100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
Kerajaaan Jehwa, Itu Rumahku


__ADS_3

Seperti permintaan puteri Hwa...


Mereka memberikan tabir besar serta secarik kain yang untuk batas kulitnya.


"Apa itu" tatapnya ketika stetoskop sudah melayang menujunya.


"Ini stetoskop puteri Hwa." jawab dokter


"Steeeetosskope?" tirunya


"Susah sekali menyebutkannya." gerutunya kemudian.


"Baiklah, saya mulai periksa ya, puteri Hwa." dokter menaruh stetoskopnya di atas kain sesuai permintaan paksa gadis itu.


Sungguh rasanya sangat menggelikan, karena sebagai dokter, jangankan kulit, mereka diperbolehkan bahkan sampai menyentuh hal intim dengan tujuan medis tentunya


Tapi lagi-lagi, karena permintaan pasien, mereka harus menghargai.


Puteri Hwa memperhatikan dokter yang menaruh benda tadi di nadi pergelangan tangannya.


Ia tak mengerti, apa yang didengar pria berjas putih itu di telinganya.


Setelah dokter menarik benda itu, puteri Hwa yang penasaran menaruh jemari Ara di tempat dokter tadi meletakkan stetoskopnya.


Detak? Ya, puteri Hwa merasakan ada detak kecil di sana. Sama dengan yang ia rasakan di dadanya. Apakah, jantungnya ada dua?


Saat ia tertegun dengan hal itu, ia dikejutkan ketika dokter mengangkat benda tadi mengarah pada dadanya


"Oho!!! Lancang!!" Pekiknya marah


Dokter pun tertegun ditegur demikian. Perawat dan Kim Hee Sin sama.


"Sa-saya mau memeriksa anda, nona Go, eh puteri Hwa." gugup sang dokter, ia terkesan tertangkap basah mesum.


"Suruh dua orang perempuan itu saja." titahnya menatap dua perawat yang terjengkit kala disinggungnya


Menghela nafas. Mengalah.


"Baiklah nona." ia menyerahkan peralatan medisnya, menutup tirai pembatas dan menyuruh asistennya mengambil alih.


"Tapi dokter." seolah ragu menerima perintah, namun dokter tampan itu mengangguk sembari menyunggingkan senyum sebagai bentuk rasa percayanya.

__ADS_1


Sretttt


Keduanya masuk, lalu melihat gadis itu dengan sikap bossy luar biasa. Duduk menatap keduanya dengan penuh selidik.


"Lakukan apapun itu menurut kalian baik." ucapnya, kedua perawat berjalan pelan dengan alat medis di sisi mereka.


"Kami akan menaruh benda ini di tubuh bagian depan anda, nona." satu perawat berucap izin kepada puteri Hwa. Mendapat anggukkan setuju, akhirnya perawat tersebut mulai menaruh stetoskop di dada si gadis. Lalu mencatatnya agar ditunjukkan pada dokter di luar sana.


Tak lama, puteri Hwa melayangkan pandangan tajam, ketika ada benda aneh lagi yang kini diarahkan padanya


"Apa lagi itu?" tanyanya bingung.


"Untuk memeriksa jantung dan beberapa organ lainnya, nona." jawab perawat.


Dan baju pun di singkap, dalam benaknya, dorongan untuk mementalkan dua perempuan itu begitu besar, tapi ia tahan. Ia harus tahu tujuan semuanya.


Beberapa saat kemudian.


Semuanya kembali berkumpul, dokter, Kim Hee Sin pun sudah turut serta.


"Ehmm.... Semuanya baik,.. Bagus semua kok." ucap dokter melihat catatan asistennya yang tadi memeriksa gadis itu.


Puteri Hwa pun tak luput memperhatikan, dokter yang menatap lembaran kertas dengan hurup yang tak ia paham.


Huruf latin maksudnya.


"Hai semuanya." Hana, tiba, gadis itu mengubah penampilannya. Rambutnya ia cat berwarna biru lembut, ia pangkas pendek sampai pundak, belum lagi polesan wajahnya yang meski natural tapi menambah warna gadis itu yang lebih cerah dan cantik.


Puteri Hwa tak sedetik pun menurunkan pandangannya, ia memberi perhatian penuh pada Hana yang sudah melangkah menuju dirinya.


"Hei, kenapa kau, terpesona ya?" Hana terkikik kala melihat sahabatnya masih memandangnya.


