100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
Selamat Datang Di Rumah Baru, Puteri.


__ADS_3

"Tidak, tidak, tidak." Puteri Hwa menghentikan langkahnya, keras. Enggan mengikuti, malahan ia memundurkan langkahnya.


"Ck, kau ini. Kenapa lagi sih.!!" ujar Hana melihat Ara yang kembali bertingkah tak masuk akal itu.


Puteri Hwa menggelengkan kepala Ara berulang kali, "Tidak, aku tidak mau ke sana." tunjuknya pada mobil mengkilat mewah milik Kim Hee Sin.


Hana menepuk dahinya pelan, gemas, sekali, loh.


"Sini kau." Menggunakan ujung telapak tangannya melambai pada Ara, tapi gadis itu tetap di posisinya.


"Ayo.." Hana bergerak cepat, meraih lengan Ara, tapi yang ditarik malah lebih kuat bertahan, hingga.


"Arghhhh." puteri Hwa terkejut ketika dirinya melayang diudara. Menoleh, lebih kencang lagi menjerit.


"Arghhhh, orabeoniiiiii, turunkannnnnn!!!" teriaknya ketika Kim Hee Sin mengangkat tubuh Ara lalu bergerak menuju kendaraannya yang sudah menanti sedari tadi.


Hana mengiringi dari belakangnya, dengan mulut disungut


"Huuuu, bilang aja minta digendong, dih songong kali kau." ejeknya mencibir pada Ara yang menoleh tepat ketika Hana melempar kalimat itu.


"Ayo masuk." Kim Hee Sin mendudukkan Ara di bangku belakang, dan Hana menyusul setelahnya.


Klik


Pintu mobil di kunci cepat, agar gadis itu tak kabur.


Lagian ya, mau dikunci atau gak, doi tetep gak bisa bukanya tauuuu, mana ngerti puteri Hwa!!


Puteri Hwa menatap liar, kesekelilingnya. Tempat ini sempit. Tapi, sejuk. Empuk, dan harum.


Mirip ketika ia berada dalam tandu. Tapi ini,....


Brummmmmm. Suara mesin dihidupkan, menjadi kerutan dalam puteri Hwa, bunyi apa itu.


Hingga.


"Arghhhhh." Kejutnya ketika benda yang ia tengah duduki bergerak.


"Apa ini!!." lagi. Ia panik.


"Ya elah Prul, malu-maluin aja deh Lo." dengus Hana dari sisinya. Tak paham akan tingkah absurd sahabatnya.


Namun, tak lama, ia kembali menoleh, terkejut.


"Hei, kenapa Lo. hei!!!" Hana menangkap gurat pucat di wajah putih Ara. Berkeringat dan dingin.


"Hei!!." menepuk pelan wajah itu. Bahkan kini Hana pun terkesan ikut panik.


Kim Hee Sin menoleh ketika sebelumnya memperhatikan melalui kaca mobil.


"Ada apa nona Choi.?" tanyanya melihat dua gadis yang saling merapat itu.


Hana menggeleng, "Saya pun tak tahu, tuan Kim. Ara mendadak seperti ini." Jawab Hana.


Kim Hee Sin menyuruh sopirnya menekan tombol di sisi mobil. Dan...

__ADS_1


Pelan. Kaca jendela mobil pun terbuka.


Hyuhhhh, puteri Hwa pelan menarik nafas, ini jauh lebih baik.


"Lo. Mabok??" Hana berasumsi ketika melihat wajah yang ia khawatirkan tadi sudah kembali perlahan segar.


Namun yang ditanya tak menggubris sama sekali, karena kini, matanya terpatri pada sisi kirinya, pada pemandangan di luar mobil.


"Wahhhhh, dunia apa ini?" gumamnya pelan, lirih menganggumi akan bangunan, benda bahkan orang-orang yang tertangkap netranya, eh, netra Ara maksudnya.


"Liat apaan sih?" Hana penasaran, Ara tak menggeser sedikitpun kepalanya. Tetap pada sisi kirinya, dengan angin segar sebagai tambahannya, jadi bagaimana tidak gadis itu menikmati hal baru yang menjadi objek penglihatannya kini.


Sabar ya Hana.


Satu jam perjalanan, dengan puteri Hwa yang sudah terkapar di kursi penumpang, doi tidur woy.


Mereka akhirnya sampai di hunian Ara. Dari rencananya, Hana berniat akan tinggal bersama gadis itu sementara waktu, sampai sahabatnya sudah bisa beraktifitas lagi.


"Hei, prul. Bangun." Hana menepuk pelan lengan Ara, membangunkan gadis itu.


"Enghhh." Puteri Hwa menggeliat menerima sentuhan itu, untuk pertama kalinya, ia begitu malas untuk bangun.


Kim Hee Sin tersenyum melihat hal itu, sungguh menggemaskan gadis itu.


