
Petugas medis yang melihat tingkah pasien mereka yang baru saja bangun itu, jelas saja sempat bergeming.
Namun.
"Hihihi." Beberapa dari mereka terlihat menahan tawa, tingkah konyol itu tentu mengundang rasa geli mereka.
"Nona Ara." 3 orang perawat yang ada di sana bergerak mendekati tubuh Ara.
"Oho!!!!!! Berani-beraninya." gadis yang kini duduk dengan sikap bossy, kaki di silangkan satu, dan satunya ia tegakkan dengan ditekuk.
"Nona, kita periksa dulu ya." apa yang baru saja gadis itu lontarkan, kembali dimentahkan mereka, malah tak menanggapi sama sekali.
Saat hendak menggapai tubuhnya, ia..... Ara, atau yang lebih pantas menyebutnya sebagai puteri Hwa, mendelik tajam pada mereka.
"Siapapun di luar, keluarkan orang tak jelas ini!!!!" gelegar suara puteri Hwa melalui Ara sampai ke pendengaran Hana.
Menyadari itu suara sahabatnya, membuat gadis itu sontak meraih handel pintu dan membukanya.
Ceklek!!!
Pemandangan yang disuguhkan
Ara, bersikap seperti nenek-nenek ketika marah. Ya seperti itulah dia.
"Ara." panggil Hana ikut mengikis jarak.
"Siapa kau???" lagi, puteri Hwa memasang raut Ara begitu tak bersahabat.
Hana berlaku sama seperti petugas medis tadi, bingung. Namun ia tetap saja mendekat.
"Ara, hiks hiks hiks." merengkuh tubuh sahabatnya yang kini memberontak dalam dekapan.
"Lepas, lancang sekali kau. Oho!!!" dengan usaha keras, puteri Hwa berhasil menjauhkan tubuhnya dari Hana.
"Kalian, orang-orang aneh dari mana?" tanyanya bingung.
Menatap satu persatu orang-orang yang ada di sekelilingnya.
Dari pria yang mengenakan pakaian ungu lengkap, pun perempuan yang berpakaian formal berwarna hijau, mereka adalah dokter dan perawat, lalu Hana yang mengenakan gaun selutut motif cerah model rok A mekar.
Netra Ara bergerak liar, menilai satu persatu manusia-manusia itu.
"Sungguh aneh sekali mereka." gumamnya heran.
Jelas yang ia nilai adalah cara berpakaian itu. Terbuka sekali, betis putih para perempuan muda sepertinya yang bebas sekali untuk dipandang. Belum lagi ada pria yang tak satupun membuat risih para perempuan.
Menoleh pada dirinya.
"Baju apa ini?" merasa tak percaya, mengenakan pakaian lengan panjang lurus sampai lutut. Lutut??
"Hah????" ia kembali histeris.
"Kenapa Ara." Hana yang memperhatikan kembali mendekat.
"Kenapa-kenapa dengan bajuku. Dan, dan pria itu, pria itu lancang sekali melihatku seperti ini." tunjuknya pada dokter yang masih menatapnya.
"Saya dokter anda, nona." jawab dokter.
"Apa katamu? Nona??" Puteri Hwa mendengar panggilan aneh, ya. Dokter mengucapkan kata Ara-sshi, dan itu membuat dirinya lagi-lagi geram.
"Aku Puteri Hwa, bukan Ara!!!!" teriaknya gemas pada semuanya.
"Dokter." Hana menoleh pada dokter, meminta penjelasan.
__ADS_1
"Sepertinya sahabat anda mengalami guncangan dalam ingatanya, nona." jelas sang dokter
"Guncangan ingatan? Apakah sama dengan amnesia?" tanya Hana
"Seperti itu kira-kira. Akan kami lakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap nona Go Ara." jelas dokter.
"Bukankah sahabat anda koma karena terjatuh dari tangga atap. Bisa jadi penyebab ingatannya terganggu karena benturan tersebut." lanjut dokter.
"Tapi pada pemeriksaan sebelumnya, kami memang tidak menemukan kerusakan pada kepalanya." ucapnya lagi.
"Lalu, jika tak ada kerusakan, ini kena....."
"Kalian bicara apa, aku tidak paham apa itu." potong puteri Hwa menyela.
Ia bingung pembicaraan di hadapannya tadi.
"Nona Ara. Anda bisa beristirahat setelah perawat memberi anda obat penenang." ucap dokter menoleh pada Ara.
"HEI MAU APA KAU!!!" perawat mendekat dan meraih selang infus yang menghubungkan dengan tangan gadis itu.
Menyuntikkan sesuatu.
"Kenapa, aku... Aku mengantuk sekali." ucap puteri Hwa setelah cairan suntikan itu mengalir dalam infus.
"Nona, selamat beristirahat." perawat membantu puteri Hwa kembali berbaring, meski melawan tapi ia tak kuasa ketika tubuhnya pelan melemas.
"Kalian apakan tubuhku." lirihnya
"Apakah kalian meracuniku?" pernyataan itu adalah pengantar kesadaran terakhir gadis itu.
"Jadi, bagaimana dok." tanya Hana lagi.
"Kami akan mengusahakan yang terbaik untuk nona Go Ara." pelan, ucap sang dokter.
"Saya mohon bantuannya, dokter." Hana membungkukan tubuhnya, memohon untuk kerja keras tim medis.
