
"Bagaimana ini nyonya? Apakah rencana kita akan dilanjutkan atau berhenti sejenak.? Seorang dayang muda yang pernah dijumpai Ara dikediaman putera Mahkota, San-a tengah berbincang serius dengan sosok wanita bertudung hijau.
"Tahan dulu, yang memberi perintah belum menyuruh kita. Jadi, kita sementara ini awasi dulu puteri Hwa itu." Jelas nyonya itu.
"Tapi, nyonya. Puteri Hwa mencurigai saya sepertinya. Apakah...." dayang San-a tampak mencemaskan situasi yang sempat menekannya.
"Tidak mungkin, mungkin kebetulan saja. Tapi, kenapa tidak ada gosip yang keluar dari kediaman puteri Hwa? Bukankah kita sudah mengirimkannya sihir.?" tanya nyonya tersebut.
Dayang San-a tersenyum meringis sebentar.
"Kenapa?" tanya sosok misterius itu...
"Saya mendengar dari salah satu dayang di sana, saat sihir itu dikirimkan.... Puteri Hwa tak takut, atau tak berteriak sama sekali." jawab dayang San-a.
"Bagaimana bisa? Bukankah, puteri Hwa sangat takut dengan,.... Hewan itu?" heran perempuan misterius tadi.
Jelas sekali dalam semua ingatan penghuni istana. Ya, sangat terjamin malah kebenarannya jika puteri Hwa sangat takut dan mendekati istilah phobia serangga termasuk ulat.
Tapi... Dari info yang diterima,...
"Puteri Hwa malah menjadikan hewan itu seperti mainan, nyonya. Begitu kabar yang saya terima dari dayang di sana saat nona Kim So Yoon datang ke kediaman puteri Hwa." jelas dayang San-a meyakinkan.
"Apa perlu.... Kita coba dengan satu lagi hewan yang puteri Hwa takuti. Aku penasaran dengan perubahan puteri Hwa." ucap perempuan yang dipanggil nyonya.
Mengangguk, dayang San-a... "Baiklah nyonya. Akan kami persiapkan." jawabnya.
Dan, ketiga orang yang sedang merencanakan sesuatu untuk puteri Hwa perlahan membalikan tubuh mereka lalu melangkah ke sisi yang berlawanan, meninggalkan tempat di salah satu sudut halaman belakang bangunan yang cukup gelap.
Tapi, tidak untuk sosok yang sedari tadi ikut memperhatikan mereka dari sisi tersembunyi lainnya. Mendengarkan penuh kehati-hatian..... Seorang wanita berumur 30 tahunan awal, menutupi wajahnya dengan tudung ungu..... Dayang..... Dari kediaman....
"Bagaimana, apakah kau mendapatkan info lagi..?" puteri Ara. Yang kini dihadapkan oleh dayang yang menguping pertemuan rahasia tadi.
"Iya, puteri. Saya mendapatkan informasi bahwa mereka akan mencoba rencana lain terhadap puteri Hwa." Jelas dayang tersebut dengan suara amat pelan.
"rencana baru? Apa itu?" tanya puteri Ara yang juga memelankan suaranya.
"Mereka akan mencoba memberikan ketakutan lain terhadap puteri Hwa berupa hewan selain serangga dan ulat." jelasnya lagi.
Mengangguk, puteri Ara jelas tahu apa itu.
"Iya, aku tahu itu." Angguk si puteri.
Diam sejenak...
"Kau boleh pergi." perintah puteri Ara pada dayang tersebut yang diiyakan, perlahan mundur dan keluar dari ruangan.
Ketika dayang suruhannya telah pergi. Puteri Ara kini duduk dengan wajah serius.
"Jadi mereka mau melakukan hal itu, huh?" tanyanya sendiri.
"Sepertinya, aku sedikit bisa menebak siapa dalang dari semua ini." lanjutnya.
"Dayang Im, kau pelayanku, tapi kau berpihak padanya. Siapa pemilikmu sebenarnya??" lagi, puteri Ara bermonolog sendiri.
"kalian akan menerima hukuman berat jika saja, semua terungkap. Aku yakin itu." ucapnya lagi serius.
__ADS_1
Puteri Ara, yang memang tak menyukai puteri Hwa pada awalnya dan berubah benci ketika puteri itu berani bersikap arogan dan tengil terhadapnya baru-baru ini.
Akan tetapi, ia mengikuti perkembangan semua insiden buruk yang menimpa puteri itu. Dengan dalih bahwa ia menikmatinya, meskipun tujuannya adalah menghancurkan dalang sebenarnya.
"Aku tahu, jika... Orang terdekat puteri sombong itu pelakunya. Sungguh, miris sekali hidupmu puteri Hwa." ucapnya lagi.
****
Keesokan harinya.
Ara yang baru saja menapaki kakinya keluar dari kediamannya dikejutkan oleh..
