
Sore hari....
"Dayang Han.!" Panggil Ara pada dayangnya puteri Hwa, yang tengah membereskan kekacauan yang sudah dibuat oleh gadis yang kini memanggilnya.
Menoleh.
"Iya Yang Mulia. Anda perlu apa?" jawabnya memusatkan perhatiannya penuh pada sang puteri.
"Mulai sekarang, aku mau mandi sendiri. Jangan ada yang membantuku lagi." Titah Ara yang enggan dibantu dalam hal urusan mandi memandinya.
"Tapi Puteri, anda adalah majikan kami. Dan sudah jadi kewajiban dan tugas kami untuk membantu semua keperluan Anda, apapun itu." Jawab dayang Han memberitahu perihal hak istimewa seorang bangsawan atau lebih khususnya yang dilayani adalah anggota keluarga kerajaan, yang berhak atas layanan kaum rendahan sekelas dayang.
"Pokoknya tidak mau, itu urusan privasiku." Sahut Ara enggan dibantah.
"Privasi?" Tanya dayang Han pada kata yang barusan terucap oleh lambe gadis yang berwujud puteri Hwa tapi berjiwa abal abal si bar bar, Ara.
Berdecak, gemas, ihhhhh. Ara rasanya mau nyubit tuh pelayan seperti saat dirinya gemas pada Hana.
"Itu urusan pribadiku, area rahasiaku. Jadi aku tak mau orang melihatku mandi." Jelas Ara lagi dengan kening berkerutnya yang menandakan, jangan membantahnya.
Seperti yang kalian tahu semua. Dayang adalah pelayan yang diberikan tugas untuk melayani semua kebutuhan anggota kerajaan. Mereka dibagi dalam beberapa kelompok atau yang saat ini dikenal sebagai teamwork (biar rada keren nyebutnya).
Setiap kelompok dipimpin oleh dayang senior yang membawahi dayang lainnya, dan mereka harus melaksanakan tugas sesuai yang diberikan pada mereka.
Baik dalam hal membantu urusan dapur, menjahit pakaian, mencuci pakaian, mencuci perabot makan, membersihkan kediaman, mengurus taman, mengurus keperluan mandi, mengurus merias wajah, membantu memakaikan dan melepas pakaian, mengurus perlengkapan tidur, mengantarkan makanan, bahkan sampai pada urusan mengurus malam ketika anggota keluarga kerajaan akan bermalam atau tidur bersama pasangannya, mereka pun harus ikut mengatur hal itu, walau pun tugas yang paling mengerikan juga mereka lakukan seperti mencicipi setiap hidangan yang akan dimakan keluarga kerajaan dari segala macam hal yang bisa membahayakan kerajaan.
Segitunya, kan.
Dan, saat mereka melakukan tindak kejahatan atau kesalahan yang walaupun ringan, sedang sampai berat. Maka mereka harus siap dengan resiko dihukum sampai pada ancaman kematian.
__ADS_1
Selain itu, mereka juga rentan dengan ditunggangi pihak-pihak yang hanya memanfaatkan mereka untuk melakukan tindakan kejahatan, walau mereka akan mendapatkan reward atau bayaran berupa jabatan atau materi, tapi tak menutup kemungkinan mereka lebih banyak terjerumus pada jurang kematian.
Tapi, itulah sekelumit jalur akhir yang mereka ambil daripada menjadi gundik, pelac--, budak kasar, buruh kasar,... Lebih baik memilih ini kan?Dan dengan kemampuan, wajah, atau nasib baik dengan masuk menjadi seorang dayang istana, pilihan terakhir yang akan berdampak pada... Kesiapan mereka akan resiko dilarang menjalani percintaan atau menikah, dengan asumsi bahwa dayang adalah wanita yang berhak dimiliki keluarga kerajaan. Ketika mereka akan mengambil pilihan untuk hidup menikah, maka harus mendapatkan izin serta siap keluar dari kehidupan sebagai dayang yang menjamin kehidupan layak berupa upah demi keluarga yang menunggu mereka.
Dayang Han pun begitu, sedari kecil, ia sudah terlatih untuk menjadi dayang, dan bernasib baik dengan diambil sebagai dayang yang mengurusi semua kebutuhan majikannya yang hingga kini masih percaya akan kemampuannya... Puteri Hwa.
Yang kini melotot padanya, seolah jangan berani untuk berdebat dengannya.
Dan hal itu, tentu mengundang banyak rasa penasaran sang dayang akan banyak ekspresi yang kini kerap berganti terlihat pada wajah majikannya.
Dan kini... Melotot.. Come on guys,, itu bukanlah ekspresi sang puteri. Ia hanya melihat ekspresi senyum, tawa kecil, kesedihan, dan bukannya sikap bar bar yang kerap ia temui, baru-baru ini...
Apa ada yang salah dengan sang puteri????
