100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
Lain kali saja


__ADS_3

Ara yang tak mau banyak kecurigaan dari semua pelayannya, khususnya si dayang Han itu, merapikan penampilannya sebelum keluar dari villa ini.


Meski hasil yang sekeras apapun diusahakannya, tetap saja, bajunya tak rapi, rambutnya pun terlihat sedikit berantakan, hanya saja ia bersyukur, karena memar dan goresan yang didapatnya dari dayang bar-bar itu tak terlihat sama sekali. Karena mengenai banyak tubuh dalamnya saja.


"Yang Mulia.????!" dayang Han yang pertama menyambutnya menampakkan raut keheranan ketika melihat penampilan puteri Hwa yang.....


"Aku tidur sebentar tadi, rasanya begitu nyaman istirahat di sini." Jawab Ara dengan mata di buat bak orang tertidur lama.


"Ooh, iya yang mulia." angguk dayang Han mengerti.


Ara yang sudah menarik langkahnya menuju kediaman puteri Hwa, mendadak berhenti ketika....


Netranya menangkap jelas, siluet, sosok yang belum 1 jam tadi bertarung dengannya.


Dayang itu!!!!


"Ada apa, yang Mulia???" dayang Han bingung mendapati puteri Hwa berhenti dan diam mematung. Mengikuti arah pandang majikannya, namun tidak tahu siapa yang menjadi objek incaran mata itu, karena hanya kerumunan manusia saja yang lalu lalang di hadapan mereka.


"Yang mulia?"


"Ah, bukan apa-apa. Ayo kita lanjutkan."


'Sialan tuh biawak liar. Sudah mengotori wajahku, eh salah wajah puteri Hwa dengan tanah, sekarang melenggang santai di istana ini.' batin Ara tak percaya.


"Puteri Hwa." ratu, menyapanya selang langkahnya sedikit lagi sampai ke bangunan puteri Hwa.


"Yang mulia." jawab Ara sopan, tetap berusaha bertahan walau ingatannya sempat kembali pada hari di mana ia mendapat nasihat atau peringatan dari ibu puteri ini.


"Apa kau dari jalan-jalan, puteri Hwa?" tanya ratu melihat arakan yang lengkap mengikuti puteri Hwa.


"Ah, iya, yang mulia."


"Kenapa dengan penampilanmu, puteri Hwa?"


Ara yang sadar dinilai penampilannya tentu tahu, karena sebaik apapun di usahakan, tetap saja kentara.


"Ah, tadi sempat tertidur, yang mulia."jawab Ara berbohong, berharap perempuan yang bergelar bangsawan kerajaan ini juga percaya seperti halnya dayang-dayangnya tadi.


"Oh, ya??" ratu berujar, meragu pastinya.


"Iya. Yang mulia." aku Ara.


Ratu mendekat.


"Jadilah puteri yang manis, Hwa-ya, dengan begitu, kau mampu mewujudkan keinginanmu seperti awalnya."


Tersenyum, "Terima kasih, yang mulia untuk perhatianmu ini."


"Sepertinya, aku harus kembali ke kediaman, yang mulia. Penampilanku sepertinya cukup menyita perhatian sekitar." Ara membungkukkan tubuh puteri Hwa, memberi hormat lalu melenggang pergi meninggalkan ratu yang kini menatapnya penuh selidik.


"Kau, berani juga setelah menghadapi kematian. Hwa." gumam ratu di posisinya.

__ADS_1


'Gue rasa, ada rahasia yang hanya mereka berdua aja yang tahu, ibu dan anak. Apa itu?' batin Ara.


"Puteri Hwa??" suara lain kini menyapa pendengarannya.


Menoleh.


Setidaknya lebih baik untuk menutupi mood buruknya hari ini.


"Pangeran Shin." sambutnya tersenyum.


Pria itu, berdiri gagah, dengan sebuah benda yang terbalut kain berwarna hijau muda.


"Kau, tidak penasaran dengan apa yang aku bawa, puteri Hwa?" tanya pria itu menatap puteri Hwa.


Menggeleng, Ara menjawab tanya itu.


Tak sedikit pun ada rasa penasaran akan bawaan pria itu, sungguh, beneran.


Tak puas, pangeran Shin mengangkat bawaannya dan mengarahkan pada puteri Hwa.


"Bukankah biasanya kau sangat tahu jika, bungkusan berwarna hijau ini, adalah...".


"Ah sudahlah, aku lupa soal itu." potong Ara tak tertarik, hingga...


"Aromanya mirip...??" Ara mencium aroma sembari menatap pangeran Shin yang berbinar menatapnya harap.


"lupa ih." ujar Ara, melenggang meninggalkan pangeran Shin yang tertegun menatap tubuh gadis itu.


