100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
Kau adalah priaku


__ADS_3

Satu kata yang tercetus dari puteri Hwa ketika pintu yang mengeluarkan suara 'Klik' terbuka.


"Wahh." ucapnya tanpa sadar.


Meskipun terdengar seperti melenguh, namun dua orang yang ada di depan dan di belakangnya mendengar kata itu.


Sama-sama menoleh ke asal suara.


"Napa Lo?" itu Hana, bibirnya mengeluarkan tanya heran saat mendengar kata dari sahabatnya


"Bangunan ini, indah sekali." puji puteri Hwa yang mengedarkan pandangannya ke semua penjuru apartemen milik Ara.


"Heh?" balas Hana kembali bingung.


"Ini apartemen Lo, semprul." seloroh Hana merasa geli dengan pujian tadi.


"Kayaknya kepala Lo kebentur keras sampe saraf terhalus Lo ikut putus, ya?" Hana menggelengkan kepalanya seraya melangkah menuju dapur lalu membuka lemari pendingin dan mengambil dua kotak berisi jus jeruk dingin.


"Cuma ada ini untuk sekarang tuan Kim. Maaf sebelumnya." Hana menghindangkan segelas jus beserta sepiring buah anggur hijau bagi tuan Kim.


"Terima kasih, nona Choi." angguk pria itu berterima kasih.


Lali Hana beralih pada gadis yang masih berdiri dengan mata berkeliling tanpa henti.


"Duduk." Hana menarik lengan Hana lalu mendudukannya di kursi tamu


"Arghhh." Puteri Hwa terkejut hingga memekik kecil, namun....


"Wahhhh, benda ini lembut dan nyaman sekali." Lagi, dengan santainya puteri Hwa memuji kursi yang empuk. Karena memang baginya, mereka hanya duduk dengan bantalan kecil, meski sama-sama empuk, namun yang ia duduki sekarang, terasa lebih nyaman.


"Norak sekali sihhhh." jawab Hana menyindir.


"Kau ini!!! Lalu tangannya memukul pundak gadis itu hingga dibalas sorot tajam yang mengarah pada Hana.


"Heiii.!!!" kecam puteri Hwa


"Apa!!!?" Hana tak kalah melawan balik.


Plak!!!!


Dahi Hana kini mengeluarkan rona merah saat telapak tangan Ara mendarat di keningnya.


Puteri Hwa, membalas.


Lalu mencibir setelahnya.


"Wahhh kau ini??!!!" Hana dibuat tak percaya.


Namun yang lebih tak percaya lagi adalah si penonton yang beberapa kali terpaksa menyaksikan adegan demikian, tidak di rumah sakit, mobil, bahkan di tempat senyaman ini pun... Juga


Hadeh!!!.


"Maaf sebelumnya, nona Go dan Nona Choi." pelan, tuan Kim memanggil keduanya yang sibuk satu membuang muka dan satunya menatap sembari menggelengkan kepala.

__ADS_1


Glek.


Keduanya menatap bersamaan pada tuan Kim, namun dengan mata menyipit.


"Kenapa" ucap keduanya serempak.


Wahhh, tuan Kim harus sabar.


Kedua gadis cantik dan menarik ini, benar-benar bar-bar.


Harus berhati-hati jika dirinya masih ingin keluar dari tempat ini dengan selamat.


"Bukan begitu." ucapnya pelan. Menarik nafas dan membuangnya dengan agak berat.


Terintimidasi.


Pasti.


"Bukankah kalian berdua adalah sahabat yang sangat dekat." tuan Kim mengaitkan dua telunjuknya sebagai simbol maksudnya tadi.


"Lalu???" balas keduanya serempak.


"Kenapa tidak berhenti bertengkar?" tanya pria itu yang akhirnya berhasil mengungkapkan rasa penasarannya. Jika akrab dan mampu membuat Hana tak henti menceritakan keseharian keduanya yang begitu dekat dan penuh sayang, lalu apa yang ia saksikan ini???


Gimmick???


Pencitraan?


Mungkin aja bang!! Hihi.


"Heh." decih Hana.


"saya pun tidak tahu, tuan Kim. Kenapa si bar-bar tengil ini berubah jadi menyebalkan begini." ucap Hana gemas.


Matanya menyorot dari bawah hingga atas tubuh Ara. Lalu menggeleng lagi.


"Aku juga tidak yakin sedekat itu dengannya, orabeoni." puteri Hwa yang membalas kini, pun menggeleng dengan tangan bersidekap memandang Hana.


"Oh ya??? Kalau begitu, tinggalah sendiri, gue balik ke apartemen gue." ucap Hana mengancam.