Hana, duduk di sisi brangkar Ara. Memantau sikap tenang sahabatnya yang menjadi tak terkendali tadi.
Menurut dokter, Ara akan di dalam ruangan ICU ini hingga esok pagi, memastikan tidak ada hal mengejutkan selama itu.
"Ara. Kau kenapa, huh?"
Hening, yang ditanya tak menjawab. Masih menikmati obat penenang yang berada dalam tiap aliran darahnya.
"Jangan nganeh-nganeh ya prul. Awas aja kalo Lo itu cuma akting doang."
Mengelus tangan Ara yang disedekapkan.
"Bakalan gue botakin kepala Lo."
Ancamnya sambil terkekeh.
Masih segar dalam ingatannya, Ara, yang saat itu membenahi boneka bututnya yang tak jelas lagi berwarna apa itu menjadi boneka yang cantik.
"Hai, mari berteman." Kala itu, saat mereka masih sama-sama dipanti asuhan. Ara yang baru menjadi anak asuh di sana mendatanginya dengan boneka teddynya yang hilang di bawa lari anjing seberang.
"Ayolah.,, aku tak ada teman di sini. hem hem, ya ya." meraih tangannya dan berjabat sebagai awal mereka berteman.
Lalu setelah itu, banyak hal konyol, seru bahkan kebersamaan yang mereka lalui berdua. Sebagai sosok anak panti yang sukses di luar. Berbekal keberanian dan kenekadan, keduanya membuka usaha dengan bakat terpendam yang selalu diasahnya.
Ara yang mahir berdandan, berjiwa bisnis dengan otak cerdas itu menjadi rekan sempurna Hana yang menjadi desainer dengan butik yang cukup diperhitungkan.
Hingga, hingga kebahagiaan mereka harus terenggut paksa oleh kejadian memilukan itu.
__ADS_1
Hana yang tak mengerti akan dendam seorang adik itu, ikut merasakan gejolak amarah dari adik Frankie, sementara Ara, sahabatnya itu ditemukan dengan nyawa nyaris melayang.
Hana ingat sekali ketika dirinya tiba di rumah sakit. Ara terbujur kaku dengan tubuh penuh luka, sayat, lebam, dan juga keadaan di vonis koma.
Dunia Hana pun ikut terserap dalam kegelapan, hingga tak berapa lama sahabatnya itu sadar, namun kembali koma selama 1 bulan setelah terjatuh dari tangga atap rumah sakit.
Kini.......
Gadis itu terlelap cantik, menyebut dirinya sebagai seorang Gongju? Ya, puteri Hwa. Begitu namanya yang Hana tangkap tadi, menolak sentuhan dokter, perawat bahkan dirinya. Dan gadis itu, dengan lantangnya berulang kali mengatakan lancang hingga mengancam mereka semua dengan kata pancung.
Namun ada hal yang Hana sadari dalam lirih gadis itu sebelum terlelap.
Racun.
Ia ingat jelas sekali saat itu....
"Nih, minum dulu. Biar segeran otak Lo."
Ara, mengerenyitkan dahi kala melihat gelas berisi air itu.
Mendadak skeptis.
"Napa mata Lo gitu, huh..?? Kurang airnya?"
"Gak. Cumaaa...." ucap Ara terpotong. Meraih gelas dan memperhatikannya lamat-lamat.
"Cuma paan prul." selidik Hana menunggu.
"Airnya aman kan...??" tanya Ara kemudian.
Hana tentu bingung, paan coba maksud si semprul ini.
"Maksud Lo paan sih, yang jelas lah. Ambigu taoookk." Keluh Hana gemas.
"Airnya, ini airnya aman kan. Dari racun apapun."
Gelegar tawa terpingkal
"Hahahahahaha, hahahahahha." tawa Hana yang malah mengundang ekspresi cemberut di dahi dan bibir Ara.
"So-sorry beib, sorry. Beneran, gue habisin dulu ya tawa gue ini. habisnya lucu banget. Sumpah deh."
"Serah Lo deh." Sebal Ara melihat tawa sahabatnya itu.
"Oke, oke, nie dah kelar kok tawanya." Ucap Hana berusaha menyimpan sisa tawanya yang masih terlihat itu.
Ayolah, hari gini bahas racun?? Gimana Hana tak merasa lucu.
"Gue serius Hana. Makanya gue nanya, karena gue juga pernah di racun di minuman." jelas Ara dengan wajah serius.
"Seriusssss!!!!, kapan???" tanya Hana memasang wajah histeris akan cerita si bar bar barusan.
"Pokoknya gue udah pernah ngerasain. Makanya gue nanya." Keluh Ara akhirnya.
Hana juga akhirnya curiga dengan air yang berada di tangan Ara. Namun, curiganya tak sebesar milik si bar-bar.
Lalu..
Happp
Glek glek glek.
"Woyyy.!!!" Teriak Ara setelah melihat Hana sudah menghabiskan airnya sampai tak bersisa.
__ADS_1
"Nah,, perhatiin. Kalo gue keracunan, lo yang selamatin gue ya." Kilah Hana kemudian. Menaruh gelas di meja sisi kiri Ara.
"Apa mungkin........." Hana memperhatikan lekat wajah sahabatnya dengan wajah berpikir keras.