100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
Paman Rasa Kekasih


__ADS_3

"Tidak Yang Mulia. Awalnya saat pertemua pertama juga sangat menyebalkan kita memiliki nama yang serupa." jawab Ara jujur.


"Menyebalkan?"


"Iya, memiliki nama yang sama dengan orang yang sering membuat kita sebal setiap bertemu." lanjut Ara tak sadar.


"Jadi... Menurutmu aku menyebalkan....."


Puteri Ara mendelik tajam.


"Oo, tentu." Ara menegaskan dengan tengilnya telapak tangan puteri Hwa ia adu dengan meja itu.


Membuktikan...


"Anda sangat menyebalkan sekali, Yang Mulia."


Bertambahlah sorot tajam itu memindai dirinya.


"Sumpah!!! Aku berkata jujur. Lihat." Ara bahkan mencondongkan tubuh sembari kepala di hadapkan, mata di pelototkan. Minta penilaian akan kejujurannya, kejujuran yang lucnut sekali.


"Kau, sungguh berani sekali, dasar roh tersesat!!"" decih puteri Ara.


"Huhahaaaahahahhaha" tergelak lah demit kesesat yang tak sadar diri itu.


"Kau, entah kebenaran bernama serupa denganku, sungguh roh yang tak tahu diri rupanya."


Ara tertegun


"Hei Yang Mulia. Aku kan sudah bilang punya nama. Ara, Jo Ara. Panggil itu, jangan roh atau hantu tersesat, begini-begini aku terkenal di duniaku."


.


.


.


.


.


Pernahkah kalian membayangkan, betapa bahagianya mendapat perhatian dari dua pria tampan dalam hidup kalian???


Ya, benar sekali, tentu akan bahagia.


Tapi tidak untuk yang satu ini.


"Anda si...siapa?" begitu, todong Ara pada sosok baru lagi yang kini menghampirinya yang tengah menikmati semilir angin di sore hari itu.


Sendirian tentu saja. Karena dayang Han masih menjalankan dinas luar.


Begitu misinya.


Setelah selesai berdeham dan membuat Ara bingung. Kini pria yang mengenakan pakaian berwarna hijau muda gradasi putih, membawa keranjang yang Ara tebak isinya pasti makanan itu kini mengambil bagian duduk di sebelahnya.


"apa kau lupa. Siapa aku, Yang Mulia?" tanya pria tampan rupawan itu, dengan pria lain yang Ara tebak adalah temannya.


Mupeng? Gak. Bukan tipe Ara.


'Siapa sih nie orang. Mana dayang Han belum balik, waduh, keliatan bodoh deh gue.' batinnya mengeluh.


"Tidak. Aku lupa." jawab Ara tak peduli.

__ADS_1


"Nah, siapa tahu dirimu ingat dengan ini." selorohnya menyerahkan bawaannya tadi.


"Kesemek?" cetus Ara hanya melalui aroma isi keranjang itu.


"Iya. Manisan buah kesemek kering. Bukankah anda juga suka?." tanya pria itu yang masih mengumbar senyum untuknya.


Ara mengangguk, dari sekian hamba Tuhan di istana ini, pria ini tak memberinya apel melainkan kesemek, yang tentu ia terima dalam batinnya.


"Makanlah." lihatlah, pria itu membuka isi keranjang yang menutupi kotak kecil berisi penuh manisan kesemek yang menggiurkan tampilannya.


"Apakah...... Ini aman?" tanpa basa-basi, Ara melontarkan kalimat itu.


"Tentu Yang Mulia. Mana mungkin aku akan memberimu bahaya." sahut pria itu dengan senyum yang semakin lebar.


'Dih, sok kegantengan banget Lo. Senyum mulu. Soteng iklan pasta gigi apa?' ejek Ara dalam batinnya


"Ada apa puteri? apakah kau tengah terpesona denganku?" tanyanya ketika Ara tak mengalihkan netra itu darinya.


"Heh?" Ara kaget dengan tuduhan itu.


Hingga


"Aishhhh yang benar saja. Kau bukan tipeku." ujarnya seraya mengibaskan telapak tangan.


Percaya diri sekali pria itu, bukan?


"Hahahahah. " tawanya, bahkan tawa itu saja menambah kegagahannya. Bak suara Hyun Bin campur Lee Min Ho.


"Apanya yang lucu." delik Ara dengan mata menyipit.


"Sumpah. Aku ingin memelukmu. Puteri Hwa." lanjut pria itu dengan wajah meringis.


Coba ulang lagi apa katanya tadi?


