
Di sinilah sekarang, Ara.
Duduk di hadapan putera mahkota yang menatap datar, pada Kim So Yoon.
"Ada apa kalian berdua datang kemari... Bersamaan?" tanyanya pada dua gadis yang menjadi tamunya.
Kim So Yoon menundukkan wajah setelah melepas senyum manisnya. Sementara Ara menatap rivalnya dengan ekspresi geli. Lucu sekali. Sinis dan manis di waktu yang tepat.
"Aku memang berencana untuk bertemu kakak, tapi tidak tahu dengan Nona Kim So Yoon keperluannya apa kemari. Karena, tadi ia hendak menemuiku di kediamanku." Jawab Ara panjang lebar.
"Jadi, apa keperluanmu, Nona Kim So Yoon?"
"Bukankah kau tahu jika saat ini dirimu masih dalam tahap seleksi puteri mahkota.?"
"Dan sekarang, dengan beraninya dirimu malah mendatangi kediamanku sendiri."
"Bagaimana kata orang-orang di luar sana nanti, nona Kim?"
Sekelumit jejeran tanya yang keluar dari mulut putera mahkota. Membuat Kim So Yoon, membeku seketika.
Ara suka!!!!
"Betul itu, kakak"
"Nona Kim So Yoon sepertinya lupa dengan posisinya saat ini."
"Jika seorang peserta puteri mahkota datang ke kediaman putera mahkota, apa kata orang-orang, kan kak?"
"Wahh, aku tidak bisa membayangkan jika gosip akan tersebar di sepenjuru negeri ini."
"Hanya karena kau penasaran dengan kunjungan adik putera mahkota."
Ara dengan senang hati, memberikan bensin serta kobaran api di situasi ini.
"M-ma-maafkan saya, yang mulia." gugup, Kim So Yoon jelas canggung sekarang.
"Hmm. Lalu, apa yang harusnya kau lakukan sekarang, nona Kim?"
"Eh?" Sahut Kim so Yoon tertegun menanggapi tanya putera mahkota.
"Apa yang seharusnya kau lakukan saat ini. Sebagai seorang wanita bangsawan.?"
"Ah, i-iya, yang mulia."
Kim So Yoon bangkit dari duduknya. Berdiri dan membungkukkan tubuhnya, memberi hormat.
Menoleh tajam secepat kilat pada puteri Hwa yang saat itu juga menangkap tatapan itu dengan wajah jahil. Ara pandai sekali mengaduk emosi lawannya.
Melangkah berat meninggalkan putera mahkota yang sangat sulit ditemui, Kim So Yoon terasa sekali geraknya melambat. Dan itu, diperhatikan oleh Ara dengan wajah menahan tawa.
"Kalau kau berat hati pergi dari ruangan ini. Kau bisa duduk di sini, Nona Kim So Yoon." Ucap Ara dari tempatnya duduk.
Menghentikan langkahnya.
'Benarkah? Tapi, bukankah tadi aku diusir secara tidak langsung oleh putera mahkota?' batin Kim So Yoon.
"Puteri Hwa!" Desis putera mahkota menatap puteri Hwa yang baru saja melempar kata tak masuk akal itu.
Ara terkikik, menutup bibir puteri Hwa dengan telapak tangannya sembari menoleh pada putera mahkota.
Dan. Pria itu seketika tersadar.
Menggelengkan kepalanya. Tahu jika saat ini puteri Hwa rupanya berniat jahil.
Benar saja.
__ADS_1
"Maksudmu apa puteri Hwa?" Kim So Yoon membalikkan tubuhnya tak lama dari itu.
"Benar, kau boleh kok duduk di sini lagi." Jawab Ara memasang wajah ramah, walau tangannya terkepal menahan tawa.
"Tapi, itu jika aku dan putera mahkota tidak di sini." tambah Ara.
Dan, kekeh itu lepas sudah.
Kim So Yoon merona, malu. Membalikkan tubuhnya dan segera pergi dengan langkah cepat.
Tawa puteri Hwa yang dikeluarkan Ara menguar di ruangan itu.
"Hwa-ya, Hwa-ya, kau sungguh nakal sekali." senyum putera mahkota melihat hasil perbuatan jahil Ara melalui puteri Hwa.
"Nakal? Salah oppa." cerengut gadis itu.
"Oh ya? Lalu apa?"
"Jahil oppa."
"Jahil??"
"Eumm, jahil."
"Apa itu, jahil??"
"Ketika kau perbuatan seperti tadi."
"Bukankah nakal?"
"O,o, bukan"
"Tapi jahil. Kalau nakal itu untuk anak-anak oppa. Kalau jahil untuk orang dewasa."
