
"Apa maksud bibi berkata seperti tadi." Kini, keempat orang bangsawan yakni ratu, putera mahkota, puteri Ara dan puteri Hwa yang dirasuki Ara tengah berada di dalam ruangan milik puteri Hwa. Duduk berhadapan secar serius.
"Maksud bibi? Tidak ada. Aku hanya ingin menguji puteri Hwa saja, toh dia kan memang puteri Hwa, iya kan ratu?" ujar puteri Ara santai dengan senyumnya menatap Ratu dengan mata dinginnya.
"benar, kalau dia bukan puteri Hwa, bagaimana bisa penampilannya sama persis." sambut ratu membenarkan.
Ara, meskipun berusaha bersikap tenang dalam tubuh puteri Hwa, namun.... Jauh di dalam dirinya, Ara sangat gugup malahan takut.
Khawatir berat, bagaimana jika ia ketahuan? Aoa yang akan terjadi?
Bersileweran hal buruk di benak Ara. Hingga si bar-bar tersadar.
"Daebak!!!!" pekiknya seketika, namun sadar jika ia tidak sendiri.
Kenapa dirinya harus takut? Kan bukan tubuhnya yang akan terbelah jika ketahuan, meski begitu palingan mereka akan menerima kehadirannya kan?
3 pasang mata menatapnya heran.
"Kenapa puteri Hwa??" tanya putera mahkota mendapati gadis di sebelahnya berucap histeris.
Menggeleng, cengir.
"Ah, tidak, tidak ada apa-apa." jawab Ara meringis.
Hening sejenak...
"Maka dari itu, bibi jangan pernah membicarakan hal tidak masuk akal seperti itu lagi. Terlebih di hadapan umum seperti tadi." tegas putera mahkota meminta tulus.
"Iya." jawab puteri Ara yakin, sekilas ia menatap puteri Hwa penuh arti.
'Oke, gue rasa ini belum kelar." batin Ara mengartikan.
****
Sebelumnya...
*Seorang wanita usia 40 tahun ke atas dengan pakaian putih dan garis merah serta biru di sisinya, topi kerucut putih serta gemerincing panjang ikut menambah penampilan wanita yang kerap bersinggungan dengan hal mistis.
Mulutnya tak henti berkomat-kamit. Mata terpejam dan kaki dihentakkan hingga mengangkat tubuhnya seperti lompatan.
Tak jauh dari wanita itu...
Duduk seorang perempuan bangsawan mengenakan hanbok biasa dengan jaket atau penutup tubuh berwarna hijau. Tampak serius memperhatikan.
Puteri Ara. Serius mengamati dukun wanita yang tengah melakukan ritual di hadapannya. Sesekali ia terkejut jika dukun wanita itu berteriak keras, lalu menatap serius kembali ketika dukun itu tampak mengangguk-anggukkan kepalanya seolah mendapatkan wahyu.
__ADS_1
Satu jam melakukan ritual di tengah malam yang sepi... Akhirnya, selesai.
Berjalan pelan mendekati puteri Ara yang sudah dari tadi tampak jelas tak sabar menanti hasil ritual dukun wanita itu.
"Bagaimana? Apakah kau mendapatkan hasilnya.?" Tanya puteri Ara serius menatap dukun itu.
Dukun yang ditanya mengulas wajah serius. Tampak berpikir sebelum menjawab tanya puteri Ara.
"Kenapa? Apa kau tak menemukan hasilnya?" Lagi, puteri Ara bertanya penuh gusar.
"Lebih dari yang kita cari, yang mulia." jawab dukun wanita itu serius.
Wajah bingung menghiasi puteri Ara.
"Maksudmu, apa.?" ucap puteri Ara tak paham.
"Bukan hanya sihir yang menimpa puteri Hwa saja, yang mulia. Tapi..." Kembali, dukun wanita itu tampak sulit menyampaikan hal yang terpotong itu pada puteri Ara.
"Cepat katakan!!!!" kesal puteri Ara tak sabar. Gemas sekali dengan sikap lamban dukun itu.
"Yang menimpa puteri Hwa memang sihir, yang mulia. Namun, yang lebih mengejutkan adalah... Dalam tubuh puteri Hwa itu, ada jiwa lain yang hidup di sana." Jelas dukun wanita itu.
"*Apa maksudmu, Saman. Jangan bertele-tele. Jelaskan!!!!" perintah puteri Ara gemas.
"Puteri Hwa tengah dirasuki oleh jiwa orang lain, yang mulia." jawab dukun wanita.
"Jiwa orang lain??? Maksudmu? Putwri Hwa dirasuki??" tanya puteri Ara mengulang.