Ya, puteri Lo kerasukan jin penunggu pohon asem, yang kagak pernah dikasih sajen. Hihihi.
"Tapi.... Anda bilang bahwa anda tidak masalah dengan itu....." Dayang Han mengatakan hal yang ditanggapi Ara sebagai bantahan, hingga gadis itu secepat kilat menyambar ucapan sang dayang.
"Bu-bukan, be-begitu, Yang Mulia." Jawab dayang Han membungkukan tubuhnya cepat.
"Aku tidak masalah jika hal yang memang penting. Tapi, mandi?? Sering sekali kalian membantuku. Membasuh kulit, menyabuni, mengusap kepala, dan... Arghhhhh, aku tidak mau lagi." Erang Ara kemudian, membuat dayang Han tertegun seketika.
Bukankah hal itu,,, sudah terlalu amat sangat sering ditemui sang puteri. Dari orok malah. Sebuah kegiatan yang menjadi rutinitasnya setiap hari. Dan sekarang????
"Tapi Put.,." ucapan dayang Han kembali mengambang di udara ketika Ara kembali memotongnya segera.
"Tidak ada tapi-tapian. Kalian cukup mengisi bak mandi. menaruh ember-ember berisi air di sisi bak itu, siapkan saja perlengkapannya, pakaianku, dan menjagaku di luar." Jelas Ara tidak mau dibantah lagi, karena ia memberikan sorot tajam pada dayang Han yang bergidik mendapati tatapan itu.
"Ba-baik, Puteri. Kalau begitu. Akan saya beritahu pada dayang yang mengurus pemandian anda sekarang." Ucap dayang Han pasrah, bagaimana lagi sekarang coba? Dayang Han tak kalah lebih frustasi. Coba bayangkan, reaksi dan ucapan seperti apa yang akan ia dapatkan dari para dayang-dayang yang selalu mengurusi hal privasi puteri, majikan mereka.
__ADS_1
Dan....
"Apa!!! Tidak. Tidak bisa seperti itu dayang Han." Bantah dayang yang mengurusi pemandian sang puteri.
"Iya... Itu sudah menjadi tugas kami. Kami tidak bisa" Sahut dayang yang lain. Ada sekitar 3 orang yang mengurusi hal itu. Dan kini mereka dengan wajah tak percaya, mendapatkan info bahwa yang selalu mereka urusi, kini enggan diurusi.
"Tapi..." Lagi-lagi, ucapan dayang Han meleber jatuh ke lantai kali ini saat salah satu dayang di sana memotongnya dengan cepat.
"Tidak bisa, kami berkewajiban mengurus sang puteri. Jad....." Dan, ucapan dayang itu kali ini disambar Ara yang sudah berdiri di satu sisi sudut ruang itu.
Dengan wajah serius, ia mengatakan "Kalian cukup mempersiapkan kebutuhannya saja, bukan untuk menemani dan mengurusi mandi di dalam sana." Ucapnya
"Yang Mulia." 3 dayang tersebut serentak menjatuhkan diri mereka, membungkukan tubuh, persis saat dayang Han merasa frutasi saat itu.
"Apa kami melakukan kesalahan pada Yang Mulia? apa kami tidak melakukan tugas dengan baik pada Anda, puteri." Pelan, salah satu dari mereka melirihkan kalimat yang begitu menyayat hati. Tapi tidak pada hati Ara. Ia jengah dengan bahasa bombay kayak gitu.
"Sudahlah, jangan berlebihan. Aku hanya tidak mau diurusi saat ini. Dan kalian tetap menjadi dayang yang mengurusi pemandianku. Lebay sekali sih." Sergah Ara gemas, dan ujung kalimatnya menghadirkan kerutan di wajah 3 dayang tadi.
"Kalau kalian masih bersikeras dengan ucapan kalian. Maka, aku akan segera mengganti kalian dengan dayang yang lebih memilih patuh akan perintahku."Lanjut Ara, melenggang masuk ke ruangan tempatnya ingin memanjakan dirinya. Mandi, air ramuan, yang harum, dan pasti mahal di eranya yang milineal.
ketiga dayang tadi hanya diam, tak mau membantah setelah mendengar ancaman puteri.
"Han-ah, masuk!!! Bantu gue bestie!!" Teriak Ara dari dalam ruangan. yang segera membuat dayang Han menyahut"Iya, Yang Mulia."
Namun, langkah dayang Han mendadak berhenti. Saat tiga dayang sebelumnya menahan langkahnya.
"Han-ah?? Bestie??" Tanya mereka bersahutan
"Gue gak tahu, prul." Jawab dayang Han yang ikut melenggang masuk ke dalam ruang pemandian dengan gaya dan logat bicara seperti majikannya. Meninggalkan para dayang yang tertegun akan kalimat ajaib dari dayang berikut majikannya.
__ADS_1
Whats wrong in here guys????