
"Gue gak mau ngebiarin kesempatan ini hilang gitu aja." celoteh Ara saat kakinya sudah berhasil menapak di tanah. Mengabaikan seruan pengawal yang bingung, si puteri mau ke mana.... Sendirian?? Pagi-pagi begini? Tanpa pemberitahuan?
"Bestieeee!!!!!" Panggil Dayang Han, yang tergopoh-gopoh sembari memanggil puteri Hwa yang melangkah tergesa-gesa. ia sempat berhenti sejenak, mendelik pada pengawal yang masih belum ON rupanya
"Kalian, kenapa masih berdiri di sini? Ikuti Yang Mulia!!, kami mau ke kediaman Putera Mahkota.!" tegas dayang Han memberi perintah yang segera diangguki oleh 2 orang lelaki itu.
Sementara Ara, ia turut menghentikan langkahnya saat sadar jika... Dayangnya ketinggalan coy.
Semangat boleh, tapi jangan abaikan keselamatan. Ya kali dia inget mana jalan ke kediaman putera mahkota. Kan dia belum pernah ke sana....
Menepuk keningnya keras,....
"Ihhh. Buruan Han-ah!!!!!" sambut Ara akhirnya.
Menunggu dayangnya yang, aduh kasian sekali. Menyeret langkah mungilnya menuju si bar-bar.
Cukup lumayan buat olahraga pagi-pagi
Sesampainya dayang Han, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, lalu.. "Yang Mulia, kenapa tidak menunggu pengawal dan para dayang terlebih dahulu?" Tanya Dayang Han di sela tarikan nafasnya.
"Lama." Jawab Ara, singkat, padat, jelas.
"Yang Anda cari tentu masih berada di sana, Yang Mulia, namun keselamatan Anda jauh lebih diutamakan agar ketika bertemu dengan orang itu, Anda siap." Jelas dayang Han, yang dipahami Ara bahwa benar adanya, keselamatan dan.... Saksi itu penting..
Bagaimana jika dalam perjalannnya ke kediaman putera mahkota, dirinya....
Di cegat anggota bunga?
Dibegal?
Di culik?
Di belai dengan senjata tajam?
Atau lebih buruknya di sekap, terus di bunuh?
Game over lah nasib Ara, ya kan??
Oke, ia butuh pengawal, dan saksi kalau begitu. Atau lebih tepatnya, butuh tim pengeroyok jika ia kewalahan.
Lah.... Macam mau tawuran aja kau
Derap langkah para pengawal berikut dayang-dayang sudah siap dalam formasi masing-masing.
"Come on, bestie, let's go." Ajak Ara pada dayang Han yang kembali teringat kosakata baru yang terucap oleh puteri.
__ADS_1
Mencoba mendekati sang puteri, dayang Han setengah berbisik.
"Yang Mulia," Panggilnya pelan, yang mendapat sahutan jawaban berupa deheman dari Ara.
"Saya mau bertanya." lanjut dayang Han, yang kembali di sahuti Ara dengan deheman.
"Eummm, itu... let, let, apa itu tadi, go, go let.... Itu artinya apa, Yang Mulia?" Tanya dayang Han yang tetap mempertahankan langkah stabil kala mengikuti Ara yang tak mau berhenti sama sekali.
Ara terkikik pelan, membuat dayang Han cemberut.
"itu let's go, Han-ah, L-e-ts Go." Jawab Ara yang juga mengeja kata ajaib itu pada si dayang kepo ini.
"Lets go?, begitu Yang Mulia?" Tanya dayang Han mengkonfirmasi ucapannya barusan.
"Betul sekali, dayang Han. Kau semakin pandai rupanya, atau.... kau ini memang pandai, sih?" jawab Ara menoleh sekilas dan melempar pujian berupa acungan ibu jarinya untuk dayang Han.
"Artinya itu, "mari pergi", Han-ah." Lagi Ara menjawab rasa penasaran dayangnya itu, yang kini mengangguk-anggukan kepalanya pertanda paham.
"Saya hanya belum paham,....." ucapan dayang Han terpotong sejenak, mencari kata yang pas agar dirinya tidak membuat si majikan marah...
"Heumm,?" tanya Ara berupa dehaman singkat.
Dayang Han mendekati tubuhnya kembali, berbisik seperti sebelumnya.
Ara mengayunkan telunjuk kanannya, tepat di posisi dayang Han kini. Dan yang diberi kode pun mendekat patuh.