"Huh, terpesona? Mustahil." dengus puteri Hwa segera membuang mukanya. Sembarangan sekali perempuan itu mengatakannya terpesona? Dia sama-sama perempuan, dan bukankah ia lebih cantik darinya? Heh, tidak masuk akal sekali gadis berambut biru itu.


"Nah." puteri Hwa menoleh saat ia menatap sebuah keranjang berisi bunga penuh.


"Bukankah kau begitu menyukai bunga?" Tanya Hana.


Puteri Hwa enggan mengangguk, namun tangan segera terangkat untuk meraih keranjang itu. Dalam hati ia berjingkrak riang, ia begitu sangat menyukai aktifitas ini, ia malah punya kebun bunga sendiri di villa yang ditanaminya sendiri.


"Jadi, bagaimana dokter hasil pemeriksaan sahabat saya?" Hana berbalik untuk menemukan dokter dan menanyakan hal itu.

__ADS_1


"Dari hasil pemeriksaan yang penuh drama tadi, sahabat anda baik-baik saja. Tidak ditemui masalah dari organnya, pun dari hasil pemeriksaan sebelumnya sudah semakin diperjelas, cideranya tak ada pengaruh signifikan." jelas dokter panjang lebar yang diangguki Hana.


"But for her memories, she feel live from Joseon part, nona." lanjut dokter, sengaja menggunakan aksen bahasa Inggris agar Ara tak menyela. Namun...


"Kalian sedang membicarakan apa? Kenapa aku tak paham?" tanyanya menyelidik gerombolan itu, khususnya pindaian itu lama di sang dokter.


"Ohh, tidak ada apa-apa, puteri Hwa. Kami hanya membahas hal lain." elak Hana, berbohong. Kini ia yakin, sahabatnya tak baik-baik saja. Pun dokter, mereka mengasumsikan jika Ara mendapatkan memori lama yang sepertinya itu akibat benturan yang padahal tak sama sekali berefek ke sana. Mereka merasa gadis itu berada dalam keadaan ingatan dalamnya karena kebiasaannya menonton drama kerajaan.


"Heh, aku mencium aroma kebohongan." cetusnya tanpa menatap mereka lagi, fokusnya malah memandang aneka bunga yang unik ini. Tak pernah ia lihat bentuk bunga seperti ini. Jadi ingin rasanya ia membawanya dan menanamnya di kebun miliknya.


"Orabeoni." panggilnya dengan mata belum juga terangkat.


Hana menoleh pada pria yang sudah bersandar di dinding ruangan perawatan Ara. Sementara para tim medis sudah berpamitan keluar ruangan dengan ekspresi menggelitik, menemui pasien unik seperti Ara. Berasa mereka tengah berada dalam dimensi yang diciptakan gadis itu. Namun demikian, mereka tak sedikitpun membicarakan perihal keanehan gadis itu di lingkungan rumah sakit. Profesional menjaga privasi pasiennya.


Kim Hee Sin yang jelas sadar tengah dipanggil mengangkat wajahnya menatap si pemanggil.


"Ya" sahutnya pelan.


Puteri Hwa memandangnya, terlihat kerinduan di sana.


"Kemarilah, putera mahkota." ujarnya.


Lagi, panggilan itu terlontar lagi dari gadis itu. Membuat Hana menarik serta membuang nafasnya beberapa kali.


"Kesanalah." pinta Hana pada pria itu yang diangguki tanda setuju.


Dan pria jangkung menawan itu sudah mengikis jarak dan mendekat pada brangkar tempat gadis itu kini duduk bersandar memeluk sekeranjang bunga mawar berwarna kuning, merah, merah muda, putiu, tulip merah muda, matahari.


"Orabeoni." lagi, panggilnya.


"Iya puteri Hwa." sahut pria itu lembut.


"Aku, aku, mau pulang." lirih ia meminta pada Kim Hee Sin yang mengerutkan dahinya.


"Pulang?" ulang pria itu yang diangguki puteri Hwa.


"Kemana? Apartemenmu?" tanya Kim Hee Sin


"Aparte?" Puteri Hwa mendengar kata aneh lagi.


"Iya, rumahmu." jawab Kim Hee Sin.

__ADS_1


"Rumahku di Kerajaan Jehwa, yang mulia. Bukan aparte katamu." jelas puteri Hwa.


"Hah!!! Kerajaan Jehwa??" Hana, memekik tertahan, mendengar tempat yang disebutkan barusan. Sepertinya sahabatnya benar-benar delusi tinggi, mabok serial drama kerajaan.


__ADS_2