
Ratu menatap lurus ke pintu geser, ia kini tengah berada di dalam kediamannya. Mengetuk kasar telunjuknya yang ia tekuk di atas meja. Bibirnya terkatup sempurna namun, seringainya tak lepas sedari tadi.
"Dasar rubah licik. Berani sekali menipu semua orang di sini." Gumamnya lalu.
Setelah mendapatkan informasi yang sungguh tak terduga dari saman terviral di Joseon, ratu semakin gencar untuk melenyapkan puteri.
Sebelumnya, tujuannya pergi ke saman tak lain hanya untuk membuat puteri Hwa merasakan delusi seperti sebelumnya. Ketakutan akan penglihatan tak biasa di sekelilingnya. Namun, ketika menginjakkan kaki di tempat menyeramkan itu, sungguh, ia serasa mendapatkan informasi luar biasa.
Mendengar ada jiwa orang lain yang kini mengendalikan tubuh puteri Hwa, memantik kegeramannya pada sosok tersebut. Terlebih, jika jiwa itu ternyata bukan baru menempati, tapi sudah ada dalam kurun waktu beberapa bulan terakhir ini.
Yang artinya, sudah cukup lama jiwa tak jelas itu berada di lingkungan bangsawan.
"Jika demikian, itu artinya...."
Ratu menghentikan pergerakan jemarinya di atas meja..... "Jiwa itu merasuki tubuh puteri Hwa saat..."
Ratu menggeleng pelan lalu kembali mengeluarkan smirk sinisnya.... "Saat puteri sialan itu digantung di ruangannya." tebak ratu yakin.
Dugaannya dengan penuh percaya diri melayang jauh ketika ia merasakan aura perubahan puteri ketika insiden penggantungan di kamar puteri Hwa. Karena dengan sangat jelas, saat itu, puteri Hwa menunjukkan gelagat mendadak tak mengenali siapapun di sekelilingnya, bahkan menyebutkan hal aneh dari bibirnya.
"Kita akan ke bangunan puteri Hwa." panggilnya pada para dayangnya. Dan dari luar pintu geser, para dayang pun serempak mengangguk.
"Siapa kau sebenarnya." lirih ratu berucap.
****
"Helehh, ini kuping kenapa gatel banget yak???" Ara mengorek telinga puteri Hwa dengan gemas, sedari kemarin ia merasakan jika telinga itu mendadak membuatnya risih.
"Kau tidak mengatakan hal buruk padaku, kan?" ia menoleh sadis pada dayang Han yang duduk sembari menuangkan air berisi teh beraroma bunga mendadak terjengkit ketika majikannya melayangkan tuduhan itu.
"Hah, puteri?" kagetnya, namun tangannya masih stabil memegang teko porselain itu.
"Kau...." Ara menatap penuh selidik pada dayang muda itu.
Dayang Han menunggu, dengan cemas tentunya.
"Awas saja jika kau mengatakan hal buruk padaku, hingga telingaku menjadi gatal seharian." tatapnya menyipit.
__ADS_1
Yang dituduh, tak kalah membalas bingung, kenapa pula gadis bangsawan ini tanpa hujan dan panas maupun badai tiba-tiba melayangkan tuduhan seperti itu.
Dan lagi, ia juga penasaran memang pada puteri Hwa yang memang sedari semalam menggaruk telinganya, memang mirip jika orang lain tengah mengatakan hal buruk terhadapnya, tapi bukan dia dong.
"Ti-tidak yang mulia. Ha-hamba tidak mengatakan hal bu-buruk pada anda." jawab dayang Han bernada gugup.
"Kenapa kau gugup begitu?" lagi, si bar-bar melayangkan tuduhan lain arahnya.
"Hah?" sahut dayang Han yang kembali tertegun akan kalimat majikannya.
Ya kali kalo Lo dituduh gitu dengan intimidasi tatapan, siapa juga yang gak gugup Munarohhhhhh.
"Tidak yang mulia." sahut dayang Han pelan dan menarik nafas hati-hati.
"Sudahlah, sana." Ara mengibaskan telapak tangan puteri Hwa, mengusir dayang itu dari hadapannya.
