
"Kenapa minuman cantik ini begitu enak rasanya." gumam puteri Hwa pelan, tapi terdengar di telinga Hana juga Tuan Kim.
Menoleh bersamaan.
"Apa kau bilang? Enak? Bagaimana rasanya?" cerocos Hana bertanya.
Mengelap sudut bibirnya dengan punggung tangan, puteri Hwa tersenyum.
"Manis, juga agak sedikit pahit sih." jawabnya dengan jari telunjuk dan jempol membentuk capitan.
Hening.
Plak!!!
"Aduhhh." Pekik puteri Hwa ketika telapak tangan Hana sudah mendarat cantik di bahu Ara.
"Kau ini, wahhh salut. Walau sakit, tetap saja lidahmu itu tahu diri ya." gelak tawa Hana merespon jawaban puteri Hwa barusan.
"Hah?" tanggapan puteri Hwa tak mengerti.
Tuan Kim menatap Ara lekat.
'Betapa manisnya gadis itu.' batinnya tanpa sadar.
"Hei, hei, hei." Hana melambaikan tangannya kearah tuan Kim yang tersadar ketika tertangkap basah menatap sahabat Hana lama.
"Apakah anda juga menilai gadis tengil itu sama?. Ah tidak, aku salah, anda belum mengenal gadis itu. Dia parah aslinya." Hana seperti berbisik membicarakan sahabatnya yang kini menatapnya heran.
"Parah?" beo tuan Kim mengerenyitkan dahinya mendengar kalimat panjang Hana.
Hana mengangguk.
"Iya. Aslinya si tengil itu......" Ucapannya semakin pelan, membuat tuan Kim menajamkan pendengarannya.
"Aslinya, Go Ara itu..... Gila." lanjut Hana memberi tahu.
Giliran tuan Kim yang melempar pandangannya kearah gadis yang baru dibicarakan itu.
Pun sama. Pandangan mereka bersirobok.
Tapi, tuan Kim melepas pandangannya.
Jantungnya seketika memacu cepat.
Sialan.
Kenapa begetoh.
"Anda belum tahu saja. Dasarnya dia lagi sakit aja. Jadi sok manis dan kalem gitu." cetus Hana melirik jahil Ara.
"Apa kau bilang? Maksudnya apa?" puteri Hwa kembali bingung, kosakata yang digunakan oleh Hana terlalu baru menurutnya.
Melihat gurat bingung itu, Hana malah ikutan bingung.
"Kau tak paham?" tanyanya yang diangguki puteri Hwa.
"Yaaaa. Lihat tuan Kim, si tengil ini, wahhh, sungguh geli saya melihatnya kalem gini. Mual juga." gerutu Hana seraya menggelengkan kepala menatap Ara yang menampakkan wajah polos.
Bukan, bukan itu yang harusnya.
"Aku mau lagi." puteri Hwa menyodorkan gelas tinggi itu kepada Hana. Menunggu guyuran wine kedua di gelasnya.
"Lagi? Okeh, kau juga jago mabok kok." sahut Hana menyetujui permintaan si tengil berwajah polos itu.
__ADS_1
Sumringah, itu ekspresi yang ditunjukkan puteri Hwa.
Dan, dengan mengucapkan syukur, tuan Kim menangkap ekspresi itu, hingga sudut bibirnya berkedut tanpa sadar.
Cieyyyy.
Cyuuuuurrrrr
Perlahan air berwarna ungu sedikit pekat itu meluncur ke dalam gelas milik puteri Hwa.
Menunggu tak sabar.
Padahal menurut yang ia dengar dari Hana. Ini adalah salah satu alkohol, dan dirinya belum pernah sama sekali meneguk bahkan menyentuhnya pun tidak pernah.
Sedangkan kata putera mahkota, orang yang belum pernah minum alkohol akan tumbang setelah tegukan pertama. Orang itu tidak akan sadar, bertingkah seperti orang gila, berjalan pun tidak sempurna layaknya bayi yang baru berjalan. Selain itu, ucapannya akan sangat buruk, juga biasanya akan mengucapkan hal jujur apapun itu walau pribadi sekalipun, dan orang yang mabuk terkadang tak sadar jika ia membuka pakaiannya sampa habis sekalipun, di lecehkan pun ia pasrah.
Mengerikan bukan?
Tapi, yang namanya wine ini?
Kenapa 3 tegukan puteri Hwa tadi, ia tak merasakan apapun.
Ia sadar sepenuhnya.
Apakah tubuh yang ia tumpangi ini sudah sering mengkonsumsi minuman berbahaya ini?
