
"Dayang Han!!!"
Suara pekik keras membahana dalam bangunan milik majikannya. Jadi, yang berteriak seperti itu, tentu saja si pemilik bangunan, puteri Hwa, yang tengah dirasuki jiwa bar-bar tengil itu.
"Dayang Han." Para dayang yang menyambut pelayan itu ketika di depan pintu geser itu, sontak menatapnya iba dan juga meringis. Dari kemarin si puteri kerap bertingkah seperti itu kepada mereka semua, namun dayang Han, itu yang paling sering.
Semenjak bangun dari kematian, majikan mereka berubah menjadi menyeramkan.
"Hyuhhhhh." ucap dayang Han menarik nafasnya banyak dan berat. Siap menghadapi puteri Hwa.
Srettt.
Pintu pun berbunyi menyeramkan kala di buka, seolah menambah mistis hororisme yang tengah menunggu di dalam sana.
Dan benar saja.
Saat pintu terbuka, mereka, yang berada di balik pintu, kini bisa melihat ke dalam. Di sana, puteri Hwa, sudah memancarkan aura panas sampai ke sendi mereka.
"Hati-hati dayang Han." bisik salah satu dayang, dengan gerak bibir pelan.
Masuklah si pelayan muda itu. Menapak dengan langkah yang berat, terasa jauh sekali rasanya untuk tiba ke majikannya.
"Ya, yang mulia." ucapnya kala jarak sudah terkikis.
"Kemana saja, sih. L.A.M.A." gerutu Ara menyambut dayang Han. Jangan lupakan bagaimana rupa gadis itu, wajahnya dilipat sekian kali lipat. Entah bagaimana Ara melakukan itu pada wajah cantik si puteri.
"Ha-hamba tengah berada di-di per-perputakaan anda, puteri Hwa."
"Heh." dengus Ara mendengar alasan itu. Suka sekali dayang itu mengurung diri di ruangan itu. Buku? Heh, bukan Ara sama sekali. Kertas berlapis dengan pengetahuan di dalamnya, tak memantik niat Ara untuk membacanya. Menjauhinya? Mungkin lebih sering.
__ADS_1
"Ada apa, puteri Hwa anda memanggil hamba?" kalimat tanya itu meluncur dari bibir tipis dayang Han.
"Yang aku minta, apa semua sudah kau temukan? Lama sekali sih kau mencarinya." jawab Ara mengingat perintahnya yang tersusun dalam daftar list tempo hari waktu itu.
Dayang Han terjengkit kala diingatkan. Bukannya kenapa-kenapa, masalahnya, isi yang diminta puteri Hwa, banyak yang ia sulit menemukannya. Bahkan ketika ia meminta di tiap bagian penyediaan, mereka menatap dayang Han sama semua, menyelidik.
"Masih ada beberapa yang sulit untuk hamba temukan, yang mulia." jawab dayang Han pelan. Bahkan wajahnya kini tertunduk dalam.
"Cih, coba saja delivery barang sudah ada di zaman ini. Tak sulit gue nyarinya." sungut Ara mengingat zaman pas-pasan ini, membandingkan dengan era-nya yang sudah mudah tersedia.
"De-delivery-e.?" beo dayang Han, menangkap kosakata nyeleneh lainnya dari gadis yang tengah duduk dengan lembaran kertas yang sudah ia robek menjadi rutinitasnya.
"Aih, malas aku menjelaskannya, Han-ah." lagi, Ara memasang ekspresi enggan.
Dan tersimpan lagilah cuitan dayang Han barusan. Karena memang kini majikannya itu sudah sangat jarang mau membagi hal aneh yang kerap keluar dari bibirnya. Tak seperti waktu itu, ya, seperti sebelum gadis itu meregang nyawa dan terbaring dalam balutan baju orang mati.
"Siapkan aku patbingsu sana. Aku mau yang segar dan manis sekarang." titahnya kemudian.
"Pasti dayang Han kurang maksa minta ke bagian penyedia." asumsi Ara ketika dayang yang tengah ia ghibahin sudah menghilang dari balik pintu ajaib itu, eh pintu geser maksudnya.
"Sepertinya, gue harus turun tangan kalo gitu." lanjutnya, dengan tangan sembari menggoreskan kata di atas lembaran kertas, menggunakan huruf latin, ia menuangkan beberapa hal yang menjadi kebiasaannya semenjak di sini. Membuat prakarya untuk digantungkannya di balik tirai lipat di belakangnya. Misi detektif Ara. Suka sekali pokoknya si tengil akan aksi mengintai itu. Cita-citanya kah?
