100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
Rahasia Puteri Hwa


__ADS_3

"Lalu, bagaimana dengan puteri Hwa?" tanya dayang Han mendadak terkejut.


"Sama sepertiku." jawab Ara serius.


"Puteri Hwa..... Maksud nona, dia ak....."


"Iya, gagal, kami akan mati berdua. Artinya majikanmu juga akan mati sepertiku."


Dayang Han membelalakan kedua matanya ketika Ara menyambit ucapannya dengan redaksi menyeramkan.


"Anda jangan sembarangan, nona. Kata-katamu sungguh mengerikan." ujar dayang Han tak terima dengan kalimat Ara sebelumnya.


"Aku tak melebih-lebihkan apapun, dayang Han. Apa yang aku ucapkan, benar begitu adanya." dengan bersidekap di dada, Ara melirik dayang Han secara serius, memberi maksud jika kata-kata mengerikan itu bukan candaan.


Dayang Han termenung.


Jujur, ia merasakan ketakutan luar biasa. Lihatlah, tangannya bergetar, membayangkan majikannya bertaruh nyawa di tempat yang kini di huni roh nyasar ini.


Melihat dayang Han diam, Ara paham.


"Apa yang kau pikirkan, Han-ah? Apa sama dengan yang aku rasakan sekarang?" tanya Ara.


Menundukkan kepalanya dalam. Dayang Han perlahan terisak.


Hiks hiks.


"Hamba tidak bisa membayangkan nasib yang kini dipertaruhkan oleh puteri Hwa, nona." ucapnya diiringi tangis pelan.


"Dan itu juga yang kini aku takutkan dayang Han. Aku juga tengah bertaruh nyawa atas tubuh ku di sana." Tambah Ara.


"Jika tahu akan sesulit ini. Mungkin lebih baik aku mati saja di awalnya. Tapi.... Perjuanganku walau gagal akhirnya, tapi aku yakin, para dewa tentu masih memiliki rasa kasihan pada tubuh ini. Kan? Aku yakin puteri Hwa pantas dikasihani." ucap Ara pelan, matanya memanas, dan benar saja..... Bulir kristal itu turun teratur tanpa perlu dikomando.


"Nona..." dayang Han tanpa rasa takut, meraih tubuh majikannya dan mendekap erat. Disambut Ara yang juga terisak bersama.


Tanpa memperdulikan, sosok lain yang masih berdiri di balik pintu geser....


Putera mahkota


Setelah menyuruh semua dayang penjaga menyingkir, pria itu diam-diam mencuri dengar pembicaraan dua gadis di dalam ruangan itu.


Yang kini, membuat dada pria itu terasa di himpit batu besar yang panas.


Tapi, kakinya membeku, seiring kepalan tangan dan sesak akan nasib yang dipertaruhkan gadis di dalam sana.


"Hwa-ya, apa yang harus aku lakukan." ucapnya sedih.


.


.


.


.


Setelah drama tangisan selama 1 jam berlangsung, kini, baik dayang Han dan Ara, sudah normal kembali.

__ADS_1


Duduk berhadapan dengan dipisahkan meja tempat biasanya semua aktifitas di lakukan di atasnya.


"Dayang Han, untuk kali pertama... Kau selidiki pria yang bernama Won itu untukku." titah Ara.


"Nona, asal anda tahu, pria itu memang benar paman puteri Hwa." jawab Dayang Han.


"Hah!!! Pamanku? Eh salah, paman puteri Hwa!" Ara yang kadang suka terbawa arus drama memang sesekali lupa sama jati dirinya.


"Iya, nona, dia paman puteri Hwa." tegas dayang Han sekali lagi.


"Bagaimana bisa?" Ara tak paham situasinya.


"Apa puteri anak selir?"


Menggeleng


"Anak bawaan ratu?" tanya Ara


Yang lagi digelengkan oleh dayang Han.


Hadohh Ara, kau lupa apa, mana ada raja mengambil mantan istri orang, orisinil dong, bahkan ratu atau selir bahkan perempuan yang ditiduri raja tidak boleh dimiliki lelaki manapun.


"Lalu?" Ara enggan melanjutkan kata lagi, meski hanya itu sisanya.


"Puteri tetap anak raja dan ratu, tapi pamannya...... saya rasa pamannya mungkin anak salah satu selir raja." jawaban dayang Han sama sekali di rasa konyol menurut Ara, lucu. Mana ada begitu, jelas-jelas pamannya bukan anggota kerajaan, tapi kenapa diduga anak selir.


"Tapi, pria yang bernama Won itu tidak ada darah kerajaan, Han-ah.!!" bantah Ara kemudian.


