
Ara memandang jauh ke langit-langit di atas pembaringannya saat ini. Matanya menenun satu persatu ingatan saat dirinya pertama tiba di sini.
Jelas dalam simpanan hard disk ingatannya, menggambarkan suasana kala ratu dengan wajah penuh rasa khawatir merengkuh tubuh puterinya saat itu. Ara merasakannya, sangat. Jika apa yang dikatakan dayang Han adalah, ratu mengancamnya, memaknai pembicaraan seorang ibu dengan pemilihan kata itu,, maka Ara menegaskan untuk membantahnya.
"Gak, gue yakin, yakin kalau ratu, gak memiliki maksud buruk di sini." gumamnya.
"Gue juga yakin, jika pun ratu memiliki maksud buruk, itu karena pengaruh bahkan ancaman dari pihak lain." lanjutnya.
"Model-model menteri Kim gitu." tuduhnya pasti.
Namun...
"Putera mahkota??" lirihnya kemudian.
"Kenapa dari semua orang, puteri Hwa memilih pria itu untuk tempat berbagi masalah. Kenapa tidak langsung kepada raja atau calon suaminya." lanjut Ara lagi.
"Pangeran lain,... Ya, sebelum pangeran Shin, putri Hwa sempat di jodohkan dengan pangeran lain? Kemana pria itu?" tanyanya bingung.
"Kalau tidak salah, pangeran Ho." Ara bangkit dengan tubuh puteri Hwa. Sigap membereskan perlengkapan tidurnya. Lalu...
Sretttt
"Mau kemana, yang mulia?" suara seorang dayang menyapa pendengaran Ara, bukan dayang Han.
Selain itu....
'Apel?' batinnya menangkap aroma yang dibawa dayang tersebut.
"Siapa kau?" tanya Ara mengerutkan dahi puteri Hwa.
Menyeringai, mendekat dengan pasti pada puteri Hwa. Ya. Dayang yang ditebak berusia 20 tahunan itu membawa baki yang entah berisi apa. Karena untuk sarapan, ini jelas belum waktunya.
"Puteri Hwa, saya hanya menjalankan rutinitas kita seperti biasa." Jawabnya tanpa mengurangi langkahnya menuju puteri Hwa.
"Rutinitas kita?" beo Ara mengulangi.
Sampai, meletakkan benda yang dibawanya tadi di atas meja di sisi puteri Hwa.
Membukanya, dan... Tampaklah, apa yang mengganggu penciuman Ara sedari tadi.
Apel? Tapi, dalam bentuk cairan yang diisi pada sebuah gelas berukuran sedang.
"Apa ini?" Tanya Ara tak paham. Ia tak suka semua hal berunsur apel ini. Tak suka.
"Yang mulia, bukankah anda selalu menerimanya dengan baik?" tanya balik dayang itu, menatap puteri Hwa lekat sembari tangannya menjulurkan benda berisi air aroma apel itu.
Ara menunjukkan gestur tubuh puteri Hwa menolak, enggan menerima uluran itu, tidak sama sekali.
"Jangan menolaknya, yang mulia." ujarnya.
"Anda tentu tahu bukan, jika konskuensinya lebih besar daripada anda menerima minuman ini saja."
__ADS_1
Tetap bertahan, Ara tak gentar.
Jelas ia merasakan intimidasi dari dayang ini. Sangat.
"Kau.,, siapa berani memerintah dan memaksaku, huh!!!" hardik Ara tegas, menunjukkan pada dayang rendahan ini akan status majikan sebenarnya.
Tapi, lagi-lagi hanya seringai santai yang diberikan dayang itu, tanpa merasa tersudutkan akan ucapan yang dilontarkan Ara barusan.
"Terima dan, minum saja yang mulia." Ara merasakan nada perintah dan menekan dari dayang ini.
Maka..
Prang!!!!!!!
Ara menegaskan posisinya dengan menepis keras gelas yang sedari tadi tetap terjulurkan oleh si dayang.
"Keluar kau!!!!" pekik Ara menekan tiap katanya.
"Heh." sahut si dayang.
Berdiri angkuh, menatap puteri Hwa...
"Anda sangat tahu siapa yang meminta saya melakukan semua ini, puteri Hwa." ucapnya kala sudah mantap berdiri.
"Dan anda,..... Sudahlah, anda pasti tahu sendiri akibatnya." lanjut si dayang, memutar tubuhnya lalu siap pergi keluar.