Ah sudahlah, bagi puteri Hwa ia malahan beruntung sehingga bisa meminum alkohol tanpa rasa takut sedikitpun.
Toh ada kakaknya juga di sini.
"Bagaimana? Masih mau?" tawar Hana ketika perlahan gelas yang digenggam Ara sudah kosong.
Wahh, keren.
"Apakah tidak apa-apa, nona Choi?" tuan Kim merasa khawatir ketika melihat Ara sudah menghabiskan dua gelas wine yang dinilainya cukup bisa membuat mabuk di gelas ketiga.
Persetan, itu yang dilakukan Hana, ia dengan senang hati menuangkan cairan itu ke dalam gelas Ara yang juga mengarahkannya.
"Bagus." puji Hana ketika gelas itu sudah menepi di bibir Ara.
'Bukankah aku butuh kejujuranmu, Ara. Maafkan aku.' batin Hana bersalah.
*****
"Setan semua kalian.!!!" Ara menjerit marah. Ketika pelayannya sudah berani menghidangkan beragam hal yang ia benci.
Bukankah sudah pernah dikatakannya, ia benci Apel!!!!
Dan dayang-dayang yang masih berdiri itu beringsut ketika suara majikannya membahana, disertai ucapan yang cukup membuat mereka membelalakkan mata bersamaan.
Bukankah itu kata-kata para preman pasar?
Darimana puteri Hwa mendengarnya?
"Enyah kalian semua!!!!" Ara geram dan mengusir dua dayang itu yang tidak bergeming.
"Apa perlu aku lempar meja ini, huh. Sialan!!!." lanjutnya memaki.
"Ma-maafkan, ka-kami, puteri Hwa." dua dayang itu menundukan kepalanya mendengar ancaman itu.
Hayolah. Mereka sudah anti membuat masalah dengan puteri yang mereka kenal bertambah ganas ini.
"Ya sudah, sana, enyah!!!." lagi, Ara mengusir kasar mereka.
__ADS_1
"Ta-tapi, yang mulia." gagap salah satu dayang.
"Apa???!!" tanya Ara tak sabar.
Ia begitu muak dengan aroma buah itu.
Tengkuknya seketika menegakkan bulu roma.
"Hi-hidangan ini, da-dari ratu, yang mulia." jawab si dayang
"Lalu kenapa?" Ara menarik sudut alis puteri Hwa, menanyakan alasan dayang.
"Yang mulia Ra-ratu me-merintahkan a-agar tuan puteri Hwa, memakan hid-hidangan ini." lanjut dayang yang masih dengan nada gugupnya.
Ara berdiri.
Bangkit dengan mata menyorot tajam dua gadis yang tentu mengabaikan perintahnya.
Ini bangunannya!!!!
Wilayahnya!!!
Dan mereka tahu jika dirinya melarang apel memasuki tempat ini!!!
Kecuali musuhnya.
Cih.
"Baiklah kalau begitu, itu mau kalian." Ara menganggukkan kepala puteri Hwa beberapa kali.
Merenung sejenak, mondar mandir dengan salah satu tangan menopang dagu puteri Hwa.
Sementara di balik pintu geser, sudah ada seseorang yang tengah menguping pembicaraan di dalam ruangan itu.
Siapa lagi kalau bukan, dayang An?
Bukan, salah besar.
Kalian salah woy!!!!!
Sosok itu tak lain dan tak bukan adalah,...
Putera mahkota, alias babang tamvannya Ara.
Ia memperhatikan tiap detail hal yang ia curi dengar.
Pun, dayang Han ada di sisi kiri putera mahkota, ikut mendengarkan, sedangkan dayang penjaga pintu geser itu sudah di usir keluar semua oleh putera mahkota.
Okeh. Kembali lagi ke laptop yah..
Eh salah, ke ruangan tempat drama majikan kejam dan dayang yang malang.
Ara masih menatap baki yang berisi hidangan memualkan itu.
Berikut memberikan seringai kepada dua dayang yang pasti sedang harap-harap cemas menanti kelanjutan ucapan majikannya itu.
"Baiklah kalau memang itu mau kalian, okeh, okeh, mbak akan penuhi." ucap Ara yang tak dipahami kedua dayang itu.
Hingga...
Brak!!!!!
Ara mengangkat satu kaki puteri Hwa dan mendaratkannya di atas meja.
__ADS_1
Membuat siapapun pasti terjengkit melihatnya.
"Kalian pikir, siapa majikan kalian, huh!!!???" pekik Ara, keras.