"Aapa urusan gue, masa' bodo dia mau bawa apa." gerutu Ara sepanjang langkahnya.


"Begitu kan, dayang Han??" tanyanya memastikan.


"Han-ah, kau mendengarku tidak??" Berhenti jalan, membalikkan tubuh, tak mendapati...


"Kemana daya....."


"Aihh, kenapa malah ke sana." Dayang Han ternyata berhenti di dekat pangeran Shin, dengan tangan sudah memeluk bungkusan yang tadi ditunjukkan pria itu.


"Han-ah!!!!" teriaknya memanggil gadis itu. Sontak suaranya memancing orang-orang di sekitarnya.


Suaranya itu loh heboh banget. Bukan layaknya puteri yang elegan.


"Upsss!!!" sadarnya segera.


"Dayang Han." suaranya beralih gemulai, walau dalam dirinya, Ara bergidik geli menyikapi tingkah barusan.


Dayang Han bergegas menarik langkahnya sedikit cepat.


Tergopoh-gopoh menuju puteri Hwa dengan mempertahankan barang bawaannya.


"Kau, mengapa membawa benda itu, huh?"

__ADS_1


"Pangeran Shin yang menyuruh hamba, yang mulia." jawab dayang Han sembari tetap berjalan, karena Ara tanpa peduli langsung melajukan kaki puteri Hwa sesaat dayang Han memenuhi panggilannya tadi.


"Aishhh, kau ini." desisnya.


"Kebetulan yang aneh." Kini, suara lain menghampiri telinganya, lagi. Maksudnya telinga puteri Hwa.


"Heh, ini lagi, kenapa hari ini banyak banget yang papasan sama gue." Omelnya, melihat sosok gadis yang menjadi rivalnya itu kini berdiri pongah.


"Ada apa lagi sekarang, kayaknya pada pengen nemuin gue deh.?" ucapnya menggerutu.


Kim So Yoon menatap puteri Hwa bingung.


"Hanya menyapa, kan?, aku mau pergi kalau begitu." ujar Ara melengos pergi.


"Ya, Hwa-ya!!!" Kim So Yoon memanggil dengan nada cukup tinggi tapi tidak setarzan si bar-bar.


"Aku capek, Kim So Yoo. Lain kali saja jika ingin berdebat." sahut Ara tanpa berniat menghentikan laju langkah kaki puteri Hwa.


Sungguh ia sangat letih, setelah bertarung dengan dayang songong itu, tenaganya cukup membuat mood-nya berantakan total.


Dan sekarang, jika rubah ekor 10 itu tetap ngotot mengajaknya adu mulut, ia tak bisa menjamin balasan pada gadis itu, maka dari itu dengan sukarela ia memilih mengalah saja, kali ini. Saja.


"Hwa-ya!!!" suara Kim So Yoon masih bertahan memanggil puteri Hwa yang tubuhnya sudah diseret jauh oleh Ara.


Melambaikan tangan sambil berjalan, tanpa membalikkan tubuh.


"Lain kali saja, nona wolf-Hyna." Sahut Ara dari kejauhan.


"Wolfe apa katanya tadi.?" beo Kim So Yoon pada pelayannya yang juga termangu akan kata barusan.


"Ayo kita pulang, pelayan Sook." ujar Kim So Yoon pada pelayannya yang patuh mengikuti.


"Awas aja kalo gue papasan lagi sama orang kali ini." desis Ara, melihat puncak atap bangunan yang menjadi tujuannya. Lelah, dan mau beristirahat.


Tapi itu rencananya, yang sepertinya harus kembali terhenti... Lagi.


"Puteri Hwa." suara berat gagah, putera mahkota yang sekarang menghentikan langkahnya untuk rehat.


"putera mahkota." sahutnya.


Berat, ia menghela nafas gemas. Bisakah ini adalah orang terakhir yang akan menghentikan langkahnya untuk berbaring manis di bangunan itu, ya, bangunan yang puncaknya sudah dekat jangkauannya.


"Kau, kenapa?" tanya putera mahkota melihat gurat berbeda dari gadis di hadapannya.


"Aku lelah, yang mulia. Jadi. Bisakah kau nanti saja kalau ingin mengobrol." jawab Ara terus terang, tak ingin berbasa-basi.


"Kenapa majikanmu, dayang Han?" beralih tanya pada dayang Han.


"Aku mau istirahat, yang mulia. Jadi, please, gue mau balik, lelah." Ara melenggang tanpa peduli bahwa yang kini dilewatinya adalah putera mahkota, pria pujaannya.


Melengos tanpa menunggu kata yang baru saja hendak dilontarkan pria itu. Termangu melihat gadis yang pergi tanpa menunggu pelayannya dulu.

__ADS_1


__ADS_2