Ke esokan harinya....
"Ya-yang mu-mulia!!!" ekspresi kaget serta gugup melingkupi wajah bagian penyedia bahan makanan. Ara, gadis itu tengah menginspeksi bagian yang dari list dayang Han, belum memenuhi daftarnya
Dengan sikap pongah, ia membuat tubuh puteri Hwa layaknya berkacak pinggang. Sungut wajahnya, mata menajam dan aura bossy-nya seketika mengintimidasi beberapa pelayan di sana.
"Kata dayangku, kau mengatakan tidak ada barang yang dicarinya, begitukah?" Ara sudah melayangkan tuduhan pertama pada pria paruh baya itu, sepertinya ia kepala bagian bahan-bahan makanan di sini.
__ADS_1
Peluh serta sikap gugup menguar langsung dari tubuh kepala bagian itu, ia ingat, memang saat itu, pelayan yang kini berdiri di sisi kiri puteri Hwa mendatanginya untuk meminta timun padanya dalam jumlah yang banyak. Maka dari itu, ia menganggap hal tersebut seperti lelucon saja. Mau di apakan coba buah sekaligus sayuran itu, heh?
"Ma-maafkan ha-hamba puteri Hwa." sahutnya merasa tertangkap basah oleh anak si pemilik jiwa mereka.
"Heh." dengus Ara menambah derap gugup pelayan di sana. Mereka sudah mendengar gosip yang beredar, menyatakan puteri kesayangan baginda raja bangkit kembali dari kematian, dan bertingkah aneh layaknya pribadi lain setelah itu. Lalu, bukti keanehan itu kini menyapa ruangan mereka, puteri yang tak lagi mengenakan cadar tipis itu, aneh sekali sikapnya. Mendadak bersikap semena-mena.
"Cepat, mana bahan-bahan yang aku minta melalui pelayanku. Kalau tidak mau memberikan, maka......" ia menatap intens kepala bagian bahan makanan, membuat pria itu kembali terintimidasi.
"Maka akan aku buat ruangan ini porak-poranda, mengerti!!" lanjut Ara mengancam. Suka sekali sekarang si tengil itu melontarkan kata-kata ancaman pada bawahannya.
"Ba-baik yang mulia." sambut kepala bagian bahan makanan segera. Pria itu menatap anggotanya agar bergegas mencari bahan-bahan yang diminta majikannya itu.
Ara bisa menonton tingkah gugup pelayan itu, sungguh, ia rasanya ingin jingkrak senang kala bisa mengatur pelayan-pelayan di istana. Meskipun ia memang tengah menerapkan wacana balas dendam pada semua isi istana, tapi tetap saja ia merasakan kelucuan dari hasilnya.
Di tempat lain...
"Apa katamu, puteri Hwa tengah mendatangi bagian penyedia bahan makanan? Siang hari begini?" ratu, yang mendapatkan info dari salah satu bawahannya sontak merasa penasaran. Aktif sekali gadis itu sekarang.
Dan, gosip yang ia dengar pun cukup menggelitik, puteri Hwa bahwasannya bersikap semena-mena sekarang, para pelayan pribadinya-lah yang merasakan, dan menyebarkan gosip bangunan itu.
"Iya yang mulia ratu." jawab salah satu dayang yang merupakan salah satu pelayan puteri Hwa kini duduk melasah di hadapan ratu.
"Jadi begitu, gadis itu mau merencanakan hal rahasia rupanya." gumam ratu pelan. Ia sebelumnya juga mendapat info bahwa puteri Hwa mengunjungi tempat penyedia obat-obatan atau tabib, tempat penyedia perlengkapan mandi dan berhias serta terakhir kali juga ke penyedia kertas.
"Bangkit dari kematian dengan tingkah yang baru rupanya." lanjut ratu.
"Apa mungkin jiwa yang merasuki puteri Hwa itu, bukan miliknya yang mulia?" tanya dayang itu berasumsi.
"Maksudmu?" ratu tak paham
__ADS_1
"Apa mungkin, salah satu roh lain merasuki tubuh puteri Hwa ketika ia meninggal waktu itu, ratu." jawab dayang.
"Maksudmu, itu bukan jiwa puteri Hwa?"