
Ara berusaha menjaga emosinya stabil. Jangan sampai pria yang baru saja melempar tanya padanya mampu membaca gerak aneh sedikitpun darinya.
Jangan sampai, Ara!!!
Mendekat. Ia meraih cangkir kecil yang sepertinya terbuat dari porselain terbaik era itu.
Lah jelas, orang bangsawan, ya pakeknya kualitas number one lah.
"Maksud Anda apa, Yang Mulia?" Tanya Ara sebelum mereguk air teh yang sudah berada di genggaman jemarinya.
Hening, tidak menjawab. Ara, tetap saja berusaha tenang dengan unsur teh yang pasti memberi khasiat menenangkan.
Selesai.
Ara mendongakkan kepalanya. Dan....
Oh God!
Si doi tengah menatapnya, lekat, intens, dan penuh makna!!!.
Paan maknanya coba??
Terkekeh pelan, menebar racun yang selalu berhasil memikat Ara seperti sebelumnya. Senyum.
"Kau tentu tahu, puteri." ujarnya, singkat.
Ara tak paham.
"Bukankah, kita berbagi rahasia yang sama." lanjutnya
Ara menatapnya
"Rahasia yang kita tahu apa itu." tambah pria itu lagi.
'Rahasia?, sama?' batin Ara tak mengerti sama sekali.
Maksudnya apa coba seh!¡!!!!!!
Ara kini menatap balik pria itu. Mencari hal yang membuatnya tak paham. Jangan main teka teki sama Ara, ya?? Ara gak suka. Karena, dia mah kadang suka Lola alias Loading Lambat. Pa lagi di sini kagak ada jaringan internet apapun. Kan tambah susah.
Yang ditatap, tetap memberi ekspresi sama. Mengumbar senyum, meski hanya menggores sedikit. Tapi, gambarannya jelas. Sempurna.
Ayolah!!! Ara nyerah deh. Angkat bendera. Kasih jawaban deh, please!!!!!
Kalau bisa, ia tentu akan memberi rengekan seperti itu. Tapi, ini.... Oh God!!! Gak mungkin kan!!!!
"Kau lupa, puteri?" pria itu membuka suaranya lagi. Namun, kenapa dalam bentuk kalimat tanya, bukan kalimat jawaban.
Gimana!!!!!
"Tidak, tentu aku ingat, putera mahkota. Kau pikir aku sudah setua itu, huh??" gerutu Ara yang tujuannya sebal karena memang tak paham.
Namun, pria yang berjuluk putera mahkota itu, kembali terkekeh, dan Ara tak suka itu.
Beneran!!!
Lalu.... Tanpa di duga.
"Aku akan pulang saja kalau begitu." sang putera mahkota sudah berdiri mantap, membuat Ara sontak mendongak tajam mendapati tubuh pria yang tadi melempar permainan teka-teki itu sudah bersiap meninggalkannya, bersama rasa penasaran tentunya.
__ADS_1
Melenggang angkuh melewati Ara yang sudah dalam posisi berdiri. Meski sempat melempar senyum, namun kali ini tak berdampak pada debar sialan yang selalu berdentam tak jelas di dalam rongga tubuhnya itu. Karena, kali ini Ara benar-benar frustasi terhadap obrolan penuh misteri itu.
Dan, mengapa harus putera mahkota yang mengajaknya bermain itu. Coba saja tiga gadis tengil atau puteri Ara, tentu mudah baginya untuk mengabaikan atau mengancam meminta jawaban, tapi tidak berlaku pada pria yang punya otoritas kedua di negeri ini selain raja.
"Arggghh, sebel gue." teriak Ara frustasi sepeninggal putera mahkota yang sudah lenyap dari balik pintu geser.
"Gilakkkk, dia arghhh. Maksudnya apaan sih." Kembali gerutunya dengan nada yang cukup intens, hingga memunculkan sosok perempuan muda berbaju hijau yang selalu setia dan siap sedia untuknya... Dayang Han.
"Ada apa, Yang Mulia?" tanyanya begitu membuka pintu yang sama dengan yang dilewati pria menyebalkan tadi.
"Gue sebel, dayang Han. Sebel pakek banget." Geram Ara menjawab tanya dayang muda itu.
Kening gadis yang bertanya pada Ara kini berkerut dalam. Tak paham pulak kau..
"Ayo, kita keluar, gue sumpek di sini." Ara sigap menarik tubuhnya untuk menuju pintu geser. Menariknya kasar, dan....
Melirik dayang Han yang masih konsisten di posisinya.
"Kenapa masih diam, hayook." Gemas Ara dengan sikap diam itu.
"I-iya Puteri." Sahut dayang Han mengikuti Ara menuju luar kediaman.
*********
Sementara di lain tempat. Di salah satu sudut bangunan yang cukup minim cahaya, 4 orang tengah berdiri berhadapan. Dengan tubuh yang tertutup jubah masing-masing.
Salah satu dari mereka mengeluarkan benda dari bungkusan kain hitam.
Paan seh????
Memberikannya pada sosok yang berjubah hijau.
"Kau, berikan pada dayang yang melayani puteri Hwa. Bilang padanya untuk meletakkan di dalam selimutnya, dan juga di tempat pemandiannya." Perintah sosok yang memiliki postur tubuh serta suara perempuan yang memberikan bungkusan tadi.
Mengambil bungkusan itu lalu menaruhnya pada salah satu bagian pakaiannya. Penuh hati-hati.
Sementara dua sosok yang lain, mengintai ke sekeliling dengan sikap siaga, jika ada hal mencurigakan ataupun penjaga maupun orang yang bukan tim mereka tiba-tiba menyergap.
"Kali ini, puteri Hwa harus patuh dan takut dengan ancaman ini. Karena jika tidak, maka ia akan mengulangi hal yang serupa kembali terhadapnya." Jelas sosok perempuan misterius yang sepertinya pesuruh utama dari geng bunga aroma apel, yang kembali mengintimidasi puteri Hwa berupa ancaman dari bungkusan misterius tadi
******
Ara, yang mulai merasakan ketenangan, bergegas turun dari jembatan setelah puas menatap indahnya malam di atas danau kecil berisi teratai mekar dengan pantulan sinar bulan.
"Hayokk guys, kita pulang." ajak Ara menatap pada semua pelayannya.
Menurut patuh. Para bawahan puteri Ara mengikutinya dari belakang. Menuju kediaman gadis yang kini sudah kembali mengendurkan kerutan di wajahnya.
Tiba di kediamannya.
"Dayang Han." Panggil Ara pads pelayannya yang baru saja meletakkan baki berisi teko dan gelas kecil di meja sebelah tempat pembaringan Ara yang sudah terbentang rapi.
"Iya, Yang Mulia." sahut dayang Han menoleh pada puteri Hwa.
"Besok, antarkan aku ke kediaman puteri Ara, okey." Titah Ara pada dayang Han yang menimbulkan gurat bingung di wajah pelayan itu.
"Kediaman puteri Ara? puteri Hwa?" Tanya dayang Han yang menyerupai penegasan benar atau tidak.
Yang dijawab Ara dengan dehaman saja.
__ADS_1
"Baik, Yang Mulia." jawab dayang Han yang bersiap meninggalkan ruangan milik puteri Hwa ketika sudah melihat majikannya sudah bersiap di atas tempat tidurnya.
Sementara Ara, ia yang sudah mendudukkan bokongnya di atas kasur. Siap meraih selimut, namun terhenti saat ia merasakan paha kirinya seperti terganjal sesuatu.
Paan lagi seh???
Merabanya dari luar, panjang, kurus, dan rada empuk-empuk tapi juga keras.
Hayooo paaan coba
"Apa yak, bantalkah?, gak mungkin deh, kecil gini" gumamnya pelan.
Tak menunggu waktu lama, rasa penasaran itu terbayarkan kala ia menemukan benda....
Ini???? Kan, Ara tau ini, ya ini..... Boneka Voodo!!!!
"Arrgghhhhhh." Pekiknya kuat, menahan tangan dan langkah dayang Han yang baru saja menutup pintu geser ruangan milik puteri Hwa ketika mendengan jeritan majikannya.
"Ada apa, Yang Mulia.?" Gegasnya melangkah masuk, diiringi juga oleh beberapa dayang yang ada di luar ruangan.
Ara, dengan wajah bergidik, mengangkat benda yang menjadj objek pekikannya.
Pun sama, yang melihat benda itu memberi ekspresi horor terkejut.
"Jelek banget sih." Ujar Ara melihat boneka yang tergantung di tangan kanannya.
"Darimana Anda mendapatkannya, puteri?" Tanya salah satu dayang yang berada di dalam.
"Itu." Tunjuk Ara pada bagian dalam selimutnya.
"Siapa yang mengurus tempat tidur puteri malam ini???" hardik dayang tadi melirik tajam pada dayang disekitarnya.
Menggeleng bersamaan. Dayang yang ditatap tak satupun menganggukkan kepala.
"Sudahlah., tidak usah diperdebatkan. Boneka saja kok." Ara melempar benda jelek itu ke seberang meja kecil dekat tempat tidurnya.
"Tap..." Sanggah dayang tadi yang segera disambar Ara.
"Sudahlah, aku menjerit tadi karena, terkejut saja melihat boneka ini jelek sekali." Sambar Ara.
"Aku tau kok ini boneka Voodo, tapi sudahlah jangan dipermasalahkan. Selagi aku tidak apa-apa." Jelas Ara meyakinkan mereka yang meragu karena bagi kalangan istana atau masyarakat era ini masih kental dengan boneka buruk rupa ini jika ditemukan di dekat mereka.
"Sana keluar semua. Dan bawa boneka jelek itu. Bakar bila perlu." perintah Ara kemudian. Membungkam kata pelayan yang hendak berbicara.
***
Keesokan harinya.
"Arrghhh." Pekik Ara lagi.
Namun detik kemudian, "Jangan masuk, awas kalo masuk." Lanjut Ara memberi perintahnya yang menahan tangan para dayang yang baru saja menggerakkan pintu geser ruang pemandian tempat Ara mandi.
"Sialan, ini boneka semalem kena....." Ara terdiam sesaat.
Tunggu.
"Ini bukan boneka yang semalam." Gumamnya setelah memperhatikan detil boneka voodo yang ia temukan di bak pemandiannya.
Boneka semalam ia menilai kejelekan luar biasa dengan kepala terbelah bagian atas, rambut kasar dan jelek, menggunakan jerami yang sedikit terbakar bagian bawahnya, sementara boneka ini.. Meski sama-sama jelek, tapi jerami yang digunakan dililit belukar akar di tengahnya.
__ADS_1
"Jadi, kalian.... Mau mengirimkan ilmu hitam padaku, huh???"
"Dan, ini pasti hanya ancaman dulu. Bukan??" Seringainya sinis.