100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
Pembalasan 2 (Kim So Yoon vs Ara)


__ADS_3

Di tengah keriuhan Ara yang heboh akan hewan kecil tadi, karena gadis itu seolah menemui hal lucu dengan kerap menyuil hewan itu bak sebuah benda imut saja.


Suara panggilan dayang penjaga menyela aktifitas absurd tersebut.


"Yang Mulia. Nona Kim So Yoon datang mengunjungi anda." panggil dayang depan pintu.


"Kenapa pulak si rubah betina itu." ujar Ara yang segera menaruh hewan itu dalam sebuah wadah kecil di atas meja.


"Puteri Hwa." ucap gadis itu ketika sudah masuk dalam ruangan pribadi puteri Hwa.


Membuat dayang yang tadi mengitari bersiap keluar, kecuali dayang Han. Ia duduk agak jauh.


Ara mengukir senyum di bibir puteri Hwa.


"Selamat datang nona Kim." sambut Ara berdiri.


Ara mempersilahkan puteri menteri Kim duduk di seberangnya.


"Ada apa, nona Kim? Belum lama ini kau mengunjungiku, sekarang pun." Ara tetap menebar senyum dalam setiap kata yang terlontar, berusaha menutupi kedeg-annya pada gadis ini.


Apa itu kedeg-an?? Hihihi.


Kim So Yoon membalas senyum yang diukir Ara pada wajah puteri Hwa.


"Kenapa memangnya, puteri Hwa? Bukannya kau selalu ingin bertemu denganku,,, dulu." jawab Kim So Yoon menatap dalam mata bening puteri Hwa.


Ara. Mengerucutkan bibir puteri Hwa sembari menganggukan kepala naik turun.


"Ohhh, begitu." sahut Ara pelan.


Lalu.."Tapi mungkin itu dulu, nona Kim. Tidak untuk sekarang, atau....." lanjut Ara menjeda lagi.


Menatap balik manik milik Kim So Yoon.


"Setelah pertemuan manis kita waktu itu." pungkas Ara, yang mengundang tawa dari Kim so Yoon.


"kau.,,, bukankah kau suka dengan pembicaraan kita waktu itu. Kalau tak salah...." Sahut Kim So Yoon memotong ucapannya seraya menjaga lekat tatapan pada puteri Hwa juga.


"Kau kan yang membuat perjumpaan kita menjadi buruk dan merusak persahabatan kita, Hwa-ya?" gadis rubah itu melempar tanya yang Ara tak tahu maksudnya.


"Maksud kau?" ucap Ara bertanya.


"sudahlah, kau saja berlagak melupakan, lalu buat apa aku mengingatkan. Lucu." ledek Kim So Yoon.


"Pastinya, aku sudah memberikan kau hadiah yang lebih baik, Hwa-ya. Bertemu pria yang menyadarkan kau, bahwa seperti itulah kau." lanjut Kim So Yoon yang tegas mengarah pada, menekan kesadaran diri puteri Hwa.


"Perempuan yang tak beretika seperti kau, memang layak menerima semua keburukan. Tak salah juga harusnya. Hihihih." ia malah menambah kekehan. Seolah yang dilakukan oleh puteri Ara adalah sebuah kesalahan besar yang layak mendapat hukuman dari semua orang.


"Apa maksudmu?" Ara tak paham.

__ADS_1


Kim So Yoom mengibaskan tangannya pertanda ia enggan menjawab.


Lalu.... Matanya menangkap siluet...


"Kau, kau kenapa menaruh hewan itu di sana?" Kim So Yoon menarik tatapan herannya pada makhluk kecil di hadapan puteri Hwa.


"Ulat ini?" Ara menunjuk pada benda yang berisi ulat tadi.


"Bukankah.,, bukankah kau...." Kim So Yoon lantas mencari jawaban rasa bingungnya terhadap gadis yang menjadi lawan bicaranya.


"Kenapa? Kau suka??" Ara menarik mangkuk kecil itu dan menggesernya ke hadapan Kim So Yoon yang segera berteriak dan berdiri seketika.


"Arrgghh. Buang, buang jauh-jauu hewan menggelikan itu." perintahnya.


"Kau siapa berani memerintahku??" Ara sadar posisi yang tinggi tentu puteri Hwa, jadi berlagak sombong sesekali tak mengapa kan?


"Hwa-ya!!!!" Kim So Yoon mendelik tajam.


Ara bangkit berdiri, pelan menuju Kim So Yoon dengan tetap membawa benda yang menyimpan hewam kecil yang tengah menggeliat itu.


"Sana Hwa-ya. Aku tak suka!!!!" pekik Kim So Yoon.