Hayolah, siapa pula pria kurang ajar ini. Setahunya, pria dalam anggota kerajaan ini hanya putera mahkota seorang. Raja tak memiliki putera lain...


Tapi kalo raja punya simpanan gimana?


Tak mungkin kan sedekat-dekatnya seorang kekasih bisa sembarang melontar kata demikian dalam lingkungan bangsawan, bukan?


"Itu lambe jaga deh, omes banget." komen Ara tajam, merasa risih pastinya.


Mendengar ucapan gadis itu, kembali gelak tawa menguar dari pria tampan itu, hingga pengawal dan dayang pengiring puteri Hwa menoleh bersamaan pada tiga orang yang ada di gazebo tepi kolam itu.


"Jadi benar, rupanya kau memang mengucapkan kata-kata aneh puteri Hwa. Aku pikir itu hanya gosip buruk saja." ucapnya dengan sisa tawa yang masih mengiringi.


"Kata-kata aneh?" ulang Ara mengerutkan dahinya.


Pria itu mengangguk, sementara temannya hanya tersenyum simpul tidak setengil dirinya.


"Barusan. Kata-katamu banyak yang aneh. Aku tak paham. Tapi lucu." balasnya mengomentari.


Ara menarik nafas dan mengeluarkan pelan-pelan. Khawatir, sisa harinya yang 19 hari itu dipercepat karena gondok menghadapi demit berwujud pria ini.


"Sudahlah. Aku tak kenal siapa dirimu, tapi kau begitu berani denganku. Bahkan yang benar-benar saudaraku saja tidak seberani dirimu." ucap Ara mulai tak nyaman.


"Bahkan pria yang dijodohkan denganku saja tidak secabul dirimu." lanjutny mengingat sosok pangeran Sin. Si Oppa Hoon versi Joseon.


"Siapa maksudmu? Apakah pangeran sinting itu?" tanya pria itu penuh tatapan selidik.


Tak suka ketika Ara melontarkan pangeran Sin.

__ADS_1


"Pangeran sinting apanya. Jangan sembarangan bicara." balas Ara menatap tajam.


"Heh, bukannya kau sendiri yang bilang pangeran itu sinting dan menolak perjodohan itu, bukan?" tak mau kalah.


"Jangan memfitnahku, pangeran setampan dan baik begitu dibilang sinting." Tolak Ara pada sosok idamannya di dunia sana.


Hanya saja, idamannya di sini sudah berubah, putera mahkota tentunya.


Plak!!


Lihatlah, bukan hanya berani secara verbal.


Tapi pria itu sudah berani menggeplak kening puteri Hwa dengan sentilan jemarinya.


"Kau!!!" kecam Ara sebal.


Bolehkah ia membalas?


Ooo tentu saja. Kenapa harus izin, bukan?


Plak!!!


Membalas lebih kencang lagi, mengandalkan kemampuannya setiap bermain Go dengan Hana.


"Awww, puteri Hwa!!" pekik pria itu menyentuh dahinya dengan raut wajah sedikit meringis.


"Makanya jangan sembarangan memukul dahiku." ujar Ara santai.


"Wahhh kau sudah berani denganku rupanya, ya???!!!" tutur pria itu memberi seringainya untuk Ara.


"Kenapa memangnya, huh??!!!" Ara jelas tak mau kalah, menerima sikap tubuh menantang dari pria itu.


Kini sikap tubuh dua orang itu sudah persis siap adu otot, ketengilan mereka terlihat jelas.


"Paman, kau sudah datang rupanya."


Suara yang Ara kenal tanpa perlu menoleh itu merangsek masuk.


Putera mahkota.


Lalu, apa katanya tadi?


Paman?!


"Pa-pa-paman?" tanya Ara bingung


"Iya Hwa-ya, dia paman kita." lanjut putera mahkota yang sudah berdiri gagah di hadapan keduanya


Ara menoleh kearah yang disebut paman itu, menatapnya lekat.


"Aihhh jangan begitu, nanti kau malah terpesona dam menyukaiku puteri Hwa." seloroh pria yang disebut paman itu, jangan lupakan senyum tengilnya itu.


Arghhhh mau Ara tabok rasanya.


"Di-dia paman kita??" tanya Ara meminta konfirmasi lagi.


"Iya, puteri Hwa." angguk putera mahkota menjawab.


"Ta-tapi...." Ara ragu.


Hingga....

__ADS_1


"Kenapa? Apa karena aku lebih pantas di sebut pria atau kekasihmu, Hwa-ya??" sela pria yang entah siapa namanya, tapi cukup membuat Ara hanya menyumpahinya saja dalam batin.


__ADS_2