
"Arghhhhhh."
Prang!!!!!
Suara jeritan ratu yang ditambah dengan beberapa benda terjatuh, memancing perhatian orang yang berada di luar bangunan puteri Hwa.
Tap tap tap
Derap langkah ramai itu menelusup masuk.
"Yang Mulia ada apa?" Dayang ratu yang berjaga di luar terlihat khawatir mendapati majikannya berdiri mematung.
Ikut mengarahkan matanya ke titik yang sama.
Dan....
"Arghhhh." pekiknya melanjutkan ratu, pun dari arah belakangnya, satu persatu mengeluarkan teriakan serupa.
Manakala netra mereka sama-sama melihat sosok yang menjadi objek tatapan mereka, kini sudah duduk.
Jasad yang baru 1 hari itu sekarang malah menatap kearah mereka.
Dan tatapan itu, hidup. Karena bergerak memindai mereka.
"Pu-puteri,..." salah satu dayang yang tadi mengurusi ruangan itu, tergagap memanggil puteri Hwa.
"Yang-yang mu--mulia." lagi, dayang yang lain mulai mengeluarkan kata gugupnya.
"Ada apa ini??" suara dari posisi paling belakang menyadarkan mereka, menoleh.
"Paduka raja, putera mahkota." serentak mereka membungkukkan tubuh menyambut dua pria besar negeri ini.
"Ada apa berkumpul di sini semua.? kalian tahu bukan sebentar lagi upacara akan di mulai." suara permaisuri ikut merangsek masuk.
"Permaisuri." sambut mereka sama. Membungkukkan tubuh serentak.
Ketiga orang itu pelan berjalan menyusuri keramaian di depan ruang puteri Hwa.
"Ada aa..." raja tak mampu meneruskan ucapannya. Ia pun bungkam, sama dengan permaisuri serta putera mahkota.
Matanya juga membelalak sempurna, ketika bersitatap dengan gadis yang duduk di atas pembaringannya. Wajah itu tetap pucat seperti tadi, namun tidak dengan gerakannya. Tampak bingung menatap sekitarnya.
"Kenapa semua ramai-ramai, sih??" berhasil, Ara akhirnya berujar hal yang membingungkannya kala sudah bisa membuka mata puteri Hwa.
"Arghhh." ringisnya.
"Puteri,!!!" Dayang Han, yang tiba terakhir juga dibuat tak percaya, tadi ia mendapat kabar dari salah satu dayang perihal kebangkitan puteri Hwa dari kematian. Tak percaya? Sangat. Maka dari itu ia berlari cepat menyusuri istana untuk melihat langsung.
"Hei, Han-ah, ada apa ini.?" tanya Ara tak paham. Mana rasa sakit juga ia rasakan dari balik tubuh ini.
"Kenapa aku tidur di sini?" tanya Ara lagi, namun tak satupun ada yang mau menjawab tanyanya.
__ADS_1
Dari sekian kesadarannya, kenapa kali ini banyak sekali yang menyambutnya.
Gemas, menggerakkan kaki agar bisa dijuntaikan.
Dan, turun.
Hap!!!
"Arghhh." Ara terjatuh namun ia berhasil menahannya dengan posisi duduk.
"Hwa-ya." raja sigap mendekati puteri Hwa. Dan putera mahkota tak mampu mendekat, ia masih bingung dan tak percaya akan pemandangan yang tersaji di hadapannya.
Sementara ratu? Sama, ia masih mematung sempurna di posisinya yang tadi. Rasa syoknya masih terasa kental.
'Bagaimana bisa? Bukankah tadi, tidak, tidak, aku sendiri ikut memastikan kematiannya kemarin.' batin ratu.
"Ratu.!!" Permaisuri menepuknya dari belakang.
"Arghh." ratu nyaris terjengkang saking masih kagetnya.
"Kenapa denganmu, ayo kita bantu puteri Hwa." ajak permaisuri yang melangkahkan kakinya menuju puteri Hwa dan raja.
"Duduk dulu, lukamu masih belum sembuh." ucap raja menahan tubuh puteri Hwa yang hendak berdiri lagi.
"Singkirkan semua barang-barang ini!!!!" perintah permaisuri pada semua dayang dan pengawal yang segera diangguki mereka.
"Hwa-ya, apa kau baik-baik saja sekarang?" tanya permaisuri khawatir.
"Apa ada yang sakit, puteri Hwa?" lagi tanya wanita tua itu.
Dan Ara menggelengkan kepala puteri Hwa menjawabnya.
"Kenapa denganku, nenek?" tanya Ara pada permaisuri.