"Oh. Ya?? Lalu, apa imbalannya agar aku mau menurutimu nona Kim." Ara tak lantad setuju, enak saja ia menyuruhnya, jelas ia butuh imbalan lah.


Tak percaya. Menatap puteri Hwa terbelalak.


"Maksudmu apa?" tanya Kim So Yoon segera


Lucu katanya? Thor aja takut.


"Apa maumu?" Tanya Kim So Yoon, dalam posisi cemas sekaligus geli tiap matanya bersitatap dengan hewan itu.


"Ehmmmm,." Ara menaruh jemari puteri Hwa di dagu. Seolah berpikir.


Dan


Cletik.


Suara jentik jemari yang diadu terdengar dari sisi puteri Hwa. Ara ingat, ada yang pantas dijadikan imbalan di sini.


Memundurkan tubuh, Ara menaruh bokong puteri Hwa di atas meja dan duduk manis di sana.


Duduk di atas meja??? Pakek kaki disilang gak??


'Puteri Hwa?' Dayang Han membatin kala melihat tindakan gadis yang merupakan majikannya itu, kenapa seperti itu??


Tak luput juga rasa tak percaya dari wajah Kim so Yoon melihat hal yang sama. Bagaimana mungkin seorang puteri duduk di atas meja????!!


"Kau, beritahu aku, kenapa kau sangat membenciku,." Imbalan yang terpikirkan oleh Ara, tak urung membuat Kim So Yoon lagi-lagi harus dibuat tak percaya.

__ADS_1


Situasi apa ini?????!!!!


"kalau kau malu karena ada dayang Han, aku bisa mengusirnya atau kau bisa berbisik di telingaku." Tawar Ara ketika melihat Kim So Yoon seolah berpikir untuk menjawab.


Dan. Gadis itu malah memilih mendekat dan berbisik.


Ara menunggu dengan sabar.


Hingga.


"Kau, puteri pembawa sial di sini, Hwa-ya. Seorang wanita istana yang menghinakan dirinya dengan merayu dan jatuh cinta pada kakaknya sendiri." bisik gadis itu yang langsung seolah membuat semua halilintar menari di ruangan itu.


Memekakkan telinga puteri Hwa, membuat Ara kesulitan menstabilkan diri.


Ada apa ini??


"Heh, kau jangan sembarangan. Kalau kau ingin membalas perlakuan buruk. Maka jangan memfitnahku seperti ini, nona Kim So Yoon." Ara menatap tajam pada gadis yang sudah menegakkan kembali tubuhnya.


Ara mencari kebenaran dalam mata gadis rubah itu. Yang..


Tak ia temui dusta di sana


What the fu-..-k!!!!


Apa-apaan ini????!!


Puteri Hwa menyimpan rasa pada saudaranya sendiri????? Bukankah, bukankah....


"Aku sudah memiliki calon sendiri, nona Kim. Kau tau pasti itu." Ara melanjutkan ucapannya dalam usaha mematahkan tuduhan itu.


Terkekeh. "Oh ya?? Lalu, bagaimana kelanjutannya puteri Hwa? Bukankah, bukankah kau menyukai pria itu?? Kenapa kau belum kembali menemuinya?? apa karena hatimu masih mencintai kakakmu sendiri? Maka kau bertingkah..." ejek gadis rubah ekor 11 itu.


Ara, mengepalkan genggaman tangan puteri Hwa.


Tidak!!! Ini tidak benar.


Gadis ini hanya berusaha memprovokasi dan membalasnya karena mengganggu proses pemilihan waktu itu.


Ya. Seperti itu benarnya. Dan memang begitu harusnya. Bukan dengan membenarkan tuduhan menjijikkan ini.


"Itu tidak benar, nona Kim So Yoon. Kau tahu satu hal...." Ara bangkit dan mengikis jaraknya.


Membisikkan hal serupa.


"Kau tahu, kau membenciku karena perasaanmu tak terbalas oleh kakakku. Maka kau tentu dengan tega memfitnahku seperti ini, bukan?" Bisik Ara, tajam.


Namun respon yang didapatnya justeru, kekehan konyol lagi.


"Oh ya?? Kalau begitu. Mari buktikan. Buat putera mahkota, menolakku seperti yang dilakukan pada gadis-gadis bangsawan lainnya." Balas Kim So Yoon.

__ADS_1


"Ada apa ini???" Tanpa disadari,,,, putera mahkota sudah berdiri di sisi mereka berdua. Membuat keduanya sama-sama terkejut mendapati objek yang dibahas berdiri kokoh kini....


Ada apa ini????


__ADS_2