
"Settan tuh cowok. Masa bodo dia paman puteri, tapi bagiku tak lebih dari....."
Kini Ara meremas kertas yang sudah di baginya menjadi lembar sticky note seperti biasanya. Mendadak kesal dengan sosok paman yang diketahui namanya adalah Won itu.
"Cih, gue ragu dia paman ini puteri, nemu dimana raja sampe bisa jadi anaknya. Mana kayak gak jauh gitu umurnya sama putera mahkota."
Terus saja lambe puteri Hwa diracun oleh Ara dengan kalimat umpatan.
"Sialan, arghhhh."
"Kucing garong"
"Om-om genit."
"Macan Gerandong."
Absennya mengumpat pria tersebut.
Bagaimana tidak. Sejak awal bertemu ia sudah dibuat gondok. Begitu sudah tahu siapa pria itu, bertambah gatal lah jiwa Ara akan perlakuan pria itu.
Meski sudah dikenalkan sebagai paman, tapi tingkah pria itu tak ubahnya cassanova penakluk ribuan wanita.
Genit, kerap mengacak puncak kepala puteri Hwa meski dibalas tatapan tajam tapi tak gentar sama sekali.
Ia tak kenal pria itu, dan Ara enggan bertem.....
"Yang Mulia, tuan Won datang mengunjungi anda." sayup suara dayang penjaga pintu mengabarkan kedatangan seseorang yang sedari tadi di maki gadis itu.
"Aishhhh, kenapa malah kemari itu om-om sih." gerutunya tak ikhlas menyahut.
"Yang Mulia, tuan Won datang mengunjungi anda." ulang dayang tersebut ketika tak ada sahutan dari majikannya.
Hening
Mabok jengkol majikan Lo.
"Yang Mu...------"
"Masuk.!!!." jawab Ara keras.
Membuktikan bahwa ia tengah dalam keadaan mood buruk.
Sebal, kesal, gondok.
Semua karena.....
Sreettt
Ya, karena pria yang sudah muncul dari balik pintu geser.
Nah lihatlah, betapa tengilnya pria itu sekarang. Meski kakinya sudah pelan menapak satu demi satu lantai ruangan puteri Hwa, senyum di wajah itu menyiratkan betapa tengilnya pria itu.
Lalu Ara?
Gurat wajahnya tetap stabil, menatap dengan malas.
Jika bukan karena menghargai jiwanya agar tidak di embat malaikat maut karena menghina keluarga kerajaan, sumpah dia bakalan menjegal pria itu segera.
Sampe segitunya, ntar cinta loh.
'Gile, gak bakalan, dih.'
"Apa kabar puteri Hwa.??" Denger kan, kenapa pula doi menanyakan kabarnya, kan tadi juga ketemu di kolam, dah lihat juga penampakan puteri Hwa baik-baik saja. Hanya roh dalam tubuh ini saja yang patut dicurigai keadaannya.
"Baik." singkat, padat, dan berat sekali lidah itu untuk menjawab.
__ADS_1
Won menarik sudut bibirnya, terkekeh, tak tersinggung sama sekali akan sikap gadis di hadapannya ini.
"Sepertinya aku pergi terlalu lama, ya? Kau sungguh sangat merindukanku sepertinya."
'What???!!!' jerit batin Ara kala mendengar ucapan penuh.percaya diri itu.
Membolakan mata, dan menganga selanjutnya.
"Wah sepertinya sangat benar, ya?" lanjut Won menggelakan tawa hingga pundaknya ikut berguncang.
Ara kembali dibuat tertegun akan sikap songong itu. Tak habis pikir, apakah puteri Hwa begitu dekat dengan sosok bernama Won ini, hingga dengan santainya pria itu mengumbar kalimat berlebihan itu.
Bukankah mereka terlalu dekat? Raja saja tak sebegitunya pada puterinya.
"Apakah kita memang sedekat ini?" tanya Ara layaknya berbicara dengan yang seusia dengannya.
Ia tak menggunakan panggilan PAMAN pada pria itu.
Won mengangguk, sangat meyakinkan malah anggukannya.
"Tapi kalau perhatikan....." Ara menatap intenst wajah pria itu.
"Ada apa? apa aku bertambah tampan setelah pergi lama, Hwa-ya?" kan, padahal tak ada tujuan Ara memujinya, sedikitpun tidak, tapi kenapa pria itu....
Aihhhhh, sepertinya kelebihan saraf percaya diri orang itu.
"Aku tidak memujimu, kenapa kau percaya diri sekali?" Gemas Ara tak sabar.
