
"Apakah kita sama saja terlibat dalam hal ini, dayang Im.?" Puteri Ara penasaran terhadap kalimat puteri Hwa yang terkesan menyudutkannya pada insiden yang menimpanya. Sehingga, puteri Ara harus memposisikan dirinya sebaik mungkin di sini, jika tidak, ia tentu akan terjerumus, bukan?
Dayang Im menggeleng kuat. "Tidak, puteri. Kita sama sekali tidak terlibat, jangan hiraukan ucapan puteri Hwa tadi. sungguh tidak berdasar sekali." Jawab dayang Im, membuat puteri Ara mengangguk setuju akan jawaban barusan.
"Betul, kita tidak terlibat. Kita hanya melihat secara kebetulan beberapa orang yang terlibat pada pengancaman puteri nakal itu." Aku puteri Ara, membenarkan bahwa ia tak terlibat atau turut membantu komplotan geng bunga aroma apel itu.
Hanya saja, ia senang sebagai penikmat drama itu. Terlebih setelah puteri Hwa kerap bertingkah kurang ajar menurutnya. Rasanya ia ingin bersorak manakala puteri Hwa mendapat balasan seperti itu.
"Tapi,.. Kecurigaanku pada dalang yang terli..." Lanjut puteri Ara namun belum sempat menyudahi karena dayang Im keburu menyambar.
"Tidak mungkin puteri, jangan sembarangan membentuk asumsi demikian. Karena jika salah, kita malah terancam bahaya." ujar dayang Im sembari mengepal tangannya disela sedekapan tangan di balik baju depannya.
Puteri Ara mendongak untuk melihat pelayannya.
"Tapi dayang Im, aki jelas yakin jika pelakunya adalah....." Puteri Ara tak bisa lagi melanjutkan karena dayang Im lagi lagi memotong ucapannya.
"Puteri Ara. Kita cukup melihat dari jauh saja. Bukankah Anda senang akan penderitaan puteri Hwa?" Lanjut dayang Im dengan tanya tegas dan mendapat anggukan setuju puteri Ara.
"Maka, kita cukup melihat dan jangan terlibat. Karena, masalah ini cukup mereka saja yang melakukannya." Ucap dayang Im memberikan penjelasan pasti. Ia menggiring opini bahwa puteri Ara yang membenci puteri Hwa harusnya merasa diuntungkan atas kejadian buruk itu tanpa perlu ikut campur. Padahal.....
******
"Bagaimana Nyonya, sepertinya puteri Ara mengetahui siapa yang memberi perintah pada setiap kejadian yang menimpa puteri Hwa?" dayang Im, berujar penuh kekhawatiran di hadapan sosok perempuan berjubah biru. memberi informasi akan masalah bahwa puteri Ara tahu mengenai pelaku utamanya di sini.
Mendengus keras, "Bagaimana bisa. Apa kau tak bisa menjalankan tugasmu dengan benar, dayang Im?" Tanya perempuan itu bernada kesal.
Dayang Im menggeleng, "Saya juga tidak tahu bagaimana puteri Ara bisa menebaknya. Tadi saya berusaha mengeyampingkan pendapat puteri Ara yang kembali akan menyebutkan pesuruh kita, nyonya" Jelas dayang Im.
Hening, tak ada respon.
"Lalu, bagaimana sikap kita terhadap puteri Ara, nyonya." dayang yang menjaga putera Mahkota ambil bagian dalam pembicaraan rahasia itu.
"Kau, dayang Im. Awasi baik-baik puteri Ara, jika ia nekad membahas dan memberi tahu orang-orang tentang yang menyuruh kita. Maka, habisi juga dia." ucap perempuan yang dipanggil nyonya tadi. Tegas, penuh penekanan. Membuat dayang Im mengurai wajah ketakutan jika majikannya akan dilibatkan di sini. Tapi, ia tak berdaya, sebagai bawahan tentu ia harus patuh pada yang lebih kuat, bukan?
******
Ara, di sudut tempat. Gazebo dekat danau. Duduk dengan kaki diselonjorkan, namun jemarinya saling menguntai satu sama lain.
Gugup, dan juga khawatir.
Ia memang berniat memancing puteri Ara, tapi ia tak menyangka jika kecurigaannya ternyata hanya sebatas rasa tahu puteri itu tentang orang-orang yang terlibat pada insiden puteri Hwa.
__ADS_1
"Ada apa puteri?" Suara lembut, mengalun indah di telinga milik puteri Hwa ketika...
Ratu dengan anggun datang menghampiri tempat mojok Ara di dekat danau tenang ini.
"Yang Mulia." Ara beringsut berdiri melihat perempuan yang menjadi ibu puteri Hwa sudah mengikis jaraknya.