Eh?


Pria itu menarik kembali garis senyumnya. Sadar akan kekonyolannya barusan.


"Bangun woyyyy!!!!" Hana menggoyangkan tubuh Ara cukup kuat, memang sahabatnya ini susah sekali dibangunkan. Dasar kebo!!!


"Enghhhh, sebentar lagi, dayang Han." Gumam Puteri Hwa membalas ucapan Hana.


Hingga.


"Wahhhh, delusi Lo kayaknya perlu diobatin ya. Bangun, Lo pikir gue dayang-dayangan Lo??, bangun, bangun." Hana semakin gencar menarik lengan gadis itu untuk bangun.


Dan berhasil. Kelopak mata indah itu pelan terbuka.


"Nah. Akhirnya bangun juga." Hana menghela nafasnya.


"Bangun, gak malu apa sama tuan Kim, prul. kebiasaan di rumah jangan dibawa-bawa lah." lanjut Hana pada ucapannya.


"Kau bicara apa?" Tanya puteri Hwa tak paham. Ia sudah mendudukkan tubuh Ara tegap. Menatap sekitar, benda yang ia duduki ternyata sudah tidak bergerak lagi.


"Sudahlah, ayo, kita sudah sampai." Hana membuka pintu di sisinya lalu bergerak keluar cepat menarik pintu di sisi Ara.


Ceklek.


"Ayo." Ia mengulurkan telapak tangannya agar disambut gadis yang masih duduk diam itu.


"Mau kemana kita?" tanya puteri Hwa


"Pulang, rumah kita sudah sampai." jawab Hana bersabar.


"Rumah?" Puteri Hwa menatap sekitar, dahinya berkerut.

__ADS_1


"Rumah siapa? Ini bukan rumahku." jawab gadis itu menggelengkan kepala. Jelas saja bukan, bukan begini bentukan lingkungan istana Jehwa, ini hanya hamparan luas dengan orang-orang aneh di sekelilingnya.


"Sudahlah, ayo keluar." Hana kembali menarik paksa gadis itu, dan kali ini Hana lebih kuat karena berhasil mengeluarkan tubuh ramping itu keluar dari mobil Kim Hee Sin.


Pria itu sudah berdiri gagah di sisi mobilnya. Dengan barang-barang Ara di kedua tangannya.


Puteri Hwa lagi-lagi terpana. Matanya menatap takjub pada bangunan yang begitu tinggi di hadapannya. Ia sampai-sampai harus mendongak untuk mencapai tatapan akhirnya di ujung bangunan itu.


"Wah, tempat apa ini? Seperti yang aku lihat di jalan tadi." lirih ucapannya.


"Lihat apa prul?" Hana menggandeng lengan gadis itu untuk mengikutinya.


Selama perjalanan menuju lift apartemen Ara. Gadis itu tak henti mengedarkan pandangannya, betapa menakjubkan dunia ini. Lihat saja, banyak hal aneh di sekelilingnya.


Ting!


Puteri Hwa mengenali benda itu. Ini yang tadi sempat ia naiki di tempat sebelumnya. Langkahnya tertahan ketika pintu itu terbuka.


"Ayo." tapi Hana sudah sigap duluan. Menarik kencang tubuh Ara mengikuti langkahnya masuk ke dalam lift.


"Kenapa harus masuk benda ini lagi" Rengek puteri Hwa pada Hana.


"Kau mau naik tangga? Sana naek, lumayan lantai 8." seloroh Hana menjawab.


Dan lagi-lagi, Kim Hee Sin menyunggingkan senyum melihat tingkah Ara yang menggemaskan itu.


"Tempat ini aneh." balas Puteri Hwa.


Hana menekan tombol 8. Dan.


Wushhh.


"Argh." Puteri Hwa terlonjak lagi, namun, kali ini ia merasa heran, tubuhnya tidak terasa terdorong ke bawah, tapi ke atas?


Kenapa bisa? Aneh sekali benda ini.


Ting!


Pintu terbuka.


Menampilkan koridor dengan 4 pintu di tiap dindingnya.


Hana menuju satu pintu bertuliskan 8.1 itu.


"Akhirnya, kita pulang ya prul." Desah Hana lega.


Menekan tombol-tombol kecil di sisi pintu itu. Memasukkan kode.


Ting!


Terbuka.


Puteri Hwa menatap lagi takjub ketika Hana menekan dinding, suara keluar dari pintu itu. Apakah mereka akan menaiki benda aneh seperti tadi lagi?


Tidak....

__ADS_1


Bukan tempat sempit tadi, kini, Puteri Hwa menangkap pemandangan yang lagi-lagi membuatnya berdecak kagum... Pada isi ruangan yang sungguh cantik ini.


Selamat datang di rumah baru, Puteri Hwa.


__ADS_2