
"Bagaimana proses persidangan pelaku kejahatan itu, putera mahkota.?" raja yang duduk di singgasana di bangunannya, tanpa basa basi langsung melempar tanya pada putera mahkota yang baru saja menaruh bokongnya di bantalan tempat duduk.
"Masih belum mau mengaku, yang mulia."
"Oh ya? Lalu apa rencanamu kali ini?"
"Aku akan memancing mereka dengan orang yang aku duga adalah bagian dari kelompok mereka, paduka."
"Apa kau sudah menemui titik terang? Akan semua kejadian yang menimpa adikmu?" raja menangkap fakta bahwa putera mahkota sudah mengetahui sosok yang terlibat pada aksi kejahatan.
"Belum, yang mulia. Tapi saya hanya menduga saja." jawab putera mahkota sehati-hati mungkin. Mempertahankan emosi dan ekspresi agar tetap stabil di hadapan sang raja yang tentu memiliki kemampuan skeptis terhadap semua orang.
"Ohh,... Lalu, siapa yang menjadi target pradugamu itu, putera mahkota.??" lagi. Tanya raja.
"Yang mulia akan saya beritahu suatu saat nanti. ketika semua sudah jelas arahnya."
Mengangguk, "Baiklah, aku menunggu bukti dan pelaku kejahatan terhadap puteriku itu. Aku heran saja, apa kesalahan yang diperbuatnya hingga mendapat perlakuan buruk seperti itu." raja memasang wajah sedih. Kecewa dengan ketidakmampuannya yang selalu kecolongan melindungi puterinya.
Hening....
"Lalu, bagaimana dengan seleksi puteri mahkota? Apakah sudah dimulai kembali?" raja memecah keheningan dengan bahan tanya yang berbeda.
"Setelah kejadian yang menimpa puteri mahkota, dua hari setelahnya akan dilanjutkan lagi, paduka." sahut putera mahkota.
"Apakah kali ini, akan menjadi waktu bagimu menikah, putera mahkota.?" ujar raja menatap lekat puteranya itu.
Putera mahkota menarik sedikit ujung bibirnya, "Anda tahu apa yang saya pikirkan, yang mulia." jawabnya.
Terkekeh, "Tentu. Dan setelah itu, kita akan melanjutkan proses pernikahan puteri Hwa dengan pangeran Sin." lanjut raja tersenyum senang.
Dan, senyum itu memudar, menjadi dingin. Putera mahkota.
******
"Jadi, siapa yang menjadi dalam kejadian waktu itu, dayang Han???" Ara tak sabar bertanya pada dayang Han yang baru saja masuk ke dalam ruangannya. Ia menembak tanya langsung.
Tapi, seperti sebelum-sebelumnya, dayang Han. Lebih memilih melangkahkan kedua kakinya, memberi hormat lalu duduk di depan puteri Hwa.
"Sejauh ini keduanya belum banyak memberi tahu, yang mulia." jawab dayang Han, tenang.
Ia diperintahkan Ara pergi ke kediaman putera mahkota untuk mencari informasi tentang hasil investigasi atau persidangan waktu itu terhadap dua pelaku penyerangan terhadap dirinya.
Gemas, "Masa' tidak ada yang mengaku sih??" tanya Ara.
"Apa mereka sudah mendapatkan penyiksaan?"
"Di tarik kakinya dengan kayu?"
"Di berikan besi panas?"
__ADS_1
"Di tusuk dengan pisau?"
"Di pukul?"
"Di siram air?"
"Di cabut kukunya?"
Rentet kalimat tanya di keluarkan Ara secara bertubi-tubi. Ia hapal betul proses persidangan kejahatan di era joseon ini. Dari drama yang ia tonton tentunya.
Dayang Han meneguk liur.
Kagak capek apa tuh lambe ngoceh mulu kayak kereta ekspress???!!
"Sudah semua, yang mulia." jawab singkat dayang Han.
Ara mengerutkan alis milik puteri Hwa.
"Benarkah????!!!!" ekspresi berlebihan Ara.
"Mereka masih belum menjawab setelah...." Rauh bergidik tampak jelas muncul dari wajah puteri Hwa.
Ara tak paham... "Setelah mereka mendapat penyiksaan??"
"Iya yang mulia." lagi. Jawab singkat, padat dari dayang Han.
"Gue penasaran." Gumam Ara membayangkan hasil penyiksaan itu.
"Han-ah." panggil Ara
"Iya yang mulia." sahutnya.
"Apakah boleh jika aku pergi ke sana?" tanya Ara pelan penuh harap.
Dayang Han bingung, "Ke mana yang mulia?" dayang muda itu malas membalas tanya sebagai jawaban.
"Ke tempat penyiksaan itu." bisik Ara pelan, mencondongkan tubuh puteri Hwa melalui atas meja mendekat pada dayang Han.
Tertegun, lalu menggeleng.
"Tidak boleh, yang mulia. Tempat itu tidak cocok untuk seorang puteri seperti anda." tolak dayang Han.
Cemberut, Ara memasang raut seperti itu di wajah puteri Hwa.
"Tapi aku mau ke sana, Han-ah." Ara menampilkan dua puppy eyes di mata bening puteri Hwa. Berharap cara itu berhasil sebagaimana diri di dunia sana.
Namun lagi-lagi, ia mendapatkan jawaban sama, gelengan. "Tidak boleh, yang mulia."
"Anda adalah seorang bangsawan, dan itu adalah tempat yang buruk, yang mulia. Dan lagi, anda adalah korban di sini, jadi....." belum sempat.
__ADS_1
"Aku tidak takut!!, tenang saja Han-ah. Lagian, kenapa? Aku hanya ingin melihat saja, dan bila perlu aku yang akan menghajar mereka sendiri." ucap Ara yang berdiri semangat dengan kedua tangan terkepal ke atas. Ara on fire!!!.
"Kalau kau takut. Cepat beri tahu pada putera mahkota." titah Ara menatap dayang Han yang mengedipkan matanya lucu.
"Aaahh kalau perlu, aku saja yang memberi tahunya. Kan putera mahkota di berikan wewenang raja langsung, kan?" tambah Ara.
"Hayooo, ikut aku ke sana." ajak Ara mengayunkan tangan kanannya pada dayang itu yang masih duduk tertegun.
"Ayooo, Han-ah!!!" panggil Ara lagi.
Mengangguk seraya bangkit cepat.
"Ba-baiklah, yang mulia." sahut dayang Han segera.
Ara yang bersemangat itu, bergegas keluar dari ruangannya, tapi berhenti seketika, kala...
'Aroma ini??' menoleh pelan pada.....
"Kau?? Dayang baru di sini??" tanya Ara pada sosok dayang paruh baya yang berdiri dua baris di belakangnya.
"Tidak, yang mulia." jawab dayang itu.
"Oh ya? Tapi aku tidak pernah melihatmu selama ini?" tanya Ara lagi
"Dayang Choi baru saja kembali dari perjalanan mengunjungi keluarganya, yang mulia. Dan anda sendiri yang memberinya izin." salah satu dayang yang ada di sisi kiri dayang Choi ikut menyela.
Ara menarik dahi puteri Hwa ke atas.
"Benarkah?? Begitu dayang Han?" Ara melihat pada dayang Han, meminta bantuan konfirmasi.
"Sepertinya begitu, yang mulia." jawab dayang Han, seperti ragu.
"Kau ini. Han-ah. Kenapa ragu begitu, sih." Ara membalik tubuh puteri Hwa ke depan. Berniat melanjutkan tujuannya.
'Dan, kau... Juga salah satu komplotan genk abal-abal itu, kan?' batin Ara pada dayang yang ikut menyela tadi. Jelas sekali menjawab yang bukan saatnya ia diberi kesempatan menjawab, kan? Seperti..... Tengah membantu satu timnya.
"Puteri Hwa. Kebetulan sekali." suara orang yang membuat Ara gemas itu muncul menyambut kepergiannya di depan anak tangga terakhir. Di luar kediamannya.
"Nona Kim?" tanya Ara lebih pada pernyataan.
"Ada apa, nona Kim. Memang kebetulan atau malah, tepat sekali kau bisa bertemu aku yang akan pergi?" Lanjut Ara menatap sosok rubah ekor 10 itu tetap pada posisinya di atas, dari depan pintu luar.
"Mau ke mana anda, puteri Hwa? Terburu-buru sekali?" tanya Kim So Yoon.
"Kau penasaran??" kekeh Ara.
"Tidak." balas Kim So Yoon
"Oh ya??" Balas Ara serupa.
__ADS_1
"Memang ke mana lagi anda akan pergi jika bukan bersenang-senang, yang mulia." jawab Kim So Yoon seakan mengejek.
Ara menyeringai..."Ooo, jadi ke tempat putera mahkota, termasuk bersenang-senang, ya??"