Dukun wanita itu mengangguk.
"Iya." jawabnya
"Lalu, apa jiwa puteri Hwa masih di sana? Atau..?" tanya puteri Ara semakin penasaran.
"Yang ada dalam tubuh puteri Hwa saat ini murni jiwa lain. Tapi untuk jiwa puteri Hwa sendiri, hamba belum bisa menemukan keberadaannya, yang mulia." jelas dukun wanita itu pelan.
"Apakah yang merasuki puteri Hwa seorang roh, hantu atau siluman, saman.?" Tanya puteri Ara tetap penasaran akan sosok jiwa Ara dalam tubuh puteri Hwa.
"Yang merasuki tubuh puteri Hwa, adalah roh milik seseorang, yang mulia. Namun, jiwa ini berasal dari dimensi berbeda dan jauh dari masa kita." jelas si dukun itu.
"Dimensi dan tempat yang jauh? Maksudmu apa??" tak henti penasaran menjadi bukti puteri Ara setia dengan tanyanya.
"Bukan dari dunia kita, yang mulia. Roh ini berasal dari masa depan." pungkas si dukun pasti.
Membuat wajah puteri Ara kembali diliputi oleh rasa tak percaya, mengingat roh atau jiwa ini selain milik orang lain juga berasal dari masa depan*.
__ADS_1
dikediaman puteri Ara.....
"Jadi, kau bukan lah puteri Hwa rupanya. Heh" decih puteri Ara bermonolog sendiri.
"Dan kata-kata aneh yang terlontar dari bibir puteri Hwa rupanya dari bahasa roh itu." Puteri Ara memikirkan berbagai kemungkinan yang membuat tebakan dukun wanita yang ditemuinya waktu itu benar adanya. Melihat banyak keanehan yang ia lihat semenjak bertemu puteri Hwa. Dari sisi penampilan, cara bicara, sikap arogan dan tengil yang ditampakkan sangat berbeda jauh dari si pemilik tubuh.
"Aku pikir, puteri sombong itu hanya merasa trauma dan tidak baik-baik saja semenjak peristiwa mengerikan yang menimpanya. Membuatnya menjadi diri orang lain, namun rupanya memang jiwa orang lain yang merasukinya...
Flashback On
"*Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang, saman. Apakah jiwa puteri Hwa bisa kembali?" Tanya puteri Ara di sela perbincangan dengan dukun wanita.
"Kita bisa mengadakan ritual pemanggilan roh atau jiwa milik puteri Hwa, yang mulia." Jawab si dukun.
"Ritual? Apakah tidak berbahaya nantinya?" tanya puteri Ara lagi.
Dukun wanita itu tampak diam sejenak.
"Hei saman!!! Bagaimana, aku butuh puteri Hwa baik-baik saja.!!!" hardik puteri Ara menekan dukun wanita.
"Kemungkinan bisa buruk, yang mulia." Jawab si dukun.
"Kenapa bisa begitu??" Tanya puteri Ara tak paham.
"Karena bertukarnya jiwa puteri Hwa sudah jadi kehendak para dewa, yang mulia. Jadi, ritual yang kita lakukan nanti ditakutkan tidak berhasil, kecuali...." jeda, si dukun menghentikan ucapannya.
"Kecuali???" ulang puteri Ara
"Kecuali kita melakukan ritual itu di kediaman dan di depan puteri Hwa langsung, yang mulia." jelas si dukun, dan puteri Ara tertegun..
"Tidak ada cara lain.??" tanya puteri Ara meminta solusi.
"Tidak ada, yang mulia. Jika ritual di lakukan bukan di kediaman dan di hadapan puteri Hwa, maka resiko kegagalan lebih besar." Jelas si dukun.
"Jadi, kita harus melakukannya dengan cara itu??" ulang puteri Ara yang diangguki si dukun wanita dengan tegas.
"Ritual di tempat lain saja, susah, apalagi di kediaman dan dihadapan gadis sombong itu." gumam puteri Ara frustasi.
"Akan aku usahakan, karena aku butuh puteri Hwa berada di sisiku seperti sebelumnya." ucap puteri Ara.
Hening sejenak.
Puteri Ara penasaran kembali....
"Bagaimana resiko yang kau sebutkan tadi..." tanyanya teringat akan resiko yang disinggung si dukun..
__ADS_1
"Jika ritual bukan sesuai cara yang hamba sebutkan tadi, maka resikonya adalah puteri Hwa akan selamanya terkurung di tempat lain, dan jiwa orang ini akan mati." jelas si dukun, membuat puteri Ara terbelalak mendengarnya...
Mati*???