"Nanti, tunggulah, akan nenek jelaskan. Tapi tidak sekarang. Kau perlu tempat beristirahat yang baik, tidak di situasi seperti ini." ujar permaisuri teduh, mengelus pelan punggung tangan puteri Hwa penuh sayang.
***
"Apa katamu? Puteri Hwa hidup lagi?" raut wajah terbelalak kini dimiliki oleh Kim So Yoon.
Ia yang hendak mendatangi istana sebagai wujud berduka bersama keluarganya. Mendadak dibuat kaget oleh kabar barusan.
Salah satu bawahan ayahnya tadi memasuki halaman rumah dengan tergesa-gesa. Dan setelah itu kegemparan menyapa kediaman keluarga menteri Kim yang menular ke bangunan Kim So Yoon akhirnya.
"Begitu yang hamba dengan, nona Kim." jawab dayang pribadinya yang duduk bersimpuh.
"Bagaimana bisa?" gumam gadis itu tak percaya.
"Bukankah raja sendiri yang menyaksikan kematian puteri Hwa? Dan baru satu hari ia mati, lalu hari ini ia hidup?"
"Betapa konyol sekali hidupnya."
__ADS_1
"Aku mau menemui ayahku." Kim so Yoon berdiri lalu melangkahkan kakinya keluar.
Tujuannya adalah menemui ayahnya. Menteri Kim yang harusnya sekarang tengah menikmati teh di gazebo tempatnya biasa bersantai.
"Ayah." sapa Kim So Yoon, menaiki undakan tangga menuju ayahnya.
Terlihat jika menteri Kim masih setia dengan posisinya yang sudah 3 jam di sana.
"Ada apa puteriku? Apa kau juga tak percaya dengan kabar menarik itu?" menteri Kim segera menyambutnya dengan tanya yang pasti menjadi alasan Kim So Yoon mengunjunginya buru-buru seperti itu.
Mereka yang sama-sama mengenakan pakaian putih lambang berduka di era Joseon itu, saling duduk berhadapan.
"Benar, ayah. Bagaimana bisa puteri sialan itu hidup lagi?" tanya Kim So Yoon tak suka. Jelas dari nada bicaranya ia tak mengharapkan kehidupan puteri Hwa.
"Jaga bicaramu, So Yoon-ah. Bagaimana pun ia adalah puteri seorang raja." tegur menteri Kim. Meminta puterinya itu bisa menjaga lidahnya.
"Aku kesal saja ayah. Bagaimana mungkin puteri Hwa selalu berhasil lolos dari jerat malaikat maut." celoteh Kim So Yoon.
"Hei, jaga bicaramu, So Yoon-ah!!." hardik menteri Kim.
"Bagaimana jika ada yang mendengarnya.? Kau bisa terancam hukuman atas dasar tuduhan membunuh puteri Hwa, orang akan mencurigaimu sebagai dalang, paham!!" nasihat menteri Kim
"Kecuali memang itu mau mu, dan membuang impianmu menjadi seorang ratu negeri ini." lanjut menteri Kim.
"Tidak akan aku biarkan siapapun mengambilnya. Termasuk puteri buruk rupa itu." tegas Kim So Yoon mengepalkan tangannya.
****
Di bangunan puteri Hwa.
Setelah semua perlengkapan ritual orang mati sudah dibuang dari dalam ruangan puteri Hwa. Sekarang tata kamar itu sudah kembali seperti sedia kala, seperti saat si pemilik belum dinyatakan meninggal.
Dan sekarang, ia yang memang dasarnya dirasuki jiwa bar-bar. Sudah duduk menopang kaki bersila dan satunya ditekuk, tangan ia tumpu pada meja. Berpikir keras.
"Sebentar, ratu ngomong apa sih waktu itu? Kok aku lupa." ucap Ara berusaha mengingat.
Mengetuk jemari tunjuk yang ditekukkan ke meja, bibir ia gigit bagian bawahnya. Dan mata menyipit sempurna, berusaha menggali ingatan yang entah kenapa mendadak melupa ini.
"Ihhh, kok lupa sih." erangnya frustasi.
"Padahal belum tua amat deh gue dan puteri Hwa. Atau puteri ini lelet ya mikirnya." tuduhnya pada puteri Hwa.
Ketukkannya semakin keras, karena gemas.
Hingga, ketukannya berubah menjadi gebrakan keras.
"Ya.. Aku ingat!!!"
"Ratu bilang kalo puteri Hwa bukan anaknya!!!"
"Lalu, bagaimana dengan raja??"
__ADS_1