
Syuhhhhhh
Terima kasih Tuhan
Karena berkat.......
"Kalian tetap di sini, paham!" itu kalimat pendek namun sarat akan makna tegas dan dalam, bahwa si pemilik suara tengah memberikan titahnya.
Ya, siapa lagi yang lebih berkuasa di dalam ruangan milik puteri Ara saat itu. Jika bukan, sosok raja di kemudian hari... Yes, kalian benar, babang tamvan si putera mahkota.
"Baik putera mahkota" sahut ketiga gadis labil, puteri Mi, puteri Yi dan puteri Hwi. Dengan raut wajah sebal dan rungutan di masing-masing bibir mereka.
"Wah segar sekali!!!" pekik Ara di saat langkahnya sudah berhasil sampai di pinggiran danau tempat favoritnya bersama dayang Han. Apa lagi kalau bukan danau ghibah.
Kenapa danau ghibah?
Karena di danau inilah, Ara merasa pikirannya begitu liar, tak ada sela sedikitpun penghuni istana yang tidak ia gosipi bersama dayang Han.
Bawaannya itu, tempat nyaman dan adem, dengan camilan dan minuman menyegarkan pastinya.
"Kau suka, puteri Hwa?" tanya putera mahkota menatap intens penuh keteduhan.
"Ehmm, sangat, rasanya, sungguh melegakan." jawab Ara tanpa menoleh ke asal penanya yang masih setia memandang wajah cantik milik puteri Hwa.
Seolah,,,,, ada kerinduan dari arti tatapan itu.
"Sudah lama sekali aku tidak kemari." lanjut Ara pelan, matanya menatap lurus menerjang tumpukan air jernih dengan hamparan bunga teratai berwarna putih dan merah muda.
"Sejak...... Sejak kejadian mengerikan itu." Ara berucap seraya menyentuh bagian tubuh puteri Hwa yang menjadi penyebab dirinya nyaris meregang nyawa.
Goresan pedang yang dalam kala itu. Oleh si penyerang yang sampai kini masih belum bisa ditemukan keberadaannya.
Hening.
Putera mahkota enggan menyela sama sekali. Ia bertahan menjadi pendengar yang baik bagi gadis yang duduk di sisi kirinya.
Keteduhan wajahnya pun masih bertahan menatap sosok cantik itu.
Hingga...
Brakkkk!!!
Ia dikejutkan oleh aksi bar-bar yang diberikan jiwa tengil si Ara yang menggebrak gazebo yang mereka duduki.
Dan sekejap juga Ara bangkit berdiri, mengepalkan tangan, dan mengubah raut wajah puteri Hwa menjadi sengit.
"Liat aja mereka pada, ketemu sama gue, bakalan gue...." Ara menarik ujung jempol puteri Hwa dan di denguskan di hidung.
__ADS_1
Mirip gaya preman kali kau, huh!!!
"Pu-puteri Hwa?!!" panggil putera mahkota bingung.
Dan Ara menyadari..
"Hehe, maaf oppa." ringis Ara malu, ia kelepasan.
Dan mengambil gerak anggun untuk duduk kembali, layaknya seorang puteri raja seharusnya.
"Oh ya oppa!." kejut Ara seketika. Tapi bukan itu inti kejutannya, karena kini dampaknya cukup drastis terhadap pria yang duduk di sampingnya.
Ya, Ara dengan santai menepuk paha pria itu seolah biasa saja seperti di dunianya.
Tapi bagi putera mahkota, dampaknya adalah, seketika itu juga darahnya berdesir dan jantungnya memacu darah lebih cepat dari sebelumnya.
Hingga kini, Ara menangkap gurat rona meskipun putera mahkota bertahan dengan tubuh mantapnya.
'Nie orang kenapa?' batin Ara heran.
"Oppa?, hei oppa!!" panggil Ara seraya mengibaskan telapak tangan puteri Hwa di hadapan wajah putera mahkota.
"Ah. Iya, kenapa puteri Hwa?" jawab putera mahkota yang berusaha mempertahankan sikap gugupnya.
'Dia masih belum sadar dengan dirinya. Jadi, aku tidak bisa bertindak apapun.' gumam putera mahkota dalam hatinya.
Kini ia memutar tubuh puteri Hwa agar sepenuhnya menghadap pada kakak puteri ini.