"Sudah, tak perlu berdiri. Kita sama-sama duduk di sini saja. Aku merindukan saat-saat kita berdua, Hwa-ya." ratu mengambil posisi duduk di sebelah Ara. Tetap menjaga keanggunan paripurnanya, ratu meraih tangan puteri Hwa agar ikut duduk bersamanya.
Ara patuh. Duduk di sebelah perempuan yang ingin ia bawa ke dunianya.
"Apa yang kau lakukan di sini, Hwa-ya?" Tanya perempuan paruh baya itu, dengan lembut dan tatapan keibuan.
Ya Tuhan!!! Ara lebih meleleh daripada ketika bertemu pria racun itu.
Beneran Ara bawa ya.
"Aku hanya ingin memandang keindahan danau di sini, Yang Mulia." Jawab Ara membalas tatapan keibuan itu.
"Ohh, aku kira, kau tengah gundah karena banyaknya kejadian buruk yang menimpamu, Hwa-ya." ujar ratu tak mengubah nada bicaranya.
Tersenyum lembut, Ara menggeleng.
Menggeleng? Apa katanya tadi, kejadian buruk yang menimpanya? Yang mana kalau boleh tahu?
"Mengenai penemuan boneka itu, Hwa-ya." Jawab ratu membawa tatapannya mengarah pada danau yang lumayan luas itu.
"Bagaimana Anda tahu, Yang Mulia?" Tanya Ara menyelidik meski nada bicaranya tetap terjaga stabil.
Terkekeh.. "Apa yang tidak bisa aku ketahui, Hwa-ya. Semua dayangmu ada di bawah kendaliku, bukan?" Ratu menoleh pada puteri Hwa sekilas lalu memandang ke depan lagi.
Maksudnya? Pelayan yang menjaga dan berada disekitar Ara kerap melaporkan pada Ratu? Termasuk dayang Han?
Ihh ember pada ya mulutnya!!!!
Namun sejurus kemudian, Ara tersentak.
Tak mungkin, tak mungkin, bukan?
Jika....
Jika para dayang berada di bawah kendali seorang ratu, maka, mereka berkhianat terhadapnya bukan? Karena para dayang sengaja menyakiti anaknya ratu, bukan??
__ADS_1
Wahh, Ara harus cari siapa mulut ember di kediamannya.
******
"Duduk!!!" perintah Ara pada dayang Han setelah tiba di dalam ruangannya. Ia adalah tersangka utama, karena merupakan dayang yang paling dekat dengan puteri Hwa.
Maka, Ara harus menginterogasi kecurigaan tersangka ini dulu sebelum yang lain.
Maka, duduklah dayang Han dengan patuh, meski kerutan di dahinya sedikit nampak sekarang.
Melihat tatapan puteri Hwa yang mengunci matanya.
Seolah tengah mencari tahu.
Lo itu dicurigain, Han-ah.
"Ada apa, Yang Mulia.?" Tanya dayang itu tak paham.
Ara tetap konsisten memindai dayang dihadapannya dengan sejuta tanya penuh diotak milik puteri Hwa.
"Puteri."Dayang Han merasa jengah dengan arah tatapan itu, tetap melekat melihatnya.
"Diam." Titah Ara satu kata.
Menit berikutnya.
"Kau, apa saja yang kau laporkan pada ratu, Han-ah. Apa kau juga berkomunikasi dengan ratu tentang apapun yang ada di kediamanku.?" tegas Ara dalam tanyanya. Tetap tak menurunkan pandangannya sembari menunggu jawaban dayangnya.
"Maksud Anda, Yang Mulia?" tanya dayang Han bingung.
"Kau,... Apakah melaporkan semua hal di kediamankan pada ratu?" kembali Ara menegaskan tanyanya yang mendapat jawaban gelengan keras dayang Han.
"Jika bukan kau, maka... Selidiki dayang yang lain. Jika memang kau,,, setia padaku." Lanjut Ara tegas.
"Apakah, apakah, ada dayang yang melaporkan tentang Anda pada ratu, Puteri Hwa" Dayang Han mencoba mencari tahu kemana arah pembicaraan ini.
Ara mengangguk. "Ya, ratu sendiri tadi yang mengatakannya." Jawab Ara tetap menatap dayang Han.
"Tapi, bagaimana jika.... Jika yang melapor adalah orang yang bertujuan jahat pada Anda puteri?" Dayang Han berasumsi.
"Maksudmu? Kemungkinan ratu terlibat?" Ara bertanya balik meski jawaban dayang Han hanya diam menunduk dan itu jelas sama saja dengan setuju, bukan?
__ADS_1
Ara terkekeh, "Bullshittttt!!!!!" Tegas Ara.