100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
20 hari lagi


__ADS_3

Sebelumnya.....


"Halo nona Choi, apakah kalian ada di dalam? Saya sudah berulang kali membunyikan bel tapi tak kunjung di buka." Kim Hee Sin bergegas menelpon Hana ketika tak mendapati si pemilik apartemen membukakannya pintu.


"Oh ya, tuan Kim, saya sedang berada di kantor sekarang. Tapi ada Ara kok di dalam." jawab Hana dari seberang telpon.


Kim Hee Sin membunyikan lagi bel di sisi pintu berwarna putih itu. Tapi, lagi-lagi tak ada sahutan dari dalam


'Apakah dia sedang mandi? Atau.....' batin Kim Hee Sin berasumsi.


"Bagaimana, apakah ada sahutan?" Hana mempertanyakan setelah ia juga mendengar bunyi bel apartemen Ara.


"Tidak ada. Apakah nona Jo sedang sibuk atau...."


"Tidak. Tadi dia sedang makan begitu saya tinggalkan. Harusnya sih dia sudah berada di depan pint...." pun, Hana mendadak diam.


Benaknya berpikir liar. Tak mungkin kan sahabatnya itu lupa cara membuka kunci pintu pula.


"Aihh tak mungkin." gumam Hana merasa konyol dengan pikirannya sendiri.


"Ada apa nona Choi?" Kim Hee Sin tak menangķap jelas ucapan Hana barusan.


"Ah bukan apa-apa tuan Kim. Coba bunyikan lagi belnya sembari saya menghubungi ponselnya." pinta Hana.


"Baiklah." sanggup Kim Hee Sin menutup panggilan.


Ting tong.


Lagi....


Tak ada sahutan


Hingga 3 x ia membunyikan bel pintu tetap nihil jawaban.


Kringggg.


"Iya nona Choi, bagaimana?"


"Saya akan memberikan password apartemen Ara, tuan Kim. Dengarkan baik-baik." ujar Hana melalui panggilan telepon lagi.


Jemari Kim Hee Sin mulai menekan tombol kunci password apartemen Ara. Uniknya, kode bukan angka melainkan huruf semua.


Dan...


Klik.


Terbuka.


Tapi bukan itu poinnya


Melainkan.


"Ara!!!??" yang sedari tadi ditunggu untuk membukakan pintu, malah berdiri dengan raut wajah tercetak kebingungan.


"Orabeoni!!!" pekiknya melihat kedatangan Kim Hee Sin. Nyaris mirip kelegaan.


Kim Hee Sin jelas tak berhenti di sana tapi dia menemukan hal mengejutkan lainnya berupa penampilan Ara yang kacau dan tangan terluka.


Ketika memasuki apartemen itu, ia kembali terkejut dengan sosok pria yang ia ķenal sebagai Hoon tengah terbaring di atas sofa, lalu keadaan ruangan yang kacau balau.


Dan kini, perempuan itu tengah berbaring dengan kondisi yang seolah ia tak mengalami apapun. Harusnya ia bermanja dengan tidur-tiduran layaknya perempuan yang tergores luka lalu dengan lebaynya berekspresi.

__ADS_1


"Terima kasih Tuan Kim atas bantuan anda membawa sahabat saya ke rumah sakit dan mengobatinya." Hana mengucapkan terima kasih dengan tulus.


"Iya. Sama-sama nona Choi."


"Saya tak menyangka jika Nona Jo mengalami hal demikian ketika saya mengunjunginya."


"Saya juga. Karena ketika saya meninggalkannya tidak ada sama sekali keanehan atau bertemu siapapun di sana."


"Apa kau benar-benar tidak mengenal yang menyerangmu saat itu, Ara?" Hana bertanya. Ia jelas menduga jika pelakunya orang yang sama. Yang menyiksa mereka kala itu, dan hampir membuat Ara kehilangan nyawa karena diculik mereka.


Lagi-lagi Hana mendapati Ara menggelengkan kepala.


"Apakah tidak ada CCTV di dalam apartemen kalian?" tanya Kim Hee Sin


"Ada, nanti akan saya cek di petugas keamanan sana."


"Begitu kamu mendapatkannya, beritahu saya segera. Akan saya bantu mendapatkan pelaku tersebut."


"Terima kasih tuan Kim."


Sretttt


"Ara-yya.!!!" suara panggilan menggema ketika pintu ruangan itu di buka keras oleh..... Hoon


Menarik langkah panjang, pria itu menuju brangkar tempat Ara berbaring.