"Benarkah?" sungguh, pria ini jangan sampai hidup di zaman Ara, awas saja, heels melayang.
"Aku serius, diam." delik Ara mengancam.
"Baiklah, baiklah. Kenapa dirimu tambah menyeramkan saja, apa kau kerasukan, Hwa-ya??" cetusnya begitu saja.
Tanganya mengepal. Gemas mau menerjang pria itu hingga ke kolam.
"Iya. Aku kerasukan roh cantik, kenapa??" semprot Ara tak tahan.
'Ya Tuhan. Sabarkan hambamu,...' pelannya berucap dalam hati.
"Ya, baik-baiklah. Tenang-tenang, ya." dengan santainya menyiram air kedamaian bagj gadis itu, terlambat, apinya sudah besar.
"Aku mau bicara, Won." ujar Ara menampik status pria itu sebagai paman hingga namanya kini menyembul santai.
"Upsss!!!" Nyadar, menutup rapat bibir.
"Tak apa. Lanjutkan, kau mau bicara apa tadi."
Selamet,, selamet.
Pelan Ara menarik nafas.
"Kenapa kau tidak ada mirip-miripnya dengan keluarga kerajaan, jika memang kau pamanku." tanya Ara berdasarkan dugaannya.
Meski pria itu anak selir raja terdahulu, tentu akan ada kemiripan meski sedikit, bukan?
Won mengangguk berulang dengan pelan. Menyerap kalimat tanya barusan.
Hingga....
"Tapi apa kau lupa, puteri Hwa....." jawabnya menjeda.
Ara menunggu.
"Memang aku tidak ada kemiripan dengan anggota keluarga kerajaan manapun, tapi....." lagi-lagi menjeda hingga membuat Ara tak sabar menunggu.
__ADS_1
"Apa, apa." todong Ara tak sabar.
"Bukankah kita berdua justru sangatlah mirip, bukan?" tembaknya menjawab sekaligus bertanya.
"Apa? Ki-kita?"
"Hmm, kita."
.
.
.
.
.
.
Selepas pria itu pergi. Tinggal-lah Ara dengan wajah yang masih terbalut kebingungan.
Ia masih berusaha mencerna satu persatu kata-kata yang disampaikan Won sebelumnya.
Dengan wajah serius, Ara mengajak otakny dan otak puteri Hwa bekerja sama, untuk berpikir keras. Karena hanya mengandalkan otaknya saja, ia masih oleng.
"Maksud Won tadi, kami mirip?"
Menopang dagu dengan telapak tangan.
Menatap serius ke arah pintu geser yang sudah tertutup sejak tadi.
"*Sepertinya, apa yang mereka lakukan terhadapmu cukup parah, Hwa-ya."
"Cukup membuat ingatanmu tentang kehidupanmu yang sesungguhnya menjadi lenyap begitu saja*." Won mengepalkan tangan. Pria itu tampak serius dengan kalimatnya. Seraya meringis seolah ikut merasakan kesulitan yang menimpa puteri Hwa.
"*Cepatlah sembuh, karena aku menunggumu, keponakanku."
"Apa maksudmu, huh? Aku tak paham*." Ara menodong pria itu yang mengucapkan kata-kata ambigu tak jelas.
"*Kita adalah keluarga, puteri Hwa. Ahh atau perlu aku sebut namamu, Haneul." Tutur Won menatap lembut puteri Hwa.
"Haneul? Itu namaku*?" Ulang Ara meminta penjelasan.
Diangguki Won.
"*Apakah itu artinya....."
"Iya, kau, adalah keponakanku*."
"Tidak masuk akal, kau bilang bukan keluarga kerajaan, sedangkan aku adalah puteri seorang raja. Mana mungkin kita satu keluarga." Tolak Ara enggan menyetujui.
Pria itu menyunggingkan senyumnya, penuh keteduhan tanpa embel-embel tingkah tengil seperti tadi.
"*Memang aku bukan keluarga raja, tidak ada satupun keluargaku menikah dengan mereka. Tapi..."
"Tapi apa? Jangan mengada-ada. Semakin tidak masuk akal saja."
"Memang terdengar tidak masuk akal, karena kau dalam keadaan tidak ingat mengenai hal itu."
"Mengenai hal, bahwasannya kau adalah puteri kakak-ku, bukan puteri raja atau ratu*."
"Gila, gila banget yang namanya Won itu." Ara memaki kembali pria itu ketika mengingat pembicaraan tadi.
"Jika puteri Hwa bukan puteri raja. Lalu bagaimana dia bisa terjebak di sini? Apakah raja tahu prihal siapa dia sebenarnya?"
__ADS_1