Biar mantap rapatnya dong.
"Jadi begini, oppa." mulai Ara, matanya pun ia putar ke segala penjuru, di mana letak para dayang dan pengawal dari masing-masing puteru Hwa dan putera mahkota cukup jauh untuk menangkap suaranya nanti.
Menarik nafas dan memberi efek dehaman singkat.
"Ekhem."
"Oppa, bagaimana hasil penyelidikanmu tentang kematian pengawal di bangunanku, oppa." ucap Ara pelan, nyaris lebih mirip dengan bisikan, terlebih si tengil bar-bar ini mencondongkan tubuh agar lebih tak terdengar telinga gajah penggosip.
"Aku sebenarnya sudah mendapatkannya, Ara-ya." jawab putera mahkota, dengan ujung ucapannya membuat Ara berniat merona, tapi menjaga diri.
Cepet amat baper yak. Tahan.
"Oh ya? Lalu, lalu bagaimana." tanya si tengil penuh antusias.
"Kau begitu bersemangat, puteri." ucap putera mahkota menaikan salah satu alisnya.
"Jelas oppa. Aku gemas sama mereka." sahut Ara
__ADS_1
"Gemas?" ulang putera mahkota pada kata aneh yang kembali keluar dari bibir puteri Hwa yang diucapkan oleh alien planet pluto itu.
"Itu, ehmmm begini." Ara mencoba mencari penjelasan dengan gerakan.
Lalu... Ia meremas lengan kokoh yang bugar milik putera mahkota hingga pria itu terjengit.
"Nah, itu artinya gemas, oppa." jelas Ara lagi.
Dan pria itu hanya ber'o" ria saja.
Paham.
"Kau ge-gemas karena apa?" tanya pria itu.
"Aku mau menghajar pelakunya." jawab Ara tegas dan penuh semangatnya.
"Menghajar? Apa kau yakin, puteri Hwa?" Decih pria itu disertai ledekan tawa kecilnya.
"Oppa, apa kau lupa. Aku bisa beladiri, bukan?: tanya Ara yakin.
Ya, Ara sangat tahu jelas, jika pria yang duduk di hadapannya ini, sangat tahu perihal puteri Hwa jago beladiri.
Meskipun teknik yang ia miliki berbeda dengan yang Ara pelajari. Beladiri kuno dan modern campuran.
Ara sedikit paham ketika menggunakan tubuh ini, walau lembut tapi tak menolak setiap gerak keras yang Ara lakukan. Dan tubuh ini juga tidak kesulitan atau mampu menahan rasa sakit akibat cidera.
Dan yang paling membuat Ara tahu adalah.... Perlengkapan di ruang rahasia villa milik puteri Hwa.
Di dalam ruangan itu, ia menemukan berbagai senjata baik yang terbuat dari kayu, batu hingga benda tajam dari besi. Selain itu, ia melihat ada beberapa potong pakaian yang kerap dipergunakan pendekar era jaman dulu kalau ingin bertarung atau berlatih.
Dan pastinya, gadis yang Ara tumpangi tubuhnya, tidak sekonyong-konyong berlatih sendiri.
Karena, pria ini alias putera mahkota, adalah guru rahasia yang mengajarkan berbagai teknik beladiri yang sering mereka lakukan di hutan belakang lorong rahasia bangunan villa itu.
"Iya kan, oppa. Guruku." ujar Ara lagi.
"Heh" dengus putera mahkota dengan senyum menawannya menatap lawan bicaranya.
'Buju buneng. Tahan Ara, tahan, aduh biyung itu senyumnya kelewat batas.' batin Ara menahan diri tidak menyerang pria itu yang memberinya senyum menawan.
"Apa kau sudah ingat. Puteri Hwa?" tanya putera mahkota menatap intens puteri Hwa. Membuat dentum jantung yang Ara rasakan kini bergejolak tak menentu.
'Kenapa ini? Kenapa gue deg-deg ser ser tak jelas sih.' batin Ara merasakan degub jantung milik puteri Hwa.
"I-i-ingat? Ing-ingat ap-apa?" tanya Ara.
Sialan, kenapa dirinya merasakan gugup sekarang. Mana jantung ini belum berhenti olahraga di dalam sana.
__ADS_1
'Degun jantung siapa ini, sialan' batin Ara