100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
Tangis Han-ah, Ara pelakunya


__ADS_3

"Apa kau tahu, Puteri. Ini adalah tempat, di mana kita dahulu sering bermain. Tapi sayangnya..." Ujar putera mahkota memotong kalimatnya. Membuat gadis bar bar bertubuh seorang puteri kini menoleh, menunggu dengan sabar... Dan juga, kepoww.


"Sayangnya???" Ulang Ara penasaran.


Putera mahkota melempar arah pandangannya jauh lurus ke depan. Ke hamparan air yang jernih dengan kilauan karena pantulan sinar mentari saat itu.


Ara memperhatikan pandangan pria itu. Seolah menyiratkan ada kesedihan di sana.


"Sayangnya, setelah semua insiden yang menimpamu itu. Kau menjadi tertutup, takut ke mana-mana, dan mendadak sedikit berbicara, walau kau memang tak secerewet sekarang. Tapi kau cukup tanggap setiap obrolan kitam" Jelas pria itu tanpa memutus pandangannnya.


Ara, mengerutkan bibirnya sedikit.


Itu kode keras kalau Ara itu, cerewet? Tidak kan,, Ara itu hanya ramah, ya, ramah,, kata yang tepat mewakili keinginan Ara... Ia adalah gadis manis yang sangat ramah pada semua orang.


"Insiden apa saja Yang Mulia?." lanjut Ara yang kembali menanyakan hal yang membuatnya penasaran lagi.


"insiden yang buruk yang mampu mengubur pribadimu yang hangat, Ara." Jawab putera mahkota yang kini mengalihkan pandangannya pada Ara. Dan binar redup itu tetap bertahan.


Seberapa besar dampak insiden itu hingga mampu mengubah pribadi puteri Hwa yang hangat menjadi tertutup, dan mungkin berubah menjadi dingin?


*****


Malamnya.


Ara yang rencananya tadi adalah mengurai benang kusut antara peristiwa dirinya dan juga puteri Hwa, namun gagal setelah putera mahkoga ikut-ikutan piknik ria bersama Ara. Maka jadilah malam ini, Ara yang sudah meminta perlengkapan menulisnya akan bersiap menata tiap benang yang kusut tadi.


Tapi....


Ini yang di suruh ambil barang-barang permintaan Ara, kok lama banget sih....


"Ahhh, dayang Han, lama. Males gue ah nunggunya." Keluh Ara tak sabar. Tangannya ia tekuk dengan siku bertopang pada meja sementara telapanya ia gunakan sebagai penopang sisi kepalanya sebelah kiri.


Beberapa menit lamanya.


Yang ditunggu datang juga. Terdengar dari derap langkah kaki yang terburu-buru.


"Nah itu, bocahnya dateng." Gemas Ara yang masih mempertahankan posisi malasnya.


Bibirnya jangan lupakan ya, dah maju 5 meter noh.


Sreeetttt


Tergopoh-gopoh. Dengan tangan kiri memeluk gulungan kertas, sementara tangan kanan menenteng kotak yang Ara tebak berisi alat tulis.

__ADS_1


"Lama Loe." Kata Ara kesal, bersungut sebal.


Dayang Han membungkukan tubuhnya lalu segera melangkah menuju Ara yang sudah tajam meliriknya.


"Ini Yang Mulia." ujar dayang Han


Sedikit kaget melihat banyak sekali remahan bekas makan puteri ini.


Dihh, kenapa majikan Lo jadi gitu sih. Terus itu apaan, kenapa bekas nasi banyak berserakan di atas meja. Dan, di tata gitu, seperti......??? Itu apa ya???


Tanda kah? Simbol kah? Tulisankah? Atau keisengan Ara saja.


"Ini, kenapa nasinya seperti ini, puteri? Apa anda sedang tidak ingin memakan nasi..? Tanya dayang Han yang sudah diujung banget penasarannya. Ya ilah, ngapain juga nasi di gituin coba.


"Ooo, ini...." Ara menunjuk nasi-nasi yang ia bentuk seperti jalinan arah kasus atau insiden mereka, Ara dan puteri Hwa.


Karena perlengkapan menulisnya lama sampai. Entah ngambil di mana ini dayang, apa ke Jepang sana ngambilnya.


Ck ck ck.


dasar Ara.


"Aku hanya iseng saja, saking lamanya menunggu kau dayang Han. Mungkin kalau kau masih belum datang. aku akan menyiapkan pisau sebagai ganti untuk mengambil tulangmu menggantikan semua ini." Jawab Ara asal saking gemas.


Ara sadar akan sikap horor dayang Han itu. Jelaslah, ucapan barusan memang terkesan menyeramkan untuk ukuran seorang perempuan.