Dayang Han juga menduga demikian, tapi, dirinya yang merupakan pelayan itu, tak ingin menduga berlebihan. Walaupun Won di bilang anak raja pun, ia akan terima.


"Iya, nona." jawab dayang Han.


"Dulu, kau pernah menyinggung tentang, orang yang menemui puteri Hwa, laki-laki dan perempuan." Mulai Ara pada arah tanyanya.


Glek.


"Iya, nona." angguk dayang Han.


"Apa benar, jika......" Ara menggantung ucapannya sembari menatap dayang muda itu begitu lekat.


Mencari kebohongan di sana setelah kalimatnya lengkap.


"Apakah salah satunya adalah Won dan kau?" tembak Ara bertanya.


Lihatlah, meski cepat, reaksi dayang Han tertangkap di penglihatan Ara.


"No-nona." menatap balik Ara.


Lalu, menggeleng


"Sudahlah Han-ah. Itu pasti kau dan Won itu." Ara menepis penolakan dayang Han dengan cebisan telapak tangan.


Ia tak akan percaya begitu saja.


"Memang bukan saya, nona, tapi....."

__ADS_1


"Tapi?" Ara menunggu.


"Memang benar itu paman yang mulia puteri Hwa, tetapi perempuan itu, dia adalah saudara hamba." Jawab dayang Han pelan, menunduk dan tubuhnya bergetar, tapi tak ada isak di sana.


"Maksudmu?" Ara mencoba merangkai kembali ucapan dayang itu.


"Dia adalah dayang pertama puteri Hwa. Dan hamba sering di ajak untuk melayani puteri Hwa. hingga...." dayang ini suka sekali menggantung kalimat. Ara gemas!!!


"Apa maksudmu? Cepat!!! Ihhhh." Gema sekali Ara rasanya.


"Saudari hamba tewas ketika melindungi anda saat pertarungan waktu itu." dayang Han melanjutkan kalimatnya, dan itu menggugah sanubari Ara menggelegak sesak.


Tewas? Melindungi?


"Jelaskan!!!." tuntut Ara tegas.


Dayang Han bercerita.....


*Flashback On.


"Han-ah, kau harus menjaga Yang Mulia dengan segenap jiwa dan ragamu, paham!!." Oen, dayang puteri Hwa yang juga kakak dayang Han malam itu menemui dirinya dengan terburu-buru.


"Apa maksud kakak?" dayang Han yang dipaksa bertemu di ruang rahasia villa milik puteri Hwa diberondong kata-kata perintah oleh kakaknya.


"Nyawa puteri Hwa sudah mulai terancam. Mereka tidak hanya berniat merusak tubuhnya. Tapi juga melenyapkan nyawanya." Dayang Oen menuntut jawaban dengan menjelaskan.


"Maka dari itu, mulai sekarang kau mungkin akan mendampingi yang mulia." lanjutnya yang membuat dayang Han tertegun mendengarnya.


"Apa maksud kakak. Kakak mau kemana? Kakak-lah pelayan yang mulia, aku hanya menemani kakak saja." dayang Han tergugu dan menolak ucapan permintaan itu.


"Tidak adikku. Aku tidak bisa menjamin nyawaku setelah ini...." ucap dayang Oen.


"Tidak, aku tidak mau!!!" bantah dayang Han. Berbalik dan berniat keluar dari ruangan sesak itu.


Namun, langkahnya berhenti, ketika. Puteri Hwa sudah berdiri di depan pintu yang sudah terbuka. Dengan Won yang ada di belakangnya.


"Dayang Han?" tanya puteri Hwa heran.


"Kenapa kau ada di sini?" tanya puteri Hwa lembut.


"Hamba yang memintanya kemari untuk mengantarkan keperluan anda. Yang Mulia." yang menjawab adalah dayang Oen, kakak dayang Han.


"Oo begitu." langkah puteri Hwa menapak ke dalam. Melewati tubuh dayang Han yang masih membeku.


"Apa kau masih akan tetap di sana. Dayang Han?" suara puteri Hwa menyadarkan kebekuan dayang Han.


"Ah, ti-tidak Yang Mulia, Hamba akan pergi." jawab dayang Han, lalu pelan, meraih daun pintu untuk keluar....


Tapi sebelumnya, ia berbalik sebentar, menoleh ke arah dalam ruangan dimana di sana sudah duduk puteri Hwa, berhadapan dengan Won serta dayang Oen yang malam itu adalah kali terakhir mereka bertemu*.


Flashback Off.


"Tunggu!! Aku mau mencernanya dulu." pinta Ara berpikir keras.


Hingga.

__ADS_1


"Jadi yang tahu soal diri puteri Hwa,,, selain dayang Oen... Adalah Won?" duga Ara yang diangguki dayang Han.


__ADS_2