"Silahkan." balas puteri Hwa mengangkat tangan mempersilahkan.


"Wahh semprul ini." lagi, Hana dibuat tak percaya akan tingkah tengil sahabatnya.


Kenapa dokter tidak menemukan keanehan di hasil pemeriksaan mereka. Padahal jelas-jelas ini bukan pribadi Ara. Apa peralatan medis di sana banyak barang KW?


Ah, iya. Hana terpikir untuk kembali memeriksakan sahabatnya ke rumah sakit yang lain saja.


Namun, rumah sakit kemarin merupakan satu-satùnya yang paling bergengsi serta mahal. Jadi kalau ia pergi ke rumah sakit kelas di bawah tempat kemarin, apalagi, kan? Hasilnya tentu beda level dong.


Pikirnya, menganggukkan kepala.


"Anda kenapa nona Choi?" tanya tuan Kim memecah lamunan Hana.

__ADS_1


"Ah, tidak apa-apa tuan Kim." sahut Hana.


Tuan Kim beranjak berdiri setelah hampir 15 menit berada di apartemen ini.


"Maaf, saya harus pergi. Karena ada beberapa rapat yang harus saya hadiri nanti." ucap tuan Kim, memantik kerutan di dahi Ara yang tubuhnya sontak ikut berdiri.


"Orabeoni mau kemana? Aku tidak mau di sini." tolak Puteri Hwa ketika menyadari pria itu akan pergi.


"Ini rumah Lo, prul." sambung Hana dari sisi depannya.


"Tidak, ini bukan rumahku, rumahku di kerajaan Jehwa sana. Bawa aku orabeoni, bawa aku ikut pulang." rengek puteri Hwa yang merangsek mendekati tuan Kim, mendorong Hana ke belakang.


"Ya Tuhan!!!" Hana menepuk dahinya pelan, melihat tingkah Ara yang lagi-lagi tak jelas itu.


Kenapa malah ingin berdekatan dan lebih percaya kepada pria yang jelas-jelas belum ia kenal, menyapa pun tidak pernah. Dan ia yang seumur hidup menjadi sahabatnya malah teronggok nelangsa.


"Hei, sini." Hana menarik paksa lengan Ara agar mantap di sisinya namun gadis itu meronta.


"Tidak, tidak mau." tolak puteri Hwa.


"Orabeoni!!!" panggil puteri Hwa pada pria yang jelas memancarkan kebingungan di raut wajah tampannya.


"Rumah kita berbeda, Hwa-ya." seakan sadar dengan permintaan gadis itu, tuan Kim berusaha membujuk lembut.


Puteri Hwa meraih tangan pria itu, erat.


"Tidak, rumah kita sama, kita tinggal di kerajaan Jehwa. Kau, kau putera mahkota di sana, Orabeoni." lagi-lagi puteri Hwa dengan keras mempertahankan keinginannya agar bisa ikut dengan pria yang ia ketahui sebagai kakaknya.


"Tidak, Hwa-ya, maafkan aku" tuan Kim dengan lembut serta berhati-hati melepas genggaman tangan yang gadis itu lekatkan di lengannya.


Hana yang menatapnya dibuat bingung, kenapa sahabatnya ini bertingkah sedemikian aneh.


Apa mungkin jika Ara dirasuki roh penasaran???


Iwwww!!! Ia bergidik membayangkan hal tersebut.


"Sudahlah prul, sini deh." Hana meraih lengan Ara lagi, sembari membujuk dengan kata lembutnya.


"Besok tuan Kim akan kembali lagi menjengukmu di sini, begitu kan tuan Kim?" Hana menarik turun dahinya meminta balasan agar pria itu mengangguk.


"Iya, besok aku akan kembali kemari untuk menemuimu." janji pria itu dengan mata menatap lekat gadis yang kini sudah berkaca-kaca membalas tatapannya.


Duhh, bawang-bawang, mana, siapa yang bawa, buang sana!!!!!


Kasian woyyy anak orang ilang emaknya tuh, kesesat jaoh maennya.


Puteri Hwa menggeleng...


"Aku tidak mau tinggal di sini, Hoon-ah." ucap puteri Hwa menyebut satu nama pada pria itu.


"Bawa aku pergi, sebagaimana rencana kita berdua untuk selalu bersama." lagi, ia melontarkan kata berbarengan dengan air mata yang ikut menukik tajam turun.


"Karena katamu, kau adalah priaku." pungkasnya.

__ADS_1


Membuat dua pasang mata yang ada di dekat puteri Hwa sama-sama membelalak sempurna.


__ADS_2