"Bahasa ketika kau sudah sedikit lagi di alam kematian, Han-ah" Jawab Ara dengan nada yang dibuat seserius mungkin, dan membuat dayang Han bergidik horor sesuai dengan tujuan Ara, membuat takut si bestie.
Dan detik berikutnya...
Tawa Ara meledak, membuat barisan yang tadi harmonis dalam langkahnya, kini.... Saling bertubrukan, hingga ada yang nyaris terjatuh.
Ara menoleh, karena suara berisik di belakangnya.
"Hati-hati bestie" ujar salah satu dari dayang
"Dia yang duluan, bestie" tunjuk dayang yang disalahkan pada dayang di depannya.
"Dia bestie." sanggah yang disalahkan.
"Heiii, ada apa ini???" Tanya Ara dengan kening berkerut heran. Bukan apa-apa, tapi, kata itu... Kenapa mereka menggunakannya, dengan cara pengucapan yang.... "aneh" sihhhhhh?????
"Dia, Yang Mulia. Berhenti mendadak." Tunjuk dayang yang ada di sisi kiri dua baris di belakang Ara.
Ara menatap yang dituduh, benar sekali, gadis yang sepertinya usianya tak jauh dari puteri Hwa tertunduk takut dengan tubuh bergetar sedikit.
__ADS_1
"Kau, kenapa?" Tanya Ara heran.
"Sa-saya hanya kaget, mendengar Yang Mulia tertawa." Jawabnya pelan, sebenarnya, sama saja... Para dayang di belakangnya pun juga mendadak berhenti, hanya saja, dayang itu yang terlebih dulu menghentikan langkahnya, hingga mengagetkan dayang yang ada di belakangnya yang belum berhenti sempurna.
Ara yang mendengar jawaban itu, tentu heran....
"Kenapa memangnya? Apa yang aneh dengan tertawa?" tanya Ara bingung.
Menoleh pada dayang Han yang berdiri pasti di posisinya.
"Apa salah jika aku tertawa, dayang Han??" Lempar tanya Ara pada dayang setianya itu.
Cukup kaget dengan tanya dari si puteri, Dayang Han malah meminta bantuan jawaban pada para dayang dan pengawal yang kini saling berhadapan dengannya.
Namun,,, krik krik krik.
Memang doi kira bisa call your friends? Gitu??
Mana berani mereka Han-ah.
Menggeleng tak yakin.
"Kan, tuh, dayang Han saja bilang tidak masalah jika aku tertawa. Lebay kalian."Sergah Ara gemas lalu membalikkan tubuhnya dan melangkah kembali.
Sementara para pelayannya saling bertatapan, terutama pada dayang Han yang kini juga menggelengkan kepalanya pertanda ia juga tidak bisa menjelaskan kebingungan semua rekannya.
"Hei bestie, mari kita ke bagian menjahit" seru dayang yang membawa keranjang berisi kain di dalamnya pada dayang yang berpapasan dengannya.
"Ayo, bestie, aku sudah tidak sabar bertemu bestie di sana." Sahut temannya yang diajak tadi.
Di lain sisi..
"Woy bestie, bagaimana kabar keributan di tempat perjudian yang kalian lakukan semalam?" Tanya seorang lelaki yang sepertinya dari seragamnya merupakan petugas bidang hukum alias kepolisian mungkin jika di zamannya Ara.
Lalu di lain sisi satunya,
"Bestie, bagaimana rapat yang akan diselenggarakan hari ini? Apa kau tahu yang akan di bahas Yang Mulia Raja?" Tanya pria yang usianya sudah sepuh.. sepuhhh loh!!!!!
Yang dijawab rekannya, "Aku tidak tahu bestie. Ayo cepat nanti terlambat." Ajaknya segera.
Sepanjang jalan, Ara tak luput mendengar celetukan para penghuni istana yang hilir mudik, mengucapkan kata "BESTIE", kenapa kata itu seolah jadi kosakata trend di kalangan istana ini. Meski ia sedikit geli kala kata itu terasa aneh diucapkan mereka, apalagi untuk kalangan para sesepuh tadi. Ara mencoba menahan tawanya. Kala kata itu mendadak tenar di istana.
Begitupun dayang Han, ia yakin jika para dayang yang berada di pemandian waktu itu yang menyebarkannya.
Dasar!!! penggosip!!.
__ADS_1