Mereguk saliva yang terasa berbatu, dayang Han menata perlengkapan menulis dengan diam dan sangat pelan gerakkannya.


"Kenapa dengan dirimu, huh?" Tanya Ara yang sadar dengan sikap gugup pelayannya. Karena selama ia menjadi majikan dadakan, ia tak menemui sika lambat dari dayang ini. Sepertinya ancamannya cukup membuat nyali dayang ini melempem.


Plak!!


"Kau ini, aku hanya bercanda woy!!! Kau serius sekali, sih" ucap Ara menepuk bahu belakang dayang Han hingga membuat pelayan itu tergagap saking terkejut dengan sengatan di bahunya barusan.


"Eh, maaf maaf. Kaget ya?" Ucap Ara yang malah mendapatkan reaksi tak terduga dari dayang Han.


Pelayan itu langsung membungkukan tubuhnya dan meletakkan kepalanya pada lantai, bersujud.


"Yang Mulia, hamba yang bersalah. Hamba patut di hukum mati." Ucap dayang Han tiba-tiba.


"Hei, kenapa denganmu, huh?? Aku yang salah karena mengancam mu dan mengagetkanmu. Kenapa kau bersikap begini, huh" sanggah Ara yang merasa jika dayang Han berlebihan.


"Tap-tapi sa-saya membuat anda meminta maaf. Anda adalah majikan saya. Dan saya tidak layak mendapatkan permohonan maaf dari anda, Yang Mulia." Jelas dayang Han, yang langsung dipahami Ara. Bahwa dalam masa ini, seorang majikan yang notabennýa dari kasta bangsawan tidak boleh meminta maaf pada pelayannya yang berhak atas hìdup kasta rendahan itu.

__ADS_1


"Hei, hei, hentikan. sudah-sudah. Ayo bangun, jangan sujud seperti itu dayang Han." ucap Ara yang jengah melihatnya. Walau jauh di lubuk hatinya, ia merasa bersalah, tentu saja.


"Maafkan hamba, Puteri. Maafkan hamba. Hiks hiks." Ucap dayang Han yang menambah rasa tak enak dalam diri Ara melihat pelayan muda itu kini terisak


Ara beringsut maju, mendekati tubuh dayang Han yang masih bersujud.


Meraih serta merengkuh tubuh ramping itu.


"Hei, sudah, Han-ah. Jangan menangis, kalau kau tidak mau mendengarku mengucapkan maaf, maka hentìkanlah tangismu. Aku jadi merasa bersalah jika kau seperti ini." Kata Ara yang ikut sesak dan tersalurkan keinginan ingin menumpahkan air mata.


"Huahhhh Puteri Hwa. Maafkan hamba, huaaaa." Dan tangis dayang Han menjadi deras.


Membuat Ara sontak menepuk bahu gadis itu dengan lembut.


"Iya, iya, aku maafkan. Jadi, sudah jangan menangis lagi. Nanti kau jelek loh. Bukankah kau tengah jatuh cinta saat ini, huh? nanti pria yang kau sukai melihat wajahmu membengkak, mau? Sungguh jelek sekali itu, Han-ah" Jelas Ara yang mencampùrnya dengan sedikit godaan.


Dayang Han mendadak menghentikan isakannya, melepas peluknya lalu melihat puteri lamat-lamat.


"Bagaimana anda tahu, saya jatuh cinta, Puteri?" Tanya dayang Han, polosnya.


Helowww, Ara geto loh. Jelas banget lah sikap perempuan yang tengah kasmaran yang bisa diketahui seorang playgirl macam Ara. Jelas banget.


"Hmm." Jawab Ara hanya berdeham.


"Apa dia, seseorang yang ada dalam barisan pengawal putera mahkota, Han-ah?" Bisik Ara pelan, dengan kekehan setelahnya.


Lalu, terbitlah rona merah di wajah dayang Han.


Benar sekali rupanya tebakan Ara.


Gadis nakal ya, Ara.


"Puteri Hwa!!!!" Teriak Dayang Han menutup wajahnya malu. Sementara Ara terpingkal-pingkal merespon sikap dayang Han yang kini malu itu.


Sementara, di luar pintu..


"Apa perlu saya kabarkan kedatangan Anda, Yang Mulia." Ucap dayang yang menjaga pintu kamar puteri.


"Tidak usah. Biarlah, aku akan segera pergi." Titah putera mahkota.


Berbalik, lalu mulai melangkah meninggalkan ruangan yang tadi ia dengar isak tangis drama itu.


"Han-ah? Puteri, puteri,..... Ara, Ara" Pelan putera mahkota berucap sembari menyunggingkan sedikit senyumnya mendengar sekelumit kata yang begitu akrabnya bagi seorang majikan pada pelayannya.

__ADS_1


__ADS_2