Guk guk guk.
Seekor anjing kecil berwarna putih berlari menghampirinya.
Yang seketika terdiam...
Menatap
Lalu..
"Kyaaaaaa, lucu sekali!!!!" teriak Ara kala melihat seekor anjing yang benar-benar hadir di hadapannya.
Ia tak menyangka bisa menemukan hal seiimut ini di dalam istana.
Wait!!!
Semua perhatian menatap serius pada gadis yang riang mengangkat hewan berbulu itu. Lalu memeluknya..
"Puteri Hwa?" Dayang Han menatap tak percaya.
Melihat sosok puteri Hwa mampu menyentuh hewan berbulu yang.....
Tak akan mungkin di sentuhnya seumur hidupnya sebelum ini... Akan tetapi, sekarang??
Ada apa ini?? Benak mereka yang memperhatikan dengan wajah berkerut bingung sama-sama memikirkan kata yang sama.
Ara menoleh pada gumam dayang Han tadi.
Nyengir.
"Dayang Han. Anjing ini lucu sekali." ujar Ara tetap menempelkan hewan kecil itu erat pada tubuh milik puteri Hwa.
"Yang mulia.???" lagi gumam dayang Han dalam bentuk nada tanya yang terlontar spontan.
"Kenapa dayang Han, cengo kali muka mu?" balik Ara bertanya heran.
"Ce-cengo??" kini dayang Han yang membalas tanya.
"Kau itu, kenapa wajahmu....." Ara tersadar, bukan hanya dayang Han saja yang berekspresi seperti itu, akan tetapi....
Semua yang menjadi pelayannya memandang heran terhadapnya.
"Ada apa sih???" heran Ara mendapati tatapan seperti itu.
__ADS_1
"Puteri Hwa?" satu lagi suara ikut nimbrung di sana..
"Ratu." sambut Ara dengan tetap memeluk hewan berbulu itu.
"Kau, kau, memeluk anjing itu??" ratu bertanya dengan wajah sama herannya.
Ara menganggukkan kepala puteri Hwa.
Prok.. Prok.. Prok..
"Wahh puteri Hwa." tambah satu lagi suara ikutan nebeng kini.
Puteri Ara... Rivalnya Ara.
"Kau.. aku tak menyangka, berani juga kau menyentuh bahkan memeluk hewan berbulu itu." ujar puteri Ara yang semakin mendekatkan langkahnya menuju puteri Hwa dengan ratu di sisi gadis itu.
Ara heran, "Kenapa memangnya? Bukankah anjing ini tampak lucu untuk dilewatkan.?" Ara tak setuju.
Tergelak pelan, puteri Ara menutup mulutnya dengan salah satu tangannya..
"Oh ya? Tampak lucu ya? Lalu selama ini, apakah hewan ini tampak menyeramkan bagimu, puteri Hwa.?? tanya puteri Ara dengan wajah masih menyiratkan ekspresi bercanda tapi disertai sindiran.
"Menyeramkan?" Ara membeo ucapan yang ia tangkap dari puteri Ara.
"Apakah kau ini, bukan puteri Hwa?" tuduh puteri Ara.
Mendengar hal itu, kini Ara yang malah terbahak.
"Bibi, bibi.. Jika aku bukan puteri Hwa, lalu aku siapa. Bibi ini lucu sekali sih." Ara mencoba menyangkal tuduhan dari puteri Ara. Walaupun, jelas benar sekali tuduhan barusan.
"Oh, ya??" sahut puteri Ara.
"Puteri Ara." suara Ratu menyela situasi panas ini.
Puteri Ara menoleh pada sang ratu. Namun, tatapannya seolah hendak menertawakan perempuan yang baru memanggil namanya.
"Kenapa ratu? Apakah aku salah? Bukankah kau juga memikirkan hal yang sama?" sahut puteri Ara yang kini menatap ratu dengan raut senyum mengejeknya.
"Bibi, apa maksudmu?" putera mahkota kini sudah berdiri tepat di belakang puteri Ara.
"Putera mahkota? Wah kebetulan sekali semua berkumpul." ucap puteri Ara.
"Bibi, apa maksudmu tadi." Ara kini kembali menyela perempuan yang tampak bahagia itu.
"Oh ya. Aku lupa." jawab puteri Ara.
Mendekat, semakin menipiskan jarak dengan puteri Hwa.
"Aku tahu, kau bukan puteri Hwa." kembali, tuduhan yang sama terlontar dari mulut puteri Ara.
Dan Ara terkekeh mendengar bisikan barusan.
"Lalu... Aku sia...." belum sempat selesai, puteri Ara menyela...
"Kau, jiwa yang lain yang terperangkap dalam tubuh puteri Hwa, bukan???" bisik puteri Ara lagi.
__ADS_1
Dan... Ara terbelalak mendengar kalimat barusan.
Oh gosh!!!