"Bukankah kau masih anak-anak, Hwa-ya?" tanya putera mahkota tersenyum seringai.
"Hahahahahah." Gelegar tawa putera mahkota memenuhi ruangannya.
"Yang mulia. Menteri Kim datang mengunjungi anda." panggil dayang penjaga dari arah depan.
"Menteri Kim?" ulang Ara membeo.
"Ayah dari nona Kim. Hwa-ya." seolah paham dengan raut bingung puteri Hwa.
Dan Ara hanya menggumamkan 'o' saja menjawabnya.
Srettt.
"Selamat datang, menteri Kim." sambut putera mahkota berdiri yang diikuti Ara tanpa membungkuk.
"Maafkan saya, putera mahkota untuk kedatangan mendadak ini." sahut menteri Kim yang sudah dipersilahkan duduk, berseberangan dengan puteri Hwa.
"Oh, rupanya ada puteri kita di sini." tolehnya tersenyum pada puteri Hwa, yang ditangkap Ara bukan bentuk keramahan tulus, tapi serupa sindiran.
Ara hanya menjawab dengan menganggukkan kepala ringan.
"Ada apa, menteri Kim. Tadi puteri anda yang datang, dan kini ayahnya sendiri." ujar putera mahkota.
Terkekeh, "Saya datang karena ingin memberi tahu anda tentang....." menoleh pada puteri Hwa.
'Paan?' batin Ara menanggapi
"Ada apa menteri Kim, ucapkan saja." ujar putera mahkota kembali.
"Hanya saja... Saya rasa pembicaraan kita tidak bisa didengarkan oleh puteri Hwa, yang mulia." lanjut menteri Kim memberi alasan.
__ADS_1
Hah??!?!??!
Maksudnya???
"Anda menginginkan saya keluar, menteri Kim?" Ara bersuara ketika dengan sadar jika dirinya diminta pergi.
Menteri Kim hanya tersenyum.
"Tidak masalah jika puteri Hwa di sini, menteri Kim." seloroh putera mahkota membela.
"Tapi yang mulia..." terpotong.
"Ya sudah kalau begitu, saya akan pergi." sambar Ara cepat
Dan Ara dengan jelas menangkap seringai yang di terbitkan oleh bokapnya setan rubah betina ekor 10 itu.
"Baguslah jika anda menyadari dengan cepat, puteri Hwa." jawab menteri Kim lembut. Tapi, itu bermakna dalam.
Ara bangkit, membungkuk hanya pada putera mahkota, lalu menarik kakinya menuju pintu geser.
"Tunggu saja di kediamanmu, Hwa-ya, aku akan datang nanti." putera mahkota mengucapkan kalimat sebelum Ara menarik pintu geser.
Ara hanya menganggukkan kepalanya, lalu keluar.
Tapi tertahan.... Karena percakapan berikut.
"*Sering sekali rupanya adik anda sekarang berkeliaran. Yang mulia."
"Apa maksudmu? Ini juga istananya, kenapa dengan ucapanmu barusan, menteri Kim.?"
"Hehehe, bukan apa-apa, yang mulia. Hanya saja, bukankah aneh jika puteri yang manis itu kini terlihat pandai bertingkah??"
"Maksudmu apa, menteri Kim."
"Lanjutkan saja proses pemilihan puteri mahkota. Yang Mulia."
"Dan jangan libatkan keputusanmu memilih dengan meminta persetujuan dari puteri Hwa."
"Dia adikmu, bukan??"
"Tapi kenapa kau terlalu bersikap manis pada seorang adik. Yang mulia?"
"Atau memang benar jika kalian terlibat perasaan layaknya sepasang kekasih?"
Dan...
Gebrakk!!!!!
Suara tangan beradu dengan meja terdengar nyaring hingga keluar pintu, membuat para dayang dan Ara terjengkit seketika.
"Apa maksudmu, menteri Kim? Tidakkah kau menyadari bahwa kata-katamu sangat, kasar!!!"
"Kasar, yang mulia?? saya pikir bukan apa-apa, jika memang tidak ada apa-apa, bukan??"
"Jadi. Kedatanganmu hanya ingin mengatakan hal konyol ini, huh???"
"Bukan yang mulia."
"Lalu apa???""
"Saya hanya ingin memperingatkan, jika...."
"Jangan pernah memperlakukan puteri saya seperti perempuan rendahan, yang mulia. Tidakkah bisa dibicarakan dengan cara baik tanpa perlu membuatnya menangis dan malu di waktu bersamaan, bukan??""
"Jadi... Kau membalas sakit hati puterimu sekarang??"
__ADS_1
"Ya, dan saya harap, adik anda yang ada di luar.... Ikut mendengarnya. Bukan begitu, puteri Hwa*??"
Jegerrrrr