sebelum izin terucap, gadis itu sudah terlebih dulu masuk.
Heh, hebat dan songong sekali, bukan?
Kenapa pula dayang yang ngejaga tuh pintu gak minta izin dulu ke dirinya?
Apa mereka team kriminal? Bestie urusan kejahatan? padanya, pasti.
"Heh, tengil Lo." ucap Ara dengan mendengus, menyambut langkah dayang An.
"Tengil tuan puteri? Apa itu?" tanyanya tak paham.
"Ini!" Ara mengarahkan telapak tangannya tepat di hadapan wajah dayang An yang sudah duduk bersebrangan dengannya, terhalang meja yang sudah diletakkan baki berisi hidangan yang di bawa dayang An.
"Hmm?" dayang An mengerutkan dahinya, tak paham. Bingung ketika disodorkan telapak tangan kosong milik puteri Hwa.
"Talk with my hand!!" semprot Ara gemas. Lalu, ketika wajah bengong dayang An terpapar jelas, Ara menyemburkan tawa kencang.
"Haha, huahahahahahha." gelegar tawa puas Ara menguar di seluruh ruangan, jin di dalam tanah bisa jadi terganggu semedinya saking bar-barnya tawa Ara.
Wajah dayang An sontak berubah memerah, entah marahkah? Atau malu? Sepertinya pilihan kedua bukan deh. Tipe tengil seperti itu pasti baper melihat rekan duelnya menertawainya.
Ia yakin, kalimat tadi tidak bagus baginya.
"Heh, jadi itu bahasa dari tempat asalmu? Aneh." balas dayang An.
"Eh, kau tahu juga? wahh kau bestie sejatinya ratu, ya?" Ara mengangguk-anggukan kepala puteri Hwa, menyadari jika rahasia dirinya juga diketahui dayang di seberangnya.
"Tent......."
Sretttt
Kata dayang An terpotong ketika suara pintu geser terdengar menyela.
Menampilkan dayang Han di sana.
Kemana saja gadis itu dari tadi, ngibrit kemana dia? Kencan? Awas saja, potong gaji!!!
"Dari mana aja Lo??" Ara menyambut gadis itu dengan sungutan, meskipun dalam hati senang dan lega.
Setidaknya, jika ia menjadi korban setelah pengawal yang mati di bangunan ini, ada dayang Han yang akan menjadi saksi jika dirinya dibunuh dayang sialan itu.
"Maafkan hamba, puteri." dayang Han hendak bersimpuh namun dihalangi Ara
"Sudah, sudah. Kemarilah, sini sini." Ara menepuk sisi kirinya, menyuruh dayang Han agar duduk di sisinya.
__ADS_1
Sembari melempar pandangan menantang pada dayang An..
Lihat dayang sialan, gue ada bestie ni. Heh, ayo mau ngapain Lo!!!!???