"Kau, siapapun itu... Baik yang menyuruhmu, katakan aku tak takut sama sekali." Ara memberikan pernyataan tegas pada si dayang yang mengancamnya.
"Iya yang mulia, anda hanya mengulang kata yang sama. Lalu, meringkuk memohon setelahnya, bukan?" langkah dayang itu terhenti, berkata tanpa membalik tubuh menghadap puteri Hwa.
Srettt
Pintu tertutup, Ara sigap melangkah cepat, lalu....
Srettt, membuka pintu kembali.
Tak ia jumpai satu pun dayang di depan ruangannya. Kemana mereka semua? Bukankah ada yang menjaga?
"Yang mulia?" dayang Han muncul dari arah pintu luar.
Menemukan puteri Hwa membeku di depan pintu ruangannya.
"Han-ah? Apa kau....." 'Tidak, tidak, aku tidak boleh memberi tahunya.' lanjut Ara membatin.
"Ada apa, yang mulia?" tanya dayang Han mendekat pada puteri Hwa.
Ara mengibaskan telapak tangan puteri Hwa, lalu masuk kembali ke dalam.
"Dayang Han. Bawa aku ke bangunan villa waktu itu hari ini." perintah Ara ketika sudah duduk di bantalan kursi.
"Baik, yang mulia." angguk patuh dayang Han.
__ADS_1
*******
Prang!!!!!
Suara benda pecah belah berbunyi nyaring di dalam sebuah ruangan.
"Ka---kau..." tatapan tak percaya, serta rintih suara menggeram mewarnai diri puteri Ara.
Ya, dengan sorot tajam dan marah, ia menatap dayang pribadinya... Im.
"Kenapa dayang Im???!" tanyanya menatap intens perempuan yang duduk melusuh di hadapannya.
"Kau, kau bermaksud membunuhku..????!" Tanyanya lagi
"Maafkan hamba, yang mulia." lirih jawaban dayang Im.
Sebelumnya, seperti biasa, puteri Ara sebelum memulai prosesi sarapannya, akan mengkonsumsi teh bunga krisan. Namun, pagi ini.... Ia, yang baru menaruh bibir cangkir di ujung bibirnya, merasakan keanehan. Ia merasa kaku seketika di bibirnya, dan dengan yakin menebak jika tehnya, diracuni.
Sedangkan yang selalu mengurus tehnya, adalah dayang yang masih setia bersimpuh di hadapannya.
"Apa kau.. Apakah kau salah satu dari mereka, dayang Im????!!!" segera tuduhan itu mengalir sempurna dari bibir puteri Ara. Karena bisa dipastikan tersangka tersebut pelayan pribadinya sendiri, yang sudah mengikutinya dari ia masih remaja.
"Aku tak menyangka, dayang Im." ia menggeleng kala tak mendapat bantahan dari dayang tua itu.
"Kau sudah aku anggap seperti keluargaku." lagi.
"Maafkan hamba, yang mulia." lirih dayang Im meminta maaf.
"Aku bisa saja membawamu pada kakakku, dan tentu mudah untuk memenggal leher seorang dayang sepertimu." gelegak itu pelan menggerogoti puteri Ara.
"Tapi, tapi aku masih menghargai dirimu, dayang Im."
"Kau tentu tahu bagaimana aku memperlakukanmu, bukan?"
Isak itu pelan terdengar, luruh sudah tubuh dayang Im seketika.
"Ampuni hamba, yang mulia. Hamba tidak berdaya sama sekali setelah saudara hamba menjadi budak. Ratu membantu mengeluarkannya dari penampungan dan pengampunan." cerita dayang Im tergugu.
"Kenapa kau tak cerita, aku bisa melakukan hal itu dengan mudah, dayang Im." tanya puteri Ara, tak percaya mudah sekali dayangnya membelot hanya karena ia tak sekuasa ratu
"Maafkan hamba, yang mulia." lagi, dayang Im.
"Aku kecewa padamu, dayang Im. Sungguh."
"Yang mulia." lirih menyayat keluar dari bibir tua dayang itu.
"Namun, jika kau merasa ingin aku mengampunimu." ucap puteri Ara.
"Maka, kau buat aku seolah seperti apa mau mereka. Dengan begitu, kau tetap melindungi dirimu, aku dan saudaramu." lanjut pernyataan puteri Ara.
"Aku menduga, perempuan licik itu, adalah dalang yang membuat puterinya menderita."
__ADS_1
"Tapi, aku penasaran, kenapa seorang ibu tega melakukan hal demikian...."
"Bukankah begitu, dayang Im??"