"Apa kau tidak apa-apa?" dengan raut khawatir, Hoon menggenggam telapak tangan Ara, disaksikan oleh Hana dan juga Kim Hee Sin.


"Aku tidak apa-apa." sahut puteri Hwa segera menarik tangan Ara yang digenggam Hoon.


"Syukurlah." ucap Hoon lega.


"Tapi lenganmu kan terluka?" lagi, pria itu bertingkah lebay.


"Ppfttt." ucap Kim Hee Sin pelan. Merasa lucu mendengar ucapan barusan.


"Aku sedang tidak dalam keadaan fit, Ara." jelas Hoon mencari alasan.


"Orabeoni, aku mau ke sana." mengabaikan ucapan Hoon, Puteri Hwa memohon pada Kim Hee Sin agar membawanya menuju balkon ruang rawat itu.


"Hah?" Hana tertegun mendengarnya.


Lah, kan dia yang sahabatnya, kenapa malah pria itu yang dimintanya.


Dan yang ditanya melirik Hana meminta izin, setelah disetujui Hana, Kim Hee Sin melangkah mendekati Ara, menggeser paksa tubuh Hoon, membuat Hoon sedikit tak suka.


"Saya mau membawa nona Jo." alasan Kim Hee Sin yang merasa tubuh Hoon enggan bergeser. Dia bisa saja mendorong pria itu dengan paksa, tapi tak mungkin di depan gadis ini, bukan?


Setelah berhasil mendekat, Ara yang dilihat mereka langsung menggamit lengan pria itu di mana ia memberi telapak tangan untuk digenggam.


"Apakah bisa?" pelan, Kim Hee Sin bertanya dengan penuh kelembutan.


"Iya." sahut puteri Hwa.


Dua pasang bola mata, menonton adegan yang berbau romance layaknya pasangan itu dengan pikiran masing-masing. Ya, adegan yang mirip manjanya seorang perempuan kepada kekasihnya.


.


.


.

__ADS_1


.


.


"Waktuku di sini tak banyak lagi." Ara, di sela istirahat siangnya, mulai merasakan kepanikan ketika jemarinya menghitung masanya di dunia ini.


70 hari.


Yang artinya tersisa 20 hari lagi ia di sini.


Sementara pengungkapan pelaku dan alasan semua insiden di sini masih terlalu samar-samar.


Walau dari balik tirai lipat tempat ia menata kasus sudah terpajang rapi. Tapi ia masih ragu, belum lagi alasan kenapa hal itu terjadi juga ia belum tahu.


Jadi ia tak mau asal menduga.


Dan, pria yang terbunuh di bangunannya kala itu sudah terungkap, tapi sama sekali tidak terbantu. Karena yang membunuh justeru seorang dayang yang jika dilihat dari fisiknya, tak mungkin bisa membunuh.


Hei jangan nilai buku dari kulitnya!!!


"Duh, dah, koit gue, koiiiiit beneran." gerutunya menggulingkan tubuh ke kiri dan ke kanan.


"Mati dah, mana masih ting-ting gue. Huaaaaa." rengeknya kemudian.


Menyesali belum menyelesaikan kenikmatan dunia sepenuhnya.


"Bagaimana ini,..."


"Apa, apa, apa gue harus turun lapangan langsung mencari pelakunya?"


Berpikir keras...


"Gue yakin bener kalo ada rahasia besar di sini. Yang melibatkan puteri Hwa, ratu, dayang An dan oknum geng apel lainnya." duga Ara yakin.


"Tapi,..... Masa gue harus melakukan penyamaran?"


Menopang dagunya, berpikir keras lagi. Bahkan sanggul dikepalanya sudah terlepas begitu saja.


Sretttt.


"Puteri Hwa??!"


Suara bass nan gagah itu menyeruak, mengagetkan Ara yang masih terbaring tak jelas itu.


Bergegas bangkit, merapikan penampilannya.


"Putera mahkota.??!


"Ada apa denganmu?" melangkah tegas mengarah ke tempat puteri Hwa duduk.


"Aku, aku, aku...." bingung menjelaskan.


"Aku hanya memikirkan ramuan, puteri Mahkota." alibinya. Berbohong.


Pria itu menyipitkan matanya.


"Oh ya?" tak percaya.


"B-benar." ucap Ara.


Pria itu duduk dengan salag satu lututnya menopang lantai sementara jemarinya tepat mengangkat dagu puteri Hwa.

__ADS_1


"Aku rasa bukan,.... Apakah kau mau kita bertualang lagi, puteri?"


Huh!!! Apa maksud pria ini.


__ADS_2