Ara, semenjak kebangkitannya dari kematian itu, mulai melancarkan misi baru lagi, mengubah kepribadian puteri Hwa untuk membalas siapapun yang menyebabkan hal menakutkan itu, terlebih, ia dendam sekali pada si penusuk malam itu, jelas sekali jika lawannya kala itu adalah seorang pria.
"Heh, ban-i sekali sih tuh orang." decih Ara mengingat pelaku itu. Ia akan memastikan sejelas-jelasnya jika lawannya itu akan mendapat balasan setimpal.
"Dia belum tahu kalo gue ada jurus mematikan, huh"! Dengusnya kemudian.
"Mana gak ada jeda dan mikir gue cewek lagi." gerutunya lagi.
"Oh ya. Pengawal di bangunan ini aja juga berani melayangkan senjata ke gue, apa lagi orang lain, kan?" lanjutnya berpikir.
"Yang mulia, ratu mengunjungi anda." panggil suara dayang penjaga pintu ruangan puteri Hwa.
Ara yang tengah asyik menduga dan bersuuzon ria itu, tertegun mendengar pemberitahuan barusan.
"Ratu? Emak tiri puteri?" gumamnya bertanya sendiri.
Srett
Pintu doraemon pun terbuka, eh pintu geser maksudnya.
Menampilkan perempuan paruh baya yang elegan dengan balutan busana bersulam bunga yang Ara yakini itu terbuat dari benang emas, karena kilaunya memanggil jiwa fashion si tengil.
__ADS_1
"Yang mulia." Ara bangkit berdiri, sudah dilakukan penyetelan otomatis dalam dirinya, ketika para anggota kerajaan atau bangsawan bertemu dengannya, maka ia langsung menyapa hormat.
Membungkukkan sedikit kepalanya menyambut ratu.
"Puteri." sahut ratu memandang puteri Hwa lekat. Gadis itu sudah menggeser tubuhnya dari singgasana dan bergerak menuju bantalan duduk di sisi seberang ratu.
Hening.
Ara bingung, ini situasi apa? Kenapa mendadak ia merasa panas seketika.
Pelan mengangkat kepala puteri Hwa.
Kan benar, bukan suuzon konyol, karena ia menangkap basah ratu yang memandangnya intens.
'Kenapa sih si ratu, ngomong kagak, tapi melototin mulu.' batin Ara heran.
Dan situasi itu, terus berlangsung hingga dayang masuk ke dalam ruangan, membawa baki berisi hidangan sepertinya.
'Eh, kok dayang itu.....' Ara menyipitkan mata puteri Hwa kala menangkap sosok yang pernah bertarung sengit dengannya di hutan, kini membawakan sesuatu di atas baki, menuju mejanya.
"Taruh untuk puteri Hwa, hidangan sempurna untuk puteri." perintah ratu yang diangguki oleh si dayang.
Menyebalkan, dayang itu entah Ara salah lihat atau memang benar, ia melihat sekilas seringai mengejek dari sudut bibir dayang tengil itu.
Eih, sesama tengil jangan saling ngatain, Ara.
"Silahkan menikmati, yang mulia." ucap si dayang.
Heh? Tumben sekali dayang malah mengatakan hal demikian, tak biasa sekali, bukan?
Ara tentu saja menyadari dengan sangat jelas, tanpa perlu melihat, atau merasakan, ia tahu jika hidangan di hadapannya ini, berbahan buah yang ia benci, yang bisa membuat dirinya mendadak menderita rasa panas bukan main, pun ia tahu jika puteri buruk rupa ini juga memiliki alergi yang sama.
Lalu? Ratu? Dayang? Menghidangkan hal itu?
"Oh no, oh no, oh no no no no no." Ara menggeleng seraya mengucapkan kata yang viral di sosial medianya.
Menatap pada dua orang yang saling berseberangan. Dayang tengil itu tengah menuangkan air dari teko merah muda di atas cangkir kecil dengan detail dan warna yang sama.
__ADS_1
"Oohh jadi korang komplotan, yak.!" gumamnya tegas.
Ia tahu, kini mereka pada geng apel somplak itu, di bawah gengster bergelar ratu.