
Hana melirik sikap gugup itu.
Membuat rasa panas karena di sorot, puteri Hwa membuang muka.
"Heum!!!" sungutnya. Merasa harga dirinya terjun bebas. Tidak tahukah gadis yang bernama Hana itu? Hfttt sudah pasti, rakyat tak jelas kasta seperti itu tidak akan pernah paham dirinya yang seorang bangsawan berdarah biru.
"Hihihi." bertambah kesal ia mendengar tawa kekehan Hana. Mengepal kedua tangan milik Ara, ia bertahan menatap ke luar jendela.
"Nah." ia merasakan pergerakan di kasur tempatnya duduk saat ini.
Masih enggan menoleh.
"Makanlah, aku mau pergi dulu, ada urusan pekerjaan sebentar." ucap Hana masih menunggu sahabatnya yang bertingkah konyol bak anak kecil. Ambekkan.
Tak ada jawaban.
"Ara, aku pergi dulu ya." Hana menyentuh lengan Ara lembut tapi tetap tak menarik perhatian gadis itu yang bertahan dengan sikapnya.
"Bye girl." merangkul bahu Ara lalu pelan melangkah menuju pintu keluar. Berbalik dan kembali menatap Ara yang melirik sekilas, mencuri-curi pandang.
Ceklek.
Hana pergi, urusan pekerjaannya menumpuk, harus bolak-balik dari kantor ke rumah sakit. Ara tak yakin untuk ia tinggal dan mengurus keperluan secara mandiri. Kalo dulu, iya, tapi semenjak banyaknya hal terlupa dan beberapa kebiasaan yang sulit dilakukannya, membuat Hana menjadi pontang-panting mendampinginya.
Berasa mengurus anak kecil.
Setelah sepeninggalan Hana. Yang dibuktikan dari wujud gadis itu sudah menghilang dibalik pintu berwarna putih, Puteri Hwa berbalik sempurna.
Sungut di bibirnya masih bertahan. Muka ditekuk.
"Cih, Hana itu, lihat saja, akan aku balas nanti." dendamnya bermonolog sendiri.
Mata indah itu kini beralih pada tatanan isi dalam piring berwarna hijau yang sudah pasti Hana meletakkan tadi.
"Buah pisang." celetuknya menatap buah berwarna kuning. Ada sekitar 7 buah di simpan dalam piring itu.
"Jadi ini buah itu. Hmmm." Gumamnya setelah berhasil meraih satu pisang.
Hening
(....)
Menatap bingung
"Apa rasanya memang begini?" puteri Hwa merasakan buah pisang yang ia makan...
Beserta kulitnya.
.
.
.
.
__ADS_1
"Apa sebenarnya yang terjadi di sini?" Ara.. Gadis itu tengah berkecamuk pikirannya, ia tengah tak sabar, seperti yang seharusnya dayang pribadi puteri Hwa hari ini akan kembali ke istana.
Ia akan menyerbu dayang muda itu dengan banyak pertanyaan yang sudah bertumpuk layaknya spam. Ia tak kuasa, demi Tuhan!!! Penyimpanan gadis itu tak banyak, hard drive ingatannya kadang penuh dan eror.
Mengetuk tak sabar.
Kenapa lama sekali, harusnya dayang itu tiba siang ini, tapi setelah jam makan siang pun, batang hidungnya tak juga muncul.
"Eihh, gak mungkin kan dia ngebatalin pulang?"
"Apa terjadi sesuatu dengan dayang Han?"
"Aishhh makanya, harusnya pakek kendaraan kek, tandu gitu, atau kuda biar cepet." Ara memburu rasa tak sabarnya dengan ragam pikiran prasangka.
Padahal kenyataannya.
Dayang muda itu dengan rasa lelah yang ia tahan terus melajukan pacuan kudanya lebih kencang agar ia cepat sampai di hadapan majikannya.
"Kenapa telingaku berdengung ya??" gumamnya stabil mengendalikan salah satu kuda milik putera mahkota.
Kembali pada si bar-bar....
"Ya ampun, nyawa gue tinggal 2 mingguan lagi." mata indah itu menilik goresan tulisan di atas kertas kecil. 14 hari, dalam bahasa hangeul ke kinian.
Berharap cemas, kegagalan jelas sudah terpampang di depannya.
"Dah lah, gue kayaknya memang gak ada kesempatan balik ke dunia sana." ujarnya pelan, mendadak menguarkan aroma sedih.
"Maafin gue Hana. Gue gak bisa nemenin Lo lagi di sana." lanjutnya mulai mencoret kertas satunya lagi.
"Mungkin banyaknya dosa gue, mainin dan ngasiu harapan cowok-cowok merana di sana. Makanya para dewa menghukum gue." pelannya meratap.
"Mana gue masih ting-ting pulak." ucapnya random
"Kalau tau gini, gue bakalan seneng-seneng sepuasnya. Mabuk, jalan-jalan, dan......" menggaruk kepalanya yang perlahan gatal dan berdenyut.
"Yang Mulia, putera mahkota mengunjungi anda." dari arah depan, dayang penjaga mengumumkan kedatangan putera mahkota, yang malas sekali ia temui.
"Yang Mulia, putera mahkota mengunjungi anda." suara dayang kembali mengumumkan kala tak mendapati sahutan dari dalam.
Hening.
Masih tak ada jawaban, hingga menoleh pada pria gagah yang berdiri di depan pintu.
"Yang mulia putera mahkota, seper....." kata dayang selanjutnya hanya melambung di udara, menguap begitu saja ketika putera mahkota tanpa peduli menarik handel pintu itu....
srettttt
Putera mahkota masuk dengan tenangnya. Lalu menarik kembali pintu itu agar menutup sempurna.
Di dapatinya gadis itu tengah menelungkupkan kepalanya di atas meja dengan tangan menggoreskan kuas di atas kertas yang menjadi kecil ukurannya.
Ia memang sedikit heran dengan kelakuan puteri Hwa yang sering merobek kertas menjadi potongan yang sama lalu menulisinya dengan kalimat atau bahasa aneh.
Gadis itu sadar jika pria yang diumumkan kehadirannya tadi tentu sudah berdiri gagah di ruangan ini. Tapi ia masih bertahan dengan posisinya. Meratapi takdir nyungsepnya.
__ADS_1
"Puteri Hwa?" langkah panjang kakinya melebar menuju ke arah gadis itu.
Tetap tak di respon.
Ara malas menerima tamu siapapun hari ini, ia hanya menanti dayang itu, dayangnya. kalau kata orang jaman modern itu, asisten pribadinya.
Langkahnya berhenti, tepat di depan meja tempat Ara membaringkan kepala puteri Hwa.
Duduk
memperhatikan lekat, bahkan Ara merasakan sekujur tubuh ini memanas seketika, tentu pasti karena sorot laser mata pria itu.
Tetap pada posisinya.
"Ada apa, Hwa-ya?" tanya putera mahkota.
Masih hening.
"Apa kau sakit?"
Kembali di anggurin.
"Apa kau ada masalah?"
Lagi-lagi di kacangin.
Walaupun dalam hati gadis itu menjawab dengan lantang, "Iya gue sakit, gue dalam masalah!!!' pekiknya membatin.
Pelan, tangan lebar itu menyentuh bagian sisi kepala puteri Hwa.
"Kau kenapa, Hwa-ya?" tanyanya penuh kelembutan dengan menepuk kepala itu dan mengusapnya.
"Aku tidak apa-apa." jawabnya masih bertahan di posisinya, namun pria itu menangkap hal aneh dari nada suara gadis itu.
Agak berat, dan terkesan....
"Apa kau menangis?" duganya yang dibenarkan oleh Ara yang lagi-lagi hanya dijawab dalam batinnya.
'Iya, gue meratap sekarang, yang mulia.' sahutnya dalam hati.
"Hwa-ya, tatap aku." ucapan itu mengarah pada perintah, bukan sekedar permohonan.
Ara menggelengkan kepala itu dalam keadaan masih menelungkup.
Hffft. Putera mahkota menarik nafas dan membuangnya kasar.
Kenapa dengan gadis itu?
Ia gemas, bangkit berdiri dan....
"Kau kenapa?" menarik paksa pundak milik puteri Hwa dari belakang, pria itu sudah duduk di belakang tubuh itu.
"Hei."panggilnya setelah berhasil menegakkan tubuh itu, tapi tidak dengan wajahnya, karena Ara menundukkan wajah itu dalam-dalam.
"Ara-ya, lihat aku, tatap aku." titahnya lembut, pelan jemari panjang pria itu mengangkat dagu lancip puteri Hwa, hingga....
__ADS_1
Nampaklah alasan gadis itu enggan menatapnya dari tadi...
"Kau kenapa, Ara-ya? Siapa yang